KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*TERUNGKAP*


__ADS_3

Di sekolah elite School Asia, Sekolah yang paling bergengsi setiap tahunnya dan selalu meluluskan orang-orang cerdas dan berbakat. Di setiap kelas pasti ada anak murid yang berolah, setiap paginya dan setiap saat, dan kali ini Aditya tidak mendapatkan itu. Biasanya Neta, viola dan meta yang jadi sasaran, tapi sekarang mereka bertiga malah tidak hadir.


“Ada yang tau ke mana mereka bertiga?”


Semua murid hanya berdiam diri. Keluarga Neta, mete, dan viola. Lupa mengasih kabar ke pihak sekolah tentang apa yang terjadi, mereka takut informasi ini akan di cium oleh awak media, dan itu sangat repot menyelesaikannya.


“Baiklah, siapkan buku pelajaran, saya beri waktu kalian membaca 15 menit dari jalan 41 sampai 42, kita adakan kuis hari ini. Kalau tidak ada yang bisa menjawabnya kalian saya hukum. Tidak boleh istirahat sampai ada yang benar, paham?” Entah kenapa suasana hati Aditya langsung jelek, apa lagi orang yang biasanya biang masalah tidak ada saat ini. “Ke mana dia?” Batin Aditya menatap di luar jendela.


“Paham pak,” Jawab mereka serentak, mereka segera membaca buku setelah Aditya memberi perintah mulai membaca.


"Aku rasa pak Aditya lagi badmood, kita harus hati-hati ini," Bisik siswi dari belakang.


"Aku rasa juga begitu," Jawab temannya yang ada di samping dia duduk


Neta dan viola baru saja ada di depan pintu kamar Meta, saat ini semua keluarga di suruh pulang, meskipun berbagai argumen akhirnya Neta yang menang. Dengan berat hati keluarga pulang ke rumah.


“Petra kamu kapan datangnya?” Neta merasa tidak asing mendengar nama itu, tapi di mana dia, Neta tidak ingat pasti. “Petra?” Gumam Neta, tiba-tiba ingatan Neta tentang bernama PETRA langsung terlintas, tubuhnya terpaku dan gemetar. “Apa dia ingat Petra?” Batin viola memegang bahu Neta agar Neta bisa tenang.


Neta dan viola tidak jadi masuk, dia memilih diam di luar dan mendengarkan, apa yang mereka bicarakan. “Ini Seriusan, kamu benaran Petra?” Meta masih tidak percaya, dan lelaki itu mengangguk dengan senyuman manisnya.


viola dan Neta bisa melihat mereka berdua, karena pintunya terbuka kecil dan tidak tertutup rapat.


“Jadi benar dia Petra,” Gumam viola, dia mempererat pegangannya di pundak Neta. Neta menatap viola dan menggelengkan kepala. Saat viola ingin masuk ke dalam. “Kita lihat dulu,” Viola mengangguk, dia juga penasaran ada hubungan apa Petra dengan meta, dalang penculikan Neta.


“Kemarin aku ke rumah kamu, saat aku tiba di kota ini, aku langsung mencari kamu. Dan betapa terkejutnya aku, mendengar kamu berada di rumah sakit,” Kata Petra menyerahkan sebuket bunga kesukaan meta, meta menerima bunga pemberian Petra dan mencium bunga itu. Dia tersenyum girang sampai dia tidak sadar kalau Petra tidak boleh berada di sini lama-lama.


“Iya, dan sekarang aku baik-baik saja,” Meta mulai sedih, dia menceritakan semuanya ke Petra, tapi meta tidak menceritakan keberadaan Neta, Petra yang tidak tega kepada sahabatnya ini langsung memeluk Meta. “Semuanya akan baik-baik saja, percayalah,” Membelai wajah Meta, dan menghapuskan air mata meta dengan jempolnya.

__ADS_1


“Apa kamu merindukan aku Petra?” Tanya meta yang langsung memeluk tubuh Petra, wangi ini, kehangatan ini. Selalu meta rindukan sepanjang harinya.


“Sangat... Sangatttt rindu,” Penuh senyuman, sebenarnya Petra adalah orang baik, hanya saja dia akan melakukan apa saja demi orang-orang yang dia sayangi, tidak peduli itu akan menghancurkan dirinya sendiri suatu saat.


“Ada yang ingin aku tanyakan, bagaimana kabar sahabat kamu itu, apa dia sudah mengingat kejadian penculikan itu?”


Deg


Tubuh meta bergetar, meta melupakan semua yang dia lakukan terhadap Neta. “Itu, sepertinya belum,” Jawab Meta dengan lirih, dia bahkan mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Kenapa kamu tidak yakin begitu? Apa perlu aku culik dia lagi, agar ingatannya pulih, dan mengingat aku? Tapi sebelum itu aku masih marah dengan kamu dan Ferly. Kalau kamu tidak menghalangi aku, mungkin tubuhnya sudah aku santap,” Ujar Petra Kembali duduk di kursi dan menegakkan posisi duduknya.


Neta dan viola terkejut, jadi dalang semua ini tidak lain, dan tidak bukan meta sendiri yang sudah dia Anggap keluarganya. “Kurang ajar!!” geram viola dengan kemarahannya yang sudah tidak di bendung lagi, tapi dia tahan karena Neta terus memegang tangan viola.


