KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
109. Hadiah


__ADS_3

Acara perkenalan sekaligus makan siang berjalan dengan lancar. Tian yang baru kali pertama bertemu sudah berpendapat, jika ingin mendapatkan hati Viona Ray harus berjuang lebih, karena sifat Viona sangat berbeda dengan wanita yang sering kali mencari perhatiannya.


Karena Tian ada jadwal oprasi, dia pamit terlebih dahulu, dai pulang menggunakan Taxi. Dia sangat pekah jika Ray ingin berduan dengan Viona. Tinggalah mereka berdua di ruangan itu.


Ray mengeluarkan sesuatu di saku jasnya, dan menyodorkan ke pada Viona, "Ini untukmu!" ucapnya sambil membuka sebuah kotak kecil berwarnah merah.


Viona melihat isi dalam kotak itu, sebuah kalung berlian yang sangat indah, tentu dia tau harga kalung itu, karena hanya ada beberapa di negara itu. "Ray kalungnya sangat indah, ini tidak pantas untukku" tolak Viona dengan halus.


"Siapa bilang tidak pantas? Kalungnya makin indah dipandang jika di pakai oleh wanita cantik sepertimu! Aku tau kamu bisa membelinya, tapi aku memang ingin memberikanmu sebagai hadiah!"


"Ck, ternyata kamu pandai juga menggombal. Hmm baiklah aku akan memakainya nanti, kalung sebagus ini tidak cocok di pakai sehari-hari."


"Heheh baru kali ini aku menggombal Vio, itupun kayaknya sudah basi ya? Emm, tidak masalah, kamu menerimanya saja sudah membuatku senang."


Viona mengambil kotak itu dari tangan Ray, melihatnya sejenak, lalu menyimpannya di dalam tas. "Aku ambil ya, jangan sampai kamu memintanya lagi suatu hari nanti."


Ray mencerna ucapan Viona, memintanya kembali? Sangat memalukan, Itu akan mencoreng nama baik keluarga Duke jika hal itu terjadi. "Sekarang itu sudah jadi milikmu. Dan aku akan membeli pabriknya untukmu, jika aku memintanya."


Viona membeo, mendengar ucapan Ray yang sangat serius. Padahal tadi dia cuman bercanda. "Heheh aku bercanda loh Ray.


"Hmm, ya sudah simpan baik-baik ya? Jangan sampai hilang!" pintahnya tapi dia sangat berharap Viona menggunakannya setiap hari.


Setelah obrolan mereka selesai, Ray juga pamit. Karena dia harus ke kantor untuk memimpin rapat. Dan tak lupa berpesan, akan mengajak Viona ke suatu tempat jika pekerjaan keduanya sedikit renggang.


Di ruangan Leo, dia terlihat melamun. "Kenapa aku selalu memikirkannya, wajar sajakan jika mereka berdua makan bersama,"


Ternyata dia melihat Ray dan Viona masuk ke ruangan Vip, tapi dia tidak melihat kedatangan Tian, jadi dia beranggapan jika mereka hanya makan bersama.

__ADS_1


Kali ini Leo makan siang di Restoran, dia tidak pulang. Karena Ibunya sering menanyakan, kenapa dirinypa kenapa tidak mencari keberadaan orang tua kandungnya. Ibunya juga sudah memperlihatkan baju kecil Leo, saat pertama kali dia ditemukan, serta gelang kaki yang memiliki permata biru.


Tapi dia benar-benar merasa bingung, kemana harus dia pergi mencari. Apakah dia harus menggunakan media sosial? Tidak, Leo tidak ingin orang-orang mengetahuinya.


Karena malamun, dia tidak sadar jika Viona berada di dalam ruangannya. Viona sudah mengetuk pintu, tidak ada jawaban dia masuk begitu saja dan melihat Leo yang sedang melamun.


Braakk


Viona menggebrak meja dengan pelan. Berhasil, Leo tersentak dan terkejut melihat Viona ada di hadapannya. "Lagi mikirin apa Kak? kayakanya serius banget!"


Leo mengusap dadanya. "Huff, Li kamu membuatku terkejut" balasnya "Tidak mikirin apa-apa kok Li, aku hanya sedang berpikir, kado apa yang bagus untuk aku berikan ke Ibu" dustanya.


Viona tersenyum kecut, Lagi-lagi Leo tidak ingin menceritakan masalahnya. "Kado? Ibu ulang tahun?"


"Tidak, aku cuman pengen berikan Ibu sesuatu, tapi aku bingung" dia ingin memberikannya kado sebagai bentuk ucapan terima kasihnya, karena sudah merawatnya dengan penuh kasih sayang selama ini.


Loe termenung, dia tidak pernah melihat Ibunya menggunakan Aksesoris seperti itu, karena sebelumnya, cari uang untuk makan saja susah, apalagi jika ingin membeli benda mahal seperti itu. Tapi sekarang kehidupannya sudah lebih baik. Suka atau tidak, itu urusan belakang. "Hmm, makasih Li. Aku akan membelikannya nanti."


"Aku akan temenin Kak Leo pergi membelinya!" ucap Viona menawarkan dirinya sendiri.


Loe langsung berkata. "Tidak perlu Li. Aku akan pergi sendiri. Aku tidak ingin merepotkanmu."


Viona sudah menduga jika Leo akan menolaknya, "Kenapa Kak? Kerepotan? Aku merasa tidak direpotkan, karena aku yang ingin ikut pergi."


Leo berusaha berpikir, apa yang bagus dia ucapkan. "Tapikan, aku cuman beli satu Li, tidak banyak. Aku bisa kok pergi sendiri."


Viona menghela nasaf, karena makin jelas jika Leo menghindarinya, bukan karena dia ada masalah. "Hmm, baiklah Kak. Jika kamu tidak ingin lagi pergi bersamaku" balasnya dan berbalik keluar dari ruangan.

__ADS_1


Leo ingin membalas tapi Viona langsung keluar begitu saja. "Maafkan aku Li, kamu pasti marah! Aku tidak bisa terlalu sering bersamamu, itu makin sulit bagiku,"


Viona sudah berada di ruangannya, dia mencari kesibukan agar kekesalannya terhadap Leo menghilang. Dia merogoh ponselnya, dan memutar hasil rekaman yang sudah terhubung dengan kamera tersembunyi.


Viona terkejut, karena ternyata orang-orang itu mengenal si Bora. Dan parahnya lagi dia memasangkan sebuah chip yang bisa di kontrol sang penciptanya. Dia tau cara kerjanya, karena dia mendapatkan ilmu itu di kehidupan pertamanya saat dia belum diangkat menjadi leader.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia memiliki ilmu itu? hanya dari klen mafiaku yang bisa melakukan itu."


"Nyawa paman Bora saat ini berada di genggamannya. Bisa saja, sewaktu-waktu orang itu meledakkannya. Aku harus pulang sekarang!" dia segera berlari ke luar ruangan.


Saat itu juga Leo baru keluar dari ruangannya, dia melihat Viona yang sedang terburu-buru dengan raut wajah panik. "Apa terjadi sesuatu? Atau dia masih marah denganku?"


...----------------...


Di bawah penjara bawah tanah, terdengar suara seseorang berteriak kesakitan, saking sakitnya dia membenturkan kepalanya di tembok sampai berdarah.


"Aaaaaargh,, sakiiiiit, sakiiiiit. Kenapa kau melakukannya? Bukankah apa yang kau inginkan sudah tercapai? Melihat keluargaku hancur berantakan, melihat keluarga Adikku mendapat masalah sampai dia tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan" racaunya, entah ke pada siapa dia tuju.


Buuuug buuugghh


Lagi-lagi dia membenturkan kepalanya jika merasakan sakit yang luar biasa. "Kau sangat keterlaluan, kau tidak menepati janjimu."


Orang itu tak lain adalah si Bora. Dari semalam dia mersakan sakit di kepalanya. Tapi sakit yang dia rasakan dikontrol oleh seseorang.


"Hentikaaaaan! Brengsek kau. Apa muamu ha? Kenapa kau tidak bunuh saja aku? kau juga sudah menang, kau sudah berhasil." Bora masih berbicara sendiri seperti orang gila.


Di ruangan yang lain, Mira dan Sisil langsung ketakutan saat mendengar seseorang berteriak ke sakitan. "Kenapa aku seperti mengenal suaranya?"

__ADS_1


Sisil mendengarkan kembali suara itu, dia juga sama, suara itu tidak lagi asing baginya. "Mah, bukan kah itu suara papah?"


__ADS_2