
Sepanjang Perjalanan pulang, Jino terus menatap Neta dengan kagum. "Berhenti menatapku, Liat matamu memerah. Karena tidak berkedip sedikitpun." Memandang jalanan yang di penuhi pemandangan indah.
"Baru aku sadar ternyata di sini lebih tentram di bandingkan tempat asal ku dulu," batin Neta. menatap perkotaan yang di penuhi gedung-gedung pencakar langit.
Di sini bisa Neta lihat, sangat nyaman, aman dan juga tentram. Tidak ada pengemis jalanan dan sebagainya yang di anggap mengganggu.
"Ehemmm...Ehemmm..." pura-pura batuk.
"Apa sih Neta?" Tanya Jino.
"Lupakan saja" Sambil tersenyum dengan menunjukkan giginya yang putih.
"Aku gak nyangka, kamu seberani itu di depan umum." Tersenyum puas.
Dan aku gak nyangka, kalau kamu membiarkan adekmu di ejek dan di hina begitu saja di depan umum.
"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak akan membuat kamu malu," Menatap mata Jino.
"Aku minta maaf, aku tadi tidak membela kamu." Meraih tangan Neta. Neta sempat kaget mendengar Jino minta maaf kepadanya.
Neta langsung melepaskan genggaman Jino, Agak kesel juga. Kalau itu bukan Neta melainkan Neta yang asli, pemilik tubuh ini. pasti dia akan kabur dan melakukan hal bodoh. Neta tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
"Aku... Aku tau... kalau aku salah, seharusnya aku membela kamu dan melindungi kamu. Tapi aku ingin melihat kamu, apakah kamu sudah berubah apa belum? Itu saja." Menundukkan kepalanya.
Hah! Kalau begitu, sampai kapan kau akan memperhatikan aku. Sampai wajah ku bebak belur, baru kau membelaku. Sungguh alasan yang tipis.
Neta hanya tersenyum kecut, mendengar alasan Jino yang menurutnya itu tidak masuk akal.
"Sudah lah, anggap saja itu gak pernah terjadi." Jino yang mendengar jawaban Neta. Langsung tersenyum dan memeluk Neta.
"Terimakasih," Mencium pipi Neta.
BLUSHHH..
Pipi Neta langsung merah padam. "OMG, bisa replay gak sih. Mumpung gratis, kapan lagi coba di cium sama cowok ganteng." Batin Neta.
"Neta... Neta... Neta.. woiiii!" Menggoncang- goncang tubuh Neta yang senyum-senyum sendiri.
"Eh! Iya kak ada apa?" Tanya Neta yang sudah sadar.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Senyum-senyum gak jelas gitu. awas lo ntar kesambet tau rasa."
"Apa sih kak, Jangan aneh-aneh deh." memalingkan wajahnya ke jalanan.
Jino hanya mengangkat bahunya, kalau dia tidak paham melihat kelakuan Neta yang suka aneh.
CEKLEKKK.
"Gimana pestanya?" Tanya seseorang yang duduk di kursi keluarga. Melihat Neta dan Jino pulang dari pesta.
"Papah... Biasa aja pah. Gak ada yang asik kok, malah sebaliknya. Membosankan." Duduk di samping papahnya, sambil memakan cemilan yang ada di depan.
"Kenapa membosankan?" Tanya Seno yang memakan cemilan di tangan Neta.
"Ish, kaka gak bisa ambil sendiri apa." memanyunkan bibirnya.
"Males, lagian udah terlanjur juga kan. Mau aku balikin nih?" pura-pura ingin memuntahkan makanannya.
"Joroknya.." Neta hanya geleng-geleng kepala.
Melihat ekspresi Neta, semua orang tertawa. Baru pertama kali mereka berkumpul bersama setelah sekian lama, akhirnya bisa bersama dan bercanda lagi.
*** *****
"Pagi juga," Membalas sapaan Neta secara bersamaan.
"Hari ini aku mau sama kak Seno boleh?" Tanya Neta setelah duduk di hadapan seno.
"Apa kau bilang tadi?" sambil menelan roti yang dia makan.
"Aku bilang, hari ini aku pergi sama kak Seno boleh?" Dengan nada kesel.
"Boleh-boleh... Tapi kau harus siap."
"Siap apa?" Tidak mengerti apa yang di maksud Seno.
"Harus siap, di tanya sama fans Kaka nanti." tersenyum dengan penuh percaya diri.
Neta menepuk jidatnya dan menyudurkan sandwich ke Seno yang baru saja dia bikin.
__ADS_1
"Buat aku?" Tanya Seno dan di angguki oleh Neta.
"Terimakasih," Neta hanya tersenyum dan memakan Roti yang ada di piringnya.
Jino hanya senyum-senyum, melihat kelakuan Neta ke seno. Entah apa yang akan dia perbuat ke seno nanti.
Hosh... Hosh... Hosh... Seno terus mengipasi mulutnya yang terbakar cabe akibat sandwich yang di kasih Neta.
"Air... Air..." ucap Seno yang kepedasan.
Ha... Ha... Ha...Tertawa Neta melihat Seno yang kalang kabut cari air.
"Parah kamu dek, masukin cabe sebanyak ini. Pantesan perasaan aku gak enak makan nih sandwich." Menatap tajam ke arah Neta yang terus tertawa melihat wajah Seno merah padam.
"Habis kamu kepedean selangit, harusnya aku video tadi. Biar Boomerang." Ucap Neta sambil cekikikan.
"Bunda..." Rengek Seno.
"Gitu aja ngado, dasar anak mama." Ejek Jino, merasa puas melihat Seno menderita.
"Jahatnya..." Langsung menyandarkan badan.
"Sudah-sudah, Neta cepat habiskan makanan kamu, entar telat lagi." Memberikan susu ke Neta.
"Siap komandan," memberi hormat, dan meminum susunya sampai habis.
"Kak Seno cepatan." Teriak Neta yang sudah berdiri dari kursinya.
"Iya, bentar." Berdiri setelah menghabiskan sarapan pagi.
"Kami berangkat dulu," Mencium pipi bunda dan papahnya.
"Hati-hati di jalan," Ucap bunda Neta separu berteriak. Dan di angguki oleh Seno.
"Woiii.... gak pamitan sama gue." Teriak Jino kepada adeknya itu.
"Jino, jangan pernah ngomong sama adek kamu. Dengan Lo gue, papah gak pernah ngajarin itu." Tegur papa Neta yang gak suka cara bicara Jino ke adeknya.
"He.. He... He... Maaf pah, gak aku ulangin lagi kok." Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
"Hemmm.. Jangan di ulangin lagi." Ucap papahnya dan langsung di angguki Jino kalau dia paham.