
happy reading..
Di kediaman Neta, Seno sedang berberes pakaiannya melakukan perjalanan bisnis dia sendiri.
"Seno semuanya sudah selesai?" tanya Mama Rika yang masuk ke kamar seno, Seno menoleh dan tersenyum kepada Rika.
"Sudah mam nih tunggu sopirnya aja lagi," jawab Seno yang sedang memakai jas dan topi.
Mereka langsung menuju ruang keluarga dan duduk menunggu sopir pribadi Seno.
"Assalamualaikum, Neta pulang!!" Ucap Neta ke semua orang dengan senyum mengembang.
"Wa'alaikumsalam," jawab bunda dan Seno barengan. "Kaka mau kemana mam?" Tanya Neta yang kini sudah duduk di samping mama Rika dengan bersandar di pundaknya dan berselunjur kaki di Seno.
"Neta, kaos kaki kamu bau singkirkan kakinya," Ujar Seno menutup hidungnya, Neta bukanya menjauhkan kakinya, dia malah menaikkan kakinya ke hidung seno.
"Neta!!" Neta tertawa dan kembali duduk dengan benar.
"Kaka kamu mau pergi ke luar kota, kamu anterin dia kebandara yah," sambil membelai rambut Neta.
"Ogah mam, aku baru datang capek mam," bersikap manja.
"Heleh, Lo bilang aja males nganterin aku, iyakan?" Tanya Seno, "Tuh kamu tau," Jawab Neta dengan ketusnya.
"Sudah anterin Kaka kamu, kasihan dia nanti terlambat lagi," Paksa mama Rika. "Tapi mam," Rengek Neta yang gak mau mengantar seno ke bandara.
"Cepetan ntar aku terlambat nih, gara-gara kamu," mencium pipi Rika dan salim. "Mam Seno pamit dulu yah, assalamualaikum," Ucap Seno memeluk mama Rika.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati jaga kesehatan jangan begadang di sana," Kata bunda Rika dan di angguki oleh Seno.
"Kak awas nanti kamu panuan loh kalo mandi sembarangan," dengan nada mengejek.
"Ceh, kamu kira aku mandi di comberan apa jadi panuan," Jengkel Seno dengan perubahan Neta yang menyebalkan.
"Mam," Neta memelas tapi Rika malah bersikap acuh, Neta menghentakkan sebelah kakinya, lalu pergi menyusul Seno tanpa berganti pakaian.
Rika hanya geleng-geleng kepala melihat mereka berdua yang sangat akur dalam arti khusus.
"Cepet jalan!!" Ucap Seno dengan memberikan perintah kepada Neta. "Buset dah, duduk di depan kamu kak, enak aja duduk di belakang, di kira aku sopir apa?" Ucap Neta memberikan tatapan jengkel.
"Dah lah gue sibuk Lo nyetir yang benar," tanpa peduli dengan tatapan Neta.
"Awas Lo yah, bakal nyesel Lo," tersenyum
licik.
__ADS_1
***** *****
Cirttttttttttttt...
"Sudah sampai!!" Ucap Neta keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Seno.
"Silahkan tuan muda Seno," Menaruh tangan ke dada dan membungkuk seperti para para pelayan lakukan.
"Lo mau gue jantungan? Nyetir mobil ugal-ugalan, untung gak kecelakaan," Geram Seno, sejak di jalan Neta gak pernah benar bawa mobil, dia selalu saja bikin rusuh. Ada yang rem mendadak sampai jidat Seno terbentur kursi depan, hampir ketabrak orang, lampu merah hampir saja dia terobos.
"Maaf tuan muda saya tidak berani," Ucap Neta ala Nasir kepala pelayan di rumahnya. "Ini belum seberapa, liat aja drama sesungguhnya ntar." Batin Neta dengan
senyum sinis.
Semua orang di bandara memperhatikan dua beradik itu karena baru pertama kali melihat mereka dan itu Meraka tidak tau identitas seno dan Neta.
Biasanya keluarga Neta jarang muncul di tengah publik, bukan sombong, tapi Mereka tidak ingin di perlakukan berbeda seperti sekarang ini.
"Tuan muda, nona muda, kenapa tidak bilang kalau kesini, jadi kami bisa menyambutnya dengan baik," Ucap seseorang yang langsung buru-buru mendengar kabar kalau cucu pemilik Bandara datang.
"Sudah lah saya hanya ingin begini, tidak ingin heboh, kau liat aku cuman bersama adik ku saja." Jawab Seno orang itu menatap Neta, Neta hanya tersenyum Canggung.
"Baiklah tuan muda dan nona muda, kalau begitu saya permisi dulu, kalau anda butuh sesuatu saya akan berada di samping anda," membungkukkan badan.
"Baiklah, kerjakan pekerjaan mu saja, tidak usah hiraukan kami." Kata Seno dengan senyuman manisnya.
"Njiiirrrr jadi begini rasanya jadi orang kaya apa-apa di hormati, di kehidupan ku dulu buru-buru di hormati malah sebaliknya di hina, emang yah status lebih penting di mata mereka." Gumam Neta.
"Kamu bilang apa Neta?" Tanya Seno yang gak terlalu jelas mendengar apa kata Neta.
