KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
74. Rapuh


__ADS_3

Bi Yun menghentikan ceritanya. Dia menatap Viona yang hanya diam mendengar. Tidak ada respon sedikitpun, wajahnya biasa-biasa saja. Tapi Bi Yun tidak tau, kalau Viona berusaha untuk tidak menangis.


Viona yang baru mendengar setengah ceritanya saja sudah membuat dadanya sesak. Dia meratapi nasibnya, yang ternyata sudah menderita sejak lahir, di opor kesana kemari.


"Nak! Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Bi Yun menepuk pundak Viona pelan, karena hanya diam meskipun Bi Yun tidak bercerita lagi.


Viona tersentak, karena memang dirinya sedang melamun. "Ehh Bi, aku tidak apa-apa kok. Bibi tidak usah khawatir! Dan Bibi lanjutkan cerita sampai selesai.


"Apa kamu ingin mendengarnya sekarang Nak? Sebentar lagi Adikmu pulang sekolah dia pasti akan mencarimu."


Viona melihat jam di dinding. Dan benar saja, jam menunjukkan pukul sebelas siang, mungkin saat ini Nora dengan Frisli sudah pulang dan saat ini berada di jalan.


"Huff, baiklah Bi. Aku akan memanggil Bibi jika aku ingin mendengar kelanjutannya" jawab Viona. "Tapi Bi, kenapa Bibi tidak menceritakan dari kemarin-kemarin.


Bi Yun menatap Viona, "Maaf sebelumnya Nak, Bibi akan menceritakan semua nanti dan juga alasan Bibi mengapa tidak memberitahumu."


Viona mengangguk, "Ya sudah Bi, Nanti malam kita lanjut, setelah mereka semuanya tidur" tidak ingin lama-lama, dia ingin segera mencari orang tuanya.


Viona sudah berencana akan mencarinya terlebih dahulu, jika memang dia tidak mendapatkan apa-apa dia baru meminta bantuan kepada anggota dan pengawalnya. Termasuk kepada Zoya dan Aiden.


Menyangkut, Zoya dan temannya yang lain. Mereka saat ini bekerja di kantor pusat. Karena tidak mendapat tugas atau misi dari Viona makanya mereka meminta pekerjaan tambahan. Merasa tidak enak jika hanya makan gaji buta. Tapi tetap saja, Zoya dan Aiden masih memantau semua bisnis Viona dari belakang layar.


Bi Yun sudah keluar dari ruang kerja Viona. Tapi, belum lama dia keluar terdengar ketukan pintu. Viona beranjak dan membukanya, karena sudah ketebak siapa orangnya.


"Eh Adik Kakak yang imut ini sudah pulang!" kata Viona sambil mencubit pipi gembul Nora. Viona memasang wajahnya seperti biasa, karena anak kecil lebih pekah biasanya daripada orang dewasa.


"Iya Kak, Aku kesini karena kata Bibi Kakak tidak pergi kerja. Aku mau kasih liat ini" balasnya sambil memberi sebuah amplop.


"Ini dari siapa Dek?" tanya Viona sambil berjalan masuk kembali ke ruang kerjanya yang di susul Nora.


"Dari Ibu Guru Kak. Katanya suruh kasih sama orang tua! Aku kan sudah tidak punya orang tua Kak. Jadi tadi aku sudah kasih sama Bibi, tapi Bibi bilang suruh kasih Kak Viona" jawabnya dengan polos.


Viona menarik Nora dan duduk di pangkuannya. "Hmm mungkin Bibi lagi sibuk jadi suruhnya sama Kakak saja" Dia tidak ingin membahas masalah orang tua dengan anak kecil seperti Nora, itu pasti tidak akan tahan untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Ya sudah, Kak buka ya?" lanjut Viona sambil membuka amplop itu. Dan membaca isinya yang berupa undangan untuk orang tua wali siswa.


"Ini undangan Dek, nanti kita bicarakan sama Kak Raka ya. Siapa yang harus pergi di sekolah Nora."


"Emm begitu ya Kak? Berarti tunggu Kak Raka pulang dari kantor" balasnya dengan bijak.


"Iya nanti kita bahas sama-sama. Hmm ayo kita turun ke bawah, ini waktunya makan siang" Ajak Viona dan menggandeng tangan Nora keluar dari ruangan.


...----------------...


"Rian kita harus cari wanita itu, tidak ada yang pernah melihat jika kita bertanya dengan orang-orang sekitar."


"Ya, mungkin karna pengaruh gambarnya sedikit buram, dan wajah yang kita ambil sudah belasan tahun yang lalu, tentu wajahnya sudah berubah saat ini."


"Huff, bagaimana denganmu? Apa kamu juga tidak dapat petunjuk?" tanya Tomi. Karena mereka berpencar untuk mencari petunjuk.


"Hmm ada satu! Tadi aku kembali mencari ke alamatnya. Dan aku bertemu dengan Ibu-ibu yang sedang menyapu di pinggir jalan. Dan saat aku memperlihatkan foto itu, dia sedikit terkejut dan berkata kalau wanita itu pergi dan tinggal di tempat kerjanya dengan membawa anaknya. Karena saat itu dia sudah di ceraikan suaminya."


