
Seminggu berlalu, waktu yang ditunggu-tunggu Viona tiba, di mana si Bora akhirnya sadar, dan di situlah Viona berada, di ruang rawat pasien.
Bora yang semenjak membuka mata sangat bingung mendapati dirinya berada di rumah sakit, dan parahnya kepalanya menjadi botak.
Dia menatap Viona, lalu berkata. "Kenapa kau membawaku kemari? Biarkan saja aku mati di dalam penjara sana agar balas dendam kalian terbalaskan tanpa bertindak"
Viona yang sudah tidak sabar lagi ingin tau apa akar dari masalah, kenapa masalah di masa lalu sampai beranak Cucu. "Paman!" panggil Viona sopan.
Bora terkejut, karena Sikap Viona sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia merasa terharu mendengar Viona memanggilnya seperti itu dengan tulus.
"Paman tidak usah berpura-pura jahat seperti itu, aku sudah tau semuanya jika selama ini Paman dipantau oleh seseorang."
Makin terkejut, karena Viona mengetahui hal itu. "Apa yang kau katakan? Tidak ada yang memantauku. Saya benar-benar melakukannya kerena,,,"
"Jangan mengelak lagi! Paman tenang saja orang itu tidak lagi bisa memantau karena chip itu sudah ada lagi."
Mata Bora membulat, Viona benar-benar mengetauhui semuanya. Tidak adalagi yang perlu dia tutupi, Dia menunduk kerena merasa malu.
"Saya hanya ingin mendengar, alasan Paman melakukan semua ini, kenapa menghancurkan kehidupan keluargaku? Memisahkanku dari kedua orang tuaku."
Bora makin menunduk, Dia memang memiliki alasan kenapa dia melakukan semua itu. Dia memberanikan diri menatap Viona. Dia mulai menjelaskan awal dari segelanya.
"Tuan King! yang nama aslinya Lucas. Dia adalah mantan Ibumu. Mereka berpacaran, sebelum Ibumu mengenal Jack. Mereka putus karena Kakekmu tidak merestui hubungan mereka. Kakekmu menemui Lucas tanpa sepengatahuan Ibumu!"
Viona menggelengkan kepala, ternyata berawal dari hubungan yang tak direstui, dia meminta Pamannya untuk melanjutkan ceritanya. Dia akan mendengar semuanya sampai tuntas.
...----------------...
"Rian kamu dari tadi melamun terus, kenapa? Ada masalah? Coba cerita!" pinta Raka yang sedari tadi hanya diam setelah mereka makan siang bersama di kantor.
Tomipun merasakan hal yang sama, dia malah merasakan itu dua hari yang lalu, Rian yang tiba-tiba suka melamun. "Ya kamu kenapa?"
"Huuff, aku lagi mikirin si brengsek itu. Kenapa orang-orang yang aku suruh tidak bisa menemukannya, di mana dia bersembunyi."
Ternyata itu yang membuatnya banyak diam dan melamun. Dia merasa belum puas jika belum membalaskan dendamnya ke pada si Bora.
"Apa kamu sudah menanyakannya ke pada Viona? Kalau tidak salah dia juga menyuruh pengawal untuk mencarinya!" ujar Raka.
"Oh iya, aku hampir melupakannya. Nanti aku tanyakan jika sudah pulang" balasnya dan berharap dia mendapat kabar baik dari Viona.
__ADS_1
"Rian! Bagaimana dengan Tuan dan Nyonya?" sela Tomi bertanya yang masih memanggil keduanya dengan formal.
Rian merogoh ponselnya dan membaca sebuah pesan yang pernah Dadynya kirim. "Emm kata Dady sekitar sebulan lagi mereka akan datang!"
Tok tok tok
Obrolan mereka terhenti, saat mendengar ketukan pintu. Raka menekan tombol kunci otomatis. Dan pintu terbuka lebar saat dia menyuruhnya masuk.
"Hai semua Kakakku yang tampan tapi jomblo" ucapnya santai dengan tersenyum manis.
Ketiga orang itu manatap tajam, Bisa-bisanya dia berkata seperti itu sambil tersenyum. Bagaikan habis terbang tinggi tapi seketika di banting.
"Dek, Apa kamu lupa ngaca?" tanya Rian dengan nada jengkel. Ya Vionalah yang datang dan berkata seperti itu.
Viona malah makin tersenyum lebar melihat wajah ketiganya. "Lah, kenapa denganku Kak?" tanya Viona balik.
"Ohh apa kamu tidak sadar jika kamu itu juga jomblo, hmm?"
