
"Kemana lagi kita mencarinya? Tetangganya bilang dia pindah setelah anaknya berusia dua tahun, jadi sudah sangat lama!"
"Hmm kita harus balik lagi ke Rumah Sakit itu. Kita perlu cek CCTV, untuk melihat wajahnya. Akan sangat sulit jika kita tidak punya petunjuk sedikitpun."
"Ya kamu benar Rian! Jadi kapan kita pergi ke Rumah Sakit lagi?" tanyanya.
"Besok saja! Untuk hari ini kita istirahat saja. Kamu pasti juga sudah kelelahan mengemudi seharian" balasnya.
"Ya, kamu sangat pengertian!" ujarnya sambil beranjak dari duduknya menuju kamar untuk segera menuju alam mimpi.
...----------------...
"Apa? Mereka sudah mulai mencarinya! Hahaha aku akan lihat sampai mana kamu akan bertahan di negara ini keponakanku tersayang!" ucapnya setelah sang anggota memberi laporan. "Bagaimana dengan gadis itu?"
Dia mematung, pertanyaan yang dia hindari akhirnya keluar juaga. "Maaf Bos! Kami belum mendapatkan apa-apa!" balasnya menunduk dan juga takut akan mendapat hukuman lagi.
"Siapa sebenarnya gadis itu, sangat mesterius! Aku sangat penasaran, bagaiamana bisa dia sangat susah untuk di cari" ujarnya dengan serius. "Tetap cari dia! dan yang lainnya awasi keponkanku itu, sampai aku ada waktu untuk bertemu dengannya."
"Baik Bos!" jawabnya cepat, merasa sedikit legah karena Bosnya tidak memberi hukuman.
"Tapi aku juga penasaran, kemana perginya anak itu setelah dia di usir. Jejak terakhir dia tinggal di hotel dan setelahnya menghilang tanpa jejak. Dia juga sangat sulit untuk di temui, tapi biarlah, aku saja tidak bisa menemukannya apalagi mereka yang tidak tau apa-apa!" gumamnya pada dirinya sendiri.
...----------------...
Waktu berlalu begitu cepat, malam telah beralalu, pagi kembali dengan pancaran pancaran sinar matahari yang terik menyinari bumi di pagi hari.
Hari terakhir liburan, semuanya tidak menyinyiakan waktu, mereka melakukan aktifitas masing-masing, kebanyakan dari mereka berjemur di pinggir pantai.
Raka dan Nora sedang menaiki perahu untuk menuju pulau yang ada di seberang, tidak lupa mengajak Bi Yun, Frisli dan Ibunya.
Sisanya menaiki Banana Boat, mereka sangat menikmati liburan pertama mereka, apalagi mereka yang dari kampung yang baru pertama kali manaiki wahana seperti itu.
Viona? Dia masih berada dalam mimpinya. Akhir-akhir ini dia makin susah tidur, dan jika dia tidur paling lama hanya empat jam itupun tidurnya tidak begitu nyenyak.
Dia terbangun setelah matanya terkena pantulan sinar matahari melalui kaca jendela, dia mengucek matanya, dan mengumpulkan semua nyawanya kembali. Duduk, diam dan melamun itu hal rutin kebanyakan orang lakukan.
__ADS_1
Beberapa menit, Viona beranjak ke kamar mandi untuk bersih-bersih, dan bengong lagi sejenak lalu mengkuncir rambutnya asal. cuman cuci muka dan gosok gigi itu yang di kakukan bagi orang yang malas mandi.
Dia memperhatikan sekitar, setelah Viona keluar dari kamar, terlihat sepi tidak seperti biasanya. "Kemana mereka semua? Cek, apa mereka meninggalkanku sendiri di sini!"
Viona berjalan ke dapur, dia ingin sarapan terlebih dahulu, baru menyusul mereka semua, tapi saat dia melewati ruang tengah dia melihat seseorang yang sedang duduk dan memainkan ponselnya.
"Kak Leo!" sapanya setelah melihat lebih jelas. "Kenapa Kak Leo masih di sini? Tidak menyusul yang lain?" tanya Viona dan duduk di samping Leo.
"Hmm aku menunggumu bangun, kamu sendiri di sini, jadi Bibi meyuruhku tetap tinggal untuk menemanimu" balasnya.
Viona tersenyum, hal sekecil itupun membuatnya bahagia. Padahal tanpa di temani dia juga tidak akan pernah takut, "Hmm ya sudah, aku sarapan dulu baru kita menyusul mereka."
Leo mengantar Viona ke dapur, dia hanya menamani tidak ikut makan. Karena dia sudah sarapan bersama dengan yang lainnya tadi.
Leo memperhatikan Viona yang sarapan nasi goreng, dengan masi muka bantalnya, tapi terlihat menggemaskan di matanya, Viona yang di tatap seperti itu hanya mengabaikannya tapi merasa sedikit gugup.
