
Satu minggu berlalu dari di mana Viona meminta Leo untuk melakukan tes DNA. Awalnya dia menolak, tapi berkat bujukan Viona diapun luluh dan mau melakukan tes.
Saat ini mereka semua sedang berkumpul di Rumah Sakit setelah mendapat kabar jika hasik tes DNA nya sudah keluar. Ray juga ikut, meskipun dia sangat bingung, melihat tingkah orang tuanya. Dia juga sempat tidak setuju, karena semua bukti yang ada bisa saja hanya kebetulan semata. Tapi melihat Momynya yang sangat berharap, diapun mengijinkannya.
Mereka berkumpul di ruang kerja Tian, di mana dia yang melakukan tugas itu. "Ini Mom, silahkan dibuka!" pintanya sambil menyodorkan sebuah amplop.
Momy Lidyapun membukanya dengan perasaan gugup dan juga deg-degkan. Dia tidak sepenuhnya berharap, karena dia takut kecewa jika harapannya tidak sesuai ekspektasi.
Betapa terkejutnya, saat melihat keterangan 99%, yang mana berarti Leo adalah Anaknya "Hiks hiks Dad, Momy tidak salah lihatkan?"
Tuan Bas merebutnya, dia juga merasakan hal yang sama, badanya bergetar sambil mengucek matanya, berharap apa yang dia lihat tidaklah salah. "Astaga bagaimana mungkin? Apa yang terjadi sebenarnya?" gumamnya.
Melihat reaksi orang tuanya, Ray pun penasaran, dia juga membaca surat hasil tes DNA tersebut. Dia menggelengkan kepalanya, "Tian! Kamu tidak salahkan?"
Tian yang sudah menyiapkan jawabannya pun menjawab, karena dirinya sudah menebak jika Ray akan bertanya seperti itu. "Tidak, itu aku yang melakukannya sendiri. Saat hasilnya keluar aku juga sempat tidak percaya. Tapi begitulah hasilnya!"
Kali ini giliran Leo dan Ibunya, mereka juga terkejut sekaligus senang, karena Leo akhirnya bisa bertemu dengan keluarganya setelah lama berpisah, tapi berbeda dengan Leo, dia bingung, apakah dirinya harus sedih atau bahagia?
Viona yang melihat ekspresi Leo sangat memahami bagaimana perasaannya saat itu, yang pasti ada rasa kecewa di dalam hatinya. Viona sudah tidak terkejut lagi, karena ternyata, dia juga diam-diam melakukan tes di Rumah Sakit lain yang hasilnya sama yang sudah keluar dua hari yang lalu.
"Apa yang terjadi Mom? Jika Leo Adikku, Jadi siapa jasad Anak kecil itu?" tanya Ray meminta penjelasan.
__ADS_1
Momy Lidya mengusap air matanya lalu menjawab, "Momy juga tidak tau Nak, Momy juga bingung, kenapa ada Anak kecil di dalam mobil selain Adikmu."
Semuanya merasa bingung dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya yang sudah terjadi saat itu. Leo juga masih diam belum mengucapkan apa-apa.
Tian yang mengingat momen sehari sebelum kecelakaan itu terjadi, di mana Ibunya berkata jika dia akan pergi menjemput Adiknya di rumah Panti, agar dirinya juga memiliki seorang Adik laki-laki seperti Ray.
Umurnya yang masih balita, hanya mengangguk bahagia, tapi tidak mengerti apa maksud dari perkataan Ibunya itu. Tapi sekarang dia baru paham, jika Ibunya pergi di panti asuhan untuk mengadopsi Anak, karena dia terus merengek meminta Adik, karena saat itu Ibunya sudah tidak bisa hamil lagi. Dia juga baru tau hal itu setelah dia menjadi seorang Dokter, dia tidak sengaja membaca berkas-berkas milik Ibunya.
"Mom, apa aku boleh bertanya?" tanya Tian. Dia ingin beratanya dulu sebelum menceritakan apa yang dia tau.
"Kenapa Nak? Tanya saja!" ucap Momy Lidya sedikit sedih, karena dia melihat Leo yang tampak tidak bahagia dengan situasi itu.
"Apa mendiang Ibuku pernah bercerita tentang Panti Asuhan?"
