
Di negara X, Tuan Jack dan Istrinya sedang kalang kambut karena tidak dapat menghubungi Rian ataupun Tomi, pikiran buruk sudah menjelajah di pikirannya. Berusaha untuk tenang, dan berharap tidak terjadi sesuatu. Bukannya Tuannya Jack tidak memerintahkan beberapa pengawal untuk menjaga keduanya, tapi belum sampai dua puluh empat jam, orang yang di sewanya sudah menghilang tidak ada kabar. Dan itu bukan pertama kalinya, sudah sejak dulu saat dia melakukan pencarian anaknya.
"Mom! Kamu tenang ya! Mereka pasti baik-baik saja" kata Tuan Jack pada istrinya yang terlihat sangat cemas.
"Dad! Bagaimana aku bisa tenang? Mereka tidak bisa dihubungi sejak pagi sampai sekarang yang sebentar lagi gelap."
"Ya aku tau, aku juga sangat mengkhawatirkan mereka, tapi kita harus tetap tenang. Kita tunggu kabar saja! Aku sudah menyewa seseorang untuk mencari keberadaan mereka."
"Jika sampai besok pagi mereka tidak ada kabar, kita pergi menyusul mereka!" pintah sang Istri yang bernama Jeni Jackson.
"Baiklah, sekarang kamu tenang ya!" Tuan Jack hanya dapat menuruti keinginan Istrinya, karena bagaimanpun dia berusaha untuk menengkannya tetap rasa cemas itu pasti ada.
...----------------...
Di sisi Viona tiba-tiba terdengar tanda peringatan jika sebentar lagi bom itu akan meledak. Dia masih fokus memotong kabel secara perlahan agar tidak mengenai kabel yang belun terputus.
"Appaa? Brengsek kau Bora!" Ucap Viona setelah berhasil memutuskan kabel ke tiga. Dia mendapat bisikan dari Zoya jika rumah itu sudah terpasang beberapa bom kontrol di setiap sudutnya, yang mana bom itu akan meledak dengan sekali tekan melalui remot kontrolnya.
"Kenapa Vio apa yang terjadi?" tanya Tomi yang masih setia menemaninya.
Dia mengusulkan untuk membawa Rian keluar dari ruangan itu terlebih dahulu, tapi Viona membantah, itu akan memakan waktu.
"Tom! Kamu keluar sekarang! Rumah ini akan meledak sebentar lagi" jelasnya.
Tomi mematung, mana mungkin dia meninggalkan Rian dan Viona di situ, "Tidak Vio, aku akan tetap di sini" tolaknya.
"Tom please, keluarlah! Siapa yang akan menjadi saksi jika kita bertiga hancur bersama di sini."
Sangat berat baginya untuk melangkah "Baiklah, tapi aku mohan kalian berdua juga keluar dengan selamat!" balas Tomi dan berlari keluar dengan air mata yang mengalir.
Tinggal dua kabel lagi yang belum terpotong dengan sambungannya. Sisa waktu tiga puluh detik lagi, segera dia memotong setelah mendapat arahan, tangan Viona bergetar di detik-detik terakhir.
__ADS_1
Duarrrr,, duaarrrr, duuaarrr, duuaarrr...
Letusan bom yang begitu keras menggemah di tengah-tengah hutan, seketika api menjulang tinggi, dengan asap hitam tebal. Hewan-hewan yang ada di sekitar ketakutan, semua berlarian mencari persembunyian mengira ada bahaya mendekat. Burung berterbangan di udara, berpindah tempat dari pohon ke pohon.
Tomi yang sudah berada di luar langsung terjatuh ke tanah, badannya melemas melihat kejadian itu, dia menangis dan berteriak sekeras mungkin.
"Tiidaaaaaaaak, tidaaaaaak! Hiks, hiks, Riaaaaan! Vionaaaaaa! Keluar dari situ hiks hiks!" Tomi meraung, dia masih berharap jika itu semua mimpi.
"Toloooong, kumohon! Siapapun tolong mereka di dalam sana!" kali ini Tomi berteriak meminta tolong, padahal tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
Para pengawal Viona juga berada di dalam rumah itu. Dia tidak mendengar perintah Viona saat mereka di suruh keluar. Mereka tetap setia menemani nonanya dalam kondisi apapun itu.
Tomi masih menangis menatap kobaran api yang makin membesar. "Maafkan aku, ini semua salahku" racaunya. "aku yang akan bertanggung jawab."
Seketika langit menjadi mendung, terdengar suara gemuru yang menandakan akan turun hujan. Awan-awan menghitam dan byurr, hujan lebat turun begitu saja.
Tomi masih berdiam di tempat dan sudah basah kuyup, dia membiarkan hujan menimpanya, dia masih setia menunggu, berharap kemunculan Viona dan Rian.
