KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
121. Merasakan


__ADS_3

Ceklek


Pintu terbuka dari luar, seorang wanita cantik masuk kedalam ruang kerjanya. Membuat dua orang yang sedang fokus bekerja sedikit terkejut, tapi merasa bahagia melihat siapa yang masuk.


"Nona/Lilie" ucap keduanya kompak.


Ya, Viona lah yang membuka pintu. Hari itu dia benar-benar sudah kembali bekerja dan diantar oleh Rian.


"Nona kenapa Anda ke mari? Apa nona sudah baik-baik saja?" tanya Thea sambil berjalan menuju Viona yang sudah duduk di kursinya.


Viona tersenyum, lalu berkata. "Thea makasih sudah mengkhawatirkanku, ya aku sudah sembuh kok, kamu lihat sendiri kan?"


"Lilie aku sangat senang melihatmu sudah sembuh dan balik kerja lagi. Aku ingin minta maaf soal sikap aku yang kemarin" ucap Leo menyela.


Viona menoleh menatap Leo dengan wajah datarnya, "Hmm kamu tidak salah, lupakan masalah yang kemarin!" ucap Viona dingin.


Leo sedikit terkejut, ini baru pertama kalinya dia melihat wajah datar Viona saat berbicara dengannya. "Tapi aku benar-benar minta maaf, karenaku kamu terluka."


"Thea bawa kemari semua berkas yang perlu aku tanda tangani, dan juga laporan mingguan!" pintahnya ke pada Thea dengan mengabaikan ucapan Leo yang masih berusaha meminta maaf.


Thea segera mengambil berkas yang ada di mejanya, dia heran melihat suasana yang tiba-tiba jadi canggung tidak seperti biasanya.


"kembali berkerja di ruang masing-masing!" ucapnya lagi setelah menerima berkas yang dia inginkan.


Thea segera kembali ke mejanya, dia masih satu ruang kerja dengan Viona. Leo masih tidak bergeming, dia masih berdiri di hadapan Viona.


"Kenapa masih di berdiri di situ Kak? Jika ada yang ingin dibicarakan tunggu jam istirahat, aku ada banyak pekerjaan. Bukannya Kak Leo tidak suka menggangguku?" tanya Viona tanpa melihat Leo.


Leo mematung, dia mengingat kembali di mana dia pernah mengatakan itu ke pada Viona, saat dia dimintai untuk tetap bekerja di ruangannya tapi dia memilih untuk keluar dengan alasan tidak ingin mengganggu.


"Baik, saya akan ke ruanganku" balasnya sambil menatap Viona, lalu keluar dari ruangan itu.


Thea makin bingung dan penasaran, kenapa sekarang malah jadi sebaliknya. Terlihat saat ini yang menjaga jarak adalah Viona.


Setelah Leo keluar dari ruangannya. Viona langsung beranjak ke kamar mandi. "Huff kenapa rasanya sangat sesak?" gumamnya sambil memegang dadanya.

__ADS_1


"Inikan yang kamu lakukan Kak? Aku menuruti yang kamu inginkan, ingin jaga jarak kan? Baik, aku tidak akan mendekat lagi."


Viona juga ingin melakukan apa yang Leo lakukan ke padanya, tapi baru sekali saja rasanya dia tidak mampuh.


Di ruangan Leo, dia tidak bisa fokus bekerja. " Ternyata bikini rasanya dicuekin