
Beberapa hari telah berlalu kehidupan Viona sudah tidak pernah ada masalah lagi. Dia sangat bersyukur karena semuanya sudah berakhir. Dia hanya mengkhawatirkan jika keluarganya tidak bisa menerima dan memaafkan sang Paman.
Di hari minggu Viona mengajak semua keluarganya berkumpul di ruang tamu, dia ingin memperjelas kesalah pahaman yang ada.
"Dek! Emang siapa yang mau datang bertamu? Kayaknya sangat penting!" tanya Rian, dia penasaran karena Viona mengatakan jika mereka mengenalnya.
Viona langsung menjawab, "Nanti Kak Rian lihat sendiri, dia sudah di depan. Aku keluar dulu untuk menjemputnya" Balas Viona lalu beranjak keluar.
Semua makin bertambah penasaran, tapi mereka harus sabar, karena sebentar lagi mereka akan bertemu.
Tak berselang lama, Viona masuk dengan seorang pria paru bayah, yang tak lain adalah Pamannya si Bora, yang mana membuat mereka terkejut, apalagi Rian langsung emosi.
"Brengsek! Ngapain kamu datang ke sini ha? Apa kamu datang ingin menyerahkan diri? Atau kamu belum puas menghancurkan keluargaku?" tanya Rian sambil jalan mendekat.
Bugh bugh.
Rian langsung memberi bogeman di kedua pipi Bora, dan juga menendang perutnya "Hah aku sudah mencarimu kemana-mana, ternyata kamu bersembunyi dengan bantuan Adikku."
Bora tidak melawan, dia merasa jika dirinya memang pantas di perlakukan seperti itu. Viona juga membiarkannya, agar kemarahan Kakaknya selama ini sedikit terbayarkan.
Momy Jeny langsung berdiri, "Rian sabar Nak! Dan kamu, untuk apa datang kemari ha?" tanyanya sambil menunjuk Bora.
Viona yang melihat Rian ingin kembali menghantam Pamannya, dia langsung mencegah dengan cara memeluknya.
"Lepaskan Dek! Kenapa kamu menyembunyikan orang brengsek itu? Biarkan aku membunuhnya!" ucapnya sambil berusaha melepas pelukan Viona.
Tuan Jack juga ikut membantu menahan Rian, dia juga sebenarnya sangat ingin marah, tapi melihat Viona yang membelanya pasti ada sesuatu hal, sampai Bora berani menampakkan wajahnya.
"Kak tenang, biarkan aku dan Paman menjelaskannya!" ucap Viona yang masih memuluk Kakaknya.
"Jelasin apalagi Dek? Lepaskan aku! Biarkan aku mengahajarnya kembali!" balas Rian yang emosinya makin meningkat.
__ADS_1
Tomi dan Rian hanya diam, tapi keduanya menahan Momy Jeny yang ingin melemparkan sebuah pot bunga ke pada Bora. Dan itu juga baru pertama kalinya mereka melihat Bora.
"Kak, redakan emosimu! Dengarkan penjelasan Paman dulu! Jika Paman sudah selesai menjelaskannya barulah Kak Rian memukulnya atau jika ingin membunuhnya silahkan! Aku tidak akan melarang Kak Rian lagi" ucap Viona tegas.
Rian mengatur nafasnya, dia ingin menerima tawaran Viona yang memperbolehkannya untuk membunuh.
Melihat Rian yang sudah tenang, dia beralih ke Momynya yang terlihat sudah menangis. "Apa Momy masih mengingat perkataanku beberapa hari yang lalu? Jika ada seseorang yang berhak menjelaskan semuanya, Paman Boralah orangnya."
Momy Jeny menatap Viona lalu bertanya, "Apa mereka bekerja sama?"
Viona menuntun Momynya duduk dan juga mempersilahkan yang lainnya, "Jika Momy ingin tau jawabannya, maka dengarkanlah penjalasan Paman!" balas Viona, lalu dia berpindah ke samping Pamannya.
"Paman maaf, ini semua di luar perkiraanku. Paman bisa mulai menjelaskannya."
Bora mengangguk lalu berkata, "Sebelum aku menceritakan semuanya, aku ingin minta maaf atas semua yang telah aku perbuat."
~Flasback On
"Ayah! Aku mencitainya, Kenapa Ayah tidak menyukainya? Dia pria yang baik!"
