KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
*KASIHAN*


__ADS_3

Meta langsung di bawa ke kamarnya sedangkan Neta masih bingung dia harus bagaimana. Melihat orang tuanya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi, viola langsung menjelaskan semuanya, mengenai Pengawal. Neta meminta mereka untuk pergi, walaupun sempat debat dengan mereka tapi Neta lakukan agar Neta tau apa rencana Meta kali ini tapi tidak menyangka rahasia yang di sembunyikan oleh keluarga Yuan terungkap semuanya.


Neta kasihan padahal Berliana sebenarnya orang yang baik, andai. Andai orang tuanya Memberi perlakuan yang adil terhadap dirinya mungkin dia tidak akan berbuat senekat ini dan mencelakai sahabatnya sendiri. Ternyata didikan orang tua itu akan mencerminkan kepribadian sang anak kelak, kalau sampai sang anak itu menyimpang berarti kurang mendapat perhatian dari keluarganya dan sebaliknya juga begitu. Neta mengambil hikmah di setiap kejadian ini, dan peran orang tua sangat penting untuk anaknya kelak.


“Kamu kenapa?” tanya Viola dengan nada panik, Neta melihat kakinya yang bengkak dan mengerutkan alisnya, percuma baginya di kasih obat-obatan, kalau kakinya tidak sembuh-sembuh juga. “Kaki Neta harus di urut deh Rika, lihat kakinya yang bengkak mau di suntik Bagaimana pun gak akan hilang-hilang bengkaknya.” Ucap mama Viola melihat kondisi Neta yang sangat kasihan. “Apakah harus seperti itu?”


Neta yang mendengar kata urut saja bulu kodoknya sudah berdiri tegak apa lagi kalau sampai di urut bisa runtuk tuh bulu kodok. Pikir Neta dengan ekspresi yang tidak suka. “Iya sayang harus di urut,” jawab mama viola dengan Membelai kepala Neta, ada rasa lucu juga melihat Neta seperti ketakutan begitu.


“Mah aku ingin pulang.”


Rika menghentikan kegiatannya yang sedang mengupas apel. “Kamu belum sembuh Neta, harus istirahat dan perlu di rawat lagi,”


Neta memanyunkan bibirnya dan menatap Viola untuk meminta bantuan. “Apa yang di katakan mama benar, baru kemarin kamu melakukan operasi yang bisa merenggut nyawa kamu, jadi janga aneh-aneh deh kami Net, dan kemarin luka kamu kan, Emma,” belum sempat Viola selesai berbicara Neta langsung memasukkan apel ke dalam mulut Viola.


“Kenapa Neta?”


Menajamkan tatapannya ke arah Neta, Neta langsung menangkis tatapan Rika dengan tersenyum lembut lalu Melotot ke arah Viola. “Vi,” Viola meneguk Salivanya dengan kasar dan hanya bisa cengengesan. “Kemarin Neta mau keluar lagi mam,”. Tersenyum kikuk.


Rika masih menatap mereka berdua dengan tidak percaya, lalu tersenyum dan mencubit pipi Neta dengan gemas. “Kamu harus istirahat sayang jangan melakukan yang bikin mama khawatir, paham?!” ujar Rika mencuil hidung Neta yang mancung.


Neta dan viola menghela nafas dengan sangat lega, kalau Rika percaya apa yang mereka katakan tadi. “Hampir saja,” gumam Neta, viola dengan rasa bersalahnya hanya tersenyum Canggung.

__ADS_1


“Rika aku pulang dulu, dan untuk kamu Viola temani Neta dan meta sampai keluar dari rumah sakit. Paham?”


Mama viola mencium kening Viola setelah itu mencium kening Neta dengan bergantian. “Cepat sembuh sayang,” membelai pipi Neta dengan lembut, Neta hanya tersenyum dan mengangguk.


“Kenapa sebentar doang sih?” gerutu Rika yang tidak ingin sahabatnya pergi baru bertemu sudah berpisah aja. “Aku harus pergi ke luar kota, aku dengar ada masalah di sana dan tolong jaga Viola yah,”


Wajah Viola langsung redup, belum sehari mamanya pulang langsung pergi aja bahkan viola belum sempat berbincang-bincang dengan mamanya. Neta menggenggam tangan Viola dan dengan cepat Viola mengubah ekspresinya dengan senyuman.


“Iya hati-hati di jalan,”


“Mama berangkat dulu sayang,” viola tersenyum menggelengkan kepalanya dia tidak ingin gara-gara dia mamanya tidak jadi pergi dan puluhan orang di sana akan kehilangan pekerjaannya kalau viola memilih egois.


