
Jam 19:30, Jino menunggu Neta belum juga keluar dari kamarnya. "Pelayan." Panggil Jino. "Ya, tuan muda." Menghampiri jino dengan hati-hati, takut melakukan kesalahan yang tidak sengaja.
"Kenapa Neta belum keluar kamar juga?" Tanyanya dengan rahang mengeras, menahan kekesalan sepada adiknya yang satu ini.
"Itu... Anu tuan." Pelayan itu menjawab terbata-bata.
"Huammmm, ada apa ini? Lagi enak-enaknya tidur di bangunin, ada apa?" Sambil menggaruk kepala dan berjalan ke arah Jino, betapa terkejutnya Jino melihat Neta yang masih menggunakan baju tidur, dan belum berdandan sama sekali.
"Neta!" Teriak Jino menepuk jidatnya. Neta yang tadi masih mengantuk, langsung segar setelah mendengar teriakan Jino yang ada di depannya.
"Eh! Buset dah, gak usah teriak juga kali, sampai intan pada keluar segala." Racau Neta sambil melap wajahnya dengan tisu yang di berikan oleh pelayan.
Pffffff.. Ha... ha... ha.. Pecah tawa Seno, sedari tadi, dia memperhatikan Jino mundar-mandir di ruang tamu. Ternyata sedang menunggu Neta pergi ke pesta, mata elang jino langsung menatap Seno dengan tajam.
"Oke, aku diam. Silahkan lanjutkan pangeran." ucap Seno bergedik ngeri, di tatap Jino dengan mata elangnya.
Jino langsung menatap Neta, orang yang ditatap malah ngupil santai. Melihat Neta yang jorok membuat jino tambah geram.
"Neta, cepat mandi, habis itu berdandan. Paham?" bertanya dan Neta hanya mengangguk saja, Jino langsung menarik tangan Neta dengan di lapisi tisu tangannya. Dan membawa Neta ke atas menuju kamarnya.
"Gak sekalian aja, Neta di mandikan?" Teriak Seno kepada jino sambil tertawa terbahak-bahak, bagi Seno jarang melihat Jino kesel dengan Neta.
Uhukk... uhukkk.. uhukkk... Keselak air Seno. "******." ucap Jino kepada Seno.
"Mandi, habis itu pakai gaun ini!" Perintah jino kepada pelayan, untuk Neta pakai gaunnya.
"Hah!!" Merasa bingung, karena belum di jelaskan dari tadi.
"Hah, hah. Cepatan mandi sana, pelayan mandikan dia dan dandani secantik mungkin, aku tunggu di bawah. Dalam 15 menit semuanya sudah beres." ucap Jino dan di angguki semua pelayan yang ada di kamar Neta.
"Mari nona muda." Mendorong tubuh Neta, menuju kamar mandi, setelah jino memberi perintah. Para pelayan langsung melakukan pekerjaannya, Neta hanya bisa pasrah dengan keadaan sekarang percuma dia melawan atau bertanya, yang ada dia malah di marahi Jino.
"Kenapa lama sekali." Gumam Jino, mundar-mandir di depan Seno, dan itu membuat Seno jengkel.
"Bisa duduk gak? aku jadi gak konsen nontonnya." Ketus Seno, melihat kelakuan jino yang menyebalkan, sudah tau kalau Neta tidak suka dengan acara begituan. Masih saja ngotot bawa dia kesana.
"Diam saja, gak usah liatin, kalau gak suka." Sarkas Jino yang menatap wajah Seno.
__ADS_1
"Yasalam, bagaimana aku gak liatin, kamu aja mundar-mandir di hadapan aku Jino." Geram Seno yang menahan amarah.
Tak... tak.. tak...
"Tuan muda pertama, tuan muda kedua." panggil pelayan itu sambil mempersilahkan Neta berjalan menuju kakanya.
Jino dan Seno yang awalnya berdebat, tercengang sekaligus takjub melihat kecantikan Neta, yang tak ada duanya bagi Kaka beradik ini.
"Ehemm," pura-pura batuk, Neta grogi di tatap sama kaka-kakanya tanpa berkedip.
