
Neta berusaha meminta Viola dan meta untuk saling melepaskan satu sama lain, tapi mereka bukannya mendengarkan permintaan Neta malah sebaliknya mereka saling mengencangkan genggaman satu sama lain.
Mama viola yang baru datang langsung melerai mereka berdua. “Uhukkk... Uhukkk...” Batuk meta sedangkan Viola mengusap dagunya. “Apa, apaan kalian berdua ini heh?!” Teriak mama viola dengan menatap tajam ke mereka berdua.
“Apa kabar Tante lama tidak bersua, hemmm... kira-kira sudah 5 tahun yang lalu kita tidak pernah bertatap muka, sejak Tante berusaha menghilangkan diriku bukan?” mama viola terkejut pantesan mereka seperti tadi ternyata orang itu bukanlah Meta. Melainkan orang lain yaitu Berliana.
“Kamu, kamu jangan bilang?” Berliana tersenyum puas dia bahkan mengangkat sebelah alisnya dengan Sangat enteng. “Sejak kapan?” tanya mama viola dengan separuh tidak percaya apa lagi dia sudah berusaha melenyapkan Berliana dalam diri Meta dan selama itu tidak ada tanda-tanda akan munculnya Berliana dalam diri Meta.
“Entahlah, tapi aku rasa saudara aku ini tidak keberatan tuh kalau aku muncul. Kadang juga dia meminta aku melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan sendiri, contohnya berakting menyayat urat nadi?.” Neta dan viola saling bertukar pandangan satu sama lain, mereka merasa di bodohi oleh Meta kenapa meta menyembunyikan masalah sebesar ini tentang dirinya.
“Apa Neta menyelamatkan kamu, bukan meta melainkan Berliana?”
Berliana tertawa keras. “Benar, seratus buat Anda tidak aku sangka ternyata kamu pintar juga , kamu tau, aku sungguh terharu dengan pengorbanan kalian semua. Coba kalian lihat sampai bulu kodokku berdiri Semua, kalau di ingat-ingat semuanya sangat menyenangkan, aish sungguh menyentuh sekaligus membuat aku enek.”
Berliana menunjukkan semua anak rambut di pergelangan tangannya yang berdiri semua, kepada semua orang, Sintia berjalan mendekat. “Berliana?” orang yang di panggil langsung tersenyum dan berbalik badan menghadap Sintia, ada rasa kangen Mendalam dengan suara itu tapi sekaligus benci kenapa kehadiran dia begitu tidak di inginkan oleh orang tuanya sendiri. “Mami,” Sintia hampir terjatuh dan beruntung dengan sigap Alifin menahan tubuh Sintia.
__ADS_1
Rika masih mencerna Semua dia masih belum bisa mengerti keadaan semua ini. “Akhirnya mamiku tercinta dan tersayang ingat juga dengan aku, sungguh melegakan,” ucapnya yang langsung memeluk Sintia dengan senyum ketus, Alifin menatap Berliana dengan tatapan tidak suka.
“Warna mata itu?” batin Alifin dengan memperhatikan seksama meta.
“Sejak kapan kamu muncul kembali heh?!” teriak Sintia dia mengguncang-guncang tubuh Berliana dengan air mata yang terus mengalir.
Berliana tersenyum kecut lalu senyuman itu berhenti dengan tiba-tiba dia meneteskan air matanya. “Aku juga anakmu mam, kenapa kamu tidak menganggap aku, kenapa?! Padahal aku lebih baik dari pada meta si sialan itu!!” teriak Berliana dia bahkan memukul-mukul dadanya sendiri.
“Mah, aku juga anak kamu sendiri, aku tau kalau kamu tidak menganggap kehadiran aku selama ini aku tau itu, tapi hiks... Aku juga ingin diakui, apa salahnya mah dengan mengakui keberadaan aku apa salahnya?! Teriak Berliana.
Sejak kecil kehadiran Berliana tidak pernah diakui oleh keluarga, padahal kalau di ingat-ingat Berliana yang duluan sedangkan Meta adalah yang kedua, saat kehadiran Meta Berliana ingin di musnahkan, padahal dulu Berliana penuh tidak seperti ini hanya saja dia penuh ambisi dia mempunyai talenta yang banyak, belum lagi cerdas di bandingkan meta dia adalah yang sempurna dengan nilai yang terus 100 di setiap mata pelajaran.
