
Mereka fokus dengan makanan, tanpa ada yang memulai percakapan sedikit pun. “Apa-apaan ini, apa aku di anggurin gitu aja? Udah dandan cantik-cantik pun.” Gumam Neta dalam hati, sambil mengacak-acak makanan yang ada di dalam piringnya.
“Kalau gak suka, kamu bisa pesan makanan yang lain. Dari pada kamu acak-acakan gak jelas gitu,”
Neta melotot dan langsung melahap makanan dengan sangat cepat. “Makannya pelan-pelan aja, gak akan ada yang mau mengambil makanan punya kamu juga.” Ucap Aditya lagi yang sibuk dengan makanannya.
“Pak!!”
“Hemmmm,”
“Aditya?!”
“Hemmmmmm,”
“Om?!”
“Hemmmmmmmm,”
“Kak?!”
“Hemmmmmmmmmmm,”
“Masssss?!”
“Hemmmmmmmmmmmm,”
“Sayangggggg?!”
“Uhukkkk.... uhukkkk,” Neta langsung menyerahkan minuman kepada Aditya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Neta dengan sedikit cemas.
“Apa yang barusan kamu katakan?” tanya Aditya memastikan kalau pendengaran nya masih normal. “Tidak ada apa-apa,” jawab Neta menghindari tatapan dari Aditya.
Aditya menatap Neta dengan sangat lembut, dia tersenyum hanya saja senyuman itu tidak jelas dan tidak terlihat. “Sebenarnya kita ngapain sih ke sini?” tanya Neta dengan sedikit penasaran. “Aku ingin kamu membatalkan perjodohan kita.” Jawab Aditya.
Deg..
Neta terdiam sejenak. “Gila aja gue mau membatalkan perjodohan ini, udah ganteng Subhanallah hanya saja sifatnya nauzubillah. Meskipun dia masyaallah ganteng sih,”
__ADS_1
Aditya yang tidak mendapat jawaban dari Neta pun langsung menyentuh kening Neta tanpa permisi. Tanpa mereka sadari ada yang sedang mengawasi gerak-gerik mereka dari kejauhan. Meskipun mereka ingin menghampiri dan ingin menjauhkan tangan itu, tapi berusaha mereka tahan agar tidak menimbulkan keributan.
“Apakah, kamu tidak ingin menikah dengan saya?” tanya Neta dengan Nada melemah. “Bukan begitu hanya saja. Aku tidak ingin menyakiti kamu,” jawab Aditya agak senang karena Neta sudah mulai merespon.
“Lalu, apa yang membuat kamu ingin aku membatalkan perjodohan ini, maksudnya aku gak mungkin kan langsung membatalkan perjodohan ini tanpa alasan yang jelas?” kata Neta yang mencari-cari alasan agar perjodohan ini bisa bertahan.
Menurut Neta ini adalah perjodohan yang tepat. Sudah dapat suami yang ganteng, kaya raya. Belum lagi ibu mertua yang baik. Itu sudah bonus dan plusnya dengan keluarga terpandang.
“Aku tidak ingin memberikan kamu harapan, yang tidak mungkin aku kasih.”
“Apakah kamu gay?” tanya Neta dengan nada hati-hati takut Aditya tersinggung. “Aku masih normal yah. Kamu pikir aku apaan,” Jawab Aditya.
“Lalu?”
“Bukankah aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin menyakiti kamu, terlepas dari itu tidak ada yang lain lagi.” Ucap Aditya dan langsung menghabiskan kopi yang ada di cangkir nya.
“Alasan kamu begitu ambigu, kalau memang kamu tidak ingin menikah dengan aku, lebih baik kamu saja yang membatalkan perjodohan ini bukan aku,” jawab Neta yang ingin pergi. Sebelum Neta pergi Neta menatap mata Aditya dengan sangat lama.
“Aku menyukaimu pak Aditya, aku gak tau kapan rasa ini muncul, aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku. Kalau aku tidak bisa seperti Fatimah yang mencintaimu dalam diam. Maka izinkan aku seperti Khadijah yang mengutarakan isi hatiku padamu terlebih dahulu.”
“Meskipun aku menyukaimu, tapi aku tidak pernah menyebut nama kamu di setiap seperti tiga malamku. Karena aku yakin Allah tau siapa do’a ini tertuju tanpa menyebutkan nama, dan Allah tau kepada siapa hati dan pikiran ini meminta.” Lanjutnya lagi sambil tersenyum.
Aku Memang bukan gula yang bisa memaniskan kopi kamu.
Tapi aku adalah garam, yang selalu ada setiap rasamu.
aku juga tidak ingin menjadi kopi yang di puji manis padahal itu bukan berkat dirinya.