Jino dan Seno langsung sadar. "Ehemm, mari jalan." mengulurkan tangan kepada Neta.
Neta merasa bingung apa yang harus dia lakukan, Neta melirik ke Seno dan langsung mengerti kode Seno, untuk menyambut tangan Jino.
"Baiklah." Tersenyum hangat, Jino yang melihat senyum Neta, terpesona. Sehingga membuat wajah Jino merah merona.
"Apa yang kamu pikirkan, dia adek kamu sendiri, jangan aneh-aneh Jino. Ingatlah dia adek kamu." Batin Jino, dan terus menatap wajah Neta.
Selama perjalanan Neta terus bertanya-tanya kepada Jino, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Dan itu membuat Neta kesal setengah mati.
CLICKKK..
Jino mengulurkan tangannya kepada Neta, untuk keluar dari mobil, semua wartawan tertuju kepada Jino. Mereka penasaran wanita mana yang akan menjadi pasangannya malam ini.
"Keluarlah." ucap Jino tersenyum lembut kepada Neta.
"Oke Neta, ini bukan pertama kalinya kamu hadir kepesta, di kehidupan kamu sebelumnya sudah sering melakukannya. Jangan buat Kaka kamu malu." batin Neta.
Neta menarik napas dalam-dalam dan menyambut tangan Jino, Jino dapat merasakan kalau Neta sedikit gugup. "Apa pun yang kamu lakukan, percayalah Kaka selalu ada di untuk mu." bisik Jino kepada Neta.
"Kaka tenang saja, aku tidak akan membuat Kaka malu." Tersenyum ke arah kamera.
Semua wartawan terus mengambil foto Neta, mereka bertanya-tanya siapa kah gadis cantik ini.
"Jadi begini pesta di sini, tidak terlalu jauh dengan jamanku." Batin Neta, matanya terus menelusuri setiap inci ruangan.
"Ah!"
__ADS_1
"Kamu kenapa?" tanya jino yang melihat wajah Neta langsung pucat.
"Neta!" panggil seseorang dari jauh.
"Viola?" gumam Neta, yang melihat viola berjalan ke arahnya
"Kak Jino, lama tak bersua." Memberi hormat.
"Iya, bagaimana kabar kamu?" Tanya Jino yang terus merangkul Neta.
"Baik kak, Neta kamu sama aku aja, bolehkan kak?" tanya viola dengan wajah memelas.
"Baiklah, tolong jaga dia, kalau ada apa-apa panggil aku." Ucap Jino dan membelai pipi Neta dengan lembut.
Neta hanya tersenyum dan mengikuti viola ke teras untuk menghirup udara segar. "Kau kenapa pucat?" Tanya viola yang cemas melihat ke adaan Neta.
"Kepala ku pusing, seperti ingatan ku dulu muncul tiba-tiba." Jawab Neta dengan menyadarkan badannya di pagar teras.
"Benarkah, kalau kau mengingatnya itu jauh lebih baik." Tersenyum masam viola, Neta yang menyadari senyuman itu hanya bisa tersenyum kecut.
"Jangan terlalu berharap ke padaku." ucap Neta, sambil memanggil pelayan. "Terima kasih." mengambil air minuman dan menyerahkannya ke Viola.
Viola tidak paham apa yang di maksudnya Neta,viola hanya menatap Neta dengan senyuman.
"Berhenti menatap ku seperti itu, atau kau akan jatuh hati kepada." canda Neta untuk mencairkan suasana.
"Aku masih normal, dan jika benar cowok di dunia ini tidak ada. Aku juga gak akan mau dengan mu." ketus viola dengan ekspresi serius.
"Siapa mereka berdua?" tanya seseorang yang sedari tadi memperhatikan, tingkah mereka dari jauh.
"Hamba tidak tau, apakah anda ingin saya selidiki gadis-gadis itu?" Tanya pengawal itu kepada pangeran.
"Tidak usah, aku hanya bertanya saja. Apakah kau mengetahui semua tamu di sini? ternyata aku terlalu memandang tinggi kamu." ucap pangeran itu yang terus menatap ke arah Neta dan viola.
"Maafkan hamba yang mulia."
Neta Euginus Detras
__ADS_1