
"Pak apa yang terjadi dengan Ibu?" tanya Leo ke pada penjaga setelah dia tiba di klinik yang tidak jauh dari rumahnya.
"Saya juga tidak tau, Ibu Nur tadi sedang menyiram bunga dan tiba-tiba beliau jatuh pingsan, jadi saya membawanya ke mari."
Leo menghela nafas, saat keluar dari toilet Rumah Sakit ponselnya berdering, dia langsung menerima panggilan setelah melihat nama penjaga yang tertera. Dia panik saat mengetahui Ibunya berada di klinik dan tidak sadarkan diri. Dia lari, dan pergi begitu saja, dia lupa untuk berpamitan ke pada Rian.
Dokter keluar dari ruangan, dan menghampiri keduanya. "Beliau baik-baik saja, dia sudah sadar. Dia hanya kecapean dan juga banyak pikiran" ucapnya.
Leo tertegun, Ibunya sampai pingsan memikirkan masalah yang dia buat. "Huff syukurlah Dok, apa Ibu saya sudah boleh pulang?"
"Tunggu beberapa menit lagi! biarkan Ibumu berbaring sebentar. Dan ini, jangan lupa tebus obatnya!" ucap Dokter sambil menyodorkan selembaran kertas.
Leo menerima lalu berkata. "Terima kasih Dok, saya akan menebusnya segera. Oh iya apa saya boleh masuk ke dalam?" dia ingin memastikan jika Ibu sudah baikan.
"Oh silahkan, tapi jangan tanyakan apapun dulu, yang membuatnya setres" sahut Dokter mempersilahkan.
Leo segera masuk, tapi sebelumnya dia sudah menyuruh penjaga untuk pulang terlebih dahulu. Dia melihat Ibunya berbaring menatap ke atas.
"Bu, apa ada yang sakit?" tanya Leo duduk di samping brangkar Ibunya.
Ibu Nur menoleh menatap Leo, dia menggelengkan kepalanya, "Jangan khawatir! Ibu baik-baik saja. Kenapa kamu di sini Nak? Bukannya kamu ke Rumah Sakit?"
"Iya Bu, tadi Leo berada di Rumah Sakit. Tapi mendengar Ibu pingsan, jadi aku langsung ke mari."
"Bagaimana dengan Nak Viona? Apa dia belum sadar?" itulah yang dia pikirkan, keselamatan Viona, dia tidak pernah pergi menjenguk Viona, Ibu Nur hanya memerintahkan Leo ke Rumah Sakit setiap hari.
"Belum Bu, masih sama" jawabnya senduh. Belum ada yang membari kabar kepadanya jika Viona sudah bangun dari komanya.
...----------------...
Di Rumah Sakit, keluarga Viona sudah berkumpul di dalam ruang perawatan Viona, untung ruangannya bagus dan luas seperti kamar hotel bintang lima. Semuanya senang dan bahagia melihat Viona sadar, termasuk Bi Yun, karena Viona sadar lebih cepat dari sebelumnya.
"Nak, kenapa kamu mengemudi sambil melamun? Apa yang kamu pikirkan?" tanya Tuan Bas ke pada Viona.
Viona kembali teringat, dia bukan cuman melamun saat itu, dia juga marah da kecewa. "Entahlah Dad, mungkin sudah takdirnya. Atau mungkin aku lelah" balasnya beralasan.
"Lelah? Apa kamu kecapean bekerja? Jika begitu berhentilah pergi bekerja, biarkan mereka yang mengurus Restoranmu" sela Momy Jeny.
__ADS_1
"Berhenti bekerja? Ayolah Mom! Masa aku berhenti. Jadi aku hanya berdiam diri dan tinggal di Menssion seharian, itu sangat membosankan" ucap Viona sambil menggelengkan kepalanya.
"Iya Dek biarkan kami yang bekerja untukmu!" Rian juga setuju dengan ucapan Momy nya.
Raka hanya diam, dia sudah tau sikap Viona yang satu itu. Yang di mana dirinya tidak bisa berdiam diri di rumah. Itu akan membuatnya bosan. Apalagi waktu belum bekerja, dia akan keluar kemana saja asalkan jangan tinggal diam.
"Tidak, aku akan malah sakit jika hanya menjadi pengangguran" Viona tetap kekeh, mana mungkin dirinya yang pekerja keras malah tinggal tiduran.
"Ya sudah, cepatlah sembuh jika masih ingin bekerja! Dady akan tetap membiarkanmu bekerja dengan satu syarat. Jangan sampai kelelahan dan membuatmu terluka, jika terjadi kembali Dady akan benar-benar mengurungmu."
"Jangan dengarkan omongan Dady mu, ya terpenting sekarang kamu harus fokus dalam masa pemulihanmu, dengarkan apapun yang dikatakan Dokter."
"Hmm baik Mom!" balas Viona patuh.
