KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
133. Jangan Rindu!


__ADS_3

Ke esokan harinya setalah makan siang bersama Viona mengajak Leo untuk berbicara sesuatu di ruang kerjanya.


"Ada apa Li?" tanya Leo penasaran.


Viona segera menjawab "Bukan apa-apa sih Kak, aku cuman pengen ajak Kak Leo untuk menjenguk Ray, katanya dia lagi sakit."


Leo menatap Viona, dia bingung harus jawab apa, "Emm bagaimana ya Li? Bukannya aku tidak ingin ikut, tapi takutnya nanti suasana di sana jadi canggung."


Viona terdiam, dia membenarkan ucapan Leo, tidak mungkin dirinya datang bersama, "Emm kamu benar Kak, pasti Ray masih memerlukan waktu menerima semuanya."


Leo mengangguk lalu berkata "Ya, itu maksudku Li" karena dia tau jika Ray juga mencintai Viona.


"Baiklah Kak, jadi tidak apakan aku pergi sendiri ke sana?" tanyanya yang meminta ijin.


Leo tersenyum bahagia, padahal tanpa persetujuannya Viona bisa saja pergi sesuka hatinya. "Hmm, sampaikan salamku ke padanya!"


Viona beranjak sembari berkata "Ok, nanti aku sampaikan! Ya sudah aku pergi ya? Jangan merindukanku!" candanya.


Leo juga ikut beranjak dan ikut keluar, "Aku tidak bisa! Pasti aku selalu merindukanmu. Ya sudah, kamu hati-hati ya?"


Viona hanya mengangguk sambil tersenyum, dia tidak menyangka, jika Leo makin hari makin pandai menggombalnya. Tapi itu membuatnya sangat senang.


...----------------...


Di tempat lain, terlihat Arlan mengantar Ibunya ke Terminal yang sudah ingin balik ke kampungnya. Dia ingin mengantar, tapi sang Ibu menolak.


"Apa Ibu yakin mau naik Bus?" tanyanya sekali lagi, berharap Ibunya berubah pikiran.


Ibu Ariana memeluk Anaknya, lalu berkata. "Iya Nak, kamu tidak usah khawatir! Jika kamu ada waktu luang, pulanglah untuk melihat Nenekmu!"


"Iya Bu, aku pasti balik ke kampung" balasnya. "Ya sudah Ibu naik! Busnya sudah mau berangkat!" pintanya.

__ADS_1


Ibu Ariana melepas pelukannya, dia sangat senang sudah bertemu dengan Anaknya. "Baik Nak, oh iya ingat pesan Ibu, Kamu jangan melakukan hal berbahaya dan kamu juga harus selalu jaga kesehatan!"


"Aku akan selalu mengingat pesan Ibu" balasnya, dan melambaikan tangannya setelah Ibunya sudah naik ke Bus.


"Hah, ibu tenang saja! Aku tidak akan melakukan hal jahat yang seperti Ayah lakukan, meskipun saat itu Ayah memintaku untuk melanjutkan misinya. Cukup sampai di sini, jangan ada korban lagi. Jika aku bertemu dengan keluarga yang menjadi target Ayah itu, aku akan langsung meminta maaf ke pada mereka. Dan buat Ayah, semoga dosa-dosa Ayah diampuni dan bisa tenang di alam sana" ucapnya dalam hati, yang ternyata selama ini dia tau semua kejahatan Ayahnya, tapi dia hanya diam, dia tidak bisa mencegah karena Ayahnya memiliki koneksi yang kuat.


...----------------...


Viona yang baru tiba di kediaman Duke, dia sambut oleh Momy Lidya yang terlihat bahagia melihat kedatangannya.


Dia langsung memeluk dan bertanya.


"Bagaimana kabar Momy? Sehat kan? Maaf aku baru sempat datang!"


Momy Lidya melepaskan pelukan Viona dan mempersilahkan duduk. "Momy sehat Nak, tidak apa-apa, kamu pasti sangat sibuk mengurus Restoran."


Viona melihat ada kesedihan yang mendalam di raut wajah Momy Lidya, meskipun dia tersenyum bahagia. "Ya begitulah Mom, oh iya Mom bagaimana kondisi Ray apa sudah baikan?"


"Dia sudah lebih baik dari kemarin, Momy sangat sedih melihatnya, entah masalah apa yang dia pikirkan sampai dia sakit."