Kobaran api mulai mengecil, asap tebal juga mulai menipis. Beberapa jam berlalu, keadaan mulai gelap gulita. Api sudah padam menyisahkan butiran debu, rumah megah itu sudah rata dengan tanah. Dan sampai saat itu juga Viona dan Rian belum terlihat sama sekali.
...----------------...
.Di Menssion Viona juga sama, terlihat raut wajah mereka yang khawatir dan cemas. Raka yang baru pulang dari Rumah Sakit tidak mementingkan kesembuhannya, dia tidak makan dan juga tidak meminum obatnya.
"Nak kamu harus makan! Nak Vio bisa marah jika Nak Raka sakit lagi" pintah Bi Yun, meskipun dia juga sangat khawatir tapi dia berusaha tenang agar yang lainnya tidak terlalu khawatir.
"Bi aku sangat mengkhawatirkannya, sejak pagi dia pergi sampai sekarang belum pulang dan ponselnya tidak dapat di hubungi."
"Iya Nak, Bibi juga sama. Tapi kamu harus jaga kesehatanmu!"
"Baiklah Bi aku akan makan, tapi sedikit saja" merasa tidak enak dengan Bi Yun terpaksa dia makan walau beberapa suap saja.
__ADS_1
Nora berada di kamar bersama Frisli yang di temani Ibunya. Sengaja tidak di beri tahu, situasi akan menjadi runyam jika Nora mengetahui kalau Viona tidaka ada kabar. Bukan cuman Nora, tapi Lan dan Lin juga tidak boleh mendengar berita itu, jangan sampai kedua harimau itu mengamuk dan menghabiskan seisi menssion.
Setelah meminum obat, Raka baru mengigat suatu hal. "Astaga kenapa aku melupakan mereka!" ujarnya sambil berlari kebelakang.
Bi Yun menyusul, melihat Raka yang tiba-tiba berlari ke Paviliun Mawar, di mana Zoya dan temannya yang lain tinggal.
Raka membuka pintu ruang kerja Zoya, dia heran melihat semua orang ada di situ dengan raut muka yang sama dengannya. Nampak khawatir sampai ada yang menangis.
Raka sudah mulai menebak, sesuatu hal buruk sudah terjadi. "Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis seperti itu?" tanya Raka yang masih terlihat tenang.
Tidak ada yang berani menjawab. "Kenapa diam? Apa semua ini ada hubungannya dengan Viona?" tanyanya lagi.
"Jawab!" suara Raka mulai meninggi. "Aku tanya sekali lagi, apa yang terjadi dengan Viona?" dia tidak bisa lagi mengontrol amarahnya.
Zoya memberanikan diri untuk menatap Raka, "Maaf tuan Raka! Kami juga tidak tau apa yang terjadi, kami kehilangan kontak dan tidak bisa berkomunikasi dengan nona sejak malam tiba. Dan posisi terakhir nona berada dalam hutan."
Deg, jantung Raka berdebar, pantas dirinya sangat khawatir, Viona berada di dalam hutan yang gelap gulita.
"Terus, kenapa kalian hanya diam saja? Tidak memberitahuku atau yang lainnya untuk segera mencari keberadaan Viona."
"Bang Gondrong dan beberapa pengawal lainnya sudah menuju ke lokasi terakhir nona. Dan kami tidak berani memberi tahu Tuan Raka, karena Tuan Raka baru saja keluar dari Rumah Sakit."
"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh mengetahuinya? Dia adikku! Apapun kondisinya aku berhak tau"terangnya.
"Maafkan kami Tuan, kami tidak akan mengulanginya lagi" sebenarnya itu perintah Viona sebelum bom meledak. Tapi melihat situasi tidak memungkinkan jadi dia memberitahunya walau tidak semuanya.
"Ya itu memang salah. Tapi kalau boleh tau ngapain Viona ke dalam hutan dan sama siapa dia pergi ke sana?"
"Nona dalam misi penyalamatan seseorang yang di sekap dalam rumah yang berada di hutan itu. Dan nona pergi bersama dengan seorang temannya"
"Huuff,, kamu terlalu baik Dek, sampai mempertaruhkan nyawamu sendiri. Kakak harap kamu baik-baik di manapun kamu berada" gumamnya "Kalau ada kabar, segera beritahu aku!" pintahnya dan berbalik pergi.
__ADS_1
Bi Yun yang berada di luar ruangan, tidak bisa menahan tangisnya. Dia mendengar sumuanya, dia sangat takut terjadi sesuatu di hutan itu.
Zoya memang sengaja tidak menceritakan semuanya, lebih baik menuggu hasil dari pencarian Bang Gondrong terlebih dahulu. Mereka menangis, setelah mendengar letusan bom melalui handsfreenya masing-masing. Apakah Viona berhasil memutuskan kabel yang terakhir? Tapi jika berhasil apakah dia masih sempat untuk berlari ke laur, belum lagi ada Rian bersamanya. itulah yang ada di benak mereka semua.