
Viona sudah berada di dalam rumah itu, dia berhasil melewati para penjaga yang sedang fokus melihat kawannya yang tiba-tiba jatuh ke tanah dan sudah tidak bernyawa lagi. Tidak ada tanda-tanda luka atau bekas apapun di tubuhnya.
Disisi lain para anggota Viona masih dalam pertarungan, ternyata Viona membiarkan mereka untuk melakukan olahraga, sebelum menghabiskannya.
Tomi yang sedang bersembunyipun kaget di buatnya, dia menatap pistol yang ada di genggamannya. "Astaga pistol ini buatan siapa? Kenapa bisa sebagus ini?"
Pistol itu buatan Viona, yang menggunakan peluru serbuk mematikan. Siapa lagi yang membuat racun itu jika bukan para anggotanya dari Organi Ten. Pelurunya transparan dan akan melebur saat menyentuh kulit.
Tomi yang masih mengagumi pistol di tangannya membuatnya kurang fokus, sehingga tidak menyadari ada sepasang mata yang menatapnya dari jauh dengan sebuah sniper di mana kepalanya sudah menjadi target.
Orang itu berada di ruangan privasinya, tidak ada yang di perbolehkan masuk kecuali dirinya. Dalam ruangan itu, tersimpan banyak senjata, minuman keras dan juga obat-obatan.
Ruangan itu kedap suara, tapi semua CCTV dia pantau melalui komputernya, dia sudah melihat Viona dan Tomi sejak tadi saat mereka tiba. Dia tidak memberitahu para penjaga, dia ingin tau sehebat apa kedua orang itu sampai dapat menemukan persembunyiannya apalagi hanya seorang wanita.
Tapi dia tidak melihat para pengawal bayangan Viona saat di mintai keluar, karena tiba-tiba listrik mati dan tidak lama menyalah kembali.
Dia syok, saat melihat semua penjaganya di bagian belakang sudah terkepung, dan makin terkejut lagi saat melihat ada yang tiba-tiba mati.
Semua itu ulah Zoya dan Aiden. Viona memberi tugas kepadanya untuk meretas dan memantau keadaan dan memberitahunya ada berapa ruangan di rumah itu. Mereka juga yang mematikan listrik, sengaja tidak merusaknya karena Viona ingin bermain-main. Dia sedikit merasa tenang karena Zoya memberitahunya kalau Rian ada di salah satu ruangan paling ujung dan dia masih hidup.
Mereka berkomunikasi menggunakan alat seperti handsfree, tapi sudah di modifikasi oleh Viona menjadi bentuk anting.
Viona terkejut saat Aiden mengatakan kalau Tomi menjadi target penembakan sniper. Dia tidak bisa berkomonikasi dengan Tomi karena dia tidak memilikinya. Sudah tidak cadangan lagi, dan tidak bisa membuatnya karena keadaan mendesak.
Viona menuju ruangan orang itu. Tapi sebelumnya Zoya sudah merusak CCTV yang ada di dalam rumah. Orang itu terkejut melihat CCTV tiba-tiba rusak. Dan dia adalah orang yang mengaku sebagai paman Rian yang bernama Bora. Dia sedikit panik, dia ingin keluar tapi.
Braakkk, pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka dan terjatuh ke lantai. Dia terkejut melihat seorang wanita yang berdiri di ambang pintu siapa lagi kalau bukan Viona.
"Brengsek! Beraninya kau datang ke rumahku dan memberontak seperti ini. Siapa kau? Apa kau datang cari mati ha?" ucapnya emosi.
Viona menatap Bora dengan intens, dia tersenyum kecil. "Akhirnya aku menemukanmu!" kata Viona dalam hati.
Ternyata Viona selama ini sudah mencari Bora, kenapa? Karena dia tau dalam penyerangan Ray dan penculikan Rara waktu itu adalah Pak Doni, yang meminta bantuan dengan Bora. Dan dia belum mengatakan itu kepada Ray.
__ADS_1
Viona sudah meminta bantuan Zoya untuk melacaknya waktu itu. Tapi hanya menemukan markasnya yang ada di kota, dan dia hanya melihat para anggotanya saja.
"Siapa aku? Bukankah selama ini kau mencariku?" tanya Viona sambil berjalan mendekat dengan memainkan pistol di tangannya.
Mencari! Mendengar kata itu dia seketika mengingat seorang wanita yang selama ini dia cari, tapi tidak bisa menemukannya, wanita yang selalu menggagalkan misinya, wanita yang membuat anggotanya menjadi idiot dan juga seorang kasim.
Bora menelan ludahnya. Tapi mengingat semua itu dia menjadi marah, "Kau! Kau wanita itu! Brengsek, dasar wanita ****** beraninya kau mencampuri urusanku!" teriaknya.
Mendengar kata kramat itu lagi Viona marah, matanya menajam dan mengepalkan tangannya kuat. Tidak akan dia biarkan begitu saja.
Entah sejak kapan Viona sudah berada di depan Bora dan mencekek lehernya kuat sampai kakinya melayang.
