KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
Cemburu


__ADS_3


Aditya pulang ke rumah dengan pikiran Sangat kacau, dia tidak mungkin mengakui perasaannya. Dia sadar kalau dia juga tertarik pada Neta, tapi dia takut kejadian masa lalu terulang kembali.


“Apa yang harus aku lakukan ya Allah?!” Gusar Aditya mengacak-acak rambutnya yang sedang dia alami saat ini.


“Kamu kenapa dit? Papa perhatikan sejak kamu datang malah melamun. Awas ntar di kira orang gila, mau kamu?” Canda papa Dimas kepada anak semata wayangnya ini.


“Aish, papah ini ganggu aja. Orang lagi serius juga.”


“Ada apa emang?” tanya lagi papa Dimas yang mulai penasaran, awalnya hanya ingin meledek Aditya karena tidak seperti biasanya dia melamun. Dan sekarang malah kepo dengan anaknya ini.


“Pah, apakah harus banget yah aku nikah dengan anak teman papa itu?’’ tanya Aditya dengan nada penasaran. Papa Dimas akhirnya tau apa yang di pikirkan anaknya. Papa Dimas menepuk pundak Aditya dan berkata. “Nak, sebenarnya kami tidak ingin memaksa kamu buat menikah dengan siapa pun. Apa pun keputusan kamu, kamu mau dengan siapa. Mau seperti apa itu hak kamu nak. Papa tidak ingin mengambil keputusan dalam hidup kamu!! Apa lagi ini menyangkut masalah pasangan yang akan menemani kamu sampai tua nanti.” Papa Dimas tersenyum lembut.


“Lagian papa ingin kamu tidak salah pilih pasangan dit, kamu tau keluarga kita seperti apa. Banyak orang memakai topeng agar bisa terlihat baik di depan kita. Lebih baik yang jelas yang sudah kamu ketahui orangnya seperti apa?, keluarganya seperti apa? Dan bisa menerima kamu itu sudah cukup nak. Apa lagi anaknya sangat cantik dan baik.” Lanjut papa Dimas setelah memberi jeda agar anaknya ini bisa memahami perkataannya.


“Jadi maksud papa?” tanya Adit yang mulai paham pembicaraan papanya ini.


“Nak, istri itu ibaratnya jantung rumah kita nak. Kalau kamu bisa membuat istri kamu bahagia. Maka rumah itu seperti surga dunia, tapi jika kamu tidak bisa membuat istri kamu bahagia maka rumah itu seperti neraka. Di dalam rumah itu tidak akan ada canda, tawa dan sebagainya jika kamu tidak bisa membuat istri kamu bahagia. Maka dari itu sangat penting memilih istri nak, tidak hanya paras saja tapi hati dan pengetahuan tentang agama atau tidak akhlak nya yang harus kamu cari sayang.”


“Papa ngomong seperti ini, karena papa ingin kamu bahagia seperti papa. Coba kamu liat papa, papa tidak betah berlama-lama di luar dan betah di rumah, karena ada bidadari di sini dan seorang pangeran yang selalu membuat papah tersenyum.” Ucap papa Dimas dengan penuh bangga, karena dia berhasil menemukan istri yang baik seperti mama Gina.


“Iya dong papa kamu harus bahagia, orang waktu muda dulu papa kamu ngejar-ngejar mama buat jadi istrinya. Padahal yah kalau kamu tau, papa kamu dulu playboy cap gajah duduk. Baru aja duduk ih ada aja cewek yang samperin dia.” Kata mama Gina duduk di sebelah papa Bagas. Papa Bagas langsung merangkul pinggang mama Gina dengan posesifnya.

__ADS_1


“Nembak gitu mah orangnya?” tanya Aditya penasaran. Mama Gina menggeleng kepalanya.


“Minta di ajarin menjawab soal.” Jawab mama Gina dengan gelak tawanya, Aditya pun ikut tertawa mendengar cerita masa papanya dulu.


“Enakan, yah di tembak lah habis nanya soal.” Lanjut papa Bagas dengan bangga. “Iya,iya deh,” kata mama Gina dan Aditya barengan.


“Tapi kalau gak gitu, kamu gak akan Taukan perasaan kamu seperti apa ke papa mah? Iyakan, kan?” menggoda dengan menaik turunkan alisnya.


