KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
116. Sadar


__ADS_3

Seminggu berlalu, Viona masih terbaring di dalam ruang ICU. Belum ada tanda-tanda jika dirinya akan terbangun dari komanya.


Mereka bergilirin datang hanya untuk menjaga Viona, Tuan Bas memesan kamar untuk mereka beristirahat jika sudah lelah duduk di depan ruang ICU.


Rian sudah menyelidiki penyebab terjadinya kecelakan, Kedua korban sama-sama bersalah. Sopir mobil truk mengemudi dalam keadaan mengantuk, sedangkan Viona, melamun sampai melanggar lalu lintas. Kedua pihak keluarga hanya bisa berdamai, karena bukan cuman sama-sama bersalah tapi keduanya mengalami luka parah.


Saat ini yang berjaga di depan Ruang ICU adalah Leo. semenjak Viona koma dia balum pernah masuk, dia tidak berani melihat kondisi Viona. Dia benar-benar merasa bersalah. Dan semenjak itu juga, Ibunya masih selalu menangis, karena diapun merasa bersalah.


Puk


Seseorang menepuk pundak Leo. "Jangan terlalu dipikirkan! Emm apa kamu tidak ingin masuk melihatnya?" tanyanya.


Leo menoleh, ternyata Rian yang datang menghampirinya. "Aku ingin sekali melihatnya. Tapi, rasanya aku tidak sanggup melihatnya terbaring lemah seperti itu"


"Kami semua merasakan hal yang sama. Tapi kami menguatkan diri, membarinya semangat agar dia mendapat dorongan untuk bangun. Kami semua juga sudah sering masuk ke dalam, mengajaknya berbicara meskipun tidak ada respon. Apa kamu tidak ingin mencobanya? Siapa tau setelah kamu berada di sampingnya, ada sedikit kemajuan."


Leo termenung, dia memikirkan ucapan Rian. Dirinya tidak boleh jadi lelaki lembek seperti itu. Dia harus kuat menerima kenyataan yang terjadi. Dia menoleh dan menatap Rian. "Baik Bang. Aku akan masuk."


"Nah gitu kek dari kemarin! Daripada kamu cuman duduk di sini. Ya sudah masuk sana! Aku akan berjaga di sini." sahut Rian bersemangat.


Leo beranjak, menuju pintu ruangan. Dia membuka pintu perlahan, sebelum dia masuk dia kembali menoleh melihat Rian, setelah mendapat anggukan dia benar-benar masuk dan memakai baju khusus.


Leo belum mendekat tapi matanya sudah berkaca-kaca. Dia memegang dadanya tiba-tiba sesak, hatinya sakit melihat orang yang dia cintai terbaring dengan banyak alat-alat yang menempel.


Leo berjalan perlahan, sampai tiba di samping brangkar Viona. Air matanya sudah mengalir di pipinya. Dia duduk di kursi yang tersedia.


"Maaf! Maafkan aku Li. Kamu harus bangun untuk membalasnya, bangun dan pukul aku, jangan tidur terlalu lama! Jangan membuat mereka terlalu lama menunggu."

__ADS_1


Leo menggenggam tangan Viona yang putih pucat. "Aku memang lelaki jahat, aku sudah membuatmu kecewa, aku lelaki pecundang yang hanya bisa diam jika mendapat masalah. Kamu harus bangun Li, mereka semua merindukanmu."


"Tidak masalah jika kamu tidak mau memaafkanku, tapi jangan tidur terlalu lama. Kamu ingin taukan, kenapa aku menghindarimu? Sebelumnya aku sudah pernah bilang kalau aku mencintaimu, tapi aku harus melupakan perasaanku itu. Ya itulah alasannya. Tapi apa, semua hanya sia-sia perasaan itu masih sama, dan apa yang aku lakukan malah membuatmu celaka" Lagi-lagi dia mengungkapkan perasaannya di saat Viona memejamkan mata.


"Aku janji akan mengatakan semua ke padamu, Tapi kamu harus bangun, dan sehat seperti dulu."


Leo mengusap kepala Viona, dan dia mengikuti nalurinya untuk mencium kening Viona. Sampai air matanya menetes di pipi Viona.


"Maaf sekali lagi. Kamu harus bangun ya? Kamu wanita kuat." ucapnya lalu beranjak, dia ingin keluar karena merasa sudah terlalu lama di ruangan itu.