Dan aku juga tidak ingin menjadi gula yang selalu di salahkan saat kopi itu pahit.
.........................//.................................
Neta pergi meninggalkan Aditya yang termenung sendirian. “Aku tidak ingin menyakiti kamu Neta, aku ingin melihat kamu bahagia tapi tidak dengan diriku, aku yakin ada orang yang lebih pantas bersama dengan kamu. Meskipun aku harus menahan rasa sakit ini.” Batin Aditya menatap kepergian Neta.
................//......................//.......…......
Seandainya kamu tau betapa besar rasa cinta ini tapi tidak bisa memiliki itu sangat menyakitkan.
Dan seandainya perasaan ini bisa di tentukan maka aku tidak ingin jatuh cinta seperti ini.
__ADS_1
Cinta dan sayang itu tidak pantas untuk orang seperti diriku. Setelah kamu tau masa laluku, apakah kamu akan masih mencintai diriku seperti sekarang?
..............//.................//..................
Di kediaman Neta.
Saat Neta sampai rumah, Neta merasa heran karena semua pelayan di kumpulkan tidak seperti biasanya, Neta melihat Seno dan Jino sedang mengumpulkan pelayan dan bertanya yang menurut ya itu tidak perlu di pertanyakan lagi.
“Menurut kalian, apa Neta tidak cantik?” tanya seno kepada kepala pelayan. “Tidak tuan muda kedua, tentu saja nona muda paling cantik di antara para nona muda yang pernah saya temui.” Jawabannya dengan sangat jelas dan padat.
“Iyalah menurut dia aku cantik, orang dia pernah liat Viola sama meta doang, sisanya mah zaman dia dulu.” Gumam Neta yang menertawakan pertanyaan bodoh kakanya itu.
“Apa ada yang kurang dari Neta? Kenapa sampai dia tidak tertarik kepada adikku yang seperti boneka hidup ini?” pikir Seno meneliti Neta dari hujung kaki sampai hujung rambut, Neta yang refleks langsung menutup tubuhnya dan menatap tajam ke arah Seno.
“Tidak ada yang aneh menurut aku, apa itu cowok buta yah? Apa mata dia bermasalah?!” pikir lagi Seno dengan wajah bingung nya.
“Lalu apa keluarga kami tidak terlalu kaya?” tanya Jino kepada semua pelayan, semua orang langsung terkejut mendengar pertanyaan Jino, mau sekaya apa lagi yang dia mau? Keluarga Neta adalah keluarga terkaya di Dunia meski setalah Aditya, tapi kalau mereka di sandingkan maka pernikahan mereka bisa di bilang termegah yang pernah ada.
“Maaf tuan muda, apakah saya boleh bertanya, untuk apa kalian mempertanyakan itu semua, Padahal kalian sudah tau jawabannya sendiri.” Ucap kepala pelayan dengan memberanikan diri, karena menurut dia pertanyaan anak majikannya ini terlalu tidak masuk akal.
“Apa mereka gila? Cantik? Kaya? Apa maksudnya ini?” gumam Neta yang tidak habis pikir. Neta meminta para pelayan bubar sebelum pertanyaan kedua kakaknya ini di luar nalar.
“Kalian kemasukan jin apaan sih? Bisa-bisanya bertanya seperti itu kepada mereka?” tanya Neta kepada kedua kakaknya ini. Bukannya menjawab mereka malah sibuk dengan pemikiran mereka Sekarang.
“Kak Jino, kak Seno!!!” teriak Neta di depan muka mereka.
Jino dan Seno yang sadar clingak-clinguk mencari keberadaan para pelayan yang mereka kumpulkan. “Ke mana perginya para pelayan tadi Neta?” tanya Jino, Neta memutar bola matanya sangat lelah hari ini, dan di tambah kakanya yang bikin dia darah tinggi.
“Sudah aku bubarin, lagian Kenapa sih bertanya seperti itu, sudah tau kalau adiknya itu cantik, seksi, dan baik masih saja di pertanyakan. Kalian kenapa sih?” tanya Neta yang kini meminta jawaban dari kedua Kaka nya ini.
Jino dan Seno diam, mereka tidak mungkin mengaku kalau mereka tadi mengikuti adiknya, dan membuat adiknya ngambek terus tidak mau dekat-dekat dengan mereka lagi. Yah gak mungkin lah mereka kuat pisah dari adik kesayangannya ini.
Neta cantik banget kan 😍😍
Aditya emang gak ada obat yah 🥺🥺 pengen banget aku masukin dalam karung terus bawa kepenghulu 😘🥰🥰
__ADS_1