Bora kaget melihat pergerakan Viona yang sangat cepat dan tiba-tiba sudah berada di hadapannya, dia tidak sempat menghindar.
"Le lepasskaann! A apaa yang kamu lakukan?" ucapnya terbata-bata. Mukanya sudah memerah karena sesak.
Braakkk. Viona menjatuhkannya di atas meja "Jaga ucapanmu jika tidak ingin mati sekarang juga."
"Uhuk uhuk, kau yang akan mati"balasnya dan berbalik menghadap Viona sambil menodongkan belati yang dia ambil di dalam sakunya.
Viona tidak peduli dengan lukanya, dia malah menyerang balik yang juga menggunakan belati kesayangannya.
Cles, satu sayatan di bagian leher, beruntung kepalanya tidak berpindah tempat. Kenapa Viona tidak langsung membunuhnya? Karena dia sangat penasaran dengan status Bora, belum lagi atas penculikan Rian. Apakah ada yang menyuruhnya atau dialah yang menginginkannya.
"Arrgh. Kurang ajar" rintihnya menahan sakit.
"Satu sama! Huss jangan merintih seperti itu, itu belum seberapa. Perlihatkan semua kemampuan yang kau miliki Tuan Bora."
Viona mendapatkan bisikan dari Zoya, nama dari orang yang ada di hadapannya. Dia berhasil membobol datanya. Tapi hanya ada nama dan status yang tercantum.
Bora sedikit terkejut, karena Viona mengetahui namanya, tapi kemudian tersenyum setidaknya dia bisa melukai Viona walau tidak parah.
"Aku tidak peduli siapa kau sebenarnya yang selalu ikut campur. Aku hanya mengingatkanmu jangan bermain-main denganku dan membuang waktumu."
__ADS_1
Viona terdiam, kemudian berkata "katakan dengan jelas! Apa maksudmu ha?" pintahnya sambil menodongkan kembali senjatanya.
"Hahahah kau datang kemari untuk menjadi pahlawan yang kesekian kalinya. Tapi kali ini aku yakin kau tidak akan berhasil, nyawa orang yang ingin kau selamatkan berada di tanganku."
Seketika Viona teringat dengan Rian, dia melototkan matanya "Kau akan mati di tanganku jika berani melakukannya" setelah berkata seperti itu dia berlari keluar.
"Hahahah berusahalah! waktumu tinggal lima menit lagi" teriaknya sekencang mungkin, tapi dia seketika jadi lemes karena sudah banyak kehilangan darah.
Bora merusak semua CCTV, karena dia merasa ada yang memantaunya dari jauh. Dan dia pergi untuk mengobati lukanya melalui pintu rahasia.
...----------------...
"Kumohon bertahanlah aku akan menyelamatkanmu!" kata Viona yang sudah berada di mana Rian terikat dengan badan yang penuh luka dan tidak sadarkan diri lagi.
Pertama Viona ingin melepaskan bom yang Bora lilitkan di perut Rian, terlihat ada empat warna kabel yang melekat yang memiliki masing-masing sambungan dengan warna yang berbeda.
Tidak sembarang orang yang bisa merakit bom seperti itu. Jika Bora yang merakitnya berarti dia salah satu orang yang jenius menurut Viona, dan hanya orang merakitnyalah yang bisa memutuskan kabel-kabel itu.
Karena dirinya tidak memiliki bakat di bidang itu, Viona meminta bantuan kepada salah satu anggotanya, teman Zoya di organi Ten yang keahliannya dalam merakit senjata dan juga Bom.
Viona hanya tinggal mengirim gambar, dan mendengar intruksi melalui handsfreenya. Tinggal tiga menit waktu yang tersisa. Dia mengatur nafasnya dan memutuskan kabel secara perlahan.
Viona mendengar jika dia harus memotong kabel warna putih terlebih dahulu, dia sedikit ragu, tapi dia harus percaya dengan kemampuan yang dimiliki anggotanya. Jika tidak, untuk apa dia meminta bantuan. Dan dia harus memotong sambungan yang berbeda.
Kabel putih sudah terputus, Viona menghela nafas karena tidak terjadi sesuatu, waktu terus berjalan sekarang kabel yang kedua.
"Astaga apa yang terjadi?" tiba-tiba Tomi nongol dan masuk melihat situasi yang sangat menegang.
Viona sedikit kaget, dia mengusap dadanya pelan, dia mengabaikan pertanyaan Tomi. Karena dia bisa melihatnya sendiri jika membutuhkan jawaban.
"Rian maafkan aku, ini semua salahku meninggalkanmu sendiri" gumam Tomi menyahlakan dirinya atas semua yang terjadi.
Tomi tidak terkena tembakan sniper, karena Viona memberontak di ruangan Bora. Dan di juga sudah menembak mati semua penjaga di bagian depan.
__ADS_1
Kembali berkonsentrasi dan menunggu intruksi. Viona tau jika anggotanya juga dalam keadaan panik, karena tiba-tiba mendapat tugas untuk menjinakkan Bom dalam waktu lima menit.