"Karena Ibu tidak bisa hamil lagi" lanjut Tian yang memotong ucapan Momy Lidya "Dan hari itu Ibu pergi, setelah dia mengatakan jika dia ingin pergi menjemput Adikku, dan besar kemungkinan jika jasad Anak kecil itu, yang akan menjadi Adik angkatku.
Momy Lidya kembali menangis, dia juga baru mengingat, saat dirinya masil hamil dia memesan dua gelang Kaki yang couple, dan yang satunya diberikan ke pada Ibu Tian sambil berkata, harus memaikaikannya jika Tian sudah memiliki Adik.
Semuanya kembali terdiam, Viona juga bingung melihat situasi yang ada, dia tidak ingin terlalu ikut campur. Tapi, jika hanya diam begitu, kesalah pahaman tidak akan berakhir.
Dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi keburu oleh Ibu Nur yang berkata "Maafkan aku Tuan Nyonya! Karena saat itu aku tidak mengembalikan Leo ke pada kalian, karena saat di tempat kejadian, polisi mengatakan jika semua korban sudah meninggal di tempat. Dan aku juga tidak melapor ke polisi, karena saat itu aku yang belum memiliki Anak merasa sangat bahagia mendengar tangisnya, jadi aku dan Suami sepakat untuk mengadopsinya."
__ADS_1
Leo yang merasa Ibunya tidak bersalah pun menegurnya "Bu! Kenapa minta maaf? Ibu tidak bersalah!"
"Benar yang dikatakan Leo, jangan meminta maaf, kita semua juga bingung kenapa bisa seperti ini" sahut Tuan Bas.
Ray mendekat ke Leo lalu menepuk pundaknya, dia tidak menyangka jika yang menjadi saingannya untuk merubut cinta Viona adalah Adiknya sendiri. "Jangan memaksa dirimu! Karena kita semua sama. Jangan mengira jika Kami sengaja membuangmu atau mencampakkanmu. Karena itu tidak betul, saat itu kami semua merasa kehilangan!"
"Hari itu tepat umurmu satu tahun, Momy sempat depresi karena kehilanganmu, bayangkan bagaimana Momy sangat menyangimu sampai sulit melepas kepergianmu. Tapi berkat dukungan keluarga dan yang lainnya. Momy kembali sehat, dan menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Dan setelah kehadiran Rara, Momy baru kembali ceria" jelas Ray, yang masih teringat jelas dengan kejadian itu.
"Dan kami tidak mencarimu, karena kami tidak tau jika kamu masih hidup Nak, dengan melihat jasad Anak kecil itu, meyakinkan kami jika kamu sudah tiada!" timpal Tuan Bas.
"Maaf, kami hanya bisa meminta maaf! Tidak apa jika kamu tidak ingin memaafkan kami. Dengan melihat kamu yang masih hidup sudah membuat kami sangat bahagia." sahut Momy Lidya.
Tian juga ikut mendekat ke Leo lalu berkata "Aku juga ingin meminta maaf atas mendiang orang tuaku, jika saat itu dia tidak membawamu, mungkin kejadiannya sedikit berbeda"
Leo sudah menangis, ternyata orang tuanya tidak membuangnya, mereka hanya mengira jika dirinya sudah meninggal, makanya mereka tidak mencarinya.
Setelah beberapa menit suasana makin canggung. Mereka tidak tau harus berbuat apalagi, karena sudah menjelaskan dan meminta maaf tapi Leo belum mengucapkan apapun.
"Nak! Kamu masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka, jangan menyia-nyiakannya! Karena belum tentu ada kesempatan di esok hari!" ucap Ibu Nur dengan bijak tapi sedikit berbisik.
Leo bukannya tidak ingin, dia cuman merasa canggung, namanya juga pertama kali bertemu pasti butuh waktu untuk memahami kondisi.
__ADS_1
Setelah memantapkan hatinya, dan sudah mulai bisa menerima kenyataan diapun beranjak lalu berjalan menuju Momy Lidya dan juga Tuan Bastian "Apa aku boleh meminta pelukan?"
Realita tetap realita, tak peduli kamu menghindar atau tidak, semua itu tidak mengubah kenyataan yang ada.