"Ibu itu sempat berbasi basi dengannya saat menunggu angkotan umum. Kalau tidak salah dengar, wanita itu bekerja di keluarga Wijaya" jelas Rian.


"Kenapa kamu berpikir keras seperti itu? Bukankah kita bisa mencarinya di internet, jika dia seorang pembisnis pasti ada datanya yang tercantum meskipun tidak lengkap."


"Ah ya, kamu benar!" ujarnya dan beranjak mengambil laptop yang ada di atas nakas.


...----------------...


Waktu berlalu, malam tiba di mana Viona dan keluarganya sedang berkumpul bersantai di ruang keluarga setelah makan malam. Mereka membahas surat undangan dari sekolah Nora.


"Jadi bagaimana Kak? Aku atau Kak Raka yang pergi?" tanya Viona sambil menyisir rambut Nora yang panjang.


"Hmm kamu aja ya Dek! soalnya Kakak besok ada rapat penting dengan klien, dia jauh-jauh datang kemari untuk bertemu dengan Kakak."


"Baiklah, nanti aku ke Restoran setelah pulang dari sekolah Nora! Tidak apa kan Dek kalau Kakak yang pergi?" tanyanya pada Nora meminta persetujuan.

__ADS_1


"Tidak apa Kak! Nora malah senang Kak Viona yang pergi" balasnya tanpa menoleh, karena rambutnya belum selesai Viona sisir.


"Loh kenapa emang? Apa bedanya sama Kak Raka" tanya Viona ingin tau kenapa Nora lebih senang dengannya daripada Kakak kandunya sendiri.


"Isshh kalau Kak Raka yang pergi, pasti banyak teman-teman Nora yang lihatin" jawabnya yang terdengar kesel. "padahal teman-temanku kan masih anak kecil semua, masa sudah suka sama orang dewasa."


Raka tertawa mendengar cerita Nora, ternyata Nora tidak suka kalau dirinya yang mengantar pergi sekolah. "Hahaha kamu Dek ada-ada saja. Mungkin teman-teman kamu mau ajak kenalan."


"Iya benar kata Kak Raka. Mungkin mereka cuman mau kenalan saja. Kan mereka masih kecil belum boleh suka sama orang dewasa, apalagi yang namanya pacaran" timpal Viona.


"Emm begitu ya Kak, tapi lain kali kalau Kak Raka antar aku, tidak usah turun dari mobil!" dia masih aja tidak suka.


Raka dan Viona hanya menggelengkan kepala. Ternyata pemikiran Nora sudah sampai kesana. Mukanya saja yang terlihat polos tapi pikirannya sudah dewasa.


Viona yang melihat Nora menguap, menyuruhnya untuk naik ke kamarnya dan segera tidur. Nora menurut karena dia memang sudah sangat mengantuk. Dia beranjak dan di antar oleh Bi Yun.


Setelah kepergian keduanya Raka bertanya kepada Viona. "Dek apa Kamu ada masalah?" tanyanya dengan serius.


Viona sudah bisa menebak, kalau Raka akan bertanya seperti itu. "Hmm bagaimana aku menceritakannya ya Kak? Aku bingung mau mulia dari mana saking banyaknya masalah yang ada di dalam hidupku."


Raka pindah duduk di samping Viona. "Kamu tidak boleh memendamnya sendiri Dek! Ada aku sebagai Kakakmu, aku akan membantumu untuk memikulnya. Ceritakanlah!"


Viona menarik nafas berat, bukan dia tidak ingin menceritakan, tapi dia tidak bisa tahan untuk tidak menangis jika bercerita tentang kehidupannya. Kalau orang lain yang bercerita dia masih bisa menahannya walau sesak di dada.


Vionapun menceritakan semuanya, mulai dari dia menyekap Sisil sampai di mana dia tau kalau dia bukan anak kandung dari Pak Doni Dan mendiang Ibu Laras. Dia juga menceritakan yang sudah dia tau dari Bi Yun.


Raka sangat terkejut, betapa sakit dan sedihnya dia mendengarnya, pantasan dia melihat Viona jadi banyak berubah. Raka memeluk Viona dia makin sakit saat melihat Viona menangis.


Viona tidak bisa menahannya. Dia menangis di pelukan Raka. Dia menangis tersedu sedu "Hiks hiks kenapa Kak? Kenapa hidupku seperti ini?" tanya Viona di sela tangisnya.


Raka tidak bisa berkata apa, ini baru pertama kalinya melihat Viona serapuh itu. Ternyata Di balik senyumnya, candanya ada kesedihan yang sangat mendalam.


"Jangan berkata seperti itu Dek. Ada aku di sisimu, aku akan pasti membantumu untuk mencari mereka, pasti mereka punya alasan tertentu."

__ADS_1


Viona tidak menjawab, dadanya sesak karena terlalu lama menangis, dia masih di pelukan Raka seakan akan badan menjadi lemas.


"Menangislah, itu akan membuatmu sedikit labih baik!" kata Raka mengusap bahi Viona dengan pelan.


__ADS_2