
Ke diaman Wijaya suasana terlihat sangat sepi bagaikan tak berpenghuni, setelah Pak Doni mengetahui semua kebenarannya dia mengurung diri di dalam kamar, tidak ada lagi semangat untuk menjalankan kehidupannya. Dia tidak lagi pernah pergi keperusahaan, makannyapun tak terurus, semua para pelayan merasa bingung, apa yang harus dilakukannya.
Setelah mendengar cerita dari Mutan yang menyamar sebagai Mira, Pak Doni tidak langsung mempercayainya. Dia pergi ke Rumah Sakit untuk mencari kebenaran. Dia menemui Dokter yang membantu persalinan mendiang Istrinya. Dia sangat syok, badannya bergetar setelah melihat data yang tercantum, jika Anaknya meninggal dalam kandungan.
Dari situlah dia mulai mengingat semua apa yang terjadi, dia merutuk dirinya sendiri yang lebih mementingkan pekerjaannya daripada menemani sang Istri yang sedang menanti lahirnya sang Anak.
Semua memori Seakan-akan berputar kembali dipikirannya, bagaimana dia mengabaikan Viona kecil setelah kematian sang Istri. Bagaimana dia membenci dan menindas Viona. Menyesal? Tentu, tapi percuma saja, semua sudah terjadi dan waktu tidak dapat diputar kembali.
Dan beberapa hari terakhir dia sering memimpikan mendiang Istrinya, dalam mimpi itu Ibu Laras hanya menatapnya sambil menangis tidak ada ucapanpun yang keluar.
"Kenapa kamu membohongiku Laras? kenapa kamu tidak memberitahuku? kenapa kamu melakukan semua itu? lihatlah apa yang terjadi sekarang? Aku menyiksa Anak itu sampai dia dewasa, pasti dia sangat membenciku, apa dia akan memafkanku jika aku meminta maaf? tidak Laras, tidak! Aku sudah menorehkan luka di hatinya, aku sudah sangat kejam kepadanya. jika kamu mengatakan sebenarnya, mungkin semua ini tidak akan terjadi."
"Saya memang sangat membencimu dan tidak akan pernah memaafkan semua kesalahanmu sebelum kau merasakan apa yang saya alami selama ini!"
Pak Don berbalik dan langsung beranjak dari duduknya yang berselonjaran di lantai. Betapa terkejutnya melihat Viona yang tiba-tiba berada di kamarnya. Dia menatap mata Viona, yang penuh kebencian dan kemarahan ke padanya.
Setelah dari pertemuannya dengan Mira, dia langsung menuju kediaman Wijaya, karena dia sudah mendapat laporan Jika Pak Doni tidak lagi pergi ke Perusahaan. Viona ingin menyelesaikan semua balas dendamnya, dan menjalankan kehidupannya tanpa ada masalah lagi.
Para penjaga hanya membiarkannya masuk, tidak berani menghentikan Viona hanya dengan melihat tatapannya yang tajam. Masuk ke menssion yang benar-benar sepi itu, Mira si Mutan juga sudah pergi menghilang setelah tugasnya selesai. Dia langsung ke kamar Pak Doni setelah menanyakan keberadaannya ke pada pelayan.
Mereka semua hampir tidak lagi mengenali Viona, benar-benar sangat berbeda dan banyak perubahan yang mereka lihat.
Viona masuk tanpa mengetuk, dia melihat Pak Doni yanh sedang melamun, dan tiba-tiba bergumam sendiri.
"Bagaimana Pak Doni? Apa kau sudah mempercayainya jika saya bukan Anak kandungmu dengan Ibu Laras? Apa kau sudah menyesal atas semua perlakuan dan tuduhanmu selama ini?" tanya Viona beruntun.
__ADS_1
Mulut Pak Doni terkunci rapat-rapat, padahal ada banyak yang ingin dia katakan ke pada Viona, terutama meminta maaf meskipun itu sangat mustahil jika Viona ingin memaafkannya. Dia siap melakukan apapun itu jika Viona melontarkan syarat.
"Apa dengan meminta minta maaf luka yang kau berikan akan menghilang tanpa bekas? Tidak, tidak Tuan Doni. Luka itu sudah melakat dan membekas mau bagaimanapun usaha yang saya lakukan untuk melupakannya."
