KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
92. Masa Lalu II


__ADS_3

"Saya mohon jaga anakku, saya akan mengirim uang ke padammu tiap bulannya!" pintahnya pada wanita hamil yang dia temui tidk juh dari ruangan Istrinya.


"Saya tidak bisa, saya juga dalam kondisi hamil tua, bagaimana saya bisa merawat anak Anda dengan baik?"


"Kamu bisa mencari seseorang atau baby sitter untuk menemanimu untuk merawat keduanya. Saya mohon! Saya tidak punya banyak waktu lagi" ucapnya celingukan.


"Aduuuhh gimanani, tapikan aku juga lagi butuh uang untuk persalinan nanti. Uang dari mas Rogi pasti sangat kurang" katanya dalam hati.


"Bagaimana Mbak? Soalnya saya harus pergi!" ulang Jack.


"Emm baiklah, tapi Anda harus janji untuk tetap memenuhi kebutuhannya, soalnya saya juga orangnya pas-pasan."


"Mbak tenang saja! Ya sudah tunggu di sini! Saya ambil Anakku dulu" ucap Jack dan pergi mengambil Baby nya yang masih berada sama Istrinya.


Ya pagi itu Jack tidak lagi melihat anak buah si Bora atau orang yang mencurigakan di dalam Rumah Sakit itu. Hanya berada di halaman luar, dia segera keluar ruangan untuk mencari seseorang yang bisa merawat anaknya.


Sudah banyak orang yang dia temui, tapi tidak ada satupun yang ingin membantunya. Dia berniat kembali ke ruangan Istrinya tapi dia bertemu dengan seorang wanita hamil yang terlihat keluar dari toilet.


Dia ingin mencoba untuk terakhir kalinya, jika tetap sama, apa boleh buat dia harus pergi membawa sang anak dan berlarian ke sana ke mari dari kejaran orang-orang itu.


Lama berpikir akhirnya wanita itu mau untuk merawat anaknya, pergi mengambil anaknya dan beberapa perlengkapannya di dalam tas.


"Saya harap kamu menjaganya dengan baik!" ucapnya setelah bayinya sudah berada di gendongan wanita itu.


Wanita itu mengangguk, dan mereka saling tukar nomor. Jack mencium anaknya untuk yang terakhir kalinya sebelum berpisah.


"Tunggu Dady Nak! Dady akan kembali untuk menjemputmu!" batinya dengan mata berkaca-kaca.


Jack segera pergi dari situ sebelum ada yang melihatnya, tapi keduanya tidak sadar jika ada seorang yang menyamar jadi Dokter melihat semua itu, dia tersenyum kecil dan mengirim rekaman yang dia dapat ke pada Bos nya.


Baru beberapa langkah Jack berbalik saat Mira menanyakan namanya. Dia ingin memberi kartu namanya tapi tidak jadi saat melihat seorang yang mencurigakan dari jauh.

__ADS_1


"Nama saya Jack, cepat kamu pergi dari sini dan jaga pernah berbalik!" pintahnya dan juga langsung berbalik kembali.


Jack tidak sempat menanyakan nama wanita itu, tapi dia melihat di buku kehamilannya yang tertera dengan jelas Nyonya Mira Arola.


Seminggu setelah melahirkan, Jack dan Jeny meniggalkan negara A menuju ke negara X di mana dia berasal. Dan juga di mana anak pertamanya tinggal bersama sang Opah.


Perusahaan dia jual murah diam-diam dengan sahabatnya agar si Bora tidak mengetahuinya. Dan berjanji akan membelinya kembali setelah kondisi keuangannya sudah stabil kembali.


Di negara X mereka benar-benar memulai dari awal dengan modal dari Ayah si Jack yang memiliki beberapa bisnis kecil-kecilan. Sebenarnya sang Ayah sudah ingin mewariskannya ke pada Jack karena umarnya yang sudah tua. Tapi Jack menolak, dia ingin memulainya sendiri dari awal. Alhasil Jeny lah yang membantu sang Ayah mertua.


Dua tahun berlalu semuaya nampak baik-baik saja, mereka masih sering tukar kabar dengan Mira, dan juga masih rajin mengirim uang setiap bulannya.


Tiba-tiba ke anehan terjadi, Mira tidak bisa lagi dihubungi, semua hasil mutasi dan juga no rekening menghilang, dan dia tidak memiliki catatan yang lain.


