
~Flasback On
"Bos maaf mengganggu! Saya ingin menyampaikan sesuatu" kata salah satu dari anggotanya.
"Katakan!" perintahanya tanpa menoleh. Sambil mengeluarkan asap dari hidung dan mulutnya yang sedang mengisap sebatang rokok.
"Keponakan, eh maksud saya kedua target dalam perjalanan menuju kediaman Wijaya!" Ucapnya ragu karena keceplosan menyebut keponakan Bosnya.
"Hahaha ternyata dia bergerak cepat. Tapi sayang sekali, sekarang belum waktunya kalian bertemu dengannya. Jalankan sesuai rencana!"
"Baik Bos kami akan melaksanakannya" berbalik dan pergi menyelesaikan tugasnya. Apalagi kalau bukan meggagalkan pertemuan mereka.
"Hahaha kenapa Adikku dan suaminya sangat bodoh? Mereka berlari dan bersembunyi dariku! Tapi, mereka malah mengirimkan anaknya untuk datang menemuiku. Hahaha apa kalian siap kehilangan anak untuk yang kedua kalinya.?
...----------------...
"Tom kamu ke Perusahaan Wijaya Grup! Aku yang akan pergi ke rumahnya" pintah Rian pada Tomi dengan begitu mereka bisa lebih cepat mengetahui di mana orang yang mereka cari.
"Kenapa mesti kita berpisah Rian? Kita bisa pergi bersama setelah dari Rumahnya!" balas Tomi. Dia tidak setuju dengan usul Rian. Dia takut terjadi apa-apa dengan temannya yang sudah dia anggap sebagai saudaranya.
"Tom! Dengan begitu kita bisa lebih cepat. Dan tidak buang-buang waktu" Mereka tidak tau di mana posisi orang mereka cari. Sudah melacaknya tapi sangat sulit untuk mereka bobol.
Tomi tidak bisa melawan Rian yang sangat keras kepala, "Huff baiklah, segera beri aku kabar jika orang itu ada di rumahnya!" kata Tomi dengan pasrah.
"Ya kamu lakukan hal yang sama!" balasnya dan mereka berangkat secera terpisah karena Perusahaan dan kediaman Wijaya berbeda alur.
Di tengah perjalanan Rian tidak menyadari ada sebuah mobil yang mengikutinya. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena dia melawati jalan utama yang setip harinya tidak pernah tidak macet. Dia belum terlalu banyak tau di mana saja ada jalan pintas.
Rian menepikan mobilnya, saat melihat seorang nenek yang ingin menyebrang jalan. Dia turun menghampiri sang Nenek yang sudah mulai melangkah. Tak habis pikir orang lain hanya melihat saja tanpa membantu.
Rian terkejut, melihat ada sebuah mobil yang mengarah kepada nenek itu. Dia berlari sekuat mungkin " Neneeeek awaaasss!" teriaknya.
__ADS_1
Bruukkk.
Sedikit saja Rian terlambat, Tidak ada yang tau bagaimana nasib Nenek itu. Rian berhasil mendorong ke tepi jalan, dan alhasil dia yang terserempet sedikit dan jatuh di pinggiran jalan.
Nenek itu hanya mengalami lecet di bagian lututnya. Barulah orang-orang datang mendekat setelah melihat kejadian itu. Membantu nenek berdiri dan mengobati lukanya.
"Nak apa kamu baik-baik saja? Ah tunggu!saya akan menelpon Ambulance terlebih dahulu" ucap salah satu warga sekitar. Setelah membantu Rian duduk di bangku jalan.
Rian mengalami luka di bagian lutut, tagan, siku dan jidatnya. "Saya baik-baik saja Pak. Tidak usah menelpon Ambulance!" tolaknya. "Saya akan menelpon seseorang untuk datang menjemput"
Bapak itu menurut. Tak lupa dia menyodorkan sebotol air dan membersihkan luka Rian terlebih dahulu. "Iya Nak, tapi kamu harus tetap pergi ke Rumah Sakit untuk periksa lebih lanjut, takutnya ada luka dalam.
"Emm iya Pak, nanti teman saya yang akan mengantar. Oh iya Pak di mana Nenek tadi? Apa dia baik-baik saja?" tanya Rian yang sudah tidak melihat keberadaan Nenek itu.
"Huuff, sebelumnya kami semua mengucapkan terima kasih kepadamu Nak. Karena sudah menolong Nenek itu. Bukannya kami semua tidak mau menolongnya untuk menyebrang. Sudah puluhan kali orang-orang sini membantunya, tapi setelah Nenek itu di seberang sana dia akan menyebrang kembali. Begitu seterusnya sampai dia lelah sendiri. Jadi orang-orang tidak ingin lagi membantunya." jelasnya
"Kenapa Nenek itu melakukan hal itu? Kemana keluarganya? Kenapa tidak ada yang menjaganya? Tanya Rian penasaran.
