KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*Logika*


__ADS_3


Prov Aditya


Aku sedang melihat taman di belakang sekolah dan tanpa sengaja aku melihat Neta sedang berbicara dengan seorang perempuan. Aku terus memperhatikan gerak-gerik mereka meskipun aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, setelah beberapa menit aku melihat interaksi mereka berdua, perempuan itu langsung menangis dan berlutut di hadapan Neta. Dan saat itu pula aku sadar kalau ada yang tidak beres, aku bergegas ke belakang sekolah.


Dan sampailah aku di hadapan mereka berdua, aku melihat wajah Neta yang begitu kaget dengan keberadaan ku, seolah-olah dia seperti tertangkap basah, tanpa pikir panjang aku langsung memarahi Neta aku pikir Neta akan sadar apa yang sudah dia lakukan. Ternyata tidak, Neta malah bersikap dingin denganku.


“Sialan,” Gumam Aditya sambil menendang kursi.


Prov Neta.


Entah kenapa air mata ini berhasil lulus di hadapan dia, aku tidak tau kenapa aku langsung kesel saat aku di tuduh seperti itu. Ada bagian hatiku yang terasa sakit. Waktu dulu sebelum aku masuk ke dalam tubuh ini, bukan kah aku sudah terbiasa dengan sikap seperti tadi?.


Tapi kenapa saat dia membentak bahkan dengan tatapan yang penuh kebencian itu aku merasa sakit seperti ini? Kenapa? Aku kecewa dengan cara dia menilai aku, apa aku sejahat itu sampai dia berpikir aku menyakiti orang lain. Apa dia tidak berpikir kalau aku juga bisa merasakan sakit hati kalau di bentak seperti itu?


Kenapa dia tidak mengerti perasaan ku, kenapa dia begitu peka dengan orang lain? Tapi tidak diriku sendiri. Seolah-olah dia begitu tidak ingin aku ada di pandangan dia.


“Hah... Aku harus bagaimana?” gumam Neta menatap langit-langit. Tiba-tiba datang seseorang yang memberikan ice krim kepadanya. Neta menatap orang tersebut, dan pria itu menyodorkan ice tepat di wajah Neta. “Apa tidak suka?” tanya nya. Neta menatap orang tersebut dengan wajah di tekuk. “Yah sudah kalau gitu,” ingin memasukkan ke dalam kantong plastik. Neta langsung mengambil ice krim tersebut dan membukanya.


Lelaki itu langsung tertawa melihat tingkah Neta dan tanpa sadar mengacak-acak rambut Neta. “Kalau sudah niat ngasih gak boleh di ambil lagi.” Kata Neta yang langsung melahap ice krim tersebut.


“Makanya kalau orang ngasih itu langsung di ambil bukan di polototin gitu.” Mendengar jawaban lelaki itu, Neta langsung memanyunkan bibirnya. “Gak usah kek bebek gitu,” sambungnya yang lucu melihat kelakuan Neta.

__ADS_1


“Kenapa nangis?” tanyanya. Neta kemudian terdiam sejenak. Melihat Neta yang diam seribu bahasa itu dia tau kalau sekarang keadaan gadis di sampingnya itu tidak baik-baik saja. “Kamu tau, lebih baik kita bercerita dari pada di Pendem ntar yang ada jadi penyakit hati tau,” Neta menatap wajah lelaki itu dengan ekspresi yang lucu, dan berhasil membuat Neta tertawa.


“Tidak apa, aku hanya ingin menangis saja,” jawab Neta yang menyerahkan stik dan bekas plastik ice krim tadi. “Makasih ice krim nya sangat enak,” ucap Neta pergi meninggalkan lelaki itu sendirian.


Lelaki tersebut tertawa melihat kelakuan Neta. “Dasar cewek aneh, bukannya di buang ke sampah malah di kasih kembali.” Gumam sambil menatap kepergian Neta.


“Hei, nama kamu siapa?!!” teriaknya yang baru sadar kalau mereka belum kenalan. Neta terus melangkah dan melambaikan tangan kepada lelaki tersebut.


“Menarik,” sambil membuang ke tempat sampah, lelaki itu terus menatap kepergian Neta dengan senyum lembut. “Sungguh hari yang indah hari ini, uhukk... Uhukk...”


