KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
124. Patah Hati


__ADS_3

"Apa yang terjadi Nak?"


"Emm, tidak apa Bu, Jangan khawatir! Kak Leo cuman demam biasa. Oh iya, makasih obatnya Bu"


"Iya Nak, Ibu ke dapur dulu, mau masak untuk makan malam"


"Tidak usah Bu, aku sudah pesan makanan di luar. Ibu istirahat saja, aku yang akan menemani Kak Leo."


"Baiklah Nak, kalau perlu apa-apa, panggil Ibu saja" balasnya lalu berlalu pergi.


Ya, saat ini Viona kembali ke rumah Leo. Dia tidak membiarkan Leo menggunakan motornya dalam kondisi seperti itu. Tiba di rumah, Ibu Nur sempat khawatir melihat sang Anak di bopong oleh kedua penjaga.


Viona memabangunkan Leo untuk meminum obat penurun panas, "Kak bangun dulu! Kak Leo harus minum obat, kalau tidak aku akan membawa Kak Leo ke Rumah Sakit!" gertaknya.


Seketika Leo membuka matanya lalu menatap Viona yang sedang tersenyum manis, senyum itu sudah kembali lagi setelah beberapa hari menghilang. Dia duduk dan bersandar, dan langsung meminum obat yang diberikan.


"Maaf sudah merepotkanmu!" ucapnya


Viona menggeleng, lalu membantu Leo untuk berbaring kembali. "Tidak, aku sendiri yang ingin merawat Kak Leo, tanpa diminta. Jadi jangan minta maaf!"


Leo mengangguk "Terima kasih Li" ujarnya lalu menutup matanya karena sudah merasakan efek dari obat, apalagi kalau bukan mengantuk.


Viona mengambil kompres yang sudah disediakan oleh Ibu Nur, dan menempelkan di kening Leo agar panasnya lebih cepat turun.


...----------------...


Di kediaman Duke, Ray yang baru saja tiba langsung naik ke kamarnya, dia melewati keluarganya tanpa menyapa yang sedang berkumpul di ruang tengah.


"Nak sini! Ada sesuatu yang ingin Momy tanyakan!" pintanya.


Ray berhenti melangkah, dia berbalik melihat keluarganya yang sedang menatapnya. "Maaf Mom, tidak untuk sekarang. Aku sangat lelah"


"Pergilah Nak, jangan lupa turun saat makan malam nanti" sela Tuan Bas, dia melihat Anaknya sedang tidak baik-baik saja.


Tanpa menjawab Ray langsung melanjutkan langkahnya, yang mana membuat keluarganya heran.


"Kenapa sikapnya berubah lagi seperti dulu?" gumam Momy Lidya.


"Ya, aku juga merasakannya, dia kembali ke mode dingin" timpal Rara.


"Hah, mungkin dia ada masalah di luar sana. Ray sudah dewasa, dia pasti bisa menanganinya.

__ADS_1


Di dalam kamar, Ray langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya. Dia menatap langit-langit lalu menghela nafas berat. "Ternyata ini maksud dari perkataanmu saat itu, menyuruhku mundur sebelum berjuang, karena kamu pasti takut, jika aku merasakan patah hati."


"Setidaknya aku sudah berjuang, walau aku masih ada waktu tersisa sebulan lagi. Tapi aku harus menerima kenyataan, jika hatimu sudah menemukan tempatnya."


"Ternyata sesakit ini, tapi aku bahagia jika kamu juga bahagia, meskipun kamu bersama lelaki lain. Kamu menemukan lelaki yang tepat."


Ray dalam kondisi patah hati, cintanya tidak terbalaskan, padahal bisa di bilang itu adalah cinta pertamanya, karena sebelumnya dia tidak pernah ingin dekat dengan wanita. Dia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri.


Ray saat itu kebetulan lewat di depan Perusahaan V.L Company, dia mampir untuk mengambil berkas yang ketinggalan. Tapi saat di lobby dia melihat Viona berjalan dengan terburu-buru.


Dia penasaran, jadi dia mengikutinya di mana Viona pergi. Ke Restoran sampai ke Rumah Leo, tapi dia tidak tau siapa pemilik rumah itu, dia menunggu Viona sampai Viona keluar kembali. Sampai dia mengikuti ke pantai, dan bersembunyi di balik batu besar itu. Di situlah dia melihat semuanya, mendengar keduanya saling mengungkapakan perasaan.


Ada waktu untuk berharap, dan ada waktu untuk berhenti. Ada masa untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengiklaskan.


...----------------...


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan pintu, Ibu Nur yang berada di dapur sedang menggoreng langsung mengecilkan api kompornya dan bergegas keluar membuka pintu.


"Eh Nak Raka, sini masuk Nak!" ucapnya setelah melihat siapa yang datang malam-malam. Sedikit heran, karena kali ini Raka membawa dua orang teman.


