
Setelah keduanya makan siang, Viona bergegas pulang. Dia tidak lagi bersemangat untuk pergi ke Restoran. Dia merasa lelah mengemudi ke sana ke mari.
Tapi belum lama dia membaringkan tubuhnya di atas kasur, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk, segera menerima panggilan setelah melihat nama yang tertera.
"Katakan!"
"(....)"
"Bagus! Tinggal giliranmu Bora, kau akan mati di tanganku jika Momy Jeny memberiku ijin untuk membunuhmu. Tapi, jika aku di posisi Momy, aku akan tetap membunuhmu. tidak ada ampun orang sepertimu." gumamnya pelan.
"Bawa dia keruang penjara bawa tanah!"
"(....)"
"Aku akan menemuinya sebentar!"
Seorang anak buahnya yang memberi laporan jika mereka sudah menangkap si Bora, dan menanyakan tugas selanjutnya.
...----------------...
Malam tiba, bulan dan bintang kembali bersinar menyinari bumi. Berkelap kelip yang nampak sangat indah di pandang. Leo yang baru pulang dari tempat latihan bela dirinya merasa sangat kelelahan, ya dia menekuni kegiatan itu, agar di masa depan nanti dirinya juga bisa berguna terhadap seseorang. Dan Setelah makan malam, Ibu Nur mengatakan ke pada Leo, bahwa ada satu hal ingin dia bicarakan.
"Apa yang ingin Ibu bicarakan?"tanya Leo yang sudah duduk di hadapan Ibunya.
"Emm, sebelumnya Ibu ingin bertanya. Apa kamu selama ini tidak pernah merasa heran dengan wajahmu yang tidak memiliki kemiripan dengan Ibu ataupun Ayahmu?"
Leo termenung, dia sering kali memikirkan hal itu, tapi dia percaya, mungkin ada di luar sana yang memang tidak memiliki kemiripan dengan kedua orang tuanya. Jadi dia tida mempermasalahkannya ataupun bertanya.
"Pernah sih Bu. Emang kenapa? Ada yang salah?" tanya Leo balik.
"Nak! Ibu harap kamu tidak marah" menjedah ucapannya sejenak dan menarik nafas panjang. "Sudah saatnya kamu harus tahu!"
"Ada apa sebenarnya Bu? Apa yang aku harus tau? Apa Ibu membunyikan sesuatu ke padaku?"
"Iya Nak, sebenarnya kamu bukan Anak kandung Ibu dan Ayahmu! Ibu menemukanmu di hutan saat itu" ucapnya dengan sekali tarikan nafas.
Deg
Tentu Leo sangat terkejut, dia menatap mata Ibunya mencari kebohongan tapi yang dia lihat mata senduh yang sudah berlinang air mata.
"Apa Ibu berkata jujur? Apa Ibu sedang tidak berbohong?" memastikan kembali.
Air mata Bu Nur makin mengalir deras. Dia tidak tega melihat Leo yang terlihat kecewa, "Ya Nak, Ibu tidak berbohong, makanya kamu tidak ada kemiripan dengan Ibu."
__ADS_1
Entah apa yang Leo rasakan saat itu, semuanya bercampur aduk menjadi satu. Sekarang dia merasakan apa yang pernah Viona rasakan, benar-benar suatu hal yang membuat seluruh badan melemes tak bertulang.
"Maafkan Ibu Nak, jika baru mengatakannya ke padamu, Ibu takut di saat kamu menemukan orang tuamu, kamu pergi meninggalkan Ibu sendiri. Maafkan Ibu yang sudah egois!"
Berusaha menerima semua kenyataan, karena tidak mungkin Ibunya berbohong sampai menangis seperti itu.
"Hah" menghela nafas berat. "Kenapa Ibu berpikir hal seperti itu? Ibu akan tetap menjadi orang tuaku, dan aku akan tetap tinggal sama Ibu."
"Maafkan Ibu Nak! Ibu cuman takut kehilanganmu!"
"Jangan mengatakan yang tidak mungkin terjadi Bu!" pintah Leo yang menurutnya sangat mustahil jika dia pergi meninggalkan Ibu Nur setelah dia menemukan kaluarga kandungnya. Dia akan tetap akan tinggal bersamanya apapun yang terjadi.
"Jadi Bu, aku Anak siapa? Apa Ibu menemukanku atau mengadopsiku dari panti asuhan?" akhirnya Leo bertanya juga.
"Ibu menemukanmu dipinggiran hutan Nak! Saat itu Ibu dan Ayahmu baru saja pulang dari mencari kayu bakar!"
Leo mematung, bisa-bisanya dirinya ditemukan dipinggiran hutan, dia sudah berasumsi jika orang tua kandungnya sengaja membuangnya ke sana.
"Hutan? Apa hutan yang sering aku datangi mencari kayu bakar?"
Ibu Nur mengangguk, tempat itulah jadi saksi Leo kecil sampai dia beranjak dewasa. Ibu Nur menceritakan semuanya kembali.
~Flasback On
"Buk ayo kita pulang! Ini sudah banyak, takutnya kita tidak bisa mendorong gerobaknya jika terlalu penuh"
"Iya Pak tinggal satu ikat lagi!" jawab sang Istri menurut, karena hari sudah menjelang sore, di mana hutan sudah gelap.
Mereka mengangkat masing-masing dua ikatan kayu di pinggiran hutan, di mana gerobak dorong mereka berada, karena gerobak tidak bisa masuk sampai kedalam hutan saking banyaknya akar besar yang menjalar terpaut satu sama lain.
Gerobak siap di dorong, mereka menelusuri pinggiran hutan, beberapa menit berlalu keduanya melihat kerumunan polisi dan beberapa orang yang terlihat sedang menangis histeris. Mereka mendekat, ternyata kecelakaan tunggal baru saja terjadi dan terjun ke jurang yang tidak terlalu dalam.
Korban sudah dievakuasi, terlihat ada tiga kantong mayat. Bu Nur memberanikan bertanya ke pada salah satu polisi.
"Maaf Pak selamat sore, kalau boleh tau, apa korbannya tidak ada yang selamat?"
"Mereka semua meninggal di tempat" balasnya setelah menggeleng. "Untung korban sudah dievakuasi sebelum mobil meledak, salah satu jenasah seorang anak balita berumur satu tahun" jelasnya.
Ibu Nur turut prihatin, dia hanya bisa bantu doa semoga korban tenang di alam sana, dan yang tinggalkan bisa menerimanya dengan tabah dan ikhlas. Ibu Nur mengajak suaminya untuk melanjutkan perjalanan, karena hari makin gelap.
Selang beberapa menit berjalan, terdengar suara tangisan anak kecil, merekapun berhenti lagi untuk memperjalas kembali, apakah mereka salah dengar atau tidak.
"Apa Ibu mendengarnya juga?" tanya sang Suami sambil celingukan.
__ADS_1
"Iya Pak, suara tangisnya sangat jelas" balasnya.
"Apa Ibu ingin mencari asal suara tangisan itu? Ini sudah petang, kita akan sampai larut malam."
"Tapi Pak kasihan anak itu, tangisnya seperti sedang ketakutan!"
"Iya Bu, tapi ini masih di daerah hutan, jangan sampai hanya sosok makhluk yang meniru suara, kan ini menjelang malam, waktunya mereka berkeliaran."
Ibu Nur mengabaikan ucapan sang suami dia malah jalan mendekat ke salah satu pohon di mana asal suara tangis itu berada. Ya walaupun rasa takut itu ada, apalagi hanya mereka berdua, dan tidak ada lagi kendaraan yang lewat. Tapi dia memberanikan diri karena penasaran.
Betapa terkejutnya, saat dia tiba di balik pohon itu. Seorang Anak balita, sekitar umur satu tahun sedang duduk, dan menangis kencang, Anak itu terlihat bingung dan juga ketakutan.
Ibu Nur menghampiri dan menggendongnya, menimang-nimangnya berharap Anak itu berhenti menangis.
"Astaga Bu, Anak siapa itu? Kenapa berada di sini?" tanya sang Suami setelah dia menyusul.
"Ibu juga tidak tau Pak, kasihan sekali kamu Nak, pasti kamu ketakutankan? Jangan menangis lagi ya? Ibu ada di sini!
"Bagaimana kalau kita serahkan sama polisi yang tadi Bu!" usulnya.
"Iya Pak, pergilah panggil mereka! Ibu akan menunggu di sini."
Sang suamipun pergi di mana polisi itu berada, tapi setibanya di lokasi kecelakaan itu tidak terlihat siapa-siapa lagi, bekas ledakan mobil itu juga sudah padam. Dia kembali menemui sang Istri dan memberitahunya.
Tidak ada cara lain lagi, kalau bukan membawanya pulang, tentu Paksutri itu tidak tega meninggalkannya di tempat gelap seperti itu. Mereka berjalan di tengah ke gelapan dengan penerangan yang minim. Sang Anakpun mengerti, selama perjalanan dia tidak rewel sama sekali.
Beberapa menit berlalu tibalah mereka di rumah. Meletakkan Anak itu di atas kasur yang sedang tertidur, "Anak yang tampan, malang sekali nasibmu Nak!"
Keesokan harinya, Ibu Nur hanya mampu membuatkan bubur nasi yang di saring, dia tidak mampu membeli yang lainnya apalagi sebuah Sufor, dia merasa legah sang Anak makan begitu lahap.
"Bu, apa kita bawa ke kantor polisi?" tanya Pak Suami tiba-tiba.
"Tunggu sampai ada berita kehilangan saja Pak, baru kita membawanya."
"Hmm kenapa tidak sekarang saja Buk? Ah jangan sampai anak ini keluarga yang mengalami kecelakaan kemarin!"
"Tapi polisi bilang, semua korban meninggal di tempat termasuk Anak yang masih berumur balita. Jadi tidak mungkin Anak mereka."
"Iya juga sih, jadi Ibu ingin merawatnya sampai ada berita kehilangan Anak? Terus Ibu akan jawab apa jika tetangga bertanya?"
"Emm bilang saja anak adopsi kita Pak!" jawab sang Istri cepat.
Ya mereka belum juga di karuniai seorang anak, mereka sudah menunggu, berusaha, bersabar dan berdoa. Tapi menjelang tujuh tahun pernikan belum ada hasil sama sekali.
__ADS_1
~Flasback Off