
ADITYA
Setelah kesekian kalinya Neta mandi, akhirnya kurang juga rasa kantuknya. Dan lingkaran hitam di bawah matanya, Neta langsung buru-buru turun ke bawah. Dan, langsung masuk ke dalam mobil jino, Jino yang sudah tau kenapa Neta buru-buru. Tidak banyak tanya, dia langsung menjalankan mobilnya.
Neta terus menatap hpnya, dan browsing internet, tentang skandal dan politik di era sekarang. "Wohhhh... Kak lihat ini, ini pacar Kaka yah?" Menggoncang tubuh Jino, yang sedang fokus menyetir.
"Pacar apaan sih." Neta segera menunjukan foto di layar hp nya ke Jino.
Setelah Jino melihat skandal dia dengan seorang wanita. Jino langsung menelpon seseorang di seberang sana, dan memberi perintah untuk menghapus berita itu.
"Kau pikir dia pantas jadi pacarku?" Tanya balik Jino, Jino sudah menduga kalau ini akan terjadi. Dan dia sudah bersiap-siap, jika ini terjadi, dia tinggal langsung memerintah seseorang saja dan Menganti skandal lain. makanya dia tidak terkejut lagi. Lagian ini bukan pertama kalinya, bagi Jino, tentang skandal seperti ini.
Banyak wanita di luar sana, yang berusaha menggoda Jino, tapi Jino acuh dan tidak menganggap mereka ada. Bagi Jino itu hanya trik murahan untuk memikat pria kaya dan tampan seperti dia.
"Isabel swan." Ucap Neta. Sudah 1 Minggu dia bekerja di perusahaan Jino dan dia berusaha keras mencari perhatian Jino, tapi Jino tidak peduli sama sekali. malah Jino sebaliknya merasa jijik karena terus menganggu jino.
"Iya.. dia model baru di Perusahaan Kaka. Dan dia sok kecantikan." Neta yang mendengar kata "Sok kecantikan" dari mulut Jino Euginus Barend rasanya geli dan bikin ngakak, baru kali ini Neta melihat Jino sejengkel itu.
Neta paham betul, watak pria seperti Jino ini. Banyak wanita yang mendekat dan rela Menjual tubuhnya, demi masuk ke keluarga EUGINUS. Demi kekayaan dan nama besar seorang nyonya. Maka jangan harap dia mendapat itu semua, bagi Jino wanita seperti itu, seperti lalat, di mana ada makanan yang menarik perhatiannya, maka dia akan menuju ke sumber itu. Jadi jangan harap kalau mendapatkan perhatian dari seorang JINO. Jangankan perhatian, melirik nya pun dia enggan.
"Tentu saja tidak, aish... Aku tidak setuju wanita ini, menjadi ipar ku." Menepuk-nepuk pahanya.
"Lebih baik sama aku aja." Gumam Neta dengan nada pelan, sangat pelan. Semut pun tidak bisa membedakan, itu suara manusia atau suara semut, Bahkan teman semut yang satunya pun juga menolehkan ke semut satunya. Yang sedang mencari makanan.
"Astaga kak lihat.. Ada semut di dalam mobil kaka." Menunjuk Semut yang ada di depan Neta.
Jino tidak akan tertipu lagi, dia sudah tau kalau Neta ingin mencium pipinya. Dengan berbagai tipu muslihat, kali ini Jino tidak akan mudah tertipu lagi.
"Biarkan saja." Ucap Jino yang sudah sampai di sekolah Neta.
__ADS_1
CEKLEKKK..
"Makasih kak... Hati-hati di jalan." Melambaikan tangan. Jino langsung melaju, setelah dia membalas lambaian Neta.
"Hufttt... Kalau seperti Isabel saja dia bilang sok cantik dan di tolak. Lalu seperti apa lagi, Bukan wanitanya agak ke gatalan, tapi. Kamu ya yang sok jual mahal." Gumam Neta yang terus menatap kepergian Jino.
"Cewek mana coba yang tahan, melihat wajah dia kayak gitu. Aku sebagai adeknya saja tidak tahan, dan klepek-klepek melihat senyumannya. Ya Tuhan, kuatkan lah iman hamba mu ini. Agar aku tidak menerkamnya saat tidur."
"Siapa yang akan kamu terkam?" Tanya seseorang yang juga menatap mobil yang sangat jauh.
"Astaga!! Bapak bikin saya jantungan aja." Menatap wajah Aditya dengan tatapan kesel.