Momy Lidya mengangguk, "Silahkan Nak! Pasti dia sangat senang melihatmu datang."


Viona beranjak mengikuti Momy Lidya ke lantai dua di mana kamar Ray berada. Sesampainya di atas, Momy Lidya menyuruh Viona masuk tanpa dirinya, agar mereka bisa berbicara berdua.


"Momy tinggal ya Nak? Nanti Bibi yang antarkan minum!" ucapnya.


"Baik Mom aku masuk dulu, maaf sudah merepotkan" balasnya lalu masuk setelah Momy Lidya sudah tidak terlihat lagi.


Ceklek


Viona membuka pintu setelah mengetuk pintu, dia langsung melihat Ray yang terbaring di tempat tidur dengan wajah pucatnya. Dia meletakkan buket bunga di atas meja yang dia beli saat perjalanan tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba Ray bangun, dia sangat terkejut melihat Viona berada di sampingnya. "Eh Vio kamu datang?" tanyanya yang berusaha untuk duduk.


Viona langsung mencegahnya. "Kamu baring saja! Jangan paksakan dirimu! Dan maaf tadi aku langsung masuk setelah mengetuk pintu."


Ray kembali berbaring, dia memang masih merasa sedikit pusing, "Tidak apa kok, kamu dari tadi? Datang sama siapa?"


Viona mengerti akan pertanyaan Ray, yang mana pasti menanyakan keberadaan Leo. "Belum lama, tadi sempat ngobrol sebentar sama Momy di bawah, dan aku datang sendiri, yang lain cuman titip salam dan maaf, karena mereka belum sempat datang."


"Hmm, tidak masalah, aku cuman sakit demam. Tapi aku senang kamu datang" ucapnya.


"Kenapa? Apa kamu memaksakan diri untuk melupakan perasaanmu? Kumohon jangan membuatku khawatir dan ini membuatku sangat bersalah."


Ray terdiam, dia tidak mengelak, karena apa yang dikatakan Viona adalah benar. "Maaf, aku hanya berusaha, makanya bekerja seharian, dan jangan minta maaf! Kamu tidak bersalah. Aku yang salah, dan mungkin ini salah satu risikonya."


"Tapi kamu tidak boleh mengabaikan kesehatanmu! Kamu tidak salah untuk memulainya, tapi jangan langsung, kamu bisa memulainya dengan perlahan."


Ray terdiam, dia merasa malu pada dirinya sendiri. Dia memjamkan matanya, kerena sakit kepalanya makin bertambah.


Viona yang melihat itu langsung berkata, "Hm jangan dipikirkan lagi! Kamu harus memikirkan kesehatanmu terlebih dahulu. Apa kamu perlu sesuatu?"


"Tidak, aku hanya ingin kamu berada di sini lebih lama lagi" pintanya.


Viona yang merasa kasihanpun hanya bisa mengiyakan. "Ya sudah kamu tidur lagi! Aku akan tetap di sini menjagamu."


Ray menurut, efek obat membuatnya selalu mengantuk, dan tak butuh waktu lama dia sudah berada di alam mimpi.


"Huff, ini memang juga salahku, aku sudah membiarkannya untuk tetap mengejarku, dan selalu menerima perhatian yang dia berikan. Tapi apa aku salah? Jika aku berharap kasih sayang dari orang-orang yang dekat denganku!" gumamnya pelan.


Viona menatap Ray yang tertidur pulas. "Kenapa jika diperhatikan, dia terlihat mirip dengan Kak Leo? Ah tidak mungkin, Ray pernah bilang jika Adiknya sudah meninggal. Tapi kenapa Kak Leo tidak pernah bercerita hal itu, apa dia tidak ingin mencari keluarganya?"


"Aku ingin bertanya, tapi takutnya Kak Leo marah, menganggapku terlalu ikut campur dalam masalah keluarganya. Tapi, aku sangat penasaran, apa aku tanya Ibu Nur saja?"

__ADS_1


"Nah kan, baru juga menyebut namanya, aku sudah merindukannya, padahal tadi aku yang memintanya untuk tidak merindukanku!" lanjutnya dalam hati sambil tersenyum.


Jika kamu kehilangannya, itu karena kamu ditakdirkan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik. Percayalah, lepaskan, dan berikan ruang untuk apa yang akan datang.


__ADS_2