
Neta masih diam dan menatap Aditya, Neta meneguk Saliva nya, dan meremas rok yang dia kenakan.
"Anda tenang saja pak, Kejadian tadi pagi tidak ada artinya sama sekali. Sebelum anda bilang, "Anggap tidak pernah terjadi" Saya sudah melakukan nya, dan sebelum anda meminta nya. Lagian saya anggap itu lucky yang ada di rumah saya, dia adalah A.N.J.I.N.G peliharaan saya. Kalau begitu saya pamit dulu," Membuka pintu dan langsung keluar, tanpa memperdulikan reaksi Aditya.
"Sialan... Dia bilang gue seperti peliharaan dia." Mengepal tangannya dan langsung memukul meja, entah kenapa, aditya merasa kesal. Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Neta.
Neta langsung berjalan ke arah kantin dan Setelah sampai dia Langsung meminum, minuman, dari meta yang baru saja dia pesan.
"Ahh... segar banget!!" Meta dan Viola menatap heran ke arah cangkir, yang baru saja, Neta habiskan dengan beberapa kali tegukan. Yang kini sudah ada di perut Neta.
"Gila Lo net, datang-datang langsung Lo habiskan minuman gue, untung gak gue jampi-jampi toh minuman." Mengambil gelas di tangan Neta dan menuangkannya di udara, di goncang-goncang gelas nya tetap gak ada se titik air pun di dalam sana.
Neta menyeka sisa minuman di tepi bibir dengan punggung tangannya. "Heleh... Berani Lo?" Ketus Neta yang tidak tau terima kasih.
BRUKKK....
Tiba-tiba Ferly datang dan langsung menggebrak meja di hadapan Neta. "Sekarang apa lagi, heh!!" Teriak viola yang sudah geram, setiap hari, pasti ada aja olah Ferly yang membuat dia naik pitam.
"Lo tanya gue, tanya sama sahabat baik Lo itu, Apa yang sudah dia katakan sama orang lain." Teriak Ferly dengan menunjuk-nunjuk viola, sampai viola beberapa langkah mundur.
Neta menutup telinganya karena suara Ferly sangat keras, dan Neta takut gendang telinga akan jebol. Viola menatap Neta yang sedang asik meminum, minuman viola. Dan bersikap acuh seolah bukan dia yang di maksud.
"Lo ada bukti?" Tanya Viola dengan menatap ke arah Neta bukan ke Ferly.
"Apaan Lo liatin gue segitunya." Ketus Neta yang kini sedang makan roti.
"Neta bangun Lo!!" Ferly menarik kerah baju Neta, dan kursi yang Neta duduk jatuh ke belakang, bersamaan dengan roti yang ada di tangan dia.
Neta Menepis, dan langsung menatap Ferly dengan tatapan tajam. Lalu melihat ke arah roti yang barusan jatuh.
Neta berjongkok dan berdiam diri melihat roti yang baru saja dia gigit, semua orang merasa bingung. Apakah Neta yang dulu Kembali lagi? Kalau emang iya, maka tidak akan asik pertunjukkan ini.
"Aish... Baru saja gue makan, sekarang Lo udah jatuh aja, kan mubazir, aish... sayang banget, pungut, enggak, pungut, enggak. Astaga gak usah di pungut kalau gitu." Ferly yang melihat Neta tercengang, baru kali ini dia melihat Neta Seperti orang miskin. Gak mampu beli roti, sampai harus memungut roti yang baru saja jatuh.
Neta berdiri dan menatap Ferly dengan tajam dan dingin. Mungkin Neta yang dulu akan menerima semua ini, tapi beda kalau Neta Sekarang, dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti nya kecuali dirinya.
__ADS_1
Ferly yang melihat aura Neta langsung berjalan mundur, dan Neta berjalan maju sampai tubuh Ferly tersandung meja kantin. "Ahh.... Aku, aku hanya bertanya saja." Ucap ferly yang sudah gemetaran, semua orang yang ada di kantin hanya menonton saja. Mereka tidak berani berbicara atau pun bergerak, karena aura yang Neta keluar kan dalam tubuhnya sangat menyeramkan.
Neta mengangkat tangan kanannya. "Jangannnn...!!" Ferly langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, tida ada pergerakan dan sakit. Ferly mengintip di balik jari-jarinya, mata Ferly terbelalak dan terkejut menatap Neta tersenyum sinis ke arah dia.
