
Neta terus menatap mobil viola dan dia semakin ke tengah. “Jangan macam-macam kamu yah!!” Peringatan polisi itu dengan curiga gelagat Neta.
Neta berpikir bagaimana caranya agar polisi ini menjaga jarak dengan dia, Neta tersenyum licik. “Pak saya ada urusan, jadi mobilnya bawa saja. Dan awas aja yah kalau mobilnya sampai lecet, bapak harus ganti rugi. Kalau gak pakai uang juga bisa, yaitu bapak harus menikah dengan saya,” Neta Mengerlingkan satu matanya kepada polisi itu. Polisi itu menautkan kedua alisnya, dia berpikir sering kali dia di rayu tapi baru pertama ini yang dapat lebih parah.
Viola sudah mulai mendekati Neta dengan pelan, Viola menyetir dan membukakan pintu mobil depannya agar Neta langsung masuk dengan mudah.
Neta yang sudah siap dan tau itu mobil sahabatnya langsung memasang kuda-kuda biar pas masuk ke dalam mobil viola. “Sedang apa kamu?” tanya polisi itu terheran-heran melihat Neta seperti kerasukan saja.
BRUMMM....
Neta melompat ke dalam mobil viola dengan daratan yang sempurna. “Bye pak, hubungi ke nomor yang ada di kartu itu yah!!” Teriak Neta setelah dia melempar kartu nama seseorang.
Semua polisi terdiam masih bingung harus melakukan apa. “Kenapa Kalian diam saja cepat kejar mobil tadi!!” Teriak polisi yang baru saja sadar kalau Neta melarikan diri, padahal dia berada di samping Neta.
“Baru pertama kali ada yang kabur,” geram polisi itu.
Polisi lain memungut kartu nama yang baru saja di lempar Neta. “Pak gadis itu meminta kita menghubungi nomor yang ada di kartu ini,” Menyerahkan kartu nama. Lelaki itu mengambil kartu namanya dan segera menelepon ke nomor yang tertera di kartu itu.
Tringggggg... Tringggggg...
Seno dan Jino sedang asik main catur, terpaksa berhenti sejenak saat telphon Seno berdering.
“Siapa? Tanya jino yang melihat raut wajah Seno berubah.
“Entahlah, Nomor tidak di kenal,” memperlihatkan ke Jino.
“Angkat tau aja penting,” ucap Jino yang fokus dengan caturnya karena dia yang kena giliran.
Seno segera mengangkat telphon itu, dengan perasaan yang tidak karuan.
“Hello?” ucap Seno dengan hati-hati takutnya penipuan dan sebagainya.
“Apa benar ini pemilik mobil xxxx?” Tanya polisi itu yang kini sedang merokok dan mengawasi lalu lintas.
“Iya benar, anda siapa yah?” Tanya Seno yang kini penasaran, Jino masih Fokus dengan caturnya agar bisa mengalahkan Seno.
__ADS_1
“Skakmat!!” Jino tersenyum puas dan menaik turunkan alisnya, Seno masih fokus dengan telphon nya.
Jino menaikkan ujung alisnya, tanda dia bertanya kepada Seno apa yang terjadi. Seno mengangkat bahunya kalau dia juga masih belum tau.
“Saya dari pihak polisi pak, apa bapak bisa ke kantor polisi sekarang?”
“Apa!! polisi?” Seno langsung berdiri dan meminta Jino mengantarnya ke kantor polisi, Jino yang bertanya-tanya apa yang terjadi, tapi Seno malah diam dan berusaha menahan amarah.
Tiba di kantor polisi.
Seno terkejut mobil kesayangan dia berada di kantor polisi dan itu adalah olah dari Neta. Sampai istri kesayangan dia masuk ke kantor polisi. “Neta!! Awas aja yah kamu, di mana anak itu sekarang?” Seno bergegas masuk ke dalam dan meninggalkan Jino sendirian di luar.
“Ckckckc... Malang sekali nasib kamu, mobil.” Jino hanya tersenyum dan segera menyusul seno, Jino takut kalau Seno akan mengamuk di dalam sana.
“Dengan pak Seno?”
“Iya pak saya sendiri, Sekarang di mana adik saya yah pak?” Tanya Seno setelah dua duduk berhadapan dengan polisi dan berusaha menahan emosi.
“Dia langsung lari dan menyerahkan kartu ini ke saya,” Jawab polisi sambil memperlihatkan kartu nama Seno.
“Adik kamu juga itu,” ucap Jino yang terlihat santai tanpa beban, sedangkan Seno sangat kacau melihat benda kesayangan dia berada di kantor polisi.
“Baiklah pak, ini suratnya dan saya akan Pastikan kalau adik saya akan datang ke persidangan,” Seno menyerahkan STNK mobil, setelah itu berjabat tangan dan pergi keluar.
“Apakah tidak bisa bayar denda saja, biar lebih cepat?” Usul Jino ke pada Seno setelah mereka berdua keluar dari kantor polisi.
“Tidak!! Kita harus memberikan contoh kepada yang lainnya, apa lagi kita adalah Keluarga terpandang, dan anggap saja ini pelajaran buat adik kita tersayang itu.” Seno tersenyum licik entah apa yang dia rencanakan nanti.
Apa yang di katakan Seno benar, dan Jino juga setuju dengan pemikiran Seno. Bagaimana pun hukum tetap hukum.
Seno langsung memeluk mobilnya, mencium dan mengusap-usap mobil kesayangan dia. "Aku kangen kamu sayang, apa kamu tidak kangen aku? hemmm?" Ucap Seno yang tidak mau lepas pelukannya.
"Ahhh sayang, aku mencintaimu, emmmuachh.." Seno terus mencium mobil dengan bertubi-tubi tanpa hentinya, Jino yang melihat pemandangan itu sangatlah menjijikkan baginya.
"Astaga!! apa kamu tidak malu di liatin orang-orang heh?" tanya jino yang berdiri di belakang Seno dan memperhatikan pandangan orang lain kepada Seno.
__ADS_1
Seno segera bangun dan memperbaiki jaket kulitnya, yang berwarna hitam. Setelah selesai memperbaiki penampilan nya, Seno tersenyum ke semua orang yang memperhatikan nya tadi.
"Duh... jantung gue rasanya mau copot melihat senyumnya," Ucap salah satu yang baru saja memperhatikan Seno.
"Cepetan masuk!! Malah tebar pesona,"
Jino dan seno langsung meninggalkan kantor polisi, mereka memilih santai di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarganya di bandingkan jalan keluar gak jelas.
Selagi ada waktu bersama keluarga, jangan kamu sia-siakan kesempatan itu, karena banyak di luar sana mengharapkan kesempatan itu, bisa bersama dengan orang yang kita cintai itu adalah kebahagiaan yang tidak ada duanya .
****** ****** *******
Setelah sampai di rumah Meta, Neta dan viola bergegas masuk tanpa permisi.
"Meta, buka pintunya nak,"
"Itu bukannya suara mami yah?" Tanya Neta dan viola mengangguk, mereka langsung berlari dan menuju ke kamar meta.
Neta melihat ada titisan darah menuju kamar meta. "Jangan bilang?" Gumam Neta dan berlari secepat mungkin.
"Syukurlah kalian datang, mami minta tolong bujuk meta keluar dari kamarnya, hiks... Tadi Dia keluar terus sampai sekarang dia tidak keluar lagi!! hiks... tolong mami, hiks..."
"Mami tenang yah, kami pasti bantuin mami kok," Viola berusaha menenangkan maminya meta.
Tok... tok.... tok...
"Meta?" Panggil Neta dengan lembut, Neta melirik ke arah viola dan meminta mami sama papi meta pergi dari sini dan serahkan semuanya kepada Neta.
"Meta dengarkan aku, ini aku Neta. Kita bicarakan baik-baik, kamu buka pintunya yah?" Neta berusaha membujuk meta agar meta mau membukakan pintu kamar.
Meta sama sekali tidak bergeming dan itu membuat Neta khawatir, apa lagi melihat darah. Dan itu sudah pasti darah meta.
"Meta kamu gak sendiri, kamu kalau ada masalah ceritakan ke kami jangan di pendam begini, hiks... aku mohon buka pintunya meta!!" Teriak Neta tapi dia usahakan emosinya tidak keluar.
Tidak ada jawaban sama sekali, hanya ada suara tangis di balik pintu, Neta bisa pastikan kalau meta sekarang berada di balik pintu itu.
__ADS_1
"Apa gue harus dobrak pintunya aja?" Gumam Neta, Neta berusaha mencari ide agar meta tidak terluka saat dia mendobrak nanti.