Tapi sebelum berbalik dia mendekatkan kembali kepalanya dan membisikkan sesuatu di telinga Viona. "Aku Mencintaimu!"


Segera berbalik, dia tidak sanggup menahan sesak di dadanya, rasanya dia ingin menangis sekencang mungkin.


Tes


Di luar ruangan, ternyata ada Ray menemani Rian. Dia datang juga untuk menjenguk Viona, hampir setiap hari dia masuk dan memberi Viona semangat dan doa.


Pintu terbuka, tampaklah Leo dengan mata sembabnya. Rian memaklumi, dia saja selalu menangis jika masuk di ruangan itu. "Bagaimana? Legahkan? Tidak apa, kita harus bersabar dan mengirimkan doa."


Leo mengangguk, dan dia pamit untuk ke toilet. Dia ingin membersihkan sedikit wajahnya. Dia merasa malu dilihat oleh orang lain dengan wajah sembab seperti itu.


Seperginya Leo, seorang Dokter dan perawat datang. Dia ingin melakukan pemeriksaan ke pada kondisi Viona. Rian mempersilahkan, dan Ray harus menunda untuk masuk.


Belum beberapa menit Dokter dan perawat masuk, sudah keluar kembali. Rian bingung dan sedikit khawatir mungkin terjadi sesuatu dengan Viona.


"Loh kok keluar lagi Dok? Tidak jadi pemeriksaanya? Adik saya baik-baik saja ka?" tanyanya beruntun.

__ADS_1


Dokter malah tersenyum bahagia, lalu berkata. "Pasien sudah sadar, dia sudah membuka matanya. Kondisinya sudah membaik. Dan sebentar lagi akan dipindahkan di ruang perawatan."


Rian dan Ray mematung, kabar bahagia yang ingin mereka dengar akhirnya tersampaikan. "Ahh syukurlah! Aku akan mengabari yang lainnya. Ray kamu ikut ke ruangan Viona!"


Ray langsung mengangguk, dia memang datang ke Rumah Sakit untuk menjenguk Viona. Dia menunggu para perawat mengeluarkan Viona dari ruang ICU.


Rian berjalan ke halaman Rumah Sakit, terlihat ada taman bunga di sana. Banyak pasien yang sedang menikmati suasana di situ. Dia duduk di salah satu bangku dan merogoh ponselnya.


Tapi tiba-tiba dia teringat dengan ucapannya ke pada Leo. Di mana dia mengatakan, siapa tau ada sedikit kemajuan jika Leo berada di samping Viona. Dan benar saja, bukan cuman sedikit kemajuan, bahkan Viona sampai membuka matanya. Dia tersenyum lalu menelpon orang tuanya dan yang lainnya.


Setelah melakukan panggilan dia bergegas ke ruang rawat Viona yang berada di VVIP 1, sebelum masuk, tiba-tiba dirinya teringat kembali dengan Leo yang pamit ke toilet tapi tak kunjung kembali.


Dia masuk ke ruangan Viona, siapa tau sudah berada di dalam. Tapi dia hanya melihat Ray dan Viona.


"Dek!" Rian langsung memeluk Viona, dia sangat bahagia melihat Viona sadar dari komanya. Ya walaupun masih ada perban yang terlilit.


"Apa masih ada yang sakit Dek?" tanya Rian lagi.


"Tidak Kak, cuman sedikit pusing dan badanku terasa kaku" balasnya


"Hmm itu wajar, nanti akan pulih kembali. Sebentar lagi Dady dan Momy akan datang, mungkin mereka sudah di jalan."


"Kapan mereka datang? Apa urusan di sana sudah selesai?" tanya Viona lagi


Rian duduk di samping Viona, "Dek kamu lebih penting dari pekerjaan. Mereka langsung terbang setelah mendengar kamu kecelakaan."


Mendengar kata kecelakaan, memorinya kambli terputar, di mana dia mengemudi dalam keadaan melamun.

__ADS_1


Ray membiarkan keduanya berbincang, karena dia sudah berbincang terlebih dahulu, saat Rian masih di taman. Dia juga sudah mengabari Momynya, melalui pesan, tapi untuk datang menjenguk Viona biar besok saja. Ruangan itu akan penuh jika semuanya datang bersamaan. Viona baru saja sadar, dia masih perlu banyak istirahat untuk pemulihan.


__ADS_2