Aditya yang melihat papa dan mamanya hanya tersenyum, kadang mereka lupa kalau anaknya ada di depan mereka dan malah asik bercanda. “Apa aku harus memberanikan diriku lagi yah?” ucap Aditya di dalam hatinya. Jujur Aditya masih ragu apakah dia bisa membuat pasangannya bahagia terlepas dengan masa lalu dan juga sikapnya itu..


Di sekolah.


Meta, Viola dan Neta sedang melewati lorong sekolah, tidak sengaja Neta Melihat Aditya sedang berjalan dengan guru yaitu ibu susi, ibu Susi ini ibu paling cantik menurut para siswa di sekolah SMA 1 antardas. Mempunyai lekukan tubuh seperti Gitar Spanyol, kulit putih rambut panjang bergelombang belum lagi mempunyai mata besar, bibir seksi dan mempunyai lesung pipi kiri dan kanan. Siapa pun pasti bakal tergoda.


“Sudah, Lo cantik kok net, asal tidak di bandingkan dengan ibu Susi.” Kata Viola yang paham dengan perubahan wajah Neta. Neta tersenyum paksa. “Gitu Lo yah, bukannya hibur temannya malah sebaliknya. Gak ada tulang itu lidah,” ketus Neta. Viola dan meta malah tertawa melihat tingkah Neta yang mengemaskan.


Aditya yang mendengar tawa yang tidak asing itu menoleh ke belakang, dan dia melihat Neta yang kini wajahnya cemberut karena di ledek kedua sahabatnya itu. “Apa yang mereka bahas, sampai membuat Neta seperti itu.” Batin Aditya yang masih menatap tingkah laku Neta seperti sedang kesal. Bukan seperti lagi tapi emang kesal dengan sahabatnya ini.


“Pak? Hello pak Aditya?!!” panggil ibu Susi, karena Aditya seperti sedang melamun.


“Ih, iya ada apa Bu? Maaf ada yang terlintas dalam pikiran saya tadi,” kata Aditya yang masih melihat Neta, Neta berjalan dan tepat di hadapan Aditya dan ibu Susi.


“Selamat pagi Bu Susi, selamat pagi pak Aditya.” Sapa mereka barengan dan tentunya dengan senyuman yang menawan, tapi tidak untuk Neta hanya menyapa tapi memasang wajah cuek. Tidak ada senyuman sama sekali.

__ADS_1


Viola menyinggul Neta dengan sikunya, meminta Neta tersenyum, Neta yang paham hanya tersenyum kecil dan setelah itu dia langsung pergi tanpa ngomong apa pun.


Viola dan meta terkejut karena Neta langsung pergi tanpa pamitan. “Kalau gitu kami permisi dulu, mari pak Aditya, Bu susi,” ucap meta dan viola berlari mengejar Neta yang sudah lumayan jauh.


“Kenapa dia seperti itu? Kemana gadis kemarin yang begitu berani bilang suka dengan ku?” Aditya bingung dan hanya menatap kepergian Neta yang tidak tau apa kesalahannya.


“Anak muda zaman sekarang seperti tidak ada sopan santunnya begitu. Iyakan pak Aditya?” tanya ibu Susi menatap kepergian Neta yang menurutnya tidak sopan sama sekali sebagai anak murid.


“Hemmm, ah iya. Biasanya dia tidak seperti itu. Oh iya Bu, maaf. Saya duluan, sebentar lagi saya harus mengajar anak-anak, kalau gitu saya permisi.” Kata Aditya tanpa mendengarkan jawaban ibu Susi langsung pergi dan bergegas masuk ke dalam kelas.


“Apa aku melakukan kesalahan, sampai dia seperti itu?” gumam Aditya dalam hati.


“Si*l, padahal ini kesempatan bagus buat menggoda pak Aditya. Tapi tidak apa-apa, kalau cepat tergoda kan tidak asik jadinya,” gumam ibu Susi sambil tersenyum, ada begitu banyak kelicikan yang ada di otak nya agar Aditya tergoda dengannya.


“Kita nikmati aja dulu cara mainnya,” bersiul sambil tersenyum dengan membayangkan wajah pak Aditya.


Neta cantik gini di bilang gepeng.



Aditya yang gak peka.


__ADS_1


__ADS_2