Karena keuangannya sudah mulai stabil, dia sudah bisa menyewa seseorang. Dia memerintahkan untuk mencari ke beradaan Mira. Tapi belum cukup dua puluh empat jam orang sudah tidak ada kabar, dan juga tidak bisa dihubungi.


Berulang kali Jack menyewa seseorang tapi sama saja, mereka akan menghilang tanpa kabar, mereka hanya bisa menebak kalau itu semua ulah si Bora. Jadi untuk sementara mereka menghentikan pencarian, takut Bora malah menemukan anaknya dan melukainya.


Sampai anak pertama mereka sudah dewasa Rian Jackson, barulah mereka memutuskan untuk pergi mencarinya langsung di negara A.


Viona yang dari awal mendengar cerita berusaha untuk menahan tangisnya, tapi sekuat apapun itu air matanya menetes juga. Dia tidak marah ke pada orang tuanya. Karena dia mengerti, jika dirinya yang berada di situasi seperti itu maka dia akan melakukan hal yang sama. Mengorbankan semuanya demi keselamatan sang anak.


"Momy harap kamu tidak marah Nak! Momy tau kami salah, jadi beri kami kesempatan untuk menebus semua kesalahan itu!" ucap sang Momy sambil memeluk Viona.


Tuan Jack juga memeluk kedua wanita yang dia sayangi, mengingat masa lalu itu membuatnya juga sedikit menyesal.


"Tunggu aku Bora! Aku yang akan membalaskan semua yang telah kamu lakukan ke pada keluargaku, aku bersumpah kamu akan mati di tanganku" ucap Viona marah dalam hatinya.


"Aku tidak marah Mom, terima kasih karena sudah berjuang untukku." kata Viona setelah melepas pelukannya


"Itu sudah tugas kami menjadi orang tua Nak, apapun yang kami akan lalukan jika itu menyangkut Anak."

__ADS_1


Viona sudah mengetahui semuanya, akar masalah ada pada si Bora yang serakah, demi uang dia tega ingin membunuh Adiknya sendiri, dan membuat anak yang tak bersalah berpisah dengan orang tuanya selama bertahun-tahun.


Sore tiba, Viona pergi keluar menuju danau yang ada di taman, dia tidak jadi pergi menemui Mira, padahal dia ingin menanyakan kenapa dia bisa menghilang tanpa kabar saat Tuan Jack mencarinya. Viona merasa ada yang janggal karena saat itu Mira ada di Menssion Wijaya menjadi pelayan. Padahal bisa saja Mira memakai uang yang di kirim Tuan Jack tanpa harus bekerja.


"Nantilah aku ke sana, mereka juga pasti masih hidup" ujarnya sambil menghirup udara segar dan dingin karena hujan baru seja redah.


Viona merogoh Ponselnya dan menelpon seseorang.


"Halo! Bagaimana? Apa sudah ada hasil?"


"(......)"


"Fokus di hutan itu! Dia pasti memiliki tempat persembunyian yang lain. Dia tidak bisa pergi jauh dari situ dengan kondisi yang terluka parah."


"(.......)"


Setelah panggilan terputus Viona pergi meninggalkan taman, dia bingung mau ke mana. tiba-tiba terbesit dipikirannya untuk berkunjung ke rumah Leo. Dia ingin berbagi kabar gembira jika dirinya sudah bertemu dengan keluarganya.


...----------------...


Di rumah Leo, terlihat keduanya sedang bersantai di ruang tamu sambil nonton TV, tak lupa hidangan yang sesuai dengan cuaca saat itu, apalagi kalau bukan gorengan dan juga kopi.


"Bagaimana kondisi Nak Viona? Apa dia baik-baik saja?" tanya Ibu Nur.


"Lilie sudah baik-baik Bu, kayaknya dia sudah bertemu dengan keluarga kandungnya."


"Oh syukurkah, dia tidak perlu bersedih lagi. Ibu harap, semoga dia selalu bahagia!"


"Iya Bu, dia akan selalu bahagia. Aku sangat beruntung bisa berteman dengan orang baik seperti dia."


"jika Ibu mengatakannya, apa kamu juga akan mencarinya Nak?" batinnya.

__ADS_1


Deg


#jangan lupa mampir di novel kedua outhor 😊


__ADS_2