
Malam tiba, semua sedang berkumpul di halaman depan Villa yang berhadapan langsung dengan pantai, masih terlihat sangat ramai pengunjung, mungkin karena hari libur kebanyakan anak ABG yang sedang berkencan dengan sang ke kasih.
Mereka sedang barbequean, bakar jagung dan juga segala macam sate. Semuanya berkumpul berbincang dan tertawa bahagia. Bagaikan keluarga besar yang bahagia. Tidak ada yang pandang status. Para maid dan pengawal turut tertawa bersama sang majikan.
"Nanti kalau ada waktu lagi, aku akan membawa kalian lagi berlibur seperti ini! Apa kalian mau?"tanya Raka pada semuanya.
"Mau!" tanpa berpikir lagi mereka berteriak secara bersaamaan. Liburan gratis? Siapa yang tidak menolak.
"Yeeh! Tapi semoga nanti tambah anggota baru ya!" ucap Viona tersenyum sambil melirik Raka. "Apa kalian semua setuju?"
"Setuju!" lagi, balas mereka dengan serempak sambil bertepuk tangan. Mereka tau arti sindirin dari Viona untuk Raka.
Raka mentap Viona, dia tersenyum dan berkata. "Eheem. Kalau begitu doain aku! Agar tahun ini tidak jomblo lagi. Aku akan membuatkan kalian ponakan agar anggota bertamba banyak tidak cuman satu!"
"Wiihh Raka junior akan hadir" sela Leo membalas candaan Raka.
"Hahaha" semuanya tertawa, mereka suka dan senang melihat Raka bercanda seperti itu. Viona malah mengaminkan ucapan Kakaknya dalam hati, dia memang sangat berharap supaya Raka segera menikah dan memiliki anak. Nora dan Frisli sudah berada di dalam mimpi, keduanya sangat kelelahan setelah bermain pasir.
...----------------...
"Memang saya yang mengurus semua data-data pasien termasuk data Ibumu. Tapi bukan saya yang membantu persalinannya."
Sebenarnya sang Dokter tidak ingin memperlihatkan data itu, karena bagaimanapun itu sudah menjadi privasi pasien dan Rumah Sakit. Terpaksa Rian menceritakan tujuan dan masalah yang menimpa keluarganya. Dokter merasa kasihan, dia terpkasa membantu dengan syarat tidak membuka mulut.
"Dok! Apa ini semua data-data pasien yang lahir pada hari itu?" tanya Rian melihat tumpukan kertas yang lumayan tebal.
"Tidak! Itu data pasien satu tahun penuh. Kamu cari saja bulan dan tanggal berapa Ibumu melakukan persalianan!" jelas sang Dokter, padahal dia sudah tau, tapi dia ingin Rian mencarinya sendiri.
Rian segera membuka di bagian akhir. Karena Momy nya melahirkan di akhir tahun. Dia langsung menemukan nama Momy nya, dan benar saja sang Momy melahirkan di Tanggal dua puluh tujuh Desember untuk yang kedua kalinya dengan keterangan status Ibu dan anak selamat.
"Bagaimana, apa kamu sudah mendapatkan data Ibumu?" tanya sang Dokter yang melihat Rian melamun.
__ADS_1
Rian tersentak, dia tidak melamun. Dia hanya barusaha mengingat kembali nama Seseorang yang pernah Dady nya sebut. "Ehh Dok! Begini, kan Dokter sudah dengar cerita saya tadi. Kalau Dady saya menitipkannya pada seorang wanita yang sedang hamil besar, kemungkinan dia juga melakukan persalianan di sini!"
"Hmm ya, apa kamu tau siapa nama wanita itu?" tanya Dokter lagi. Dia juga jadi penasaran dengan masalah yang di ceritakan Rian kepadanya.
"Kalau tidak salah namanya Mira Arola. Dady saya bertemu dengannya di siang hari tepat Momy saya habis melahirkan, katanya dia ingin periksa kandungan. Yang akan melahirkan sebulan lagi."
"Kalau begitu cari di tahun berikutnya di awal bulan!" perintah sang Dokter.
Rian segera mengambil tumpukan data berikutnya, dia membuka sesuai arahan Dokter, dan dia menemukan nama yang dia cari Mira Arola yang melahirkan anak dengan jenis kelamin perempuan.
Rian mengambil gambar Data itu dengan kamera ponselnya. Dia bergegas pergi mencari alamat sesuai yang ada di data, tapi sebelumnya dia sudah mengucapkan terima kasih kepada Dokter karena sudah membantunya. Dia akan datang lagi jika masih ada yang dia butuhkan.
Tomi langsung melajukan mobilnya, keduanya berharap orang yang mereka cari masih tinggal di alamat itu. Padahal sudah seringkali Dady nya menyurus seseorang untuk mencari orang yang dia temui itu. Tapi entah apa yang terjadi, orang yang di suruh tiba-tiba menghilang tidak ada kabar. Dan itu terjadi berulang-ulang sampai dia memutuskan untuk tidak mencarinya sementara.
Dady nya juga merasa heran, kenapa semua bukti yang dia miliki juga ikut menghilang. Seperti bukti transfer dan nomor kontaknya. Padahal bisa melacaknya jika kedua bukti itu masih ada. Bukan cuman itu, orang kepercayaannya juga meghilang tidak ada kabar. Apa yang terjadi siapa di balik semua kejadian itu? Apa masih orang yang sama? Begitulah ada yang ada di pikiran mereka, hanya bisa menebak nebak saja.
...----------------...
Viona tidak terkejut, karena insting pendengaran sangat pekah, dia tidak langsung berbalik, dia mengusap air matanya terlebih dahulu menggunakan tangannya.
"Kak Leo!" balasnya. "Kenapa Kak Leo kemari? Kenapa belum tidur?" tanya Viona setelah berbalik dan menatap Leo.
~Flasback On
Leo baru ingin tidur, tapi dia ke dapur terlebih dahulu untuk ambil minum untuk dia bawa ke kamarnya, karena dia sering bangun di tengah malam jika ke hausan. Tapi dia bertemu dengan Bi Yun di dapur yang juga sedang mengambil air minum.
"Eh Nak Leo? Mau ambil minum juga?" tanya Bi Yun. "Apa Nak Vio masih di luar?" lanjut Bi Yun dengan pernyataan lagi.
"Iya Bi, untuk stok di kamar heheh! Aku tidak dari luar Bi, aku baru keluar dari kamar!" balas Leo.
"Loh kiraiin kamu sama Nak masih di luar, soalnya Nak Vio tadi pamit mau pergi jalan-jalan. Tapi Nak Leo di kamar ya! Jadi dengan siapa Nak Vio pergi?"
__ADS_1
"Bibi tidak usah khawatir! Aku akan menyusulnya, pasti tidak jauh dari sini" ujar Leo menenangkan Bi Yun yang terlihat cemas.
"Ya sudah Nak, jika sudah bertemu ajak dia balik. Tidak baik jika terlalu lama kena angin malam, apalagi angin laut" perintahnya.
Leo segera keluar, dia mencoba menghubungi Viona tapi tidak ada jawaban, dia langsung menuju pantai yang terlihat sudah sepi.
Masih dari jarak jauh, dia sudah melihat Viona. Dia sangat yakin hanya melihat baju dan rambut yang terurai dan menari nari tertiup angin. Dia berjalan mendekat dan menepuk pundak Viona pelan.
~Flasback Off
"Aku tidak bisa tidur! Aku datang karena mencarimu! Kata Bibi kamu keluar jalan-jalan sendiri dan sudah larut malam kamu belum balik!" jawabnya.
Leo menghapus sisa air mata Viona yang ada di sudut matanya. Percuma menyembunyikannya karena masih bisa ketebak dengan mata yang memerah dan basah.
"Jangan menangis lagi! Kamu harus kuat! Aku yakin kamu pasti menemukan mereka. Kamu banyak bersabar dan berdoa. Ada aku dan yang lainnya yang akan membantumu" ucap Leo memberis semangat, tanpa bertanya lagi apa penyebab Viona menangis.
Air mata Viona malah mentes lagi dengan sekali kedipan. Entah kenapa jika bersama dengan Leo dia menjadi lemah dan manja seperti itu.
Kembali Leo mengusap air mata Viona, dan menarik Viona masuk kedalam dekapannya. Dia mengikuti naluri dan hatinya, yang tiba-tiba ingin memeluk Viona untuk menenangkannya.
"kumohan jangan menangis lagi!" bisik Leo. "Entah kenapa hatiku sangat sakit saat melihatmu menangis" lanjutnya dalam hati.
Viona tentu mendengarnya. Tapi, dia malah memperat pelukannya selama beberapa menit, lagi-lagi dia merasakan kenyamanan dan kehangatan. Dia melepaskan pelukannya dan berkata. "Aku tidak menangis lagi, dianya saja yang ingin keluar" belanya.
Leo tersenyum mendengarnya, dia membuka Hoodienya dan memakaikannya kepada Viona yang hanya menggunakan kaos oblong.
Dan juga penutup kepalanya.
Leo mengusap kepala Viona, "Ayo kita balik, Bibi pasti menunggumu, tapi kamu langsung masuk kamar nanti aku yang akan menemui Bibi.
Viona setuju, dia tidak ingin membuat Bibi khawatir. Liburan akan menjadi tidak seru lagi jika hanya memikirkan masalah yang ada.
__ADS_1