KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*SENYUM NETA*


__ADS_3

Sesampai Neta di rumah, dia langsung merebahkan tubuhnya ke kasur. Merasa sangat lelah Neta pun akhirnya ketiduran.


"Tolong aku... Aku mohonnnnn tuan, Aku tidak ingin mati, tolong Hiksss.." Neta memegang kaki pria itu dengan sekuat tenaga.


Pria itu hanya menatap Neta dengan rasa jijik, melihat tangan Neta yang berlumuran darah.


"Antar wanita ini ke rumahnya, dan ambilkan pakaian baru untukku." Ucap pria itu, memberi perintah kepada anak buahnya.


Neta tersenyum lebar, Neta pikir dirinya akan di antar pulang ke keluarga EUGINUS. Ternyata dirinya salah. Rumah yang dia maksud adalah rumah untuk melayani hawa nafsu.


"Aghhhhh... Siapa pun tolong aku." Batin Neta, Neta sudah tidak tahan lagi, dia hampir kehabisan nafas. Kerena dirinya di cekik, yang berusaha kabur.


Pria dan wanita yang sedang ada di sampingnya, tersenyum gembira. Melihat Neta sengsara seperti itu.


"Apa yang engkau lakukan PETRA? Aku tidak membiarkan engkau melecehkan dia!!" Teriak wanita itu, kepada lelaki bernama PETRA. Dia pikir Neta akan di buang atau di kurung, bukan di jual atau memuaskan nafsu anak buahnya.


PLAKKKK...


Suara tamparan itu bergema di seluruh ruangan yang lembab itu. "Kau berani berteriak padaku?" Mencengkram dagu wanita itu.


"Siapa dia?" Batin Neta.


"Nona... Nona muda!! Nona muda kenapa?" Tanya pelayan Neta yang kebetulan tugas dia mendampingi Neta.


"Maaf Nona aku harus melakukan ini, aku mohon jangan hukum aku." Mengambil gelas yang berisikan air minum.


BYURRRR...


"Hujan...!! Hujan...!!" Neta segera duduk dari tempat tidurnya, dan melap wajahnya yang basah.


"Maaf Nona saya lancang, dari tadi saya berusaha membangunkan nona. Tapi nona tidak bangun juga, jadi terpaksa saya menyiram nona dengan air." Pelayan itu menjelaskan dengan sangat cepat, bahkan Neta sendiri masih mengumpulkan nyawa dalam dirinya.


Pelayan itu bingung harus bagaimana, sedari tadi. Dia membangun kan Neta, tapi Neta tidak bangun juga, Dan terus mengigau. "Jangan-jangan." Membuat pelayan itu tambah khawatir.


"Hemmm?" Neta menatap pelayan itu, dengan tatapan bingung. Kenapa pelayan itu tubuhnya gemetaran dan kenapa tempat tidur Neta basah.


"Apakah gentengnya bocor?" Gumam Neta, menatap atap rumahnya dan mencari-cari tempat yang bocor tadi.

__ADS_1


Pelayan yang melihat Neta seperti itu, tambah takut. Dia pikir Neta kerasukan, Karena Neta berkelakuan aneh sekarang.


Pelayan itu mengikuti pandangan Neta dan juga melihat-lihat apa yang Neta lihat di atas.


Merasa ada yang aneh, pelayan itu memberanikan diri menyentuh kening Neta.


"Gak panas kok?" Neta langsung kaget, dan langsung menatap pelayan wanita itu.


"Maaf Nona saya lancang, saya hanya mengecek. Apakah nona demam atau tidak, karena saya barusan menyirami anda dengan air."


"Eh!! Jadi barusan kamu yang mengguyur aku dengan air? Bukan hujan?" Pelayan itu langsung menjawab pertanyaan Neta.


"Iya saya nona, saya mohon jangan pecat saya nona. Saya janji, tidak akan mengulanginya lagi!!" Ucap pelayan itu, dengan tatapan penuh harap ke Neta.


Neta segera turun dari ranjangnya. " Ganti seprainya dan jangan ulangi itu lagi." Ucap Neta dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


Neta menatap dirinya ke cermin, terus menatapnya sampai rasanya cermin itu ingin pecah. "Siapa orang yang dalam mimpiku tadi? Aku pikir itu Ferly dan gengnya, ternyata masih ada lagi selain itu. Neta berapa banyak musuh kamu sih, Sebenarnya apa yang kamu lakukan dulu?" Mengacak-acak rambutnya.


Setalah Neta mandi dan Menganti pakaian, Neta langsung turun kebawah, mencari cemilan.


