
"Ngapain ke sini?" Tanya Jino yang penuh selidik, tapi masih fokus dengan laptop nya.
"Mama gak di suruh duduk nih, dasar anak kurang ajar, Kenapa bisa mempunyai anak yang sifatnya menyebalkan. Untung ganteng," Dengan nada cemberut.
"Hemm... Silahkan duduk, mama mau minum apa?" Tanya Jino yang agak canggung, selama ini Rika jarang ke kantor Jino. Bisa di hitung dengan jari, makanya banyak karyawan tidak percaya kalau itu ibu atasan mereka, melainkan kekasih jino, karena umur mereka hanya berjarak 10 tahun an.
Dulu mama Rika nikah muda, gak heran, kalau mereka sering di bilang pasangan kekasih di bandingkan ibu dan anak.
"Mama hanya sebentar saja," Rika duduk di sofa panjang berwarna putih, Rika melihat-lihat ruangan Jino yang isinya hanya buku, gantungan baju, peralatan kantor. Sisanya hanya dinding putih polos tidak ada warna lain, sangat membosankan, siapa pun yang masuk keruangan ini. Pasti berfikir kalau ini adalah ruangan pasien.
"Mah!!" Jino menghampiri mama Rika yang masih sibuk meneliti ruangan Jino.
Jino semakin bingung melihat kelakuan mamanya, yang tidak seperti biasanya. "Mah... mamah kenapa sih, ada yang aneh dengan ruangan aku? atau ada yang menggangu mama? Jawab dong mah!!" Tanya Jino yang semakin penasaran dengan mama Rika.
"Umur kamu berapa sekarang?" Menatap wajah Jino.
DEG...
Mulut Jino tertutup rapat, kalau ibunya membahas umur pasti hujung-hujung nya minta menantu. Bukannya Jino tidak ingin menikah, tapi. Jino belum menemukan wanita yang pas untuk pendamping hidupnya. Pernikahan bukanlah perkara yang mudah, perlu fikiran yang matang, Apa lagi ini sekali dalam seumur hidup, harus hati-hati memilih pendamping hidup.
"Ish, jawab dong... kok malah diam?" Mama Rika bersedekap, dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
Jino yang gemes dengan kelakuan mamanya ini, rasanya ingin mencubit pipi Rika, seperti seorang pacar yang sedang ngambek kalau keinginannya tidak terpenuhi.
"Mah..." Panggil Jino agar mama Rika menatap jino, tapi mama Rika enggan menatap nya.
Jino beralih duduk dan menangkup wajah mama Rika, lalu menyatukan kening mereka bersamaan. "Umur ku masih muda, baru 28, dan.... Kalau mama menanyakan kapan aku menikah," Jino menjeda sebentar lalu kembali menatap mama Rika. "Maka, aku akan menjawabnya. TIDAK UNTUK SEKARANG, jadi... mama sabar yah," Mencium kening mama Rika, mama Rika langsung memeluk tubuh Jino.
Agak sesak dada Mama Rika saat mendengar perkataan Jino barusan, tapi tetap tidak akan bisa menghentikan mama Rika, mencarikan pasangan untuk putranya ini. "Ya udah, mama pulang dulu, selamat bekerja sayang." Mencium kedua pipi Jino dan langsung pergi dari ruangan Jino.
__ADS_1
Jino langsung menelpon seseorang, setelah memastikan mama Rika benar-benar pergi dari sana. "Hello?" Jawab seseorang dari seberang sana.
"Ikuti mama saya, dia pergi kemana, sedang apa, bersama siapa, dan apa saja yang menyangkut mama saya. Tidak ada yang boleh terlewatkan sama sekali, paham!!" Setalah itu, Jino mengakhiri panggilan nya, dan menatap kota di luar sana Sambil meminum kopi hitam.
Mama Rika menghampiri resepsionis yang ada di kantor Jino. "Hi!!" Sapa Rika, celingak-celinguk memastikan kalau Jino tidak ada di sana.
"Ada yang bisa saya bantu Nona?" Tanya resepsionis itu dengan sopan.
"Panggil aku ibu, bukan nona, hehehe... Aku tau aku muda, tapi masa iya aku semuda itu, bikin malu aja." Membelai wajahnya yang lembut.
"Baiklah, ada yang bisa saya bantu Bu? Tanya ulang resepsionis itu dengan senyum bibir yang sangat manis.
"Ada, Apakah kamu sudah menikah?" Rika langsung bertanya tanpa basa basi, Resepsionis itu hanya tersenyum, karena itu adalah private, jadi tidak semudah itu dia mengungkapkan identitas. Karena sedang ada di perusahaan.