Aditya langsung memajukan wajahnya dan sangat dekat dengan wajah Neta. Mereka sangat lama saling bertatapan.
"Ya Tuhan.. selamat kan dia dari hamba, jangan sampai hamba bawa dia ke dalam ruangan tidak ada orangnya. Atau hamba bawa ke pengadilan untuk di jadikan suami sah sekarang." Batin Neta yang juga tak mau melepas pandangan nya dari Aditya.
CUP...
"Bisa di ulang gak yah, aku harus bagaimana sekarang. Pura-pura marah atau langsung sosor aja dia, Ah... pilihan pertama lebih baik, biar keliatan mahal gak obral di pasaran."
Neta yang dulu jomblo selama sisa umurnya, dan sampai sekarang tidak pernah pacaran. Jadi bingung harus bagaimana bereaksi.
"Astaga ciuman pertama gua." Gumam Neta.
Neta langsung menutup mulutnya dan menatap Aditya, yang sedang kebingungan. "Bapakkkkkk...." Teriak Neta yang tidak peduli lagi. Aditya langsung membungkam mulut Neta dengan tangannya.
Dan menarik Neta masuk kedalam mobil. Aditya mengusap wajahnya dengan kasar, setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil. Pikiran Aditya kacau balau, dia sendiri bingung kenapa bisa lepas kendali seperti itu.
Aditya menatap Neta yang juga sedang menatap dia. PLAKKKK... Tamparan berhasil mendarat di pipi Aditya yang mulus. Aditya tidak bisa marah, karena ini memang kesalahan dia sendiri.
"Maafkan aku wajah tampan" Batin Neta yang sedih karena menampar wajah Aditya.
__ADS_1
"Aku... aku tidak bermaksud begitu, dan mengambil ciuman pertama kamu. Kamu bisa menampar aku sesuka hati mu, asal jangan menangis." Bujuk Aditya melihat wajah Neta masam kaya belimbing.
"Apa yang harus aku lakukan, aku tidak sadar. saat melihat dia aku rasanya ingin memeluk dia, tapi kalau melihat bibir dia... Aku ingin menciumnya." Batin Aditya yang sadar dengan kesalahan dia.
"Apa kau gila? Bisa-bisanya... Astaga, saya tidak bisa percaya ini. Bagaimana bisa anda melakukan hal yang tidak pantas di lakukan seorang guru kepada muridnya." Berdecak kesal, dan geleng-geleng kepala.
"Kalau bisa lakukan di luar sekolah saja, astaga... atau di dalam mobil ini juga bisa." Batin Neta yang penuh harapan menatap Aditya. Tapi Aditya tidak mengerti dan hanya menatap Neta dengan rasa bersalah.
"Kenapa dia hanya diam, dan tidak berbicara. bikin gue kesel aja."
"Aish." Neta langsung keluar dari mobil aditya.
BRUKKK
Neta menutup pintu mobil dengan sangat keras, dan berjalan meninggalkan Aditya di dalam mobil seorang diri. "Kenapa ini terjadi pada ku sih, meskipun aku tidak menyesali nya." Neta berbalik badan dan menatap mobil Aditya. "Astaga, bisa gila gue." Neta langsung menuju kelas dengan perasaan campur aduk.
Aditya memukul setiran mobil dengan sangat keras. "Auuuu, kenapa gue sebodoh itu, dan ini benar-benar sakit banget." Ucap Aditya yang frustasi, menahan sakit di tangannya akibat memukul setiran.
"Neta.. wajah kamu kenapa? Tanya Meta yang langsung menyentuh kening Neta.
"Gak apa-apa, kenapa panas sekali yah, apa... apakah AC nya mati?" Neta beranjak dari tempat duduknya dan ingin keluar. Tiba-tiba Aditya masuk dan berhadapan dengan Neta.
Wajah mereka langsung merona, karena mengingat ke jadian tadi. "Apa yang gue pikirin." Neta segera duduk kembali ke kursi nya.
Neta mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah. Merasa wajah dia merah merona dan menahan malu berhadapan dengan dengan Aditya membuat dia salah tingkah.
Meta dan viola merasa yakin, kalau Neta ada yang dia sembunyikan dari mereka berdua. Kerena melihat gelagat Neta beda seperti biasanya.
"Harus kita sidang dia." Gumam viola dan di angguki oleh Meta.
NETA.
__ADS_1