KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
Pelangi


__ADS_3


Setelah berada di balik pintu, entah kenapa perasaan Aditya begitu risau, dia memperhatikan penampilannya hari ini. “Oke dit, santai, relex, jangan tenggang, angkat dagu kamu ke depan, ingat kamu paling tampan saat dagu kamu naik sedikit dan menambah karisma kamu.” Gumam Adit sambil menarik nafas dalam-dalam lalu di buangnya.


Setelah dia sudah yakin, Aditya langsung membuka pintu dengan gaya dagu yang dia naikkan ke atas sedikit dan penuh semangat 45. Semua anak Murid sangat terpesona dengan wajah rupawan Aditya, meskipun setiap hari mereka bertemu tidak akan pernah bosan bagi mereka melihat wajah seorang Aditya. Yang begitu indah seperti lukisan di dalam galeri. Semakin kalian melihat begitu dalam di sana, semakin tinggi jiwa lukisan itu.


“Selamat pagi anak-anak,” sapa Aditya dengan sedikit tersenyum, tapi senyuman itu tidak begitu jelas terlihat. “Pagi pak,” jawab mereka serentak, mata Aditya tak berhenti menatap Neta yang juga menatapnya tapi dengan wajah yang di tekuk.


“Apa aku melakukan kesalahan?” gumam Aditya dengan sedikit kebingungan, setelah itu dia mengabsen satu persatu muridnya.


“Baiklah kita mulai pelajaran hari ini,”


“Yah pak, jangan dong. Kan besok ulangan apa hari ini tidak bisa Santai dulu?” tanya Viola dengan wajah malas belajar. “Iya pak, apa tidak bisa kita bersantai saja hari ini?” sambung siswa lain dengan penuh semangat. “Kalian kalau mau bersantai lebih baik tidak usah sekolah,” jawab Aditya. Semua murid terdiam setelah mendapat jawaban dari Aditya, mereka tidak berani menjawab perkataan Aditya.


Viola menatap Neta dengan ekspresi minta tolong, dan anak lain juga menatap Neta yang lagi fokus menulis ke depan. Setelah merasa dirinya di tatap, Neta langsung melihat Viola dan semua murid yang minta pertolongan. “Apa?” tanya Neta dengan menggerakkan alisnya ke atas, mata mereka berbinar-binar menatap Neta agar mau ngomong.


“Be.la.jar,” Jawab Neta dengan mengeja kalimat belajar, semua murid yang berharap ke Neta pun seketika lemes dan dengan terpaksa mengambil buku. Neta tersenyum melihat tingkah teman-teman kelasnya.

__ADS_1


“Pak, apakah ada obat yang bisa mengobati rasa sakit hati?” tanya Neta spontan dengan memainkan polpen di tangannya, Aditya yang awalnya fokus menulis seketika berhenti dan berbalik ke arah orang yang bertanya.


“Maksudnya?” tanya Aditya yang tidak paham. “Maksudnya, apakah ada obat yang bisa mengobati rasa sakit hati? Bukankah setiap penyakit ada obatnya?” tanya Neta dengan tersenyum lembut.


Semua murid menatap Neta dengan tersenyum senang, dan melihat tatapan Aditya yang tidak bersahabat dengan Neta. “Kita jawab itu nanti setelah selesai pelajaran ini,” tegas Aditya yang tau niat Neta.


Dan seketika murid yang lain langsung menatap Neta dengan menggelengkan kepalanya, minta agar Neta melanjutkan pertanyaannya, Neta memutar bola matanya dengan malas. Tapi teman-teman yang lain memohon dengan menyatukan kedua tangan mereka. Dengan berat hati Neta menyetujui permintaan temannya, dan sejujurnya Neta pun dalam keadaan tidak ingin belajar.


“Yes,” ucap semua murid barengan dengan sangat pelan, agar Aditya tidak curiga.


“Kenapa? Anda tidak ingin menjawab karena tidak tau jawabannya? Atau Anda sebenarnya tau jawabannya tapi enggan menjawabnya? Karena anda takut mengungkit rasa sakit hati anda?” tanya Neta dengan beruntun dan tidak ingin mengalah sama sekali, sekarang hawa di dalam ruangan kelas Sangat begitu menyeramkan.


“Obat dari rasa sakit itu adalah waktu, butuh proses dan itu sangat lama, kamu masih muda, rasa sakit hati apa yang kamu rasakan?” tanya Aditya balik, Neta tiba-tiba terdiam mendengar pertanyaan dari Aditya.


“Apakah bapak sudah mengobati rasa itu?” tanya Neta, tanpa menjawab pertanyaan Aditya tadi. Neta tegang dan sekarang dia menyesali pertanyaan nya tadi. “Entahlah,” jawab Aditya yang singkat, dan itu membuat Neta tidak puas dengan jawabannya.