Sebelum masuk, Raka memperkanalkan Rian dan Tomi sebagai saudaranya, "Maaf Bu jika kami mengganggu."


"Iya Bu, kami semua bersaudara" balas Rian sopan.


Tiba-tiba Viona yang baru keluar dari kamar tamu, terlihat lebih segar yang menandakan jika dirinya habis ke kamar mandi.


"Ehh, ternyata para Kakakku yang jomblo sudah datang, mana pesananku Kak?" tanyanya smabil duduk di samping Ibu Nur.


Ketiganya langsung menatap Viona dengan tajam. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu di depan orang lain, kan bisa jadi malu.


"Heheh bercanda loh Kak! iya ya, sorry sorry para Kakakku yang tampan" ucap Viona cepat.


Ibu Nur hanya tersenyum melihat mereka, "Ibu ke dapur dulu ya, kompor Ibu masih menyala di dalam. Kalian mengobrol saja dulu."


"Iya Bu, jangan pedulikan kami. Lanjutkan perkajaan Ibu" balas Raka.


Ibu Nur beranjak lalu masuk ke dapur, untung saja gorengannya belum hangus, yah, dia sedang menggoreng perkedel jagung dan juga pisang goreng ,makanan kesukaan Leo.


Setelah Bu Nur tidak terlihat, Rian menyodorkan kantongan kresek, "Nih pesananmu Dek! Itu kamu pesan bakso dan menu makanan lainnya sebanyak itu buat siapa?"

__ADS_1


Viona menerimanya, "Terima kasih Kak, ya buat kita makanlah. Tinggal di panasin, lalu kita makan bersama. Aku yakin kalian bertiga pasti belum makan kan?"


Ketiganya menggeleng, karena Viona menyuruh mereka datang dan membelikan pesanannya, tanpa telat. Jadi mereka pergi sebelum makan malam.


"Wahh kamu memang terbaik Dek! Memang sangat cocok makan bakso di saat cuaca gerimis seperti ini. Oh iya Dek di mana Leo? Aku belum melihatnya!"


"Hmm iya Dek. Kamu bilang di telpon tadi Leo lagi sakit ya? Sakitnya parah?" sela Raka bertanya.


"Dia cuman demam Kak, dia lagi di kamarnya, istirahat" balas Vuona.


"Oh, jadi Dek kamu suruh kami datang ke sini untuk menjengukin Leo? Haais, kenapa tidak bilang dari tadi, kami tidak bawa apa-apa loh"


"Heheh sorry, aku lupa beritahu kalian tadi" sahut Raka sedikit bersalah, karena Viona sudah memberitahunya.


"Tidak apa Kak, oh iya aku tinggal ke dalam ya? Supaya kita bisa makan"


Tok tok tok


Sebelum Viona beranjak, kembali terdengar suara ketukan pintu. "Biar aku yang buka, mungkin tamunya Ibu" ucap Viona.


"Lah, Momy Dady! Kalian datang?" tanya Viona heran melihat kedua orang tuanya menyusul. "Ayo masuk Mom, Dad!"


"Heheh kamu terkejutkan? Momy sengaja bilang sama Kakakkmu Raka, untuk tidak memberitahumu kalau kami juga akan datang" balasnya sambil berjalan masuk.


"Ya terkejutlah Mom, jadi Kak Raka juga yang memberitahu alamat rumah Leo?" tanyanya.


Momy Jeny cuman mengangguk, dia langsung ikut bergabung dengan anak-naknya. Terlihat mereka sedang meminum teh plus pisang gorengnya. "Wahh enak ya santai-santai."


"Eh Momy datang?" tanya Rian juga terkejut, dia juga tidak akan hal itu, karena Raka tidak memberitahunya.


"Kerjaan Kak Raka sama Momy!" jawab Viona menyela.


"Kalau tau begini, kan bisa berangkat sama-sama tadi" sahut Rian lagi.


"Heheh tadi Dadymu masih ada urusan, jadi kami datangnya belekangan, mau jengukin calon mantu, katanya lagi sakit. Ah iya, Momy cuman bawa ini" ucap Momy Jeny bercanda sambil meletakkan di atas meja parsel buah yang dia bawah.


"Ck! Momy jangan mulai!" balas Viona sedikit malu, siapa lagi kalau bukan Leo yang di maksud sebagai calon mantunya.


Semuanya hanya tertawa melihat wajah Viona yang sudah memerah, padahal mereka cuman mengejek, belum tau apa-apa kecuali Raka. Jika keduanya sudah mengungkapkan persaan masing-masing.


"Eh ada tamu!" ucap Ibu Nur yang baru keluar dari dapur, dia sedikit penasaran karena mendengar suara wanita yang berbeda. "Ibu kedalam lagi ambil minum" lanjutnya pamit dan ingin kembali ke dapur.

__ADS_1


"Ibu Nur!" sapanya.


__ADS_2