"Tidak ada yang tau di mana Rumah dan keluarganya! Banyak yang beranggapan kalau Nenek mengalami gangguan jiwa. Sudah pernah polisi untuk datang menjemputnya agar Nenek di bawah ke RSJ. Tapi, Nenek itu pasti mengamuk."
"Rian! Astaga apa yang terjadi denganmu?" Tanya Tomi yang baru saja tiba melihat kondisi Rian yang tidak baik-baik saja.
Dia baru saja sampai di Perusahaan Wijaya, tapi ponselnya berdering, dia sangat Syok saat Rian mengatakan kalau dirinya sedang terluka. Dia langsung putar balik menuju lokasi di mana Rian berada.
"Jangan berlebihan seperti itu! Aku baik-baik saja" balasnya yang tidak ingin di kasihani hanya luka sekecil itu. "Pak kami pergi dulu. Terima kasih atas bantuannya" lanjutnya dan berdiri.
Tomi segera membantu Rian berjalan menuju mobil dan pergi setelah berpamitan. Dia tetap menbawa Rian ke Rumah Sakit, meskipun Rian mengatakan tidak.
Tomi penasaran apa sebenarnya yang terjadi. Dia bertanya dan Rian menceritakan kejadian yang menimpanya. Dan juga perihal Nenek itu.
Tomi merasa kasihan. Tapi, dia juga ingin tertawa setelah mendengar penjalasan Rian. Berusaha menahannya agar tawanya tidak lepas.
__ADS_1
"Ck! Tertawa saja Tom, tidak usah menahannya seperti itu!" sahut Rian kesel yang mengerti akan raut wajah tomi yang memerah menahan tawa.
"Hahahah makanya jangan keras kepala!" Tomi langsung tertawa setelah Rian menyuruhnya untuk tertawa. Dia sudah memintanya untuk pergi bersama dengan Rian.
~Flasback Off
...----------------...
Lelah tidak pernah dirasakan oleh mereka yang tidak mau berusaha. Jangan menyerah, kebahagiaan akan hadir setelah lelahmu.
Waktu berlalu begitu cepat. Ke esokan harinya Viona masih berada di Menssionnya. Dia akan berangkat ke Restoran setelah makan siang nanti.
Viona masuk ke ruang dimensinya bersama para sahabatnya. Dia sudah lama tidak berkunjung lagi, betapa terkejutnya saat dia melihat tumpukan koin yang berada di pohon kembar.
"Wah koinnya sangat banyak! Sangat lumayan jika semuanya terjual" ujar Viona girang, baru kali ini dia melihat koin emas sebanyak itu.
"Nona! Bagaimana tidak mau banyak? Anda jarang masuk ke sini dan tidak pernah memetik buahnya lagi!" sahut puput si burung merpati.
"Hmm kamu benar Put! Saking banyaknya masalah, aku tidak pernah lagi berkunjung ke sini" balasnya sambil mengutip koin-koin dan menyimpannya dalam tas.
"Geerrr, nona yang sabar! Pasti masalah yang nona hadapi akan berakhir" sela Lan.
"Geerrr, yan nona! Anda harus kuat, jangan menyerah! Pasti akan ada hasilnya" timpa Lin yang memberi semangat kepada Viona yang berubah jadi murung.
Viona merasa bersalah, kenapa dirinya mesti membahas itu. Padahal niatnya dia masuk ke ruang dimensi untuk menenangkan diri. Tapu dia merasa senang mendapat perhatian dari para sahabatnya.
"Hmm terima kasih! Baiklah aku akan selalu semangat" balas Viona tersenyum. "Ya sudah kalian berdua tunggu di situ! Aku dan Puput ingin mengutip semua koin ini dulu.
Lan dan Lin patuh, mereka duduk di bawah pohon dan menatap sekitar. Tidak butuh waktu lama semua koin sudah berada di dalam tas. Viona mengambil beberapa buah ajaibnya sebelum keluar, dia tidak sempat untuk berjalan keliling.
Baru saja habis mandi dan bersiap-siap untuk berangkat ke Restoran, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Dia melihat nama Leo terpampang dengan jelas.
__ADS_1
"Kak Leo! Tumben nelpon, biasanya kan dia cuman kirim pesan jika ada sesuatu" gumamnya lalu menerima panggilan itu.
"Halo! Kenapa Kak?" tanya Viona to the poin.