KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
Memaafkan


__ADS_3


Neta menatap jengah Kepada orang yang memanggil dirinya itu. Yah siapa lagi kalau bukan Aditya guru sekaligus calon suaminya itu. “Apa?” Tanya Neta to the point. “Ikuti saya,” ketus Aditya, Neta menghela nafas dia meminta vio dan meta duluan ke kantin, sedangkan dia mendorong kursi rodanya sendiri.


“Apa bapak tidak bisa jalan pelan? Atau anda lupa kalau saya Sekarang menggunakan kursi roda?” Aditya yang baru sadar langsung berdahem. Berbalik dan berjalan ke belakang Neta, tanpa aba-aba dia mendorong kursi roda Neta.


“Apa yang bapak lakukan?”


“Diam dan fokus saja ke depan,”


Neta mengerucutkan bibirnya dan sesekali dia tersenyum, bohong kalau dia tidak suka dengan gurunya. Mana ada cewek nolak cowok tampan seperti pak Aditya ini. Bahkan cewek gak waras pun bakal bilang gila ke orang normal kalau sampai nolak Aditya.


Sesampai di ruangan, kotak bekal sudah tersusun rapi. Neta sempat bingung apa yang sebenarnya terjadi sekarang. “Tunggu apa matahari terbit ke arah barat?” gumam Neta, Aditya langsung menoyor kepala Neta sampai Neta melotot ke arah Aditya. “Kau pikir aku apaan hemmm?”


“Entahlah, tapi kenapa bapak membawa saya ke sini? Apa mau mengajak saya makan bareng, hemmmm?” goda Neta menaik turunkan alisnya.


“Sial, tepat sasaran lagi.” Batin Aditya, rasanya Aditya ingin melempar sesuatu ke Neta karena tebakan dia benar.


“Hemmm, makan lah ini mama yang minta,” jawab Aditya dengan sedikit malu. Jujur baru pertama kali dia membawakan makanan kepada wanita, apa lagi wanita itu adalah Neta si murid kurang ajarnya ini.


“Apa ini bisa di bilang kencan mas?”


Aditya yang mendengar Neta memanggil dia mas langsung tersedak. “Apa yang kau katakan tadi?” Tanya Aditya untuk memastikan apakah dia salah dengar atau tidak. “Tidak ada. Wah sepertinya makanan ini sangat lezat,” menatap makanan dengan tatapan kagum dan mata yang berbinar-binar. “Makan sekarang jangan di liat, toh Ilernya netes semua.” Canda Aditya.


Neta yang mendengar langsung melap mulutnya dengan punggung tangan. “Ideh bohong banget,” ketus Neta tanpa basa-basi lagi, dia langsung melahap makanan dengan sangat senang. “Persis seperti anak kecil,” gumam Aditya melihat Tingkah Neta makan dengan lahap, sehingga membuat dia tersenyum meskipun senyum itu samar-samar. “Berhenti menatap saya pak, ntar naksir lho “ kata Neta mengedipkan sebelah matanya.


“Kalau sudah selesai ada yang ingin saya katakan,”

__ADS_1


“Apa?”


“Makanya selesaikan dulu makannya,”


Neta buru-buru menyelesaikan makanan yang ada di kotak makan, sampai dia bersendawa sangat keras. Dia bahkan menyandarkan tubuhnya di sofa. “Alhamdulillah kenyang juga,” Sambil mengelus perutnya yang terisi penuh.


“Sungguh tidak sopan, bagaimana kamu bisa bersendawa seperti itu. Apa lagi di depan calon suami kamu, tidak ada jaimnya sama sekali,” Neta yang mendengar itu hanya tersenyum sambil melihatkan giginya yang putih dan rapi itu.


“Justru karena calon suami saya harus memperlihatkan kepribadian saya pak, lagian gak usah jaim segala. Toh saya ingin orang menyukai saya apa adanya saya, seperti ini lah dirinya saya. Saya tidak ingin menggunakan topeng yang menurut saya cepat atau lambat orang itu akan tau.” Jelas Neta tanpa merasa malu. Lagian emang benar katanya, buat apa bersikap baik kalau pada akhirnya itu hanya sementara agar orang lain suka sama kita. Lebih baik bersikap jadi diri sendiri. Mau seperti apa pun kita, jika orang itu benar-benar mau berteman sama kita. Dia akan menerima kita apa adanya.