"Kak, Jomblo kita itu versinya berbeda loh. Aku jomblo bukan berarti tidak ada yang suka, malah banyak yang ngantri. Kalian? temen cewepun tak punya. Hahahaah" Viona malah makin menjadi.
Ketiganya saling tatap dan memberi kode. Mereka beranjak dan menghampiri Viona, Raka dan Tomi memegan tangan Viona kebelakang, Rian mengoleskan cream cake ke wajah Viona.
"Lepasin! Kenapa kalian jahat sekali? Apa yang aku katakan adalah fakta, kalian bertiga itu jomblo bahagia." balas Viona yang masih mengejek.
Kali ini Raka yang mengambil alih, dia menarik kedua telinga Viona, "Coba ulang! Jomblo apa tadi?"
"Aaaaaa, Kak lepasin! Selain jomblo ternyata kalian suka main kroyokan, dan menyiksa wanita lemah sepertiku."
Ketiganya menatap Viona sambil menggelengkan kepala. Lemah? Jika tidak sedang bercanda mungkin mereka sudah bonyok tak berdaya.
"Hahahaah" dia sangat bahagia melihat wajah ketiganya.
...----------------...
Hari berlalu berganti malam, Viona dan keluarganya sedang berkumpul di halaman samping setelah mereka makan malam. Berbincang tentang keseharian mereka.
"Dek! Gimana kabar Leo? Sudah lama Kakak tidak bertemu dengannya, Kakak juga tidak ada waktu untuk berkunjung ke rumahnya!"
Viona menoleh, mendengar nama Leo membuat hatinya tiba-tiba sakit. Hampir sebulan ini keduanya juga jarang bersama dan hanya berbincang seadanya.
__ADS_1
"Emm, Kak Leo kabar baik! Kami banyak kerjaan akhir-akhir ini, jadi tidak sempat keluar bertemu Kak Raka" balas Viona berbohong, padahal kerjaan mereka cuman santai saja.
Raka melihat raut wajah Viona yang senduh, dia bisa menebak jika mereka ada masalah, tapi tidak ingin ikut campur jadi dia hanya diam saja. Dia yakin Viona bisa menyelesaikannya.
"Lain kali kalau ada waktu, Kakak akan berkunjung ke rumahnya" sahut Raka.
"Aku juga ingin ikut, aku belum pernah ke sana, aku penasaran bertemu dengan Ibu Nur," sela Rian.
"Oh iya Dek! Apa kamu sudah ada kabar tentang si bajingan itu?" tanya Rian ke pada Viona.
Viona tau siapa yang di maksud Rian, "Belum Kak, Anak buahku belum mendapatkan hasil" dia belum ingin menceritakan sebenarnya, jika Pamannya melakukan semua itu karena ada alasan.
"Hah, kemana lagi kita harus mencarinya?" tanya Raka lagi.
"Sabar Kak! Aku yakin dia tidak pernah jauh dari kita. Hanya saja dia memiliki persembunyian yang bagus!"
"Hmm kamu benar Dek, pasti dia masih sering memantau keluarga kita, kamu harus tetap waspada!"
"Siap Kak!" hanya bisa menuruti ucapan Kakaknya, akan ada waktunya dia menjelaskan semuanya.
Mereka melanjutkan obrolan yang lain. Sampai menunjukkan pukul sebelas malam barulah mereka bubar pergi ke kamar masing-masing.
...----------------...
Ke esokan harinya, Viona pergi mencari Leo di ruangannya, kerena seharian dia tidak pernah melihatnya, sebelum mengetuk pintu seseorang menyapanya.
"Nona cari Leo?" tanyanya, yang tak lain adalah Thea.
Viona menoleh dan mengangguk, "Hmm, sedari tadi aku melihatnya. Aku ingin mengajaknya keluar.
"Leo sudah pulang nona!" balasnya yang merasa kasihan.
Viona melihat arlojinya, memang sudah waktunya pulang. "Huff, baiklah Thea. Aku juga ingin pulang."
"Baik nona, hati-hati di jalan."
Viona sudah berada di dalam mobilnya, dia termenung memikirkan sikap Leo yang makin hari makin berjarak. Dia merogoh ponselnya, mencoba untuk menghunginya, tapi tidak ada jawaban. Dia beralih menelpon Ibu Nur, ternyata Leo belum pulang.
"Kamu ke mana Kak?" gumamnya. Dia kembali melihat ponselnya dan mencari lokasi Leo, dia pernah memasang sebuah pelacak di motor Leo.
__ADS_1
"Pantai?"