KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
144. Kejutan


__ADS_3

Di Menssion terlihat semua orang sibuk dengan tugas masing-masing. Karena ke kompakan dan juga kerja sama yang solit semua pekerjaan mereka selesai dengan begitu cepat.


"Hah, akhirnya selesai juga!" ucap Rian sambil merenggangkan badannya yang sedikit lelah.


Tuan Jack yang menginginkan semua itu, di mana mereka yang harus melakukannya, tanpa menyewa jasa. "Gimana, serukan? Pasti puaskan dengan hasil kerja keras kalian!"


Mereka semua hanya mengangguk, sempat menolak usul Tuan Jack tersebut. Tapi semua merasa senang bisa melakukannya untuk sang Adik tercinta.


"Emm jadi bagaimana Mom, apa semuanya sudah lengkap?" tanya Rian.


Momy Jeny menatap sekitar, dia juga senang melihat hasil kerja tangan mereka, meskipun dibantu para maid. "Semuanya sudah beres! Besok tinggal tunggu catering dan kue tar nya saja."


Jadi Momy Jeny hanya menyuruh para maid untuk membuat sedikit saja, karena sudah memesan di luar.


...---------------...


Ke esokan harinya, atau hari terakhir liburan Viona dengan Leo. Mereka sedang membeli oleh-oleh sesuai pesanan masing-masing.


"Kak! Jadi sebentar sore kita balik? Kenapa liburannya cuman dua hari? Nanggung tau!" sahut Viona, sambil memilih baju pesanan para Kakaknya.


Leo tersenyum kecil, jika bukan karena sesuatu yang sudah direncanakan, pasti dia akan berlibur lebih lama lagi. "Emm maaf Lie, tiba-tiba besok aku ada kerjaan sama Bang Ray."


Karena sudah menyangkut pekerjaan dan tanggung jawab, Viona tak lagi bertanya. Karena dia tau, Leo ingin seperti Ray, yang bisa berjaya di usia mudanya.


Mereka membayar semua belanjaan, dan pergi ke tempat lain yaitu toko kue. Karena Sang Momy meminta oleh-oleh kue yang khas di kota itu.


Leo yang melihat perubahan sikap Viona langsung berkata. "Lie kamu marah? Maaf ya! Aku juga sebenarnya masih ingin liburan berdua denganmu!"


Viona menatap Leo, dia bukan marah kerena masalah itu. Tapi dia tidak suka, sepanjang mereka berjalan banyak gadis yang menatap Leo sambil tebar pesona.


Karena tidak ingin ketahuan jika dirinya sedang cemburu pun langsung merespon yang sesuai Leo katakan. "Tidak apa Kak! Nanti jika ada waktu senggang kita pergi berlibur lagi, tapi sekeluarga."


Leo tersenyum bahagia, Viona tak lagi memasang wajah datarnya. "Hmm, aku janji. Pasti kita pergi liburan lagi."


Setelah berkeliling membeli oleh-oleh pesanan akhirnya mereka tiba di penginapan. Membereskan semua barang-barang mereka karena sebentar lagi Otw bandara.


"Padahal datang kemari bawaan cuman sedikit. Kenapa pulangnya seperti mau pindahan!" ocehnya.


Leo terekekeh mendengarnya. "Heheh iya juga yaa. Tapi mau bagaimana lagi, tidak mungkin kita pulang, tanpa membeli pesanan mereka."


"Hmm kamu benar Kak, apalagi Kak Rian. Dia akan mengataiku pelit jika tidak menuruti maunya yang super banyak itu" balas Viona sambil melihat pesanan Rian yang paling banyak diantaranya.


"Sudah! Mereka pasti senang. Oh iya Lie, pulang nanti kamu pake baju ini ya?" pinta Leo sambil memberikan sebuah paper bag yang berisikan gaun.


Meski heran Viona tetap menerimanya, "Wah ini sangat cantik. Kapan Kak Leo membelinya? Kenapa mesti pake gaun ini? Kan sayang jadinya!"


"Itu aku beli kemarin, saat kamu mampir di toilet toko. Ya tidak apa sih, tapi kalau tidak mau pake juga tidak masalah."


Viona masih memandangi gaun itu sambil tersenyum bahagia. "Aku pasti memakainya Kak!"

__ADS_1


...----------------...


Waktu berjalan begitu cepat, mareka baru saja tiba yang dijemput oleh Pak Sopir, "Pak, ke mana yang lain? Kenapa bukan mereka yang jemput?" tanya Viona ke pada Pak Sopir.