“Apa kamu gila Petra? Aku hanya ingin dia menderita itu saja, aku tidak ingin kamu menyentuh wanita jal*ng itu!! Dan aku juga hanya ingin memberikan dia pelajaran itu saja,” Kilah Meta dengan tertunduk dan memainkan jari jemari Petra.


“Kamu yakin? Bukankah waktu itu kamu memohon kepadaku, untuk membunuh Neta? Apa kamu lupa itu sayang,” tanya Petra mencengkram dagu Meta.


“Shtt...” ringis Meta, cengkraman Petra terlalu kuat.


“Dan aku juga tau, kamu kan yang menghasut geng Amanda dan Ferly untuk membully Neta. Karena hati kamu itu sudah busuk, kamu iri dengan Neta yang mempunyai segalanya, kalau kamu apa? Kalau kamu tidak bisa memilikinya maka kamu akan melenyapkannya, aku tau betul isi otak kamu itu meta.”


Mendengar semua itu meta terdiam seketika, dia tidak bisa mengungkiri apa yang Petra katakan itu benar adanya.


“Jadi semua yang aku kira mimpi adalah ingatan dari pemilik tubuh ini? Dan wanita yang aku kira hanya Ferly ternyata ada meta juga di sana, tapi kenapa aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Di mana meta waktu itu berada?” Batin Neta mengingat-ingat kejadian beberapa Minggu yang lalu.


Viola diam-diam mengirim pesan ke Seno, meminta Seno secepatnya datang ke rumah sakit, takutnya kalau Petra melihat Neta, dia akan menyerang Neta dan melakukan yang tidak-tidak, itu yang viola khawatirkan.

__ADS_1


“Kalau kamu tau itu, apa kamu juga tau isi hatiku?” tanya meta dengan bibir yang terus terangkat, Petra terdiam sesaat, lalu dia tersenyum lagi. “Kalau tebakan aku tidak salah, kalau kamu sebenarnya sudah jatuh cinta kepadaku bukan?” Meta langsung mengangguk, dia tidak menyangka kau Petra tau isi hatinya. Petra yang dugaannya benar, langsung tertawa dengan sangat keras.


Neta dan viola yang mendengar tawa itu langsung merinding. “Tapi meta, aku tidak menyukai kamu,” ucap Petra melepaskan Cengkeramannya dan menatap meta yang juga sedang menatap dia.


Hati meta langsung hancur orang yang dia sukai sejak dulu ternyata tidak ada rasa sama sekali. “Kenapa kamu tidak menyukai aku Petra?” tanya meta dengan mata yang berkaca-kaca dan bibir yang gemetar. “karena aku suka dengan Neta,” Jawab spontan Petra, Meta bagaikan di sembar petir di siang bolong, dan dia mengepal kedua tangannya.


Neta yang mendengar hanya bisa menangis di luar sana, dia tidak menyangka Kalau sahabatnya sendiri ingin melenyapkan dirinya. “Kalau kamu masih hidup Neta dan mendengar semua ini, Apa yang akan kamu lakukan?” Batin Neta menutup mulutnya, agar suaranya tidak terdengar meta dan Petra.


“Kenapa Neta? Kenapa harus Neta heh? Kenapa harus dia, orang yang aku benci, kenapa Petra?!” teriak meta memecahkan barang yang ada di samping dia, dan melempar bantal ke wajah Petra.


Petra yang refleks berhasil menahan serangan Meta. “Karena pria baik mau pun jahat, dia pasti bakal mencari istri yang baik untuk masa depan dan ibu dari anak-anaknya, begitu pun aku meta, aku ingin mendapatkan istri yang seperti itu. Sedangkan kamu? Kamu hanya di penuhi kebencian, iri, dengki. Dan juga penuh muslihat, aku tidak ingin anak-anak aku nanti seperti itu kelak.”


Meta menangis tersedu-sedu, dia tidak menyangka gara-gara ke jadian penculikan waktu itu, malah membuat Petra jatuh hati kepada Neta.


Meta terdiam sesaat. “Berarti tujuan kamu kembali bukan untuk aku, tapi untuk Neta begitu?” tanya meta dengan menaikkan kedua alisnya, Petra mengangguk. “Iya aku kembali untuk Neta, dan aku sangat merindukan dia, rasanya aku tidak sabar ingin bertemu secara langsung,”


Mendengar itu meta langsung menutup mulutnya, dia berharap Petra tidak tau kalau Neta juga berada di rumah sakit ini, kalau dia tau, benar-benar gawat.


“Aku sudah tidak tahan lagi net, rasanya aku ingin menyiram mereka berdua dengan air keras atau air panas. Biar mereka tidak punya keberanian lagi muncul di publik,” geram viola, wajahnya memerah mendengar percakapan antara meta dan Petra.


“Kita kembali ke kamar sekarang viola,” ucap Neta dengan nada dinginnya.


“Tapi Net, bukankah lebih baik kita langsung menyerang mereka?” Kata viola yang tidak mengerti jalan pemikiran Neta.


“Kita pergi dulu,”


Akhirnya viola menuruti perintah Neta, dan kembali ke kamar. Viola langsung mengamuk di dalam sana sedangkan Neta hanya bisa membiarkan viola mengamuk dan menangis, dia masih belum percaya apa yang dia dengar dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2