Setiap kali Berliana melihat tangga dia terus berteriak dan juga meminta tolong, tapi tidak ada yang mau menolongnya, dia bahkan bersembunyi di kolong meja dengan memeluk kedua kakinya dan terus mengucapkan kata “Maaf” Berliana menangis dia bahkan berulang kali melihat bayangan pelayan itu.
“Padahal itu bukan salah aku mah, pelayan itu sendiri yang memulai duluan, dia yang sengaja menjatuhkan dirinya sendiri, tapi apa? kalian bahkan tidak mempercayai aku, dan kalian malah mengabaikan aku. Aku sadar itu hanya dalih kalian agar kalian bisa melenyapkan aku di muka bumi ini iyakan?” teriak Berliana dengan tatapan penuh kebencian.
__ADS_1
“Apa baiknya si meta ini heh? Dia hanya pengecut yang gak berani melakukan apa-apa selain meminta bantuan terhadap diriku.”
“Kamu bukan anakku, kamu pembunuh, kembalikan meta Sekarang juga!!” Berliana langsung duduk lemes dia tidak tau seberapa besar kebencian orang tuannya terhadap dirinya sendiri. “Pembunuh?” gumam Berliana dia mendekati Sintia dengan air mata yang terus mengalir.
“Apa segitunya kah aku di mata kamu mam, padahal aku anak kamu sendiri, ada yang ingin aku katakan kepada kalian selama ini. Yang belum pernah aku katakan kepada kalian berdua,” Alifin tidak tau harus berbuat apa lagi, dia mengambil suntikan lalu Menancapkan kepada Berliana.
“Ah, hiks segitunyakah kalian membenci diriku?” tanya Berliana dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, penglihatannya mulai memudar kepalanya pusing seperti banyak orang yang berputar, dia menggelengkan kepalanya agar kesadarannya kembali.
“Hanya ini yang ingin aku katakan kepada kalian, dan yang ingin aku tanyakan kepada kalian. Kenapa kalian tidak pernah menganggap aku ada, mengapa kalian selama ini mengabaikan aku. Kenapa kalian tidak bertanya dulu kepadaku apakah aku bisa pergi dan biarkan meta yang menguasai diri ini. Andai kalian minta pendapat ku sekali ini, sekecil apa pun itu aku pasti akan melakukan semuanya agar kalian bahagia Hiks, aku ikhlas pergi dengan cara damai tanpa harus seperti itu.” Ucapnya dalam kesadaran yang mulai menurun, dia mulai terduduk lemas dan tersenyum.
“Taukah kalian betapa aku sangat menyayangi kalian semua, meskipun aku berbuat seperti itu aku hanya ingin kalian tau kalau itu adalah Berliana dan bukan Meta, karena yang kalian kenal adalah BERLIANA yang suka membuat onar dan pembunuh.”
BRUKKK...
Tubuhnya jatuh dengan air mata yang masih mengalir di kedua matanya. “Obat apa itu?” tanya Alifin yang kini menghampiri Meta. “Tuan itu obat bius,” jawab suster yang kebetulan lewat Berliana menyungging bibirnya dengan mata yang tertutup dia masih bisa mendengar dengan jelas. “Segitu yakah kalian membenci kehadiran diriku,” gumam Berliana suaranya melemah dan dia tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Maafkan ibu nak, ini demi kebaikan kamu juga,” batin Sintia memeluk tubuh Meta yang berbaring di lantai. Neta ingin turun tapi terasa sakit di pergelangan kakinya.
Neta meneteskan air matanya, dia tau bagaimana rasanya diabaikan dan merasa di khianati dengan orang-orang terdekat, sejak dulu Neta tidak pernah mendapat perhatian khusus dan juga sahabat yang dia dapatkan di dunia ini. Sekarang Neta tau bagaimana rasanya mempunyai orang-orang yang menyayangi dia, dia tidak akan membiarkan siapa pun melukai orang-orang terdekatnya, kalau ada yang berani maka orang itu harus bersiap menghadapi Neta.