
~Flasback On
Di salah satu rumah yang terlihat besar di masanya. Seorang wanita yang sedang hamil tua bernama Laras Wijaya sedang bersantai di ruang tengah dengan beberapa cemilan dan segelas susu hamil yang sudah di siapkan oleh sang Asisten. Istri dari Doni Wijaya salah satu pembisnis yang sedang naik daun.
"Yuni!" panggil Laras kepada sang Asisten. "Bagaimana keadaan Perusahaan dan yang lainnya? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Ya nona, semuanya berjalan dengan lancar" balasnya sambil menyodorkan beberapa berkas laporan bulanan.
"Hmm bagus, masih aman kan? Jangan sampai suamiku tau kalau aku punya usaha lain di belakangnya!"
"Aman nona, Anda tenang saja! Pak Doni tidak akan tau, karena yang tercantum bukan nama nona Laras."
Keduanya melanjutkan pembicaraan sepuran bisnis. Perusahaan itu adalah warisan dari orang tuanya yang hampir gulung tikar. Tapi semenjak dia mengenal Pak Doni, dia banyak belajar bagaimana cara menjalankan perusahaan dengan baik.
Seiring berjalannya waktu, Perusahaan itu kembali stabil. Dan keduanya juga semakin dekat hingga merencanakan pernikahan, tapi entah kenapa Laras enggan untuk memberitahu Pak Doni, dan sampai tiga tahun pernikan keduanya baru di keruniai seorang anak.
"Aarrggh! Saaa,,kit. Yuniiii, tolong perutku sakit" teriaknya pada sang Asisten yang berada di dapur mengambil air minum.
Mendengar sang majikan berteriak, dia langsung keluar dan berlari. Dia melihat Laras yang sedang menahan sakit sambil memegang perutnya.
"Astagaa, nona Laras mau lahiran" ujarnya dan merogoh sakunya mengambil ponsel menelpon Sopir, lebih cepat daripada dia harus berlari keluar.
"Nona tahanlah, kita akan kerumah sakit." ucapnya sambil mengusap keringat yang bercucuran di dahi.
"Yuni aku tidak kuat lagi! Arrggh, sakit" rintihnya sambil mencengkram bantal sofa yang ada di dekatnya.
"Pak cepat! Tolong antar kami ke Rumah Sakit!" perintahnya sambil membantu Laras berdiri.
"Aku tidak kuat lagi untuk berdiri" ucapnya yang sudah kelelahan menahan sakit.
Tanpa berpikir panjang. Pak Sopir langsung menggendong Laras membawanya ke mobil. Yuni terkejut melihat banyak darah di sofa di mana Laras duduk. "Astaga!"
Yuni berlari menyusul, dia membaringkan Laras di pangkuannya. Yang tidak mampu lagi untuk duduk, sudah kehabisan tenaga menahan sakit.
__ADS_1
Kebetulan sudah larut malam, jalan sudah mulai sepi pengandara. Jadi, mereka tidak membutuhkan waktu lama tiba di Rumah sakit.
"Dok tolong nona saya, dia ingin melahirkan dan sudah kehilangan banyak darah" ucapnya saat Laras di bopong naik ke brankar dan di larikan ke ruang bersalin.
"Baik, itu sudah menjadi tugas kami, dan mohon Anda tunggu di luar" balas sang Dokter dengan ramah.
Yuni patuh, dia duduk dan berdoa berharap nonanya baik-baik saja. Sebelumnya dia sudah menyuruh Sopir balik pulang untuk mengambil perlengkapan yang sudah di sediakan di dalam tas besar.
Belum lama dia duduk pintu kembali terbuka. Dia berdiri saat dokter menghampirinya. "Maaf kalau boleh tau, di mana suami pasien?" tanya Dokter.
Yuni membeo, bagaimana dirinya bisa melupakan hal itu. Dia lupa untuk mengabari Pak Doni. "Ehh itu Dok, suaminya masih dalam perjalanan pulang dinas luar kota" kilahnya. "Emangnya kenapa Dok?"
"Anak pasien sudah meninggal dalam kandungan, menelan banyak air ketuban dan lehernya terlilit tali pusar, belum lagi posisinya sungsang" jelas sang Dokter.
Badan Yuni mematung. Bukan dia yang punya anak, tapi dia yang merasakan kesakitan dan kehilangan. "Aaapa Dok? Meninggal! Hiks hiks apa Anda tidak salah Dok?" tanya Yuni yang memakasa dirinya untuk tidak percaya.