Happ... Seno langsung merebahkan kepalanya, di paha Neta. Tanpa terlebih dahulu izin ke empunya.


Belum sempat Neta berbicara, Jino Kaka pertama Neta datang dan merangkul pundak Neta. Neta merasa bingung, tumben Kakanya ini ada waktu senggang.


"Apa?" Tanya Jino menatap Neta.


"Aish... Kalian ini kenapa sih, Hussss... pergi sana!!" Neta langsung menjauhkan tangan Jino di pundaknya dan mengerakkan kakinya agar Seno bangun.


"Pelit amat kamu dek, Awas kuburan kamu sempit dan jodoh kamu medit, mau kamu?" Menatap Neta yang asik dengan cemilannya.


"Yaampun kak, kuburan sempit karena salah ukur badan, jodoh medit... Bentar, medit itu apaan kak?" Tanya Neta yang pura-pura gak tau.


"Mana ada kuburan sempit karena salah ngukur, ngaco kamu? Ingat yah, adek ku yang manis rasa asem dan cantik aduhai. Mengalahkan nenek sihir yang ada di dunia ini. Kalau kamu gak mau kuburan sempit, kamu jangan pelittt!!" mencubit hidung Neta karena gemesin.


"Dan, Kalau kamu mau jodoh yang seperti Kaka kamu iniiiii!! Jadilah orang yang pinter dan baik." Sambung Jino mencubit pipi Neta.


"Ah lepasin!! Sakit tau?" mengelus pipi dan hidungnya.

__ADS_1


"Bagaimana kita main tebak-tebakan?" Usul Neta yang kini menaruh cemilannya di meja.


"Tebak apa?" Tanya Seno yang ingin mengambil cemilan, tapi langsung di ambil kembali oleh Neta.


"Yasalam Neta." Pasrah Seno melihat cemilan di tangan Neta.


"Tebak apa aja deh, Yang penting tebak-tebakan. Tapi ingat gak boleh cari di Mbah Google." Melirik ke arah Jino yang sedang searching.


Jino langsung menaruh Hpnya, dan tersenyum ke arah Neta. "Ha... ha.... ha... Makanya jangan mau curang, tampang doang oke. Tapi otak?"


BRUKKK...


Jino langsung melempar bantal sofa ke arah Seno. "Untung refleks. Kalau tidak, Ketampanan ku akan luntur." melempar balik ke Jino.


"Emang Kaka pakai bedak, sampai luntur gitu?" Meneliti wajah Seno.


"Deh, kalau aku pakai bedak nanti jadi gini nih. Aduhhhhh Jangan gitu dong kak, aku masih SMP kak." Menyilang kan tangannya di dada. Dan suara seperti cewek.


"Mahhh... Seno jadi bencong mah." Adu Jino yang geli melihat Seno meniru ala cewek.


"Bohong mahhh, Jangan percaya, nanti musyrik." Tersenyum kearah Jino.


Ekekekeke... Neta tertawa geli melihat kelakuan kedua kakaknya ini, bersifat berlawanan. Yang satu pendiam dan yang satu berisik.


"Udah aku mulai duluan yah, siapa yang dapat menebak dia boleh meminta permohonan, dan siapa yang tidak bisa menebak dia harus mendapatkan hukuman. Gimana, deal?" Tersenyum ke pada Jino dan Seno.


Seno yang baru kali ini merasakan akrab kembali dengan Neta, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dan Jino yang senang melihat Neta tersenyum lagi, dia akan berusaha sekuat tenaganya, agar senyuman itu tidak pudar dari bibirnya.


"Hai, kenapa kalian diam semua. Jadi apa gak nih?"


Neta merasa bingung dengan kakanya, setiap kali bersama Neta. Mereka berdua kebanyakan bengong.


"Apakah aku membawa dampak buruk sama mereka berdua? Atau... Emang mereka ada yang salah sama sistem otaknya." Pikir Neta.


"Apapun itu, asal Membuat kamu bahagia Neta akan aku lakukan. Karena Kaka sangat menyayangi kamu, kalau perlu bulan pun Kaka siap mengambilnya. Kalau bisa." Batin Jino yang tiba-tiba mengacak-acak rambut Neta.


"Cukup sampai disini Neta, kamu menderita. Aku janji, aku akan selalu melindungi mu apa pun yang terjadi, aku siap jadi benteng pertahanan mu. Karena kau adalah adekku satu-satunya dan aku akan membuat kamu bahagia, itu janji seorang Kaka pada adiknya." Seno langsung memeluk tubuh Neta dan Jino pun tak mau kalah, dia juga ikut memeluk Neta.

__ADS_1


Tetap cantik meskipun acak-acakan.



__ADS_2