
"Ya, tapi untuk apa kamu mencariku? Dan dari mana kamu mengenal Ibu Mira?" tanya Viona lagi.
"Karena bayi itu adik dari temanku yang kena tembakan itu, dia datang ke negara ini bersmaku untuk mencarimu. Dan aku tidak mengenal Ibu Mira, aku hanya tau saja nama dengan wajahnya dari kamera CCTV di Rumah Sakit."
Viona syok. Jadi selama ini dia sudah bertemu dengan kakaknya tapi tidak menyadarinya. Bahkan dia sempat mendonorkan darahnya, dan waktu itu dia tidak curiga sama sekali, karena banyak orang yang sama dengan golongan darahnya.
Viona juga mengingat beberapa hari yang lalu, dia sempat mengeceknya dengan cara meretas. Tapi tidak ada terlihat wajah Mira, tapi dia tidak bodoh, rekaman dari CCTV itu ada yang mengahapusnya tanpa permanen, dia mengembalikan kembali rekaman itu. Makanya Rian dan Tomi juga bisa dapat petunjuk dari situ. Tapi siapa orang yang mencoba menghilangkan bukti itu? Pertanyaan itulah yang ada di benak Viona.
"Apa perkataanmu bisa di percaya?" Viona belum mempercayainya penuh, dia butuh bukti yang kuat. Karena ini menyangkut keluarganya.
"Aku memang tidak punya bukti, jadi wajar saja kamu tidak percaya. Atau begini saja, aku akan mempertemukanmu dengan Rian!" usulnya.
Viona bingung apakah dia harus sedih atau bahagia mendengar kabar ini. Jika dia akan bertemu dengan keluarganya. Apakah dia siap mendengar alasan kenapa dia titipkan dengan orang lain. Dan ternyata Tidak sesulit apa yang dia bayangkan, dia sudah di pertemukan dengan Kakaknya dengan cara menolongnya.
"Rian! Siapa dia?"
"Dia Kakakmu! Ehh maksudku dia teman yang waktu itu" balasnya. "Nanti aku akan menceritakan lebih detailnya, kita ke Apartemen terlebih dahulu bertemu dengan Rian, Aku sudah meninggalkannya terlalu lama dalam keadaan kurang sehat."
"Apaa? Bagaimana bisa kamu meninggalkannya kalau dia sedang sakit! Ayo kita pergi" Viona terlihat semangat tapi juga sedikit khawatir.
Tomi membeo melihat reaksi Viona, dia berpikir akan sulit untuk mengajaknya. "Ehh iya ayo" balasnya menyusul Viona keluar.
Mira sudah pulang atas perintah Viona, dan tidak lupa menyuruhnya untuk mengatakan semuanya jika Pak Doni bertanya tentang dirinya. Viona dan Tomi mengendarai mobil masing-masing menuju Apartemen.
Di tengah perjalanan saat mendapat lampu merah, Tomi baru mengecek ponselnya, dia kaget saat melihat ada banyak panggilan tidak terjawab dari Rian dan juga ada pesan peringatan SOS.
"Astaga Rian!" ujarnya dan melajukan mobilnya setelah lampu hijau. Dia melupakan keberadaan Viona di belakangnya yang masih setia membututinya.
Viona bingung melihat Tomi yang tiba-tiba melaju kencang, dia sangat yakin jika sudah terjadi sesuatu. Dia mengejar Tomi yang jauh di depan, tapi itu bukan hal yang sulit baginya.
Tiba di Apartemen Tomi segera naik di mana gedung mereka berada, yang di susul oleh Viona sambil berlari kecil.
__ADS_1
Ting. Pintu terbuka dan segera masuk ke dalam. "Rian! Rian!" panggilnya sambil mencari sekeliling. "Riaaannnn! Riaaaann!" suaranya makin meninggi tapi orang di carinya tak kunjung menyahut.
"Di mana dia? Apa terjadi sesuatu dengannya?" tanya Viona yang sama khawatirnya dengan Tomi.
"Aku tidak tau dia kemana! Tapi kalau dia cuman keluar untuk keperluan, untuk apa dia kirim pesan peringatan bantuan? Dan sekarang ponselnya tidak bisa di hubungi."
...----------------...
Di dalam ruangan yang gelap, di mana seseorang dalam kondisi memperihatinkan, tangan dan kakinya terikat, mulutnya di tutup menggunakan kain.
"Di mana aku? Kenapa tempat ini gelap sekali?" tanyanya dalam hati yang bingung melihat suasana baru. "Astaga aku di culik! Dan ponselku? Arrgghh brengsek!" umpatnya emosi setelah mengingat kejadian yang menimpahnya dan ponselnya rusak di banting seseorang, untung dia masih sempat mengirim pesan kepada Tomi. "Tomi semoga kamu sudah melihat pesanku!"
