KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
93. Cinta Dalam Diam


__ADS_3

Setiba di rumah Leo, Viona bergegas turun dari mobilnya dan memberikan kunci ke pada penjaga untuk memarkirkannya di tempat tertentu.


Berjalan menuju pintu masuk, dan ingin mengetuk pintu, tapi mendengar Ibu Nur dan Leo sedang berbincang maka diurungkannya. Kerena penasaran namanya juga disebut dalam obrolan mereka.


"Bagaimana kondisi Nak Viona? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu Nur.


"Lilie sudah baik-baik Bu, kayaknya dia sudah bertemu dengan keluarga kandungnya."


"Oh syukurkah, dia tidak perlu bersedih lagi. Ibu harap, semoga dia selalu bahagia!"


"Iya Bu, dia akan selalu bahagia. Aku sangat beruntung bisa berteman dengan orang baik seperti dia."


"Jika Ibu mengatakannya, apa kamu akan mencari mereka juga Nak?" batinnya.


Deg


Viona terkejut, mendengar batin Ibu Nur. Apakah dirinya salah dengar? Tidak! Pendengarannya masih sangat berfungsi dan juga masih stabil.


"Apa maksud omongan Ibu? Ahh sudahlah mungkin aku yang salah dengar!" gumam Viona menepis pikirannya yang salah.


Tok tok tok.


Tidak lagi mendengar mereka berbincang, Viona baru mengetuk pintu, tidak butuh waktu lama pintu terbuka lebar dan melihat Leo yang menyambutnya dengan tersenyum.


"Li kamu datang, Ayo masuk! Di luar udaranya sangat dingin habis hujan deras seharian" ujar Leo mempersilahkan Viona masuk.


Viona mengangguk dan masuk, terlihat Ibu Nur yang masih setia menonton serial TV. Tiba-tiba dia teringat dengan yang dia dengar belum lama tadi.


"Nak Vio sini!" panggilnya dan menepuk tempat duduk di sampingnya.


"Bagaimana kabarmu Nak? Kata Leo kamu habis terluka!" tanya Bu Nur.


"Cuman luka kecil Bu, ini sudah baik-baik saja, buktinya aku ada di sini, di hadapan Ibu dengan sehat."


"Syukurlah Nak, Oh iya kalian berdua ngobrol saja dulu, Ibu mau ke dalam buatin minum!"


"Tidak usah repot-repot Bu, nanti aku ambil sendiri jika haus" balas Viona menolak.


"Tidak repot kok Nak, cuman buat teh hangat saja, kamu tunggu sini ya!" pintahnya sambil beranjak masuk ke dapur.


"Bagaimana dengan Bang Raka?" tanya Leo setelah lama berdiam.


Viona tersenyum dan menggeleng, "Cuman sedikit salah paham Kak, tapi sekarang sudah balik kayak dulu lagi. Untung Kak Leo beritahu aku!"


"Hmm syukurlah. Jadi apa benar dia Kakak kandungmu?" tanya Leo lagi.


"Iya Kak, aku sudah bertemu dengan mereka, aku juga tidak menyangka bisa secepat ini!" balas Viona yang tak pernah lepas senyum.

__ADS_1


"Mungkin sudah takdirnya kalian berkumpul bersama. Jadi kamu jangan pernah bersedih lagi! Kamu harus bahagia selalu."


"Iya Kak, makasih juga selalu memberiku semangat, selalu ada di saat aku rapuh." balas Viona sambil mengusap tangannya sedikit kedinginan.


"Aku ngelakuin apa yang harus lakukan, dan itu juga aku belajar darimu,"


Obrolan berhenti sejenak, saat Ibu Nur membawa segala teh hangat untuk Viona. "Silahkan diminum Nak!" lanjutkan perbincangan kalian! Ibu ingin ke kamar"


"Makasih Bu, sudah ngerepotin. Padahal aku bisa buat sendiri."


Ibu Nur hanya tersenyum dan mengangguk, berbalik menuju kamarnya, dia merasa sedikit mengantuk setelah memakan beberapa gorengan. Karena ada Leo yang menemani Viona jadi tidak masalah jika di tinggal dan pergi tidur.


"Kenapa cuman pake kaos? Cuaca sedang dingin!" memperhatikan Viona yang sering mengusap kedua telapak tangannya.


"Pakek kok Kak, tapi tadi dilepas di mobil jaketnya. Tadi aku sempat kegerahan jadi aku lepas, dan sekarang merasa dingin lagi."


"Hm ya sudah pake punyaku saja, aku ambilkan di kamar dulu" sambil beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar.


Viona tidak melarang, karena hujan kembali turun membuat cuaca lebih dingin lagi. Dia malas untuk keluar mengambilnya, padahal dia bisa menyuruh sang penjaga mengambilkannya karena kunci mobil masih sama mereka.


"Ini dipake! Habis di cuci kok" ujar Leo menyodorkan sebuah hoodie yang masil dalam bentuk lipatan.


Viona menerimanya dan memperhatikan hoodie yang sudah ada di tangannya, "Kak kita tukaran!" menyodorkan kembali pada Leo.


Leo heran, kenapa mesti ditukar, padahal itu masih wangi. "Di tukar sama yang aku pake ini?" tanyanya sambil memegang jaket yang dia pake.


"Tapi ini sudah aku pake dari kemarin, malah aku pake tidur semalam, pasti sudah bau keringat. Pake hoodie saja ya?" bujuknya.


Viona cemberut, dia tetap menolak. "Kak ayolah! Bukannya aku sudah sering pake, kenapa sekarang jadi pelit?"