“Terserah kamu lah, kalau sudah selesai kamu tanda tangani ini kertas,” menyerahkan ke Neta, Neta menatap heran Aditya menghela nafasnya. “Ini adalah kontrak selama kita menikah nanti,” jelas Aditya dengan santai. Neta melongo seperti orang bodoh. “Maksud bapak?” tanya Neta yang kurang percaya.


“Selama kita menikah kamu harus menuruti isi kontrak itu,”


“Kontrak apaan? Orang kertasnya aja kosong melompong gini pak.” Jawab Neta dengan memegang kertas, bahkan sesekali dia kibas-kibaskan ke udara, siapa tau tulisannya muncul.


“Ini gak salah hah??” tanya Neta dengan meyakinkan lagi, Aditya dengan mantap mengangguk.


“Pihak B tidak boleh ikut campur urusan pihak A, Termasuk pihak A tidak akan ikut campur urusan pihak B. Pihak A punya wewenang untuk melarang apa saja yang di lakukan oleh pihak B jika itu merugikan pihak A. Pihak B tidak di izinkan tidur di kamar pihak A kecuali di rumah orang tua. Pihak B tidak boleh membocorkan rahasia pernikahan mereka ke siapa pun, selain keluarga dan harus sepertujuan dari pihak A. Kedua belah pihak tidak boleh ada yang selingkuh. Pihak B tidak boleh minta cerai ke pihak A. Selama hidup satu atap, baik pihak A atau pihak B bersikap seperti orang asing.”


“Tunggu yang pihak A dan B siapa?” tanya Neta, Aditya meletakkan kopi di meja. “Tentu pihak A adalah aku, dan pihak B adalah kamu, dan satu lagi ubah cara bicara kamu itu seolah-olah saya sudah tua saja.”


Neta melotot dan segera merobek surat perjanjian itu. “Apa yang kamu lakukan?!” teriak Aditya, Neta tersenyum sinis. “Pak, asal anda tau yah. Biasanya kalau ada perjanjian seperti itu!!” tunjuk Neta ke kertas yang sobek.


“Maka, pihak A yang jatuh cinta duluan.” Lanjut Neta, dia memutar kursi roda, hendak keluar tapi di cegat Aditya di depan Neta.


Aditya membungkuk dan memegang kursi roda di depan muka Neta. Neta bisa merasakan hembusan nafas di wajah Neta. “Jadi kamu tidak mau tanda tangan perjanjian itu?!” tunjuk ke arah surat yang sudah di robek.

__ADS_1


“Ya”


“Kamu akan menyesali perbuatan yang kamu lakukan hari ini.”


“Justru bapak akan bersyukur, karena saya sudah merobek surat itu.” Menendang kaki Aditya, sampai Aditya mengaduh kesakitan. Neta bergegas keluar, meskipun dia merasakan sakit. Akibat menendang kaki Aditya.


“Awas saja kamu Neta,” gumam Aditya. “Stttttt, sakit banget lagi.”


Ferly melihat Neta yang tertatih-tatih segera menghampiri Neta. “Mau gue bantu?” Neta menolehkan kepala nya kesamping.


“Tidak usah,”


“Kebetulan tujuan kita sama,”


“Gue hanya tidak ingin merepotkan diri lo.” Jawab Neta dengan terus menatap ke depan.


“Gue tau, Lo pasti takut gue bakal melukai diri Lo. Tapi...gue hanya berusaha menembus semua kesalahan yang gue lakukan dulu.”


“Gue...gue..”


“Fer,”


Ferly yang mendengar Neta menyebut namanya dengan lembut, membuat hatinya teriris. Dia tidak menyangka ada hari di mana namanya di panggil dengan seseorang sangat lembut.


“Mungkin ini sudah terlambat, tapi gue maafkan kesalahan yang Lo lakukan pada gue.”


“Karena orang yang harusnya menerima permintaan maaf itu bukanlah aku.” Batin Neta menatap Ferly yang mematung.

__ADS_1


“Jadi, gue harap Lo jadi diri sendiri. Bukan orang lain,” sambung Neta meninggalkan Ferly yang masih mematung di sana


__ADS_2