“Tuan muda anda tidak papa?” tanya seorang wanita yang dari tadi memperhatikan majikan nya dari kejauhan tadi. Lelaki itu tersenyum sambil memperlihatkan tangannya yang penuh darah. Wanita itu langsung mengajak lelaki itu pergi dari taman tersebut.


“Bukankah saya sudah bilang, anda tidak bisa keluar lama-lama. Kenapa anda tidak mendengarkan perkataan saya.” Suara wanita itu terdengar bergetar dia tidak ingin menangis di hadapan lelaki yang dia cintai.


Aditya mundar-mandir tidak karuan. Dia sedang ada di area parkiran menunggu Neta datang, setelah lama menunggu akhirnya Neta muncul juga. “Kenapa lama sekali?” sambil memperlihatkan jam Tangan kalau dia sudah menunggu lama. Neta hanya diam tanpa menjawab pertanyaan Aditya dia langsung masuk ke dalam mobil.


Melihat dirinya di cuekin Neta, Aditya merasa kesel. “Kalau di tanya itu jawab, punya mulutkan?!!”


Neta memutar bola matanya sambil menarik nafas agar tidak terbawa emosi. “Gue naik taksi aja deh, kalau Lo gak ikhlas, kita ketemu di dekat parkiran butik biar gak curiga nyokap Lo sama nyokap gue.” Kata Neta yang hendak keluar, tapi di cegat Aditya.


“Sabar dit.. sabar,” gumam Aditya agar tidak terbawa emosi. “Gak usah cari gara-gara deh.” Kata Aditya yang menjalankan mobilnya. Di sepanjang jalan mereka tidak berbicara untuk memulai pembicaraan pun mereka sudah enggan satu sama lain yang ada hanya adu urat satu sama lain.


“Apa gue yakin mau menikah dengan lelaki yang bahkan tidak percaya sama gue? Apa gue akan bahagia dengannya? Percuma kalau gue saja yang mencintainya. Tapi dia tidak mencintai gue.” Batin Neta menatap di luar jendela mobil. Rasanya Neta sudah berpikir secara logika bukan dengan perasaan lagi.

__ADS_1


“Ehem...”


Aditya berusaha menghilangkan keheningan di dalam mobil. Sungguh, biasanya dia senang dalam keadaan sunyi. Tapi terasa aneh kalau seseorang yang duduk di sampingnya terdiam seribu bahasa. Seperti bukan dirinya.


“Saya minta maaf karena telah membentak kamu tadi siang,” ucap Aditya yang canggung menggunakan kata maaf apa lagi itu keluar dari mulutnya sendiri.


Neta menatap Aditya dengan muka ingin menampol kepala Aditya. “Ini cowok punya dendam apa sih sama gue Gusti... Kenapa di saat gue mau Mundur dia malah bertindak seperti ini. Ini namanya gue harus perang batin lagi hiks.” Batin Neta menjerit ingin teriak. Tapi sekarang Neta Sadar dia sedang berhadapan dengan kutub Utara.


Aditya yang tidak mendapat jawaban apapun langsung menoleh ke Neta. “Apa? Saya kan sudah minta maaf kenapa reaksi kamu seperti itu?” tanya Aditya dengan polosnya.


“Lo mau nya apa sih?”


“Maksudnya?”


Neta duduk menyamping sambil menatap Aditya dengan tajam. Aditya yang merasa di tatap horor pun Merinding. “Orang biasanya kalau di tatap langsung ngebuls kenapa saya merinding yah?” gumam Aditya yang di dengar oleh Neta.


Neta sudah tidak tahan lagi dan langsung.


“PLAKKK..”


“Auuu..” teriak Aditya yang langsung menatap Neta. Entah keberanian apa Neta sampai menampol kepala Aditya dengan sangat keras.


“Aaaa..” rintih Aditya lagi.

__ADS_1


Neta langsung membenarkan duduknya menghadap ke depan tanpa memperdulikan Aditya yang sedang kesakitan. “Maaf lagi ngemes soalnya” dengan muka tanpa merasa bersalah karena sudah menampol Aditya. “Perhatikan jalanan ntar tabrakan gak jadi nikah lagi!!” ucap Neta yang fokus dengan layar hp.


__ADS_2