"Baiklah Nak, kamu istirahatlah. Momy akan menjagamu. Dady dan Kakakmu akan kembali ke kantor."
"Baik Mom, tapi aku ingin berbicara dengan Kak Raka sebentar!" pintahnya.
"Hmm, kami akan menunggu di ruang tamu" balas Momy Jeny.
Raka berpindah duduk di samping Viona. "Dia datang setiap hari setelah pulang kerja, tapi dia tidak berani masuk melihatmu, dia hanya duduk di depan ruang ICU. Kadang dia tidur di kursi padahal sudah ada kamar yang disewa."
Viona hanya mengangguk lalu berkata, "Ya sudah Kak, aku cuman mau nanya itu."
Raka beranjak, dia sudah bisa menebak jika keduanya masih dalam suatu masalah yang belum kelar. "Baiklah Dek! Kamu istirahat ya! Supaya cepat pulih" ucap Raka mengusap pucuk kepala Viona.
Raka keluar dan bergabung dengan yang lainnya. Dia tidak tau saja, Jika Leo sempat masuk sebelum Viona sadar.
"Huff, jadi siapa aku lihat?" gumamya pelan. Dia sempat melihat sosok lelaki yang keluar dari ruangan, tapi tidak terlihat jelas, karena penglihatannya butuh waktu beberapa menit baru stabil.
...----------------...
Ke esokan harinya, keluarga Duke datang mengunjungi Viona, Rara juga ikut serta, dia belum mengambil Job, dia ingin menhabiskan waktu bersama keluarganya terlebih dahulu, sebelum dia dipadatkan dengan jadwalnya, itu akan sulit untuk melakukan famly time.
"Nak, kamu membuat kami semua khawatir!" ucap Momy Lidya.
"Heheh maaf, jangan khawatir lagi! Aku sudah baik-baik saja. Ehh Rara, kamu kapan datang? Lama tidak melihatmu, makin cantik saja" balas Viona sambil memuji Rara.
__ADS_1
Rara tersenyum manis, itu pujian yang sudah sering dia dengar, tapi dia tidak boleh sombong dia harus tetap rendah hati. "Ah Kak Viona bisa saja, ya begitulah Kak, seorang model harus terlihat cantik di manapun berada" balas Rara bercanda.
"Ya sudah Nak, beristirahatlah! Jangan lupa habiskan buahan itu" unjuknya pada sekeranjang buah yang dia bawa.
"Iya Mom makasih, dan maaf sudah merepotkan. Nanti aku memakannya"
"Mana ada merepotkan, kamu memang harus makan yang banyak dan bergizi dan kaya Vitamin, agar tenagamu cepat pulih."
"Hehe iya Mom, aku akan segera sehat, dan pulih kembali. Aku juga sudah bosan berada di sini."
"Hmm bagus, baiklah Momy dan Rara keluar dulu" ucapnya lalu keluar di mana Tuan Bas dan Tuan jack berada.
Terlihat Keduanya sedang membahas masalah perusahaan. "Nanti kita bicarakan di luar, mungkin besok, aku akan mencari tempat yang bagus."
"Hmm, baiklah. Nanti aku akan memberitahunya setelah dia sehat dan pulih total."
"Ya, dia pasti sangat senang mendengarnya. Emm kalau begitu kami pulang dulu" beranjak dari duduknya.
"Hmm, kalian hati-hati. Terima kasih sudah datang" balas Tuan Jack dan mengantar mereka keluar dari ruangan.
...----------------...
Di Restoran, Leo mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat, agar dia bisa pergi menjeguk Viona lebih cepat juga. Dia belum tau juga jika Viona sudah sadar.
Tok tok tok
Seseorang mengetuk pintu, dia masuk setelah di persilahkan. Leo mendongak ternyata Thea yang menghampirinya sambil tersenyum.
Leo bingung melihat Thea tersenyum seperti itu, tidak biasanya. "Kamu kenapa Thea? Kamu terlihat sangat bahagia?"
Thea duduk tanpa di suruh lalu berkata. "Hmm aku sangat bahagia hari ini Leo. Aku yakin jika kamu belum tahu tentang nona Viona kan?"
Mendengar nama Viona, Leo langsung berdiri, dan seketika wajahnya berubah jadi panik. "Viona? Kenapa dengannya Thea? Apa terjadi sesuatu?"
Melihat reaksi Leo seperti itu, Thea makin yakin, jika Leo belum mengetahuinya. "Apa kamu tidak tau? Jika nona Viona sudah sadar!"
Badan Leo mematung, dia menghela nafas legah, dia duduk kembali dan mengusap wajahnya. Tapi kemudian terdiam memikirkan sesuatu. "Apaaa! Sadar? Kamu tidak berbohong kan Thea?" saking paniknya dia baru sadar dengan ucapan Thea.
__ADS_1