"Maaf nona, kami tidak punya banyak waktu lagi. Sang bayi harus di keluarkan segera, jika tidak nyawa pasien juga akan menjadi taruhannya"
"Lakukan Dok, saya yang akan bertanggung jawab" balasnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
Oprasi sudah berlangsung beberapa menit yang lalu. Tapi Pak Doni juga masih belum di hubungi begitu juga dengan Asistennya. Masih berpikir positif berharap tidak terjadi hal yang buruk.
...----------------...
Dua hari berlalu, Laras baru sadar. Dia sempat kritis karena banyak kehilangan darah. Tapi untungnya dia masih bisa di selamatkan.
"Nona bagaimana kondisi Anda? Apa ada yang sakit?" tanya Yuni khawatir melihat Laras yang hanya bengong.
Laras hanya menggelangkan kepalanya. Dia tidak pernah bersuara sedikitpun. Dia merasa sangat terpukul dengan berita yang dia dengar saat baru sadar. Padahal suaminya sangat menyangi calon anaknya itu, apalagi sang anak berkelamin perempuan.
"Hiks hiks, kenapa kamu tinggalin Ibu Nak? Apa kamu tidak ingin melihat Ayah dan Ibu, sampai kamu memilih pergi sebelum melihat dunia luar" racaunya sambil menangis.
Yuni yang ada di dekatnya jadi bingung, jadi dia membiarkan Laras untuk menangis saja. Karena siapapun yang ada di posisi itu akan merasakan hal yang sama, apalagi sudah membayangkan akan seramai apa jika ada tangisan bayi dalam rumah. Tidak pantas di sebut manusia jika orang itu tidak merasa sedih jika kehilangan anaknya.
__ADS_1
"Nona bersabarlah, Tuhan lebih menyanginya. Berdoalah agar cepat mendapat penggantinya" kata Yuni memberi semangat.
"Bagaimana dengan suamiku Yun? Pasti dia sangat kecewa!" ucap Laras yang sudah berpikir jauh tentang reaksi suaminya.
"Hmm semoga Pak Doni bisa menerima semua ini. Dan dia bisa jadikan ini pelajaran untuk kedepannya" balas Yuni sedikit gerem dengan Pak Doni yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada menemani sang istri yang sedang menunggu hari lahir sang baby.
Laras terdiam, dia tidak bisa membantah karena itu ada benarnya. Tapi dia juga tidak bisah menyalahkan suaminya, karena apa? Karena dia sudah di butakan oleh cinta.
"Pak Doni sudah dalam perjalanan pulang! Apa nona sudah memikirkan bagaimana menyampaikannya?"
"Kamu tenang saja Yun, saya tau bagaimana cara agar suami saya bisa menerima semua ini!" balasnya tapi terlihat ragu.
Pak Doni baru bisa di hubungi, setelah pagi menjelang. Ponselnya mati, kehabisan daya begitupun dengan sang Asisten, dia mematikan semua ponsel yang di miliki termasuk ponsel yang khusus pekerjaan. Dia sangat tidak suka tidurnya di ganggu apalagi dia sangat kelelahan. Dia sedikit bebas, karena tidak memiliki sanak saudara yang akan menelponnya.
Keduanya terdiam, entah apa yang mereka pikirkan. Tapi lamunannya buyar saat ada yang mengetok pintu.
Yuni beranjak dari duduknya dan berjalan untuk membuka pintu. Dia yakin itu Dokter yang akan memeriksa kondisi Laras sebelum mereka pulang.
Dia sudah di perbolehkan pulang, dengan syarat harus mematuhi semua apa yang di katakan dokter. "Baik Dok saya akan patuh," ucapnya, daripada dia harus di rawat Rumah Sakit membuatnya selalu mengingat sang baby.
Terdengar kembali ada yang mengetok pintu. Kebetulan Dokter yang sudah ingin keluar, dia pamit dan berdiri membuka pintu. Saat ini Yuni berada di dalam kamar mandi sedang menuntaskan hajatnya sekalian dia ingin mandi karena dia merasa gerah.
"Apa kamu ingin mengunjungi Ibu Laras? tanya Dokter setelah membuka pintu melihat seorang wanita hamil tua tapi juga sedang menggendong bayi.
"Iya Dok, saya ingin mengunjunginya, dan ini anak teman saya, dia tadi ijin ke toilet" jelasnya dengan lancar, dia tau tatapan bingung sang Dokter
"Oh ya sudah silahkan masuk! Tapi jangan terlalu lama, kasihan bayinya" kata dokter memperingati.
"Baik Dok, kami cuman sebentar kok. Mau memberi semangat buat teman kami, agar dia tidak larut dalam kesedihannya."
"Ya dia butuh dukungan dari kalian semua, terutama orang-orang terdekatnya. Masuklah dan saya undur diri."
...----------------...
__ADS_1
"Maaf Anda siapa?"