"Gak apa kak, ayok... Kesana aku ada hadiah buat Kaka," Menarik tangan Seno.
"Kamu jangan macam-macam yah," ancam Seno karena mempunyai firasat tak enak melihat senyum Neta.
Neta dan Seno jalan berdampingan tanpa peduli pandangan semua orang. "Serasih banget sih, jadi pengen punya pacar," ucap seseorang yang melihat Neta dan Seno. "Lah gue malah sakit hati melihat Meraka, beruntung tuh cewek, sudah cantik dapat cowok yang super keren lagi. Jadi ngiri kan," Sambung cewek yang tidak jauh dari sana.
"Heleh, palingan harta dan tampang doang yang mereka suka," Batin Neta mendengar percakapan mereka.
"Kaka pergi dulu, hati-hati jangan kaya tadi menyetirnya, paham!!" Ucap Seno memberi nasehat sebelum dia pergi.
"Siap," mengerlingkan sebelah matanya.
Baru beberapa langkah Seno berjalan Neta sudah mulai drama dan itu berhasil menarik perhatian orang.
"Hiks... Hiks... Hiks..." Menangis Neta yang di buatnya, Seno merasa heran dengan tatapan orang langsung berbalik badan.
__ADS_1
Dan matanya terbelalak melihat Neta lemas duduk di lantai dengan keadaan menangis. "Kamu kenapa dek?" Tanya Seno yang kebingungan.
"kamu jahat kak, masa aku di tinggalkan sendiri disini sendiri, hiks... hiks.."
"Apakah aku kurang baik bagimu kak? Aku bahkan rela menentang keluargaku agar bisa bersama kamu. Hu... hu..." Menangis sejadi jadinya. "Untung gue bawa balsem, jadi bisa keluar air mata, walaupun ini sangat panas. " Batin Neta.
Sesudah Seno berbalik badan, Neta sempat mencari balsem di dalam tasnya, dia langsung mengoleskan di bawah matanya.
Seno dia merasa bingung apa yang di ucapkan Neta. "Neta apa-apaan kamu?" Kata seno, semua orang mulai berbisik.
"Kak aku hamil, ini anak kamu masa kamu pergi begitu saja dengan selingkuhan kamu. Hu.... hu..." Mata Seno melotot mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Neta.
"Hamil, anak, sejak kapan gue hamilin adek gue?" Gumam Seno, dia masih belum sadar kalau dirinya di permainkan.
"Aku gak nyangka kak kamu ternyata begitu, lebih baik aku mati saja dari pada aku harus malu dan menanggung dosa ini." Berdiri dan ingin pergi.
"Dasar cowok bringsek, percuma punya wajah tampan tapi hatinya busuk." Ucao seseorang berusaha menenangkan Neta.
"Sabar yah dia tidak pantas buatmu, kamu terlalu baik buat dia, masih banyak cowok di dunia ini." Membujuk Neta.
Sekarang Seno baru sadar kalau ini adalah hadiah yang dikatakan Neta. "Sialan punya adik licik banget," batin Seno.
"Duh mas ganteng-ganteng kok buaya sih, gak liat apa istri lagi hamil malah keluyuran sama cewek lain, " kata ibu itu yang tak jauh dari sana.
"Sudahlah Bu dia tidak hanya sekali saja selingkuh, sudah sering bu bahkan aku di suruh kerja Bu buat dia pergi bersama selingkuhannya. Hiks... hiks..." Kata Neta tersenyum licik.
"Gak bisa gitu nak dia harus tau, dia lahir dari rahim wanita masa segitunya terhadap ibu darai anaknya kelak." Kata seseorang yang membantu Neta bangun.
"Hiks... hiks... Pergilah lah kak, aku ikhlas kamu bersama dia, biar anak ini aku rawat sendiri. Hiks... hiks," kata Neta menyentuh perutnya dan berlari karena tidak kuat lagi menahan tawa.
Seno hanya melongo dan sadar kalau pesawat sebentar lagi berangkat.
"Ceh, cowok bringsek," ucap laki-laki yang melihat tadi. "Iya lihat dia bahkan tidak mengejar wanita tadi," sahut seorang wanita di sampingnya.
Seno hanya berlalu dengan wajah ngeram karena Neta sudah berhasil mempermalukan dia di depan umum.
"Awas aja Lo net," umpat Seno pergi mengacuhkan semua orang yang sedang mengatainya.
Seno duduk di ruangan bisnis awal dia masuk, dia jadi bahan kunjingan orang.
semua orang menatap dia dengan sinis. "Huh, gak punya perasaan banget," Ucap seseorang yang ada di sebelah seno. "Sungguh memalukan." kata yang satunya lagi.
sedangkan yang duduk di samping Seno hanya geleng-geleng kepala dan itu berhasil membuat Seno frustasi.
"Argghhh," jerit Seno mengacak- acak rambutnya dan itu langsung di pelototi semua orang, Seno hanya tersenyum kecut tapi dalam hati Seno selalu sumpah serapah terhadap Neta.
__ADS_1
"Ha... ha... ha..." tawa Neta pecah dalam mobil, dia berhasil membalas dendamnya kepada Seno.
"Neta di lawan."