KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
89. Pertemuan


__ADS_3

Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu tiba, tepat di malam minggu. Viona yang masih bersiap-siap di dalam kamarnya merasa gugup. Dia sengaja mengajak Rian dan orang tuanya untuk bertemu Di Menssion. Karena dia ingin memperlihatkan jika kehidupannya selama ini baik-baik saja, hidup serba berkecupan. Dia tidak ingin menceritakan kehidupan yang kelam di masa lalu. Cukup sudah bagi mereka yang tau saja. Dia tidak ingin membuat keluarganya bersedih dan makin merasa bersalah.


Semuanya sudah siap, makanan sudah tersaji dengan hidangan beberapa menu. Bi Yun takkalah antusiasnya, dia bersyukur akhirnya Viona bertemu dengan keluarganya secepat itu, dan juga sangat penasaran siapa orang tua kandung Viona sebenarnya.


"Tom benarkan ini jalannya?" tanya Rian pada Tomi yang sedang fokus mengemudi.


"Harusnya sih benar, karena aku sudah ikut jalur yang ada di Maps" balasnya.


"Iya sih, apa dia tianggal di daerah puncak seperti ini? Jika benar, dia sangat pandai memilih tempat tinggal, jauh dari kepadatan penduduk"


"Kalian berdua lagi ngomongin siapa sih? Dan juga kita mau ke mana? Kenapa makin lama jalannya makin menanjak? Awas kalian jika berniat berbuat macam-macam!" tanya Tuan Jack.


"Astaga Dad, sama Anak sendiri kok pikirannya zoudson mulu. Kan tadi aku sudah bilang, kalau kita mau berjumpa atau bertemu dengan seseorang. Dady tenang saja, diam dan nikmatilah perjalanannya!" pintah Rian.


"Ck, dasar anak durhaka!" gumamnya pelan. "untuk sayang, jika tidak! Sudah kutabok kepalanya"


"Dad! Tenanglah, jangan emosian seperti ini!" Istrinya menenangkan sambil mengusap bahu sang suami. Dia sudah terbiasa melihat pertikaian kedua orang itu bagaikan anjing dan kuncing, tapi jika berjauhan keduanya saling merindukan.


Tiba di titik merah, Tomi menepikan mobilnya dan menatap pagar yang menjulang tinggi. "Kita sudah sampai, kita langsung masuk saja" ucapnya.


Tiiiiiiinn tiiiiiiiin


Tomi membunyikan klakson yang menegaskan, bahwa pintu gerbang minta di buka karena dia ingin masuk. Dan benar saja pintu gerbang terbuka secara otomatis dan muncullah dua orang satpam yang menyambutnya dan mempersilahkan masuk.


Tomi menjalankan mobilnya kembali menuju pintu masuk Menssion. Bagaimana reaksi mereka? Sama halnya dengan reaksi orang-orang yang pertama kali datang dan juga seperti reaksi keluarga Ray. Terpesona dan berdecak kagum melihat bangunan dan desain yang tampak dari luar.


"Ini menssion siapa? Apa kalian tidak salah alamat?" kali ini Momy Rian yang bertanya.


"Tidak Mom! Benar kok ini alamatnya" balas Rian tapi pandangannya masih melihat sekeliling.


Seorang maid datang dan mempersilahkan mereka masuk, menuntunnya sampai ke ruang tamu. Terlihat sudah ada Viona, Raka dan Bi Yun menyambut mereka.


Jantung Viona makin berdebar kencang, saat melihat wanita paruh baya yang sangat mirip dengannya, meskipun sudah berumur tapi masih terlihat muda dan juga anggun.


"Selamat datang di kediaman kami, mari silahkan duduk!" Bi Yun yang menyahut memberi salam dan mempersilahkan tamunya duduk. Karena melihat Viona yang hanya diam.

__ADS_1


Orang tua Rian juga sama kegetnya, saat melihat Viona, seakan melihat dirinya di masa muda, tiba-tiba dia teringat dengan sang anak yang entah di mana keberadaannya.


Rian dan Tomi melihat reaksi mereka hanya tersenyum, akhirnya keluarga mereka berkumpul setelah sekian lama terpisah. Rian mengajak mereka untuk saling berkenalan terlebih dahulu.


Lagi-lagi Bi Yun yang mempersilahkan tamunya untuk minum minuman yang sudah di sajikan di atas meja. Dia memaklumi reaksi Viona yang merasa canggung dan gugup seperti itu.


"Mom! Dad! Apa kalian liat gadis cantik itu?" tanya Rian sambil menatap Viona yang sedang menatapnya. "Dialah gadis yang ingin aku pertemukan dengan kalian! Dan dialah bukti atau hasil pencarian kami selama ini!"


"Apa maksudmu Nak? Dady tidak paham, berbicaralah yang jelas!" balasnya bingung.


"Rian! Apa kamu berusaha untuk menjelaskan jika gadis itu adalah Adikmu Raina?" sela sang Momy dengan badan yang sudah bergetar.


Tuan Jack sudah paham setelah istrinya berkata seperti itu, keduanya menatap Rian menunggu jawaban, dan berharap Rian mengatakan Ya.


Tanpa menunggu lama Rian mengagguk dan berkata. "Ya Momy, dia Adikku Raina, Aku sudah menemukannya, dan dia sedang berkumpul bersama kita."


Momy Jeny tak lagi membendung tangisnya, dia menangis dan beranjak dari duduknya berjalan mendekat di mana Viona duduk. Dia langsung bersimpuh dan berlutut di depan Viona. Semuanya kaget melihat apa yang dilakukannya termasuk Viona.


Viona membantunya berdiri, seharusnya dialah yang berada di posisi itu. Momy Jeny berdiri dan langsung memeluk Viona dengan erat.


"Hiks hiks hiks, Anakku Raina, Momy sangat merindukanmu Nak! Hiks hiks" ucapnya menangis tersedu-sedu.


Viona juga menangis, dia belum bisa berkata apa-apa. Semua persaan dan unek-unek di hempaskan melalui tangisnya.


Semuanya menangis, meneteskan air mata. Terharu melihat pertemuan Ibu dan Anak yang sudah lama berpisah akhirnya bertemu kembali.


...----------------...


Beberapa menit berlalu semuanya sudah berhenti menangis, Viona sudah memeluk semua keluarganya satu persatu, semua mata terlihat memerah dan sedikit membengkak.


Momy Jeny terus melengket Kepada Viona, seakan dirinya takut untuk berpisah lagi. "Nak maafkan kami yang baru bisa menemukanmu sekarang!" ujarnya.


Viona tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Jangan di bahas sekarang! Kita hanya perlu bersenang-senang sekarang" balasnya.


Momy jeny setuju, ini bukanlah saatnya untuk menjelaskan semuanya apa yang terjadi, mereka masih dalam keadaan temu kangen istilah masa kini.

__ADS_1


Dan Raina Jackson adalah nama yang di berikan oleh orang tuanya, di saat dia masih dalam kandungan, Nama Viona di berikan oleh Ibunya Laras. Dia akan tetap memakai namanya yang sekarang, biarlah jikah orang tuanya jika ingin memanggilnya Raina.


"Jadi siapa pemuda di sampingmu Nak?" tanya sang Momy yang sedari tadi melihat seorang pemuda di samping Viona.


Viona menatap Raka dan tersenyum, "Dia Raka Prayoga, lelaki yang selalu ada di sisiku, yang selalu mensupportku, menyangiku dan menjagaku selama ini. Dia tinggal bersamaku di sini menjadi sosok Kakak yang bertanggung jawab" jelasnya.


Semuanya hampir salah paham, mereka semua mengira jika Raka adalah kekasih Viona, meskipun Tomi sudah sempat bertemu tapi dia tidak tau pasti status keduanya. Tapi mereka merasa bersalah, karena seharusnya merekalah yang melakukan semua itu ke pada Viona.


"Maksudnya, dia Kakak angkatmu?" tanya sang Momy lagi.


"Hmm seperti itulah Mom" balasnya.


"Terima kasih Nak, karena sudah berbaik hati untuk menjaga Raina selama ini, mungkin kami tidak bisa membalasnya!" sela Tuan Jack.


"Saya tidak berharap imbalan Tuan, karena saya tulus menyangi Viona sebagai Adikku, seharusnya aku yang berterima kasih kepadanya karena sudah mengangkatku sebagai Kakaknya"


"Hmm kamu anak yang baik Nak, kalau begitu jangan memanggilku Tuan! Karena kamu sudah menjadi Kakak angkat Raina, maka kamu juga akan menjadi anak angkatku."


Semuanya setuju apa yang di katakan Tuan Jack, apalagi Viona. Tapi Raka begitu terkejut karena Tuan Jack ingin menjadikannya Anak angkat. Ternyata benar kata pepatah, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.


"Ya Momy setuju, tapi bagaimana dengan orang tuamu Nak? Apa dia tidak akan marah?" tanya Momy Jeny.


Raka tidak langsung menjawab, dia diam sejenak lalu berkata, "Mereka tidak akan marah, mungkin mereka lagi tersenyum di sana."


Semuanya diam, tentu mereka tau ke mana arah jalan cerita itu. "Ehh maafkan Momy Nak, Momy tidak bermaksud untuk mengingatkanmu tentang mereka."


"Ya Nak, kamu jangan bersedih lagi, karena kami akan menjadi orang tuamu" kata Tuan Jack yang entah sejak kapan dia sudah duduk di samping Raka dan merangkul bahunya.


Mata Raka berkaca-kaca, dia tidak sanggup menahannya, sehingga air mata itu lolos begitu saja. Karena tidak menyangka orang tua kandung Viona sangat ramah dan juga pengasih.


Semuanya kembali bersedih dan terharu. Sekarang beralih ke pada Bi Yun, Viona segera menjelaskan status Bi Yun ke pada keluarganya, sebagai pengasuhnya, sebagai Ibunya, bahkan sebagai temannya, mulai dari kecil hingga sekarang.


Momy Jeny berpindah kembali dan memeluk Bi Yun yang air matanya Lagi-lagi menetes. "Terima kasih Bi, terima kasih, jasamu tak terbalaskan. Terima kasih sudah merawat dan membesarkan Raina dengan tulus, hingga dia dewasa menjadi gadis yang baik."


"Jangan seperti itu Nyonya. Itu sudah menjadi tugasku untuk merawatnya" balas Bi Yun yang sudah melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kakaaaaaaak!"


Acara berpelukan, terharu dan bersedih seketika berhenti saat mendengar suara anak kecil berteriak dengan keras memanggil sang Kakak.


__ADS_2