Sesuai perintah yang disampaikan Pak Sopir menjawab. "Emm itu non, Nyonya dan Tuan sudah tidur, dan yang lainnya katanya kelelahan, jadi saya yang disuruh menjemput."


Viona kesal dibuatnya, melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul jam sebelas malam. "Hmm sudah jam segini, jam tidurnya Dady sama Momy" gumamnya.


Leo yang duduk di samping Viona hanya diam sambil memejamkan mata. Dia takut jika salah ngomong membuat semua rencana yang sudah di atur jadi berantakan.


Viona berpikir jika Leo sangat kelelahan, karena selama liburan mereka benar-benar mengahbiskan waktu untuk berjalan-jalan. "Pak! Antar Kak Leo dulu!"


Mendengar hal itu, seketika Leo membuka mata. "Tidak Pak, antar ke Menssion saja. Aku harus bertanggung jawab, dan memastikanmu selamat sampai masuk kamar."


Viona menggeleng, tak menyangka jika Leo juga bisa posesif ke padanya. "Heheh baiklah Kak, ikuti perintahnya Pak!" balasnya lalu bersandar di bahu Leo.


Setiba di Menssion, keduanya langsung masuk. Tapi suasana terlihat begitu sepi. Para maid juga tak terlihat seorang pun. "Kok sepi? Tumben juga semua lampu tengah di matiin? Apa mereka sudah tidur ya?"


"Lie kamu tanya aku! Terus aku tanya siapa? Kitakan datangnya bersamaan" balas Leo sambil melihat sekeliling.


"Jadi bagaimana Kak, mau antar aku sampai kamar? Atau Kak Leo mau langsung pulang? Atau Kak Leo nginap saja, besok pagi baru balik!"


Baru ingin menjawab, tapi tiba-tiba lampu utama menyala, di ikuti semua lampu hias yang berkelap kelip juga ikut menyala. Terlihat dengan jelas di mata Viona. Balon yang memenuhi ruangan dengan bertuliskan Happy Birthday.


"Selamat ulang tahun!" terdengar banyak suara dari arah samping, yang tiba-tiba tirai terbuka dan tampaklah mereka di sana dengan wajah bahagianya termasuk Bora beserta Istri dan Anaknya Sisil.


Viona yang baru sadar, jika semua itu adalah untuknya. Dia yang tak pernah lagi merayakan ulang tahunnya sampai lupa, jika hari itu adalah hari kelahirannya.


"Selamat ulang tahun Anak Momy! Jangan menangis sayang! Kamu harus tersenyum di hari bahagiamu!" sahut Momy Jeny sambil memeluk Anaknya.


Viona mengusap air mata bahagianya. "Terima kasih Momy!"


Tuan Jack juga memeluk Anaknya. "Happy Birthday sayang, Semoga kamu selalu hidup dalam kebahagian! Tetap menjadi dirimu sendiri, selalu merendah, karena di atas langit masih ada langit" pesannya.


"Terima kasi Dady!" sambil membalas pelukan Tuan Jack.


Semua mengucapkan selamat ke pada Viona secara bergantian. Begitu juga dengan para Kakaknya. "Bagaimana kejutannya Dek! Kamu suka?" tanya Rian.


Viona mengangguk, dia sangat salut ke pada orang tuanya, lebih memilih melakukan semua itu dari pada menyewa orang luar. "Hmm, kejutan kalian berhasil. Tapi apa ini ada hubungannya dengan liburanku?"


Mereka hanya tersenyum kikuk, "Ya mau bagaimana lagi Dek? Kalau tidak seperti itu, kamu akan tau rencana kami!"


"Jadi Kak Leo juga sudah tau?" tanyanya sambil mencari keberadaan Leo, tapi tak menemukannya. "Awas kamu ya Kak, ternyata kamu mengajakku liburan karena disuruh."


"Jangan marah sama Nak Leo! Kami yang meminta bantuannya. Tapi katanya dia ada kejutan buat kamu!"


Viona tidak marah, dia hanya bercanda. Bahkan seharusnya dia harus berterima kasih ke pada mereka, karena seperti itu dia bisa pergi berlibur dan berduan dengan Leo.


"Bercanda Mom! Kejutan! Tapi Kak Leo ke mana? Perasaan tadi dia berdiri di sampingku!" ucapnya.

