KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*BODOH*


__ADS_3

Neta dan viola tertawa, mereka melupakan apa yang barusan terjadi dan memilih untuk memulai kembali dengan saling percaya satu sama lain. Setalah dokter memeriksa kondisi Neta, dokter itu langsung pergi dan meninggalkan mereka.


Tiba-tiba kehadiran seseorang yang membuat luka itu datang dan tanpa rasa malu dia masuk ke dalam kamar Neta. “Neta,” panggil Meta yang baru saja masuk, Seno yang awalnya lega melihat kondisi Neta membaik, tiba-tiba moodnya langsung berubah karena kedatangan Meta.


“Iya meta ada apa?” Tanya Neta dengan suara yang masih lemah, Meta mendekat dan memegang tangan Neta, sedangkan viola berbalik melihat kota di balik jendela.


“Apa kamu pingsan lagi?”


Meta tidak menyadari suasana di dalam ruangan, yang tidak mengharapkan kehadiran dia sama sekali. Neta mengangguk dia tersenyum ke arah Meta seolah-olah dia tidak tau siapa meta sebenarnya.


“Tidak punya rasa malu,” Gerutu viola dengan wajah yang di tekuk dan air mata yang mengalir di pipinya. Dia tidak menyangka kalau dalang dari pembullyan Neta adalah sahabat baiknya sendiri. Dan dia sangat kesal kalau mengingat kejadian di dalam kamar meta apa lagi dengan kemunculan Petra yang mendadak.


Viola menghapus air matanya dengan sangat kasar, baginya Meta sudah mati dan tidak ada nama Meta sahabat baiknya di dunia ini. “Ada apa?” tanya Meta merasa kebingungan.


“Tidak ada apa-apa,” Jawab Neta tersenyum. “Kaka... Bisakah kamu pulang saja, atau kembali ke tempat kerja, sekarang aku baik-baik saja. Lagian ada Meta dan viola juga yang menjaga aku, jadi gak usah khawatir, yah.”


Neta tau kalau Seno sangat membenci Meta, apa lagi Seno tau siapa meta yang sebenarnya, hanya saja Neta ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya sendiri. Dia tidak ingin keluarganya ikut campur dalam masalah ini.


“Tapi,”


Neta menggeleng kepalanya dan Mengerlingkan sebelah matanya, agar Seno tau kalau Neta punya cara sendiri untuk membuka kedok Meta. Kalau saat ini Neta bilang yang ada tidak sesuai rencana, dan Neta tidak ingin itu terjadi.

__ADS_1


“Apa kamu yakin?” tanya Seno yang masih ragu, Neta mengangguk dengan sangat pasti. “Pasti dia punya cara sendiri menghadapi semua ini,” Batin Seno dia berjalan mendekat Neta dan mencium kening Neta dengan sangat lembut. “Kalau butuh sesuatu kasih tau aku,” Bisik Seno yang kini memeluk tubuh Neta.


“Iya, sudah ah, sana. Malu tau,” Gerutu Neta dengan memanyunkan bibirnya ke depan. Dan itu membuat Seno ngemes sama kelakuan Neta saat ini.


“Ingat yah, kamu di haramkan bersikap seperti ini di depan pria mana pun, paham!!” Mencuil hidung Neta, Neta menautkan alisnya. “Kenapa?, dan berarti di depan Kaka juga dong, Kaka kan pria.” Dengan nada centil.


“Kalau di depan Kaka boleh, tapi tidak sama pria lain, awas aja kalau kamu seperti itu, akan ada hukumannya paham!?”


“Iya paham, udah pergi sana, husss...” Mendorong tubuh Seno agar menjauh dari dirinya.


Seno akhirnya mengalah, dia pun keluar dari ruangan Neta dengan berat hati, dia ingin menjaga adiknya dan tidak ingin pisah dari Neta, orang mana pun yang melihat semua itu, berpikir kalau mereka pasangan kekasih di bandingkan Kaka beradik.


“Awasin, jangan sampai adik saya kenapa-kenapa,”


“Siap!!” Jawab Mereka serempak dengan memberi hormat, setelah itu Seno pergi meninggalkan Neta dengan 4 Pengawal yang selalu berjaga di pintu luar.


Viola duduk di seberang Meta dengan tatapan tidak suka, Meta yang merasa tidak beres, dia memberanikan diri untuk bertanya. “Ada apa Vi? Kamu terlihat marah, apa aku melakukan kesalahan?” menautkan kedua alisnya.


Viola melirik Neta, dan Neta yang paham itu langsung menggeleng kepalanya, meminta jangan dulu. Viola hanya bisa menghela nafasnya, sebenarnya apa yang ada di otak Neta, itu yang sekarang viola pikirkan.


“Aku hanya kesal, ada seorang sahabat yang tidak tau diri ingin membunuh sahabatnya sendiri. Padahal nyawanya sudah di tolong, menurut kamu bagaimana Meta?” Neta membulatkan matanya, viola tidak memperdulikan tatapan Neta terhadap dirinya. Yang penting dia bisa membuat Meta sadar dan ingin tau apa pendapat Meta terhadap kasus yang sama dengannya saat ini.

__ADS_1


Deg...


Jantung Meta berdetak kencang, cemas dan takut, Meta hanya terdiam mematung, dia bingung mau menjawab apa.


Viola tersenyum licik, Karena dia berhasil memancing Meta dengan melihat gelagat Meta yang cemas itu. “Dan parahnya lagi Met, dia melakukan itu terhadap sahabat kecil dia dulu, padahal mereka selalu bersama. Tapi kita tidak akan tau kan sifat masing-masing orang, bahkan yang dia kira sudah kenal lama ternyata tidak sama sekali. Yang di kira sudah tau semuanya tentang diri sahabatnya ternyata tidak sama sekali, heh. Persetan dengan namanya sahabat, apa sekarang dia bisa mempercayai orang lain, bahkan orang yang dia anggap saudara saja tega melakukan itu terhadap dirinya,” Geram Viola dengan tatapan penuh kebencian terhadap Meta.


“Ma... Mak.. maksud kamu Vi?” Tanya Meta dengan nada gemetar, Neta bisa melihat kecemasan Meta, bibirnya yang pucat dan bergetar, tangannya yang meremas seprai Neta, dan peluh di jidatnya.


Viola ingin membuka kedok Meta, tapi tangannya di cubit Neta, sampai viola mengaduh kesakitan. Neta memberi kode agar Viola bersabar dulu, karena Neta mempunyai rencana sendiri untuk membuka kedok Meta nanti.


“Aku tadi sama Neta sedang menonton film, dan filmnya berjudul “SAHABATKU INGIN MEMBUNUH KU”, nah cerita di sana membuat aku kesal setengah mati, rasanya ingin aku lempar wajah perempuan itu dengan kotoran, wajah yang sok polos, sok baik, sok peduli. Ternyata itu hanya akting dia saja,. Percuma wajah cantik tapi hatinya busuk.” Sarkas viola, Meta merasa lega ternyata hanya film dia pikir kalau rahasia dia sudah terbongkar.


“Kenapa kamu merasa lega Met?” Tanya viola penuh selidik. “Kamu gak mungkinkan dalang dari penculikan Neta, seperti di film yang tadi aku tonton, pura-pura baik ternyata dia busuk atau tepatnya wajah bermuka dua,”


Meta menatap Neta dan Viola secara bergantian, dia meremas seprai dengan sangat kuat. “Ma... Ma...mana mungkin, aku hanya, hanya merasa kesal sama kalian, kenapa tidak mengajak aku?” Kilah Meta menunduk, Viola berusaha menahan amarahnya agar tidak berbuat sesuatu yang tidak di inginkan terhadap Meta.


“Kamu kan sedang ada tamu, jadi kami menonton berdua saja, sekarang aku meminta pendapat kamu tentang cerita tadi. Menurut kamu bagaimana?”


Meta menelan Saliva dengan sangat kasar, lalu dia tersenyum. “Kalau aku jadi orang itu, mungkin aku tidak ingin berteman lagi dengan dia. Dia tidak pantas mendapatkan sahabat sebaik itu, apa lagi orang yang telah menyelamatkan nyawanya sendiri, dia bahkan lebih rendah di bandingkan binatang, binatang saja mempunyai perasaan masa dia tidak. Hanya orang bodoh yang mau menerima dia dan mau bersahabat dengan orang macam itu,”


Viola tertawa, merasa bodoh, dia yang selama ini dekat dengan Meta. Yang selalu menghabiskan waktu bersama, tidak mengetahui sifat Meta yang sebenarnya, malah orang lain yang mengetahuinya. “Benar Sangat bodoh,” Sahut Neta meneteskan air mata.

__ADS_1


“Sampai kapan kamu terus memakai topeng Meta, aku ingin melihat diri kamu yang sebenarnya,” batin Neta, mereka bertiga tertawa dengan kebodohannya sendiri, sedangkan Meta tidak tau apa yang harus di tertawakan dia hanya mengikuti sahabatnya tertawa saja.


__ADS_2