
Keluarga Duke sudah tiba di Rumah Sakit, mereka juga menunggu dengan perasaan cemas, oprasi sudah berlangsung selama dua jam. Tapi beberapa menit kemudian lampunya sudah mati, yang menandakan oprasinya sudah selesai.
Ceklek
Pintu terbuka, mereka semua berdiri menyambut sang Dokter yang ke luar dari ruangan, Rian dan Raka maju terlebih lalu bertanya. "Dok bagaimana?"
"Oprasi berjalan lancar, pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi sekarang dalam kondisi koma, dan akan segera dipindahkan ke ruang ICU" balas Dokter.
Semuanya terdiam, setidaknya Tuhan mendengar doa mereka agar oprasi
Viona berjalan dengan lancar, walaupun sekarang dalam keadaan koma.
"Hiks, hiks" terdengar suara tangisan dari arah belakang.
Semuanya berbalik, dan ternyata orang yang menangis itu adalah Bi Yun. Dia tidak bisa tenang saat Rian memberi kabar jika Viona kecelakaan dan harus menjalankan oprasi. Makanya, dia datang ke Rumah Sakit untuk melihat keadaan Viona langsung. Tapi dia terkejut saat mendengar ucapan Dokter.
Raka menghampiri Bi Yun, "Bibi sama siapa ke mari?" tanyanya sambil menuntun Bi Yun duduk.
Bi Yun belum bisa mengucapkan apa-apa, dia takut jika Viona mengalami hal yang sama. Tapi dia sangat berharap kejadian itu tidak terulang kembali.
"Maaf Nak, jika Bibi datang. Bibi sangat khawatir jadi Bibi menyusul diantar Sopir" ucapnya setelah sedikit tenang.
"Tidak apa Bi. Kita doakan saja, Viona cepat sadar" ucap Raka memberi semangat, agar yang lainnya juga tidak bersedih lagi.
Viona sudah dipindahkan ke ruang ICU. Mereka bergilirin masuk, dan mempersilahkan Rian masuk pertama untuk melihat Adiknya.
"Semoga kamu cepat sadar Nak! Ini sudah kedua kalinya" gumam Bi Yun pelan, tapi masih bisa kedengaran sama yang lainnya.
Semua terkejut dan menoleh menatap Bi Yun. Untuk memastikan jika tidak salah dengar, Raka kembali bertanya. "Apa maksud kedua kalinya Bi?"
Bi Yun menutup mulut, Sebenarnya Viona melarangnya untuk tidak memberitahu siapapun. Ya, jika Viona menceritakan kehidupannya yang kelam dia mengskip bagian itu, saat dirinya tidak sadarkan diri selama tiga bulan.
"Huff, Sekitar satu tahun yang lalu Nak Viona pernah masuk Rumah Sakit sampai koma selama tiga bulan" Bi Yun terpaksa menceritakan ke pada yang lainnya.
Saking terkejutnya, mata mereka membulat dengan sempurna, "Apa Bi? Tiga Bulan? Apa yang terjadi saat itu?" tanya Raka lagi.
__ADS_1
"Dia terjatuh dari balkon lantai dua" mengingat kejadian itu membuat Bi Yun kembali menangis, bagaimana tidak, saat itu hanya dirinyalah yang peduli dengan kondisi Viona.
Tambah terkejutlah mereka, lantai dua? itu sudah sangat tinggi. Betapa beruntungnya Viona masih bisa selamat saat itu. Dan mereka hanya bisa berdoa dan berharap agar kali ini Viona juga diberi keselamatan.
Di dalam ruang ICU, Rian sudah duduk di samping Viona. Dia menggengam tangan Viona menyalurkan tenaganya agar Viona kuat dan bisa bertahan.
"Dek! kamu yang kuat ya! Kamu pasti bisa! Kami semua menunggumu bangun. Tidak apa-apa, Tidurlah! Tapi jangan terlalu lama" ucap Rian sambil menahan tangisnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Viona, meskipun dia tidak sadar.
Setelah berbicara dengan Viona, Rian akhirnya keluar. Dan memberi kesempatan ke pada yang lainnya untuk masuk.
Kali ini Momy Lidya yang masuk. Yang lainnya akan menjeguk di hari lain. Biarkan Viona beristirahat dengan tenang.
Ray sebenarnya ingin sekali masuk melihat Viona. Tapi melihat gelengan sang Dady, dia tidak bisa melawan, itu juga demi kabaikan Viona.
Leo yang sedari tadi hanya diam beranjak dari duduknya dan pamit undur diri ke pada semua orang, dia akan datang lagi di lain waktu untuk menjenguk Viona.
Raka membiarkan Leo pulang, dia sungguh kasihan melihat keadaan Leo yang sangat berantakan. Dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
...----------------...
"Hahahah, jadi keponakan si Bora mengalami kecelakaan? itu yang aku mau. Membuat mereka semua menderita, karena aku tidak ingin melihat keluarga itu bahagia. Belum juga aku betindak, tapi dia sudah celaka lebih dulu. Jadi saat ini aku bersantai. Karena aku yakin mereka sedang menangis darah hahahaha."