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu muncullah Leo beserta keluarganya dari arah belakang. Dia sudah mengganti bajunya, yang senadah dengan warnah gaun Viona.


Viona terkejut dan juga melongo, terlihat Leo sangat tampan saat itu. "Mereka di sini juga?"


"Dek jangan lupa berkedip? Ya mereka sejak tadi di belakang. Nunggu giliran!" sahut Raka.


Kayak ngantri sembako saja nunggu giliran. Leo dan keluarganya jalan mendekat, terlihat juga Omah Jihan dan Rara ada di sana.


"Selamat ulang tahun Nak!" ucap Momy Lidya dan suaminya serempak.


"Terima kasih Momy, Dady. Kalian rela nungguin aku sampai merelakan waktu istirahat."


"Tidak masalah Nak, sekali-kali kan tidak apa!" balas Tuan Jack.


Ray juga tak ingin kalah, dia mendekat ke Viona mengajaknya bersalaman, dia juga sangat ingin memberikan pelukan tapi ada hati yang harus dia jaga. "Selamat ulang tahun Vio. Ingat jangan suka berantem lagi!"


Viona segera menjawab candaan Ray, karena tidak ingin suasananya berubah jadi canggung. "Heheh tergantung kondisi."


Semuanya hanya menggeleng, bagaimana bisa hoby itu masih dia ingin lakukan. Apalagi kalau bukan membunuh para musuhnya.


Semua juga memberi ucapan selamat ke pada Viona. Leo terlihat lebih banyak diam, sampai gilirannya tiba.


"Lie selamat ulang tahun, maaf jika tidak memberitahumu! Semoga kamu selalu diberi kesehatan dan kebahagiaan, dijauhkan dari segala hal buruk dan selalu dikelilingi orang-orang baik."


Viona menatap Leo sambil tersenyum manis. "Hmm terima kasih Kak! Aku akan selalu hidup bahagia."


Leo tiba-tiba merasa gugup, tapi berusaha agar apa yang dia inginkan bisa tercapai. Dia merogoh sakunya dan tampaklah sebuah kotak kecil di tangannya.


"Huff, Sebelumnya aku ingin minta maaf dengan sikapku yang kurang tegas. Pasti kamu bertanya-tanya kan bagaimana sebenarnya status kita selama ini!"


Viona mengangguk, memang dia sangat bingung. Karena Leo tak kunjung menembaknya untuk menjadikannya ke kakasih. Belum lagi Leo sering mangatakan cinta, yang mana membuat hatinya bimbang.


Leo tersenyum melihat Viona mengangguk. "Sekarang aku ingin memperjelasnya, aku harap apa yang terjadi ke depannya sesuai apa yang aku inginkan!"


"Selain karir yang aku perjuangkan mati-matian, ada satu hal yang aku perjuangkna sejak dulu, yaitu kamu. Jadi, maukah kamu jadi milikku? Maukah kamu menikah denganku?" sambil membuka kotak berisikan Cincin.


Semua tersenyum bahagia, karena sebelumnya Leo sudah memberitahu ke inginanannya ke pada orang tua dan keluarga Viona. Tapi mereka belum bisa bernafas legah sebelum Viona menjawab permintaan Leo.


Viona mematung, apa ini kejelasan yang dia inginkan selama ini. Dia kembali menangis, karena sekali lagi mendapat kejutan di hari ulang tahunnya.


Dia yang memang sangat mencintai Leo, dan juga selalu ingin bersamanya tak lagi berpikir panjang. Tapi sebelumnya, dia menatap semua anggota keluarganya. Air matanya makin deras, saat melihat sebuah anggukan.


"Aku mau!"


Mata Leo juga sudah berkaca-kaca, dia tak menyangka bisa berada dititik itu. Melamar seorang wanita yang dia cintai. Lalu dia memakaikan cincin di jari manis Viona.


Setelah cincin terpasang dengan indah, dia mengusap sisa air mata Viona lalu memeluknya. Menyalurkan semua kebahagian yang dia rasakan, sampai tak sadar lagi jika dirinya sudah meneteskan air mata.


Semuanya ikut bahagia, dan terharu. Barulah para maid dan semua anggotanya muncul setelah mendengar jawaban Viona. Tak lupa kedua harimau juga ikut merayakannya.

__ADS_1


"Lie aku mencintaimu!" bisiknya sebelum melepas pelukannya.


~TAMAT


__ADS_2