"Eh bukan begitu Li, yang lalu itu belum lama aku pake, yang ini dari kemarin, kan beda!" jelasnya.


Viona tidak menjawab, dia malah menatap Leo dengan memasang wajah baby ficenya. Dia tidak peduli mau berapa hari, dia tetap ingin yang habis di pake Leo.


"Huff, ya sudah tapi kamu jangan jijik ya. Aku juga sudah bilang sama kamu ini sudah di pake dari kemarin" sambil melepas jaket dari tubuhnya.


Viona menerima dan langsung memakainya, tidak terlihat jijik atau risih sama sekali, dia malah tersenyum dan memeluk dirinya sendiri, dia yang sudah tenggelam dalam jaket itu karena kebesaran.


Terpaksa Leo memakai hoodie yang diambilnya. Tidak masalah yang penting Viona senang dan merasa nyaman.


Loe terkejut melihat Viona tiba-tiba berbaring di pangkuannya. Kebetulan sofa itu sedikit panjang jadi dia bisa meluruskan kakinya dan menjadikan paha Leo sebagai bantalnya.


"Li kamu ngantuk ya? Tidur di kamar saja" ucap Leo yang tidak tau harus berbuat apa di situasi seperti itu.


"Aku tidak ngantuk Kak, biarkan begini sejenak!" balasnya sambil menutup mata..


Leo tidak bisa berkata apa-apa, bingung apa yang harus dilakuinnya, tapi entah naluri dari mana tiba-tiba tangannya bergerak dan mengusap kepala Viona dengan pelan.

__ADS_1


Viona merasakannya dia tersenyum dan tidak menegur, dia malah menikmatinya sampai dia benar-benar tidur di pangkuan Leo.


Kebisingan terjadi, mendengar suara dengkuran yang halus Leo menunduk ke depan dan melihat Viona yang sudah tertidur nyenyak.


Loe tersenyum melihat tingkah Viona, "Lah, katanya tidak ngantuk, tapi sekarang sudah di alam mimpi." ujarnya masih setia mengusap kepala Viona, bagaikan seorang Ibu yang sedang mengelonin anaknya.


Beberapa menit berlalu, Leo meresa ingin buang air kecil, tidak mungkin menahannya dan menunggu Viona bangun, dia mengangkat kepala Viona, dan memindahkannya di bantal sofa.


Segera masuk ke kamar mandi yang ada di dapur, sekalian mengambil air minum. Menghabiskan segelas air tanpa jeda, dia duduk dan memegang jantungnya.


"Huuff, selalu saja begini" ucapnya sambil menetralkan deberan jantungnya, yang selalu berdebar kencang jika bersentuhan dengan Viona.


"Leo! Kamu kenapa Nak? Nak Vio di mana, apa sudah pulang?" tanya sang Ibu tiba-tiba yang membuat Leo kaget.


"Astaga Bu, kenapa Ibu tiba-tiba ada di sini? Bikin kaget saja!" Lilie masih di luar Bu, dia sedang tidur di sofa."


Buugh.


Ibu Nur memekul bahu Leo dan berkata. "kenapa dibiarkan tidur di sofa, kenapa kamu tidak suruh masuk ke kamar."


"Aku sudah menyuruhnya Bu tapi Lilie tidak mau. Jadi bagaimana? Kita bangunin saja? lalu suruh masuk ke kamar."


"Jangan di bangunin Nak, kamu akan mengganggu tidurnya dan itu akan membuatnya susah untuk tidur kembali. Kamu akat saja!"


"Hm ya sudah Bu, aku akan mengangkat Lilie ke kamar tamu!" kembali berjalan ke luar.


"Kamar tamu belum Ibu bersihin Nak, banyak debu dan seprainya belum di ganti. Di kamar kamu saja, kamar Ibu juga berantakan, tadi habis bongkar isi lemari mau di bersihin."


"Tapi Bu takutnya Lilie marah, dan berpikir yang tidak-tidak, karena terbangun di kamarku."


"Jangan takut jika tidak bersalah, nanti Ibu yang jelasin, biasanya Nak Vio juga suka tidur di kamarmu."


Leo tak lagi membantah, dia segera mengangkat Viona pelan, memasukknnya ke dalam kamar. Di baringkannya juga secara perlahan, lalu memaikaikannya selimut.


Leo duduk di tepi kasur, dia baru melihat bekas tangan Viona yang terluka, dia meletakkan tangan Viona, di atas telapak tangannya.


"Huuff, Kamu selalu membahayakan dirimu sendiri, asal kamu tau, aku sangat mengkhawatirkanmu saat itu, sampai aku tidak bisa tidur memikirkanmu."


"Sebelumnya aku juga ingin meminta maaf ke padamu Li, karena aku tidak bisa menahan perasaanku, aku tidak bisa menahan hatiku yang sudah melewati batasnya. Seperti sekarang ini, saat berada di dekatmu membuat jantungku berdebar lebih kencang, yang tidak pernah aku alami sebelumnya."


"Pasti kamu akan marah jika mengetahuinya, makanya aku tidak berani memberitahumu, karena aku sadar Li, kita bagaikan bumi dan langit, berteman denganmu saja adalah sebuah anugrah."


"Aku juga tidak tau sejak kapan perasaan ini ada, tapi makin hari persaanku makin dalam ke padamu."


"Biar begini saja, melihatmu tersenyum dan bahagia, sudah cukup bagiku. Maafkan hatiku sekali lagi, ijinkan aku mencintaimu dalam diam" curhatnya seorang diri.


#Mampir di novel kedua outhor

__ADS_1


__ADS_2