"Karena kau sudah memberiku tumpangan selama ini, jadi saya hanya akan memberimu setengah pembalasan, bersiaplah! Sebentar lagi mereka akan tiba!"
Setelah mengatakan seperti itu, beberapa polisi tiba-tiba masuk dan diantara mereka ada Ray yang ikut serta, dia terkejut melihat Viona ada di situ.
Sama halnya dengan Pak Doni, dia sangat terkejut, dia bingung kenapa Viona mamanggil polisi datang ke menssionnya.
Dia memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa ini? Kenapa ada polisi?"
"Kami mendapat beberapa bukti tentang pembunuhan berencana ke pada keluarga Duke yang di lakukan oleh Pak Doni, dan kami menerima laporan penangkapan ke pada Anda" jawab dari salah satu Polisi.
Deg
"Saya yang memberikan semua bukti itu, termasuk semua bukti penindasan yang kau lakukan. Maka ikutlah dengan mereka jika kau sudah menyesal dan ingin mendapatkan maaf!"
Pak Doni menatap Viona, ternyata itulah yang diinginkannya, "Baik, jika dengan mendekam dalam penjara bisa mendapat maaf mu, saya akan mendekam sampai seumur hidupku."
"Mari ikut kami Pak! Pak Doni bisa menjalaskannya di kantor" ucap Polisi lagi.
Pak Doni jalan mendekat dan menyodorkan kedua tangannya untuk di borgol, dia menerima semua itu, karena dia memang salah.
Ray menghampiri Viona, ada banyak pertanyaan di dalam benaknya. "Apa yang terjadi, kenapa kamu bisa mengenal Pak Doni?"
__ADS_1
"Ayo ikut mereka! nanti aku menjelaskannya di jalan" balas Viona yang sudah berjalan keluar mengikuti rombongan polisi.
Sebenarnya Ray sangat bingung, dia berada di Perusahaan saat itu dan baru saja rapat akan dimulai, tapi tiba-tiba mendapat telpon dari kantor polisi, yang meminta bertemu di kediaman Wijaya. Terpkasa dia meninggalkan rapat dan menyuruh Riki untuk memimpin rapat.
Di dalam perjalanan, saat ini Viona berada di dalam mobil Ray untuk menjelaskan semuanya. Termasuk bahwa Pak Doni adalah Ayah angkatnya.
"Maafkan aku Ray, jika baru memberitahumu, aku sudah tau dari dulu jika yang merencanakan penyerangan malam itu adalah Pak Doni"
Ray sedikit terkejut, ternyata anak Pak Doni yang tidak memiliki identitas itu adalah Viona, pantasan sangat sulit untuk menemukan info tentangnya.
"Tidak malasah, dan jangan minta maaf, karena itu semua bukan kesalahanmu! Memang sudah lama aku ingin aku melaporkan Pak Doni, tapi aku tidak memiliki banyak bukti.
Sesampainya di kantor polisi mereka melanjutkan proses wawancara, tidak perlu melakukan sidang, semua bukti yang di berikan Viona sangat akurat. Jadi Pak Doni mendapat hukuman mati. Karena gabungan atas penyiksaan yang dilakukan ke pada Viona dan dua kali melakukan pembunuhan berencana ke pada keluarga Duke.
Pak Doni hanya bisa pasrah, memberontakpun akan percuma. Tapi sebelum dia dimasukkan dalam sel dia ingin berbicara empat mata dengan Viona.
"Aku hanya ingin minta maaf, ya meskipun aku tau kamu tidak akan memaafkanku. Aku juga ingin minta tolong, untuk selalu datang ke makam Ibumu, meskipun dia bukan Ibu kandungmu!"
"Kau tak perlu khawatir! Ibu Laras akan tatap menjadi Ibuku, menyanginya meskipun dia sudah tidak ada lagi!" balas Viona dan pergi meninggalkan Pak Doni sendiri.
Ray dan Viona pergi meninggalkan kantor polisi, keduanya mampir di salah satu Restoran terdekat karena sudah waktunya jam makan siang.
...----------------...
"Tinggal giliranmu Bora, kau akan mati di tanganku jika Momy Jeni memberiku ijin untuk membunuhmu. Tapi, jika aku di posisi Momy, aku akan tetap membunuhmu. tidak ada ampun orang sepertimu."
__ADS_1
"Bawa dia keruang penjara bawa tanah!"