“Sampai kapan? Sampai kapan anda terus menutup hati Anda? Sampai orang yang benar-benar tulus sama Anda pergi dengan sendirinya gitu?”

__ADS_1


Aditya terdiam dia menatap mata Neta dalam-dalam, lalu Aditya tersenyum kecil. “Jika dia benar-benar mencintai orang itu, aku yakin orang itu tidak akan pergi meninggalkan dirinya.” Neta tertawa dan menepuk tangan. “Tidak Anda salah, orang yang tulus pun akan pergi meninggalkan orang yang tidak tau diri, saat orang tulus itu sadar kalau dia perjuangannya tidak di hargai, kalau kehadirannya tidak di harapkan, dan ke tidak adaan dirinya tidak masalah, saat itu dia sadar. Kalau dirinya salah memberikan ketulusan di tempat yang salah,”


“Ibaratnya gini pak, sulit meyakinkan lalat kalau bunga lebih indah dari pada sampah,” ucap Neta, Aditya terdiam sejenak lalu dia berdiri di dekat jendela dan menatap ke arah luar. “Tapi bagi lalat sampah itu adalah dunianya, bukan karena bodoh, tapi bagi lalat seburuk apa pun itu bahkan sebusuk apa pun itu dia tetap memilih sampah. Karena itu lah dunia dia, walaupun di luar sana lebih indah dan lebih wangi, kalau di sana bukan dunianya, mereka tidak akan mendekat, jangankan mendekat melirik pun mereka enggan.” Jawab Aditya dengan sedikit tersenyum, semua murid terkejut melihat senyum Aditya yang begitu menawan. Meskipun senyum itu hanya sedikit.


“Bukan kah setiap manusia punya pikiran yang berbeda, dan seperti itu juga dengan binatang yang membuat insting berbeda-beda.” Lanjut Aditya dengan menatap Neta.


Aditya berjalan ke arah Neta duduk, “Ada pepatah bilang, jangan pernah jadi pelangi bagi orang yang buta warna? Apa kamu tau kenapa?” tanya Aditya yang kini berada dekat di hadapan Neta. Neta menatap mata Aditya yang juga menatap dirinya, sangat lama. Sampai daheman meta membuat mereka sadar. “Ehemmm,” kata Neta meta yang membuyarkan lamunan Neta.


“Karena itu hanya sia-sia,” Jawab Neta dengan muka judesnya. Aditya mengacak-acak rambut Neta dengan ngemes, tanpa dia sadari dia tersenyum sangat jelas, sampai semua murid yang melihat itu tercengang. “Oh tidak Harusnya aku abadikan momen ini biar jadi sejarah,” ucap salah satu siswi yang histeris melihat senyum Aditya. Neta yang di acak-acak rambutnya tidak memperhatikan malah Neta mengomel kepada Aditya yang merusak rambut dia.


Aditya yang sadar kalau dia melakukan kesalahan, langsung menarik tangannya, dan berjalan menuju kursi dia sendiri. “Lalu?” tanya Neta yang ingin melanjutkan pertanyaannya tadi. “Apa?” tanya Aditya yang kini ingin menetralkan raut wajahnya.


“Bukankah, seharusnya orangnya itu mengajarkan warna kepada orang yang buta warna?” tanya Neta dengan polosnya ke pada Aditya. “Kenapa kamu berpikir seperti itu?” tanya balik.


“Orang yang buta warna, bukan berarti mereka tidak bisa membedakan itu semua, meskipun mereka tidak tau itu warna apa dan sebagainya, bukankah lebih baik mengenalkan, karena buta warna itu bukan yang dia inginkan.”


“Jadi tetaplah menjadi pelangi bagi dia, setidaknya kamu memberikan warna ke dalam hidupnya meskipun itu menyakitkan bagi mu, tanpa dia sadari kehadiran mu dan kehilanganmu akan terasa bagi dia.” Lanjut Neta berdiri ingin keluar dari kelas, karena jam kelas Aditya sudah usai.

__ADS_1


“Maka dari itu teruslah berjuang, dan yakinkan kepada si buta warna, kalau warna Warni itu lebih indah dari pada warna abu-abu,” lanjut Aditya, Neta yang mendengar itu membalikkan badannya dan tersenyum ke arah Aditya.


“Aku akan mencoba menjadi sabar dengan sikap mu, jika emang kehadiran ku kamu anggap,” lanjut Neta dan keluar kelas duluan meninggalkan teman-teman di dalam kelas penuh tanda tanya, ada hubungannya apa mereka berdua. Ferly yang melihat kejadian hari ini, hanya tersenyum.


__ADS_2