"Ayah bilang tidak, ya tidak! Besok kamu temui dia dan putuskan hubungan kalian, jika kamu membantah, Ayah akan melakukan hal yang buruk ke padanya dan mengirimmu keluar negri"
Jeny terdiam, dia sangat merasa sedih melihat sikap Ayahnya yang sangat arogan. Karena tidak ingin Ayahnya berbuat jahat ke pada Lucas, terpkasa dia mengiyakan ucapan Ayahnya meskpiun dia sangat mencintai Lucas, dia harus mengakhirinya.
Di balik pintu seseorang mendengar obrolan mereka yang tak lain adalah Bora, dia bermaksud untuk menemui Ayahnya juga meminta restu untuk menikahi sang kekasih yang bernama Mira, tapi melihat Ayahnya yang sangat memandang status, dia mengurungkan niatnya, dia yakin Ayahnya juga pasti akan menyuruhnya berpisah, karena Mira seorang Anak yatim piatu dan hanya tinggal berdua dengan Kakaknya.
Ke esokan harinya, Jeny menemui Lucas di taman, tanpa basa basi Dia langsung meminta putus.
"Kenapa? Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Apa aku ada salah?" tanyanya sedikit kesal, karena Jeny tidak menjelaskan alasannya.
Jeny hanya menatap kedepan, dia tidak sanggup menatap Lucas, yang mana pasti dirinya akan menangis. "Kita tidak bisa bersama!"
__ADS_1
"Kenapa tidak bisa?"
Jeny beranjak dari duduknya. "Sudahlah, jangan mencariku lagi!" pintanya dan berlari pergi sambil menangis.
Lucas mengejar Jeny, dia tidak ingin putus karena alasan Jeny sangat tidak jelas, dia langsung curiga jika Jeny menyembunyikan sesuatu. Tapi, saat mengejarnya dia di hadang oleh seseorang yang tak lain Anak buah Ayah Jeny.
"Siapa kalian? Jangan menghalangiku! Aku tidak ada urusan dengan kalian!" ucapnya tegas.
"Ya, kamu memang tidak memiliki urusan dengan kami, tapi kamu punya urusan dengan Tuan Ambar Zu."
Lucas terdiam, dia tentu tau siapa pemilik nama itu meskipun dia tidak pernah melihatnya langsung. Dia hanya pernah melihat di ponsel Jeny. "Apa yang Tuan kalian inginkan dariku?"
"Iku kami! Tuan Ambar sudah menunggu di mobil" sahutnya.
Lucas yang sudah tidak lagi melihat keberadaan Jeny, dia terpaksa ikut meskipun dia sedikit takut. Dia disuruh masuk ke dalam mobil, dan situlah pertama kalinya dia melihat Ayah Jeny, karena selama pacaran dia tidak pernah bertemu dengannya, karena Jeny hanya memperbolehkannya datang jika sang Ayah berada di luar kota.
"Langsung saja, karena aku tidak punya banyak waktu" ucapnya dingin tanpa menoleh. "Jauhi Anakku, jangan berhubungan lagi dengannya!"
Lucas tidak langsung menjawab, dia mencerna ucapan Tuan Ambar yang hampir mirip dengan ucapan Jeny, dan itu membuatnya tau alasan Jeny memutuskannya. "Tapi kenapa Tuan? Aku sangat mencintainya!"
Tuan Ambar tersenyum kecil lalu berkata, "Apa hanya dengan cintamu bisa membuat Jeny bahagia? Bisa memenuhi semua kebutuhannya?"
Lucas tertegun mendengarnya, dia tidak menyangka ternyata itulah jadi alasan utama yang sebenarnya. "Tuan aku akan berusaha, aku akan pasti membuatnya bahagia."
Tuan Ambar sedikit tersulut emosi. "Cih, mana mungkin pria miskin sepertimu bisa membahagiakan Anakku, lagipun aku tidak ingin punya menantu yang tidak memiliki pekerjaan yang jelas."
Lucas kembali terdiam, dia memang hanya bekerja serabutan, apapun yang dia kerjakan yang penting menghasilkan uang. Seperti bekerja sebagai buruh dan juga bekerja sebagai ojek online.
"Sudah, pergi sana. Ingat! Jangan mendekati Jeny lagi! Jika aku mengetahuinya kamu harus siap tanggung risikonya!"
Lucaspun keluar dari mobil, dia merasa sangat sedih karena Tuan Ambar tidak merestui hubungannya. "Kenapa tadi kamu tidak memberitahuku jika Ayahmu menentang hubungan kita?" guamamnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Bora mendengar semuanya, karena dia memasang kamera tersembunyi di dalam mobil Ayahnya, itu dia lakukan karena penasaran dengan tindakan Ayahnya selanjutnya. Dan hal itu membuatnya makin tidak berani untuk mengajak Mira meminta restu.