Leo baru sadar, dari semenjak dia memakaikan hoodienya kepada Viona, sampai sekarang dia terlihat sering memakainya di setiap baru bangun tidur. Leo tidak menegur, dia malah tersenyum kecil.
"Ayo Kak aku sudah siap!" ajaknya setelah beberapa menit sarapannya habis. Tidak pergi mengganti baju, penampilannya sudah pas meurutnya.
"Apa aku bisa? Takutnya kita jatuh Li!" kata Leo tidak percaya kalau dirinya bisa mengendarainya, karena dia tidak punya pegalaman sebelumnya.
"Kamu bisa Kak, tidak bedah jauh Kok sama naik motor, bedanya ini di atas air, kita juga pakai baju pelampung Kok, jadi Kak Leo tidak usah khawatir" jelasnya.
"Hmm baiklah, mari kita naik!" ucapnya dengan semangat, "Li Apa kamu sudah siap?" tanyanya setelah mereka sudah duduk di atas Jet ski.
"Berangkat" teriaknya. "Kak yang kencang biar lebih seru!" perintahnya sebelum Leo menancap Gas.
Leo menarik tangan Viona, dan melingkarkan di perutnya. "Pegangan yang kuat, kita akan balapan dengan mereka" tunjuk Leo dengan dagunya kepada pengawal yang juga sedang naik Jet ski.
Mereka benar-benar balapan di tengah laut, Leo berada di urutan terakhir, dia tidak berani lebih kencang lagi. Takut terjadi apa-apa, apalagi ada Viona bersamanya.
"Kak kenapa berhenti?" tanya Viona heran, melihat Leo berhenti di tengah-tengah laut. Dia berpikir jet skinya rusak. "Yang lain sudah sampai semua"
"Kita lihat pemandangan dari sini dulu, baru kita balik. Biarlah, mereka pasti senang" balas Leo sambil menatap laut yang tidak berujung.
__ADS_1
Viona juga melihat sekitar, benar-benar sangat indah. "Menabjukkan" gumamnya tanpa melepas pegangannya.
...----------------...
"Mbak! Apa kamu melihat Viona dan Leo? Apa mereka sudah turun dari Villa?" tanya Raka pada salah satu maid yang bernama Febi. Mereka sudah balik dari naik perahu.
"Iya Tuan, mereka sudah turun. Tapi tadi lagi naik itu?" tunjuknya, karena dia merasa susah untuk menyebut benda itu.
"Oh iya aku melihatnya, kayaknya lagi berhenti di tengah laut. Apa kamu mauk naik itu?" tanya Raka lagi.
Sang maid terkejut, bagaimana mungkin dia naik itu bersama sang majikan. "Ehh tidak Tuan, aku tidak berani!" balasnya sedikit takut. Takut karena sudah menolak. Bukan apa-apa dia cuman sedikit tidak enak.
"Kamu tidak usah takut, kamu tinggal pegangan kok, dan jangan banyak gerak" Raka masih tetap berusaha mengajaknya.
"Tapi Tua,,!" Dia ingin membantah lagi. Dia benar-benar merasa tidak enak hati. Apalagi yang lainnya ada di situ. Hal itu tentu akan menjadi bahan gosip.
"Tidak ada tapi-tapian! Semuanya akan aman!" katanya sambil naik dia atas Jet ski.
Dia tidak lagi menolak. Dia sangat terpaksa mengikuti ajakan sang majikan. Dia naik dengan bantuan yang lainnya.
Hanya kecepatan sedang, karena dia merasakan tangan Febi sedikit bergetar saat Raka menyuruhnya untuk berpegang di bahunya. Padahal akan seru jika kecapatan maksimal, tapi itu risikonya sudah mengajak orang yang penakut.
Beberapa menit akhirnya, mereka sampai di mana Leo dan Viona berada. "Kenapa kalian berhenti di sini" tanya Raka juga mematikan mesinnya.
"Apalagi kalau bukan menikmati pemandangan yang indah ini! Kak Raka sendiri ngapain ke sini?" tanya Viona balik.
"Kenapa? Ohh apa aku mengganggu waktu berduan kalian ya?" ejek Raka dan pura-pura menyalakan mesinnya kembali.
"Ehh tidak kok, mana ada mengganggu! Orang juga tidak ngapa-ngapain!" balasnya. "Ehh ada Mbak!" lanjutnya yang baru sadar ternyata ada seseorang di belakang Raka.
Leo hanya tersenyum mendengar keduanya, walau sering adu mulut begitu tapi mereka saling sayang. Dia makin tersenyum saat Viona membisikkan sesuatu kepadanya.
"Iya non" balasnya singkat.
"Ya ya ya, kenapa kalian senyum-senyum begitu? Main bisik-bisik lagi. Awas kalian ya!"
__ADS_1