"Gini, kalau kamu belum menikah, aku punya putra dia juga belum menikah. Apa kamu mau?" Penuh semangat sambil memegang tangan resepsionis wanita itu.
"Maaf jangan di ganggu, saya lagi bertanya yang penting ini," Tanpa melihat orang yang ada di belakang sana.
"Kamu pasti akan suka dengannya, Wajah yang tampan, bodynya bagus, semua pokoknya ada padanya. Cuman satu aja sifatnya yang membosankan, seperti kertas kosong, kamu mau gak?" Resepsionis itu berusaha menahan tawa, dan memberi kode ke Rika, kalau orang yang sedang dia bicarakan sedang ada di belakang nya. Tapi mama Rika malah ikut mengerakkan matanya melirik ke samping, yang tidak ada siapa-siapa.
"Apa?" Bisik mama Rika, yang kini perasaan nya tidak enak, ada hawa dingin di belakang dia.
"Mama kira aku kue apa? Yang di Jaja ke sana kemari, asal tawar aja ke orang lain?" Jino menatap mama Rika yang kaget kedatangan Jino yang tiba-tiba begitu.
"Astaga nih anak, bikin jantungan aja." Memegang dada kirinya yang berdetak kencang, seperti ketangkap basah, tapi emang iya sih, karena ngatain anaknya sendiri bahkan di kantornya.
"Kalau kamu kue, pasti udah laris. Yah secara kan, kamu itu limited edition, pasti banyak yang menginginkan kamu." Menaik turunkan alisnya.
"Nah maka dari itu, gak sembarang orang yang mempunyai kue limited edition," Jawab Jino yang tidak mau kalah sama mama Rika.
__ADS_1
"Udah ah, mama pulang aja, males di sini." Rika langsung pergi dari sana, dan mengabaikan Jino.
"Yasalam punya orang tua," Jino hanya geleng-geleng kepala, dia tau betul watak mama Rika. Dia tidak akan menyerah begitu saja, untuk memintanya menikah secepatnya.
"Kembali bekerja!!" Perintah Jino, dengan nada dingin. Beda saat bersama ibunya, dengan senyuman lembut dan suara yang sangat lembut, tidak seperti sekarang dingin dan tatapan tajam. Seperti pedang yang siap menikam siapa saja.
Semua karyawan segera kembali bekerja, mendengar perintah Jino yang dingin. Tidak ada yang berani membantahnya sama sekali.
Neta berjalan cepat memasuki kamarnya, setelah berganti pakaian dia menuju dapur. "Pelayan, mama kemana?" Membuka kulkas mengambil botol air dan langsung meminumnya.
"Kata nyonya, dia ingin bertemu teman-teman nya nona muda."Jawab pelayan itu menghentikan kegiatannya memotong bawang merah. Neta hanya menganggukkan kepalanya, sambil memakan buah apel. Lalu Neta keluar dan duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
RESTORAN
"Ya ampun tangan aku gatal banget," Menggaruk tangannya yang penuh dengan cincin dan gelang.
"Ah!! Padahal di sini Ac nya nyala, tapi kok panas banget yah?" Melepas mantel bulu, dan memamerkan kalung berlian keluaran terbaru.
"Eh... eh.. Berasa ada yang nyangkut, Bisa bantu aku gak." Ucapnya dan di bantu teman yang ada di samping. Di lihat anting yang baru dengan ukiran yang sangat cantik.
Rika hanya tersenyum dia sudah biasa melihat kejadian seperti ini. Setiap kali mengadakan pertemuan, pasti ada saja memamerkan barang branded mereka. Seolah-olah itu adalah hal yang wajib, tanpa memamerkan pasti ada yang kurang.
Dan saat seperti ini lah mama Rika beraksi, Mama Rika Melepaskan sarung tangan, di sana terlihat cincin dan gelang bermerek perusahaannya sendiri. Belum cukup sampai di sana, mama Rika Melepaskan syal nya dan memamerkan kalung yang sama dengan antingnya, kalung penuh dengan batu permata di seluruh dunia, di bagian buah nya ada batu safir yang sangat indah, yang di dalamnya terukir nama Perusahaan RK.
Masih belum puas, mama Rika menggaruk kakinya dan nyonya-nyonya itu pun melihat kaki Rika, yang mengunakan gelang kaki, penuh dengan berlian berbagai dunia.
Semua yang ada di tempat itu, saling menatap Rika dengan takjub, meskipun Rika jarang pamer tapi sekali pamer membuat nyonya-nyonya yang melihatnya langsung iri.
"Makanya jangan sombong, di langit masih ada langit." Batin Rika tersenyum sinis.
__ADS_1