Ternyata orang itu datang membawa kabar atas kecelakaan Viona, memang dia di perintahkan untuk mengawasi keluarga Viona, dia tidak lagi ingin mengharapakan si Bora. Dilihat saat mereka bertemu, si Bora sudah berani melawannya, dan tidak takut dengan ancamannya.
"Hmm biarkan mereka menikmatinya, nanti kalian bertindak jika kondisinya sudah baik. Tidak sangat profesional jika harus melawan musuh di saat kondisinya tidak sehat!"
"Baik Tuan King" balasnya dan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Tidak akan kubiarkan kalian hidup bahagia diatas penderitaanku. Kalian harus menerimanya, atas perlakun jahat Ayah kalian" gumamnya serius dengan tangan yang mengepal kuat.
...----------------...
Setelah Leo meninggalkan Rumah Sakit, dia pergi mengambil motornya yang dia tinggalkan di pinggir jalan, untung ada orang baik yang membawanya dan menitipkan di salah satu bengkel terdekat.
Leo melihat tempat kejadian, mobil Viona sudah tidak terlihat lagi di sana. Lagi-lagi bayangan itu muncul di dalam kepalanya. Dia segera melajukan motornya, dan pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Setibanya di rumah, jam sudah menunjukkan jam dua belas malam. Dia membuka pintu menggunakan kunci serep, dia tidak ingin mengetuk, takut ibunya terbangun.
Tapi tebakannya salah, ternyata Ibunya belum tidur setelah dia tiba di dapur. Terlihat Ibunya duduk sambil memegang ponsel.
"Bu!" panggilnya
Ibu Nur tersentak, dia segera menghampiri Leo dan bertanya. "Leo! Bagaimana kondisi Nak Viona?"
Leo kira Ibunya belum mendengar berita, ternyata dugaannya Lagi-lagi salah. Ya, Ibu Nur melihat berita itu di TV. Dia sangat mengenali mobil Viona. Dia berusaha menghubungi siapapun Tapi semua tidak bisa terhubung.
Leo menggelengkan kepalanya, matanya kembali berkaca-kaca. "Ini semua salahku Bu!" ucapnya yang mengabaikan pertanyaan Ibunya.
Ibu Nur menatap Leo, dia mundur beberapa langkah. "Jangan bilang Nak Viona kecelakaan gara-gara kamu!" air mata Bu Nur sudah mengalir deras.
"Kenapa Nak? Apa yang sudah kamu lakukan ke padanya? Hiks hiks, Leo jelaskan ke pada Ibu apa yang terjadi!"
Leo mulai menceritakan dari awal, di mana dia menghindari Viona, jaga jarak kerena ingin melupakan perasaannya. Sampai pertemuannya sebelum kecelakaan terjadi, membiarkan Viona pergi dalam keadaan marah dan perasaan yang kecewa.
Plak
Satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Leo. "Jahat! Jahat kamu Nak! Ibu memang menyuruhmu untuk melupakannya. Tapi tidak dengan cara seperti itu. Kamu melakukan semua itu, sama saja kamu melukai hatinya."
Leo menerima tamparan Ibunya, karena memang dia merasa bersalah. Dia hanya bisa menunduk menyesali semuanya.
"Melupakan perasaan, bukan berarti kamu harus menghindarinya. Kamu hanya perlu ikhlas dan merelakan Nak Viona bersama pria lain. itu harus dilakukan secara perlahan, karena melupakan tidak semudah memabalikkan telapak tangan."
"Kamu harus pergi dan minta maaf ke pada Nak Viona. Jangan balik jika kamu belum mendapatkan maafnya!" pintah Ibu Nur dengan tegas. Dia sangat kecewa dengan sikap Leo. Andai dia tahu sejak awal, mungkin itu tidak terjadi. Pantesan jika Viona datang bertamu, Leo tidak pernah ada di rumah.
Leo menatap Ibunya, ini baru pertama kalinya melihat Ibunya semarah itu, bahkan menamparnya. "Bu maafkan aku."
"Jangan minta maaf ke Ibu!"
"Bu! Lilie berada di ruang ICU, dia belum sadar, dia koma Bu, hanya keluarga dan orang yang tertentu saja bisa masuk." ucap Leo sambil memegang dadanya yang tiba-tiba sesak.
Ibu Nur syok, dia luruh ke lantai. "Hiks hiks, Leo kenapa kamu lakukan itu Nak? Apa kamu lupa? Jika Nak Viona yang sering menolongmu! Apa kamu lupa Nak? Dia yang sering membantu kita, dia orang pertama yang ingin menjadi temanmu, dia orang yang tidak pernah membullymu Nak, dia orang yang selalu berkunjung di rumah kita yang kumuh. Hiks hiks, dia yang membantu kehidupan kita jadi lebih baik seperti ini. Dan sekarang kamu malah menyakitinya, membuatnya kecewa, sampai dia terluka" ucap Bu Nur panjang, mengingatkan Leo kembali kebaikan Viona selama ini ke padanya.
__ADS_1
Leo tidak bisa menjawab ucapan Ibunya, dia juga duduk di lantai. Perkataan Ibunya membuat semua kebaikan Viona berputar kembali di pikirannya. "Maafkan aku!"