"Kenapa? Lo kira gue mau menampar Lo? Heh... maaf yah, gue udah cuci tangan dengan antiseptik, jadi gue gak mau lagi nyucinya. Karena, nyentuh Lo itu... sama aja gue nyentuh kuman yang berbahaya." Bisik Neta di telinga Ferly.
Neta berbalik dan ingin kembali duduk, tiba-tiba dia melihat aditya yang sedang berbicara dengan siswi. Dan mereka terlihat sangat akrab, Neta berusaha tidak memperdulikan itu semua, meskipun, entah kenapa perasaan Neta ada yang terhiris. Melihat Aditya begitu ramah sama orang lain tapi tidak dengan Neta sendiri.
"Ah aku lupa, ada satu hal yang harus Lo tau Ferly." Berbalik badan saat Aditya tanpa segaja melihat dari kejauhan. Neta dan Ferly seperti ingin berseturu.
"Ada apa lagi di sana?" Gumam Aditya.
"Maaf pak, bapak bilang apa?" Tanya siswi itu yang agak samar mendengar ucapan Aditya. Sambil memperbaiki rambutnya dan menaruhnya di belakang telinganya.
"Maaf saya lagi ada urusan, lain kali saja." Ucap Aditya yang langsung meninggalkan siswi itu.
"Hemmm.." Siswi itu menatap punggung Aditya dari kejauhan.
"Lo bilang ada yang bergosip tentang masalah kita kan? Dan Lo kira itu gue yang ngelakuinnya, dengar yah... Ini untuk kalian semua." Teriak Neta, entah kenapa mood dia langsung jelek mengingat kejadian di ruangan Aditya tadi.
"Lo ingin tau siapa pelakunya?" Ferly langsung mengangguk, entah kenapa aura Neta yang ada di hadapannya ini sekarang sangat menakutkan.
"Coba Lo fikir, siapa yang membenci Lo, siapa yang pernah Lo sakiti. Dan gue kasih tau sekali lagi, di pesta itu bukan hanya gue dan Viola saja yang hadir. Tapi.. ada juga yang berasal dari sekolah ini, hadir di pesta itu, jadi, lebih baik Lo cari bukti sebelum Lo fitnah orang lain. Atau Lo ingin berakhir di sel tahanan, atas tuduhan pencemaran nama baik." Ferly langsung terdiam apa yang Neta katakan ada benarnya juga.
"Ah.. lagian gue suka dengan gosip itu, sesuai dengan fakta." Neta tersenyum sinis dia keluar dari kantin saat melihat Aditya berjalan ke arah dia.
Ferly mengepal tangannya, berusaha keras menahan emosi, dan menahan malu di depan umum. Karena tubuhnya gemetaran akibat aura Neta tadi.
Viola dan meta langsung mengikuti Neta, kerena sudah tidak ada selera makan lagi. "Makanya jangan sok membully orang, akhirnya kena juga kan." Ucap meta sebelum dia benar-benar pergi.
Neta sempat berpapasan dengan Aditya, dengan sombongnya Neta bahkan tidak berhenti, dan menyapa Aditya duluan, malah langsung berlalu begitu saja. Saat Aditya menatap Neta dan ingin bertanya, tapi Neta malah acuh, sedangkan meta dan Viola menyapa Aditya.
"Siang pak," barengan sambil membungkuk.
"Apa terjadi masalah?" Tanya Aditya tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Tidak ada pak, hanya ada kecoak yang lagi bernyanyi, kalau begitu kami permisi dulu." Jawab meta dengan bercanda dan pergi menyusul Neta, yang sudah jauh di depan sana.
Semua orang yang ada di dalam kantin, kembali melanjutkan aktivitas mereka, dan bertindak seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Apa perasaan gue doang yah." Aditya langsung kembali keruang guru.
Ferly tertekun dia berfikir siapa pelakunya, kalau bukan Neta lalu siapa lagi, itu yang sejak tadi di benak Ferly. Anggi dan Amanda langsung mengelus pundak Ferly. "Kita cari siapa pelakunya nanti." Ferly langsung mengiyakan apa kata Amanda dan Anggi.
****** ******
Di dalam kantor Jino.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk," Ucap Jino yang masih fokus dengan laptop nya.
CEKLEKKK..
Jino langsung menghentikan kegiatannya saat dia tau siapa yang datang ke kantornya.
Jino
Seno.
Neta.
Aditya.
__ADS_1