Tak tak tak, terdengar langkah kaki berjalan mendekat. Membuka pintu dan masuk ke ruangan di mana Rian berada. Ruangan menjadi terang saat dia menyalakan lampu.
"Hai keponakan, akhirnya kita berjumpa lagi! Apa kau masih mengenal pamanmu ini?" tanyanya sembari menarik kursi lalu duduk di hadapan Rian.
Mata Rian melotot, dia menatap wajah yang mengaku sebagai pamannya dengan intens. Dia hanya pernah melihatnya sekali saat umurnya masih balita. Tapi dia mengingat batul di wajah pamannya itu anda tanda goresan seperti bekas sayatan. Dan orang yang di hadapannya juga memiliki bekas yang sama. Yang berarti, orang itu benar pamannya Kakak dari Ibunya. Sekaligus orang yang sudah menghancurkan keluarganya
"Hahahah kamu pasti senangkan bertemu denganku! Oh ya, bagaimana kabar orang tuamu? Emm biarku tebak, pasti mereka dalam keadaan baik-baik saja kan! Tapi hidup dalam penyesalan dan juga kerinduan hahaha."
"Emmm,, emmm" ingin rasanya Rian memukul mulut pamannya itu. Bisa-bisanya dia menertawai keluarganya sendiri. Keluarga! Apa orang seperti itu masih bisa dianggap keluarga?
"Hahahah Sstttt, kamu diam saja jadi pendengar yang baik ok!" pintahnya. "Aku dengar, kamu sedang mencari adikmu yang di buang itu? Tapi sayang sekali kalian tidak akan pernah bisa bertemu."
"Karena kamu!" tunjuknya dengan suara meninggi. "Akan menggantikan nyawa orang tuamu hahahah."
Setelah berbicara panjang lebar, dia meninggalkan Rian dan menutup kembali pintunya. Entah kenapa dadanya tiba-tiba jadi sesak.
...----------------...
Disisi lain, Viona dan Tomi sudah berada di jalan menuju lokasi Rian yang berada di tengah hutan, setelah dia menerima bantuan dari Zoya dan Aiden.
__ADS_1
Viona menelpon Zoya dan Aiden untuk meretas CCTV sepanjang jalan, setelah dia melihat hasil rekaman, ternyata ada dua orang yang membawa paksa Rian. Terlihat Rian tidak bisa membela karna orang-orang itu menodongkan belati. Jika dia berteriak minta tolong nyawanya langsung melayang.
Juga tak lupa melacak ponsel Rian dan terakhir kali aktif di daerah hutan.
Beberapa menit berlalu keduanya tiba di lokasi yang Zoya kirim. Terlihat rumah yang mewah pada umumnya, dan juga pagar tembok yang lumayan tinggi.
Tomi bingung kenapa ada rumah sebagus ini di dalam hutan. Tapi berbeda dengan Viona, menerutnya itu sudah biasa terjadi. Ada dua kemungkinan orang itu menyukai kesunyian, atau rumah itu sengaja di buat untuk tempat bersembunyi dari musuh.
"Apa Rian ada di rumah itu?" gumamnya.
"Ya dia ada di dalam rumah itu!" jawab Viona yakin, yang mendengar gumam Tomi.
Tomi menoleh dan terkejut bagaimana bisa Viona mendengarnya, ingin menanyakannya tapi ini bukan saatnya untuk ngobrol.
Viona menatap sekeliling, terlihat banyak penjaga yang bertugas di setiap sudut. "Pakai ini!" pintah Viona yang menyodorkan sebuah baju anti peluru.
Tomi menurut, dia memakainya dan menyelipkan beberapa pistol di saku baju itu. "Thanks, kamu juga harus memakainya!" sahutnya.
Viona sebenarnya tidak memerlukan itu. Tapi tidak ingin terlihat mencolok terpaksa dia memakainya. Tak lupa juga masker dan topinya, sebelumnya dia sudah berganti pakain, karena tidak leluasa bergerak jika bertarung menggunakan dres.
"Di mana orang kamu maksud ingin membantu kita?" tanya Tomi menoleh ke belakang mencari seseorang.
"Kamu akan melihatnya nanti, mereka hanya akan keluar saat mendengar perintahku! Jadi bagaimana apa kamu sudah siap?"
Bingung medengar penjelasan Viona tapi dia tetap menjawab. "Tentu aku siap, ini menyangkut nyawa seseorang."
Viona tersenyum kecil "Good! Kamu masuk lewat belakang, gunakan pistol angin itu dan berhati-hati lah!"
Tomi segera turun, berjalan secara perlahan dan mengendap-ngendap menuju pintu gerbang.
"Saatnya bermain" ucap Viona dengan wajah seriusnya, entah apa yang terjadi, pancaran matanya berubah jadi merah. "Kalian keluar! Kerjakan tanpa ada keributan. Sisahkan satu untukku!"
__ADS_1
"Baik nona" ucapnya tegas dan serempak.