
Suasana begitu meriah meskipun hanya kerabat keluarga Neta dan juga Aditya tapi tidak di pungkiri kalau acaranya begitu meriah. Dan jangan lupa sahabat Neta, Meta dan Vio begitu juga Sahabat Aditya sekaligus asisten pribadinya yang sudah menjadi anggota keluarga Aditya sendiri.
Jino dan Seno di sini begitu tampan sampai-sampai membuat orang tertegun, mereka berdua asik berbicara kepada kerabat dan membahas perusahaan yang akan mereka kembangkan nanti. Meskipun begitu, perhatian mereka berdua tidak luput dari Aditya yang sedang sibuk dengan Benda gipih di tangannya.
Seno berjalan mendekati Aditya yang terlihat kesal di raut wajahnya itu.
“Apa Kamu serius ingin menikah dengan adekku?” tanya Seno mendadak muncul entah dari mana, dan menyodorkan segelas air berwarna merah.
“Terima kasih, Aku bisa apa kalau itu kemauan kedua orang tuaku?” tanya balik Aditya yang sebenarnya tidak ingin menikah dengan Neta apa lagi Neta adalah muridnya di sekolahan.
“Kalau begitu batalkan saja.” Jawab Jino yang sedari tadi mendengarkan percakapan adiknya dan calon saudara iparnya.
“A..”
Belum sempat Aditya menjawab perkataan Jino tiba-tiba mati lampu “Tes.. tes.. tes.. apa sudah nyala?” tanya Meta yang pertanyaan dan membuat orang di sana tertawa gelak.
“Sudah nyala Sola, gak dengar suara Lo sampai ke antariksa sana!.” Jawab Vio yang gak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini, bisa-bisanya dia ketinggalan otak di saat yang sakral ini.
“Bego Lo Vi, mana ada suara gue sampai sono. Ada-ada aja Lo yah,” jawab Meta yang gak mau kalah ngatain Vio.
Tanpa mereka sadari mereka sudah jadi bahan lucuan buat acara Neta, Neta yang mendengar perdebatan sahabatnya itu meskipun hanya suaranya saja yang terdengar. Neta bisa bayangin ekspresi mereka berdua yang sedang debat.
“Teman-teman nona muda sangat lucu yah, meskipun saya sudah sering melihat kelakuan mereka seperti itu, tapi saya tidak menyangka kalau di situasi seperti ini mereka tetap seperti itu. Hehehe,” ucap salah satu pelayan Neta yang sedang membantu Neta merias dirinya.
__ADS_1
“Saya juga tidak tau mba, kenapa bisa mempunyai sahabat macam mereka.” Jawab Neta yang sedang bersiap-siap untuk keluar, sungguh Neta sangat gugup apa lagi ini acara yang sangat penting Bagi dirinya. Keringat dingin di telapak tangan yang lembut itu terasa seperti bongkahan es dingin sekali. Kalau saja Neta tidak di rias mungkin akan terlihat betapa pucatnya sekarang dirinya itu.
“Baiklah, saya dan kalian semua pasti sangat tidak sabar bukan ingin melihat pemeran utamanya hari ini? Begitu dengan calonnya bukan? Pasti tidak sabar ingin melihat istrinya. Baiklah, tanpa menunggu lama lagi mari kita persilahkan Neta Euginus Detras.”
Dengan alunan musik yang lembut, dan lampu yang menyoroti Neta dan papah Bagas membuat kecantikannya terpancar, begitu pun dengan papah Bagas yang begitu rupawan, meskipun sudah berkepala 4 papah Bagas masih saja gagah dan tampan rupawan.
“Apa kamu begitu gugup sayang?” tanya Bagas yang menggandeng tangan putri kecilnya itu. Sekilas terbayang masa kecil Neta di dalam memori papah Bagas. Membuat dirinya terharu dan bersyukur sampai sekarang dia di beri kehidupan untuk melihat putri kecilnya yang sudah dewasa dan menjadi peri yang begitu cantik.
“Papah menangis?” tanya Neta yang tidak sengaja melihat ke arah ayahnya.
Bagas yang mendapat pertanyaan itu langsung menghapus air matanya.” Tidak sayang, papah hanya kelilipan saja.” Jawab Bagas dengan senyum lembutnya, Neta tidak ingin bertanya lagi dan dia hanya mengangguk saja. Menyetujui jawaban yang di berikan papah Bagas, karena Neta yakin kalau dia bertanya lebih lanjut dia juga akan ikut menangis dan lebih dari sekedar kelilipan biasa.
“Liat lah papah mah, papah masih saja cengeng seperti biasanya.” Ucap Jino yang mendadak berbicara di telinga mama Rika.
Rika tau seberapa sayangnya Bagas kepada Neta dan seberapa di jaga anak terakhir mereka itu. Saat kejadian Neta masuk rumah sakit waktu kecil hanya untuk di suntik bukan Neta yang menangis, tapi papah Bagas yang menangis, sampai di minta dokter untuk keluar dari ruangan.
Past back
“Maaf pak, bisa anda keluar saja. Ini demi anak bapak juga dan saya tidak bisa menyuntikkan obat ini kalau anda menangis sekejar itu. “ucap dokter itu yang merasa ke ganggu mendengar papa Bagas menangis histeris.
“Apa saya gak boleh di sini dok? Saya akan berhenti menangis sekarang hiks..hiks..” ucap Bagas yang berusaha untuk tenang meskipun sekarang dia sulit untuk menghentikannya.
Dokter pun hanya bisa menggelengkan kepalanya dia juga tidak berani mengusir papah bagas, bukannya papah Bagas yang keluar malah dia yang keluar. Apa lagi ini rumah sakit milik papah Bagas sendiri.
__ADS_1
“Tapi dok, apa itu aman? Apa suntikan ya itu baru, dan obatnya udah aman tidak ada bahan yang aneh kah? Saya tidak ingin putri saya kenapa-kenapa.” Mama Rika yang sudah malu atas perbuatan suami ya itu dengan terpaksa dia menyerahkan Neta kecil ke suster dan membawa papah Bagas keluar.
“S.A.Y.A.N.G!! Kita keluar yok, biarkan dokter yang bekerja, oke?! Lagian ini rumah sakit kita sendiri !! Jadi, mana mungkin bahan di sini gak aman buat tubuh manusia. Dan pastinya, suntikannya ini selalu baru. Iya kan DOKTER?!” Tanya mama Rika, karena sudah mulai kesal atas pertanyaan suaminya itu.
“I..iiya Bu Rika” jawab dokter yang mulai takut dengan Rika apa lagi nadanya agak di tekankan begitu. Mama Rika bergegas membawa papah Bagas keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Neta kecil bersama dokter dan suster.
Plasbcak off
“Dia memang tidak pernah berubah, sebab itu aku mau menikah dengannya karena sifat lemah lembutnya.” Gumam mama Rika yang bangga karena tidak salah pilih terhadap pasangan. Dan dia berharap Neta juga merasakan kebahagiaan yang dia rasakan bahkan lebih.
Bahkan saat mendengar Neta akan di operasi, papah Bagas hampir tidak sadarkan diri, cuman ke duluan mama Rika saja makanya dia berusaha agar tetap stabil. Kan gak etis kalau keduanya sama-sama tidak sadarkan diri.
Aditya tidak berkedip melihat Neta yang di soroti lampu apa lagi dengan gaun yang sangat cocok dengan tubuhnya yang indah dan kecantikannya. Ada rasa kesal dan juga kagum, kesal dengan pakaian yang memperlihatkan keelokan tubuh Neta dan kagum dengan wanita yang begitu sempurna di mata Aditya Fernando Sanjaya.
Reza dan Daffein yang melihat Aditya tidak berkedip pun saat melihat calon tunangannya itu saling mengerlingkan satu sama lain, dan mereka yakin kalau Aditya sudah jatuh cinta kepada anak ingusan yang sering dia ceritakan itu. Tapi dia tidak menyadari dan selalu mengelak kalau dia sedang jatuh cinta.
“Awas ntar jatuh lagi, duh sakittt.. hahahaha,” ucap Reza dan Daffein barengan karena senang mengolok-olok Aditya, bagi mereka, itu adalah hiburan yang sangat ingin mereka lakukan tiap hari.
“Gila kalian yah..” ketus Aditya menjauh dari sahabat ya yang gila.
“Duh... masss boyyyyy awwww... tunggu in dedek Rere dong,” Setengah teriak Reza sambil bergaya ala wanita jadi-jadian dan mengejar Aditya, yang semakin cepat jalannya.
“Ahh.. aa jangan tinggalin Ning Daff-daff dong aa, Nening atutttttt aaa....” ucap Daffein yang juga mengikuti gaya Reza sambil mengibaskan rambutnya ke belakang seolah-olah rambut itu panjang.
__ADS_1
Seno yang berada tepat di samping mereka merasa geli melihat kelakuan prik sahabat Aditya. “Kok bisa yah sama-sama gila mereka,” gumam Seno yang masih memperhatikan tingkah wanita jadi-jadian itu.