******* *******


“Amanda dulu seorang anak pengusaha yang bisa di bilang cukup berpengaruh di kota ini, tapi dalam sekejap perusahaan itu bangkrut, hutang sana-sini dan saat ini sedang bersembunyi karena di kejar rentenir. Sekarang menjalani restoran kecil, hemmm...kalau restoran itu Runtuh berarti tidak ada lagi pemasukan bukan?”


Melempar kertas yang berisi kehidupan Manda. “Ini?!” menatap Seno dan Jino, Amanda langsung bersimpuh memohon kepada Seno dan Jino agar tidak menghancurkan usaha mereka.


“Aku mohon jangan hancurkan usaha keluarga saya,” pinta manda berharap mereka mengasihnya, Jino tersenyum sinis, di mana sifatnya yang dulu berani mengganggu adik kesayangannya dan menyombongkan kekayaannya yang menurut keluarga EUGINUS hanya sedikit itu. “Aku tidak akan menghancurkan usahamu, asal ada satu syarat yang harus kamu penuhi,”


“Lagian kami tidak sejahat itu,” gumam Seno dengan menatap tajam Amanda. “Tidak jahat apanya perusahaan yang susah payah di bangun ayahku dalam sekejap hancur, dan itu dia bilang tidak jahat?” batin Amanda menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“A... Ap...apa pun syaratnya akan saya lakukan.”


“Kamu pasti kenal Petra bukan?” Amanda langsung mengangguk. “Kalau begitu kamu pasti tau kelemahannya?” mendengar itu Amanda langsung terkujut, Amanda tidak sedekah itu dengan Petra sampai harus tau kelemahannya.


“Saya... Saya...”


Jino mengetuk jarinya di atas meja, dia tidak ingin mendengar alasan lain yang ingin dia dengar adalah kelemahan Petra itu saja. “Kalau itu saya hanya mengetahui ini saja, kalau Petra adalah anak tunggal dan tinggal di Inggris itu saja.”


“Saya juga tau itu, yang saya ingin tau kelemahannya, sehingga dia tidak bisa berbuat macam-macam terhadap Neta lagi,” Amanda mendongak. “Neta? Kenapa dengan dia?” tanya Amanda terdengar nada khawatir. “Bukan urusan Anda, jadi lebih baik anda ingat-ingat kelemahan Petra atau anda ingin...” Amanda mencoba mengingat semuanya dan ada sedikit ingatan tentang Petra tanpa sengaja dia mendengar sedikit. “Aku tidak yakin tentang ini, Petra takut dengan neneknya,. Neneknya adalah satu-satunya keluarga yang paling dia sayangi, kalau sesuatu yang berani menyakiti neneknya maka orang itu harus siap menerima akibatnya.”


“Baik itu manusia, binatang bahkan benda sekali pun akan dua hancurkan jika menggores neneknya.” Lanjutnya lagi, yang dengan percaya diri mengatakan itu, dulu Meta pernah mengatakan itu saat Amanda bertanya ternyata ada untungnya Amanda bertanya kepada Meta.


“Apa kamu yakin?”


Amanda mengangguk pasti. “Aku sangat yakin hal itu,” jawab Manda dengan menatap Jino. “Baiklah kau boleh pergi,” ucap Jino yang enggan menatap Amanda, saat dia menatap Amanda rasanya dia ingin menghancurkan wajah itu berkeping-keping sekarang juga. Kalau di ingat-ingat orang yang pernah menyakiti Neta sampai dia hampir kehilangan adik kesayangannya.


Amanda langsung keluar setelah dia memberi dalam. “Semoga dengan ini aku bisa menebus rasa bersalahku kepada Neta,” Batin Manda berjalan keluar dari ruangan Jino dan Seno.


“Kenapa kamu biarkan dia begitu saja?”


“Kalau dia berbuat macam-macam lagi dan berbohong bagaimana?” tanya Seno dengan nada sedikit meninggi. “Apa kamu pikir dia berani berbuat macam-macam?” Seno hanya terdiam dia masih kesal dengan Jino. “Kalau dia berbohong atau macam-macam kita hanya perlu menghancurkan semuanya.” Lanjut Jino yang mulai memberi penjelasan kepada adiknya yang satu ini. Seno menggeleng yang Seno pertanyakan adalah kenapa Jino langsung percaya begitu saja apa kata bocah tengil itu.

__ADS_1


“TERSERAH.” Seno langsung keluar dari ruangannya dan pergi meninggalkan Jino, Seno memutuskan untuk kembali ke rumah sakit dan menemani adik kesayangannya itu.


__ADS_2