
V
Neta segera masuk ke dalam kamarnya, karena sedang ada panggilan dari Viola sahabat nya yang tersayang.
"Ooooo... ketapel." Ucapnya barengan.
Jino dan Seno menonton televisi, sambil menunggu Neta datang. Karena mereka belum menemukan siapa pemenang yang sesungguhnya.
Setelah lama menunggu akhirnya Neta Kembali. Dan langsung duduk di tengah-tengah Jino dan Seno, tanpa mempedulikan reaksi Kakanya.
"Asikk...Bisa duduk di tengah-tengah cowok tampan, kapan lagi coba. Keduanya mirip oppa korea gitu." Batin Neta, dan senyum-senyum sendiri seperti orang yang tak waras.
"Kamu kenapa dek? Masih waras kan?" Tanya Jino dan menyentuh kening Neta, untuk mengetahui suhu tubuhnya.
"Gak panas, normal." Menyentuh keningnya juga.
Neta langsung meraih tangan Jino, dan menggenggam erat tangan nya. Jino yang merasa ada yang aneh, langsung melepas genggaman tangan Neta. Dan segera bangun dari tempat duduk.
"Aish, becanda kak... Ya elah, gitu aja takut. Gimana sih.." Berdecak kesal, Neta langsung menggeser duduknya dan bersandar kepada Seno.
Seno langsung menjauhkan kepala Neta, dan menjitak keningnya. Sampai Neta mengaduh kesakitan.
"Njirrrr... Sakit tau." Mengusap keningnya yang memerah.
Jino dan Seno terus menatap Neta, tanpa berkedip sama sekali. Merasa ada yang aneh sama adeknya sendiri, Seperti bukan Neta, melainkan orang lain. Mana mungkin dalam sehari, seseorang bisa berubah secepat itu.
"Apa? Kenapa kalian menatap aku begitu. Seperti orang asing saja. Ada yang salah kah?" Menaikan kedua alisnya dan merasa canggung.
"Apa aku sudah ketahuan, kalau aku bukan anak dari keluarga ini. Tapi masa iya sih." Neta merasa gugup.
"Ck, peka sekali kamu, lupakanlah. Kita lanjut teka-teki yang tadi sempat tertunda." Ucap Seno yang kini duduk di bawah dan di ikuti Jino dan Neta.
"Oke, giliran aku bukan? Hemmm.. baiklah kita mulai." Ucap Neta yang ingin mengasih pertanyaan.
"Kenapa ada tatapan yang menusuk dari samping yah?" Gumam Neta, Neta segera melirik Kesamping. Dan dia melihat Seno sedang menatapnya dengan tajam.
"Apa?" Yang bingung dengan suasananya.
Seno masih tidak bersuara, dia terus menatap Neta dengan jengkel. "Giliran dia Neta." Jawab Jino yang geleng-geleng dengan sifat Neta yang sekarang.
__ADS_1
"Hehehehe... Lupa maaf, Silahkan tuan muda kedua."
"Oke, ini agak mesum dikit, aku mulai, dengarkan baik-baik." Ucap Seno menarik dalam-dalam nafasnya.
"Dia besar, kekar, panjang. Ada yang ke samping dan ada juga yang lurus. kalau di sentuh agak gimana gitu. Berwarna, di batangnya ada bulu-bulu halus. Kalau orang-orang tanpa segaja melihat, Meraka langsung bilang. "Besarnya." Dan ingin menyentuh benda tersebut. Coba tebak, apakah itu?"
Neta dan Seno berfikir keras, Karena pertanyaan Seno agak mesum, dan pasti pikirannya mesum juga, Jadi harus hati-hati dalam menyampaikan jawabannya.
"Itu, anu... Batang, benar gak?" Tanya balik Neta yang agak ragu.
"Batang apa? Batang banyak loh." Tersenyum licik.
"Apakah itu, yang ada di dalam celana?" Ucap Jino menatap ke bawah, Seno dan Neta pun ikut menatap. Dan refleks Neta menutup matanya.
"Kakakkkkkkk.." Teriak Neta, dan di belakang telinganya memerah karena malu.
"Bisa jadi, bisa jadi." Ucap Seno tertawa gelak.
"Gini aja deh, Kalau kalian dapat menjawab pertanyaan yang aku ajukan tadi. Kalian boleh ambil mobil kesayangan aku, gimana?" Tantang Seno yang yakin kalau mereka tidak dapat menjawabnya.
"Yang istri pertama Kaka itu?" Tanya Neta, antusias untuk mendapatkan mobil kesayangan Seno. Dan Seno langsung mengangguk dengan pasti.
"Mobil yang paling mahal di dunia, pada zamanku dulu, dengan mudahnya dia mengatakan itu. Aku harus mendapatkan mobil itu, harus, bagaimana pun caranya." Neta mengepal tangannya dan memberi semangat.
"Kamu yakin?" Tanya Jino yang masih ragu dengan taruhan Seno. Tidak bisa Jino ungkiri, kalau dia juga sangat menginginkan mobil itu. Sudah lama dia membujuk Seno tapi selalu gagal.
"Kalau aku tau begini caranya, dari dulu harusnya aku lakukan saja." Gumam jino.
"Ya, Tapi... Ada satu syarat, kalau kalian tidak dapat menjawab pertanyaan yang aku berikan. Maka, mobil kalian buat aku, gimana. Berani gak?"
Seno merasa yakin, kalau mereka tidak akan bisa menjawab, pertanyaan yang dia ajukan tadi.
Jino dan Neta langsung terdiam, mendengar perkataan Seno. Meskipun tidak semahal mobil seno punya, tapi masih di bilang urutan ke 3 dan 5 lah. Karena itu mobil keluaran di jaman Neta dulu yang harganya selangit.
"Baiklah, deal!!" Ucap Neta dan Jino barengan dan Seno pun langsung sepakat.
"Ingat, tidak boleh cari ke google apa lagi minta bantuan, kalau ada yang melanggarnya. Maka di anggap kalah."
"Astaga, iya... Bawel ah, mama aja gak sebawel kamu." Ucap Neta yang frustasi memikirkan jawabanya.
"Besok malam kita kumpul di sini. Aku mau tidur dulu, Selamat malam saudara ku yang aku cintai." Setelah kiss bye, Seno langsung berdiri dan kembali ke kamar dia.
__ADS_1
"Lah kok besok sih?" Menunjuk Seno, yang senyum-senyum gak jelas.
"Sudah tidur sana, besok kamu sekolah kan? Nanti telat kamu." Mengacak-acak rambut Neta.
"Gak bakalan bisa tidur juga, kalau begini caranya, Somplak... Sengaja dia lakukan ini, biar aku gak bisa tidur." Neta terus ngoceh gak jelas dan berjalan menuju kamar masing-masing.
Tak lama Jino juga masuk ke kamar dia, dan berpikir keras jawaban untuk besok.
CEKLEKKK..
"Hufttt... Apa yah jawabannya, yasalam... Susah banget sih, kalau bukan itu, lalu apa dong?" Neta terus menggerutu sepanjang malam, dan tanpa dia sadari kalau sudah pagi.
"Astaga... Neta mata kamu kenapa?" Tanya mama Neta, yang khawatir dengan putri kesayangannya ini.
"Pfttttt... Hahahaha... Pasti dia gak tidur mah, mungkin dia lagi menonton sesuatu." Sahut Seno yang terus tertawa melihat Neta.
Mata seperti panda, wajah lesu seperti orang tak mandi. Dan matanya merah, seperti orang sakit mata.
"He... he... he... Sengaja kan kamu, biar aku gak bisa tidur, jahat yah." Menatap Seno dengan jengkel.
"Huammm, Selamat pagi." Jino langsung duduk dengan mata yang masih meram.
"Nih anak kenapa lagi, Jino kamu gak mandi? kok masih ngantuk gitu sih." Tanya mama Neta yang tak kalah khawatir melihat putra sulungnya seperti zombie.
"Hayoooo... Pada ngapain kalian, gak tidur?" Berusaha memanasin. Neta dan Jino langsung menatap Seno yang terus berkicau.
"Kamu jangan, memancing di air keruh yah." Ancam Jino, karena kesal. sudah tidak bisa tidur semalaman memikirkan jawaban, dan alhasil gak bisa menemukan juga.
"Tau, dasar ibu-ibu ngerumpi kamu kak." Sahut Neta yang tak mau kalah ketus.
"Sudah-sudah, makan dulu, abis itu mandi lagi. Kalian seperti zombie yang baru bangun. Untuk Seno nanti papah hukum dia."
"Lah kok aku sih pah." Cemberut Seno merasa tak adil.
"Blekkkk... rasain itu." Sahut Neta tersenyum penuh kemenangan.
Semua orang Fokus dengan makanan masing-masing, yang tidak ada satupun memulai untuk berbicara sama kali, hanya ada bunyi sendok dan garpu.
Setelah selesai sarapan, Neta bergegas masuk kamar dan mandi untuk kedua kalinya. Biar segar dan tidak salah Fokus, nanti di kelas. Jino pun melakukan hal yang sama, karena hari ini Jino ada pertemuan yang sangat penting di kantor.
Sedangkan Seno, langsung di ceramahi papah ya setelah selesai sarapan. Seno hanya diam dan mendengarkan apa kata papa nya. Kalau Seno berani menjawab, bisa-bisa sampai lusa gak akan kelar. Dan koleksi mobil yang dia sayangi bisa di jual oleh papanya.
__ADS_1
Seno Euginus Adrinia