
Setelah pemakaman selesai Tuan Ambar dan Bora baru tiba, di mana terlihat Lucas termenung sambil memegang batu bisan mendiang Ibunya.
Mendengar suara langkah kaki mendekat diapun menoleh, seketika dia berdiri setelah melihat siapa yang datang. "Untuk apa kalian datang kemari? Apa kalian sudah puas? Inikan yang kalian inginkan?" tanyanya dengan marah.
Bora tidak terima dengan ucapan Lucas. "Apa maksudmu ha? Kami datang baik-baik untuk turut berduka cita!"
"Bulsit, aku tau yang menabrak lari Ibuku pasti orang-orang suruhan kalian kan? Ternyata aku salah sudah meremehkan ancaman Anda Tuan. Tapi kenapa bukan aku saja? Kenapa mesti Ibuku?" teriaknya marah.
"Kamu salah menuduh orang, jika aku mau, aku bisa melaporkanmu karena telah memfitnahku, apa kamu ada bukti ha?" tanya Tuan Ambar marah tidak terima dianggap sebagai pembunuh.
"Aku memang tidak ada bukti, kalian orang kaya bisa melakukan apapun yang kalian mau. Aku akan membalaskan kematian Ibuku" balasnya meninggalkan mereka.
Bora ingin mengejar, tapi dihentikan oleh Tuan Ambar, karena percuma saja menjelaskan jika mereka juga tidak ada bukti.
...----------------...
Satu tahun berlalu, dari sejak hari itu Lucas tiba-tiba menghilang tidak ada kabar, anak buah Ambar juga tidak menemukannya, tepat hari itu Jeny pulang dari negara X.
Tuan Ambar dan Bora sudah berada di bandara untuk menjemput. Terlihat Jeny pulang dengan seseorang lelaki, yang tak lain adalah teman Jeny yang ingin mencari pekerjaan di negara A.
"Bagaimana kabar Ayah sama Kakak? tanyanya "Oh iya kenalin ini teman aku namanya Jack.
"Kami sehat Nak!" balasnya lalu berkenalan dengan Jack. Sebenarnya Tuan Ambar sudah tau, karena dia mengirim Anak buahnya untuk menjaga Jeny dari jarak jauh.
Setelah beberapa hari, terlihat Jeny baru pulang dari mengantar Jack ke sebuah Apartemen, di tengah perjalanan, dia melihat sosok pria yang dikenalnya, yang tak lain adalah Lucas, terlihat dia sedang memeluk wanita yang sedang menangis.
"Hah, ternyata kamu sudah memiliki penggantiku, semoga kamu bahagia dengannya!" ucapnya sedih.
Mulai dari situlah dia belajar melupakan perasaannya, dengan dukungan para sahabatnya sedikit demi sedikit perasaan itu benar-benar menghilang. Dia malah dekat dengan Jack, keduanya terlihat selalu bersama di kampus maupun di tempat kerja, di mana Jack bekerja di perusahaan Tuan Ambar. Karena Jeny juga melanjutkan S2 nya.
...----------------...
Singkat cerita, tiga tahun sudah berlalu. Di mana saat itu Tuan Ambar di larikan ke Rumah Sakit, karena kedapatan tidak sadarkan diri di kamar mandi.
"Dok bagaimana kondis Ayah saya?" tanya Jeny setelah melihat Dokter keluar dari ruang UGD.
__ADS_1
Sang Dokter, mau tidak mau harus menjelaskannya. "Maaf, Tuan Ambar tidak bisa diselamatkan, dia terkena serangan jantung."
Jeny dan Bora sangat syok, mereka belum siap kehilangan sosok Ayah. "Hiks hiks tidak Dok, jangan biarkan Ayahku pergi!" racaunya.
Bora tiba-tiba mengingat pesan Ayahnya beberapa hari yang lalu di mana dia berkata, untuk selalu menjaga dan melindungi Jeny jika dirinya sudah tiada.
"Hah, ternyata Ayah sudah menyadari jika dirinya akan pergi untuk selamanya. Ayah tenang saja, aku akan selalu mengingat pesan Ayah."
...----------------...
Waktu berlalu, setelah kepergian Ayahnya, Jeny masih terlihat murung dan lebih banyak diam, Jack yang selalu berada di sampingnya tidak kehabisan akal untuk membuat Jeny kembali ceria.
Bora yang ada di kantor sangat terkejut mendengar kabar dari Anak buahnya, jika mereka melihat Lucas kembali dengan perawakan yang berbeda, di mana dia terlihat lebih berotot dan juga lebih sangar.
Ke esokan harinya terlihat Bora dan kekasinya berada di ruangan yang tidak mereka kenali. "Mira kenapa kita bisa berada di sini? Bukannya semalam kita makan bersama di rumahmu?"
Mira menggeleng lalu berkata "Aku juga tidak tau Mas, aku tidak mengingatnya" balasnya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Entah apa yang Bora tunggu sampai belum menikahi Mira, padahal mendiang Ayahnya selalu memintanya untuk segera menikah. Jadi sampai sekarang mereka masih berpacaran, yang mana Jeny juga tidak tau siapa kekasihnya. Karena Bora tidak ingin Jeny berpikir kalau Ayahnya tidak adil.
Bora terkejut mendengar suara itu, "Lucas! Apa yang kau lakukan? Cepat lepaskan sebelum Anak buahku datang dan menghajarmu!"
"Hahaha ternyata kamu masih mengingatku, mereka tidak akan datang, karena Anak buahmu sudah berada di genggamanku."
Bora sedikit heran melihat perubahan Lucas yang sangat berbanding terbalik beberapa tahun yang lalu. Entah apa yang dia lakukan "Brengsek! Apa yang kamu inginkan ha?"
Plak
"Diam! Jangan berteriak dihadapanku!" tegasnya setelah menampar Bora yang menerutnya sangat berisik.
Mira hanya diam karena ketakutan, belum lagi kepalanya yang pusing tak kunjung redah. Dia merasa ada yang aneh di kepalanya.
"Kurang ajar, apa sebenarnya yang kau inginkan? Kau tiba-tiba datang setelah menghilang, dan langsung menyekap kami."
"Apalagi jika bukan balas dendam dengan kematian Ibuku, karena Ayahmu sudah meninggal jadi kalian yang akan menanggung semua risikonya hahah"
__ADS_1
"Kenapa kau masih menuduh Ayahku yang membunuh Ibumu ha? Apa kau punya bukti akan hal itu?"
Lucas tersenyum kecil. "Aku tidak perlu bukti. Tidak ada orang lain yang berniat untuk melukaiku kecuali Ayahmu. Jadi siapa lagi yang harus aku tuduh?"
"Kau tidak boleh melakukan ini, jika kau mau, aku akan memberikan buktinya dan kamu bisa melihatnya sendiri, jika ibu meninggal karena dia mengidap penyakit Leukemia stadium akhir, bukan karena dia ditabrak lari."
Lucas terkejut dan menatap tajam Bora, "Jangan coba-coba menipuku, jika Ibuku memang sakit, dia pasti memberitahuku."
"Kau bisa menanyakan ke pada Dokter yang menangani penyakit Ibumu, jika kau tidak percaya dengan ucapanku!"
"Aku tidak akan pernah percaya, karena pasti kalian semua sudah bersekongkol untuk memanipulasi kematian Ibuku, agar kalian tidak dianggap sebagai pembunuh."
Bora yang ingin membalas ucapannya terhenti karena merasakan sakit di kepalanya. "Aarrggh, sakit! Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Hahaha itu baru awalan, kamu berdua jangan coba-coba melawanku karena nyawa kalian berdua berada di tanganku. Aku sudah memasangkan sebuah chip di kepala kalian, di mana aku bisa mendengar isi pikiran dan juga apa yang kamu ucapkan."
"Kau sangat kejam Lucas, pantasan Ayahku tidak merestui hubunganmu dengan Jeny, karena ternyata sifat asli seperti ini."
"Jangan menyebut namanya dihadapanku! Dia sama saja wanita lain, yang selalu memandang orang dari statusnya saja. Dia menghilang tidak ada kabar, dia tidak datang saat Ibuku meninggal, dan dia tiba-tiba muncul dan sudah bersama dengan pria lain."
"Jeny lebih baik bersamanya daripada dengan dirimu."
"Ya, tapi aku tidak akan pernah membuatnya bahagia di atas penderitaanku Hahahah"
"Jangan kau lukai Adikku! Kau akan mati di tanganku jika kau menyentuhnya sedikitpun."
"Bukan aku yang akan membuatnya terluka, tapi kau dengan kekasihmu. Hahaha kau yang akan mati di tanganku jika tidak menuruti perintahku. Aku bisa membuat kepalamu meledak saat ini juga."
"Bagaimana bisa aku membuat Adiku terluka!"
"Jadi kau tidak mau? Dan lebih memilih aku yang langsung turun tangan, jangan menyesal jika Adikmu itu mati di tanganku."
"Jangan! Baik, aku akan menuruti semua perintahmu, tapi aku mohon jangan membunuhnya!" ucap Bora yang merasa tidak ada jalan keluar lagi selain menerima tawaran Lucas. Di mana dia juga sudah berjanji untuk melindungi Jeny meskipun nyawa taruhannya.
"Hahaha bagus, mari kita mulai permainan ini! Dan mulai saat ini kalian berdua, panggil aku Tuan King!"
__ADS_1
"Baik Tuan King" ucap keduanya serempak.