
Ke esokan harinya, semuanya kembali menjalankan aktivitasnya masing-masing. Rian masih mengantar Nora, tapi kali ini dia sudah menurut, tidak lagi memperlihatkan tampangnya. Urusan dengan si Bora akan Viona eksekusi jika orang tuanya sudah balik, dan tidak memberitahunya ke pada Rian, takutnya dia tidak bisa menahan diri langsung membunuh si Bora begitu saja.
Viona juga sudah berada di Restoran, dia sudah menerima laporan dari Aiden, jika mobil yang menabrak Adik Tika, terakhir terlihat di CCTV menuju jalan hutan di bagian timur.
Tidak salah lagi, jika mereka yang mengintai bangunan tua itu. Tidak ada bangunan yang lain di hutan itu, karena rumah si Bora yang sudah habis terbakar berada di bagian barat.
"Mereka hanya mengintai, belum melakukan tindakan. Tapi, pasti mereka sudah merancanakan sesuatu. Anak buahku akan bonyok karena hanya berdua di sana. Dan percuman aku menyuruh yang lainnya ke sana, mereka sudah tau tempat itu. Jadi aku akan mencari tempat baru untuk Mira dan Sisil."
"Siapa pemimpin klen itu? Apa mungkin Mira mengetahuinya. Tapi meskipun dia tau, tidak mungkin mau memberitahuku" gumamnya pelan. "Tenaga, dan bela diri anak buahnya waktu itu lumayan juga. Apa klen Mafia ini baru ya? Kenapa aku tidak pernah mendengarnya di kehidupan pertamaku?"
Di dalam ruangannya Viona sibuk sendiri dengan pikirannya. Menyusun semua masalah yang ada, seakan-akan semua kejadian itu hanya memiliki satu akar tapi ada banyak cabang. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu membuatnya sedikit tersentak.
"Masuk!" pintahnya.
Viona melihat, ternyata Leo dengan sebuah berkas di tangannya. "Ada apa Kak?" cuman sekedar basa-basi karena dia sudah tau tujuan Leo datang ke ruangannya.
"Ini Li, laporan bulanan, aku sudah memeriksanya, tinggal kamu cek ulang seperti biasa!" balas Leo sambil meletakkan berkas itu di hadapan Viona.
"Ah iya Kak, nanti aku cek ulang" ucapnya. "Apa Kak Leo pulang makan siang?" lanjut Viona bertanya.
"Iya, Ibu selalu menyuruhku untuk pulang makan di rumah. Emm Li, aku balik ke ruangan dulu ya, masih ada kerjaan."
"Kenapa tidak kerja di sini saja Kak? seperti biasanya!" tanya Viona heran.
"Nanti aku menggangumu Li, aku lihat kamu juga ada banyak kerjaan. Aku balik ya!" titahnya sambil beranjak dan keluar dari ruangan Viona.
Viona tidak lagi menyahut, dia heran melihat sikap Leo tidak seperti biasanya. Mau banyak kerjaan atau tidak, biasanya Leo akan bekerja dengan Viona di ruangan itu.
"Apa kamu menghindariku Kak?" gumamnya bertanya, setelah Leo keluar dari ruangan. "Apa aku ada salah? Kayaknya tidak ada! Emm mungkin Kak Leo ada masalah, dan ingin sendiri dulu" Pikirnya positif.
__ADS_1
Terdengar ponselnya berdering, anak buahnya yang di hutan menelpon. Viona langsung menerima dan bertanya.
"Halo! Kenapa? Apa terjadi sesuatu?" Entah kenapa dia langsung bertanya seperti itu. Mungkin karena dia sudah tau siapa yang mengintai itu.
"Tidak terjadi apa-apa nona. Saya hanya ingin melaporkan sesuatu, jika orang yang mengintai makin bertambah, dan aku sempat melihatnya sekilas dari salah satu mereka menggunakan penutup mata, seperti bajak laut."
"Tetap santai, anggap kamu tidak mengetahui keberadaannya. Aku akan kesana sekarang! Jika mereka melakukan sesuatu selamatkan diri kaian terlebih dahulu, janga pikiran tahanan!"
"Baik nona di mengerti!" dia merasa terharu karena nonanya mengkhawatirkan nyawanya.
Viona mengakhiri panggilan, dia menghubungi Thea dan Leo segera ke ruangannya. Karena Thea saat ini, sedang membantu melayani customer.
Tak butuh waktu lama, keduanya sudah berada di ruangan Viona, "Aku harus pergi, ada urusan. Mungkin sudah tidak balik lagi ke sini."
"Baik, nona tenang saja, kami bisa menghendelnya kok. Iya kan Leo?"
"Emm, benar Lilie!" jawab Leo singkat.
Di dalam mobil Viona bergumam, "Biasanya kamu akan bertanya Kak, kemana aku akan pergi, dan juga selalu berpesan agar aku berhati-hati. Tapi kali ini kamu tidak melakukannya" Lagi-lagi Viona merasakan sikap perubahan Leo.
Viona melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dia tidak ingin terlalu memikirkannya. Dia akan menanyakannya nanti setelah urusan yang satu itu selesai.
...----------------...
Di dalam hutan, terlihat sepuluh orang sedang berkumpul berbentuk lingkaran. Seseorang berdiri di tengah lingkaran itu, mungkin dia pemimpin atau ketua dari kumpulan orang-orang itu.
"Saya harap kalian bisa mengeluarkannya dari bangunan itu, tidak mungkin kalian bisa kalah hanya dengan dua orang penjaga. Saya akan menunggu kalian di mobil."
"Baik Tuan King!" ucap mereka serempak dengan suara pelan tapi tegas.
__ADS_1
"Ada yang datang!" ucap salah satu dari kumpulan itu yang tak lain tangan kanan yang mereka panggil King.
"Sadow! lihat siapa yang datang!" pintahnya ke pada sang tangan kanan yang bernama Sadow." ( Namanya sudah di spoiler di Bab 62 )
Sadow mengintip di balik semak-semak, dia melihat tiga orang turun dari mobil dan masuk ke bangunan itu. Dia segera kembali untuk melaporkannya.
"Wanita itu datang lagi, tapi kali ini dia membawa anak buahnya!"
"Apa kau yakin dia seorang wanita? Apa kau sudah melihat wajahnya?" tanyanya dengan suara tegas.
"Saya hanya melihat dari bentuk tubuhnya dan cara berpakainnya Tuan! Saya tidak bisa melihat wajahnya karena dia menggunakan kaca mata dan masker."
"Hmm, kerjakan tugas kalian jika gadis itu sudah pergi! Untuk sekarang ini kita tidak perlu berurusan dengannya. Aku akan mencari taunya, jika dia yang melakukannya, bararti dia telah menyinggungku."
Di sisi Viona, dia berjalan masuk ke bangunan itu, dan mengabaikan orang yang mengintainya. Dia sudah mersakannya saat masih di dalam mobil. Dan sebelum turun dia menyuruh dua orang mutan keluar, yang menjadi anak buahnya.
Viona masuk di ruangan yang baunya membuat isi perut bergejolak. Dia menghampiri Mira dan Sisil yang berbaring di lantai. Terlihat keduanya sudah seperti tengkorak hidup.
"Bangun!" pintah Viona.
Mereka tidak bisa lagi bangun, hanya mampu membuka kedua matanya, "Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Mira dengan suara lemah.
"Jika kalian ingin sembuh dan keluar dari sini. Maka, kalian berdua harus mengikuti perintahku."
...----------------...
"Leo! kamu kenapa Nak? Kok makananya cuman diaduk-aduk? Apa kamu lagi pengen makan sesuatu yang lain?" tanya Bu Nur yang melihat Leo tak kunjung makan.
"Eh tidak Bu, Leo makan ini saja. Ibu kan sudah capek memasak untukku, masa aku makan yang lain!"
__ADS_1
"Terus kenapa cuman dilihatin, entar keburu dingin loh!"
Leo segera makan dengan lahap Seakan-akan menikmati makanan yang dia makan. Tapi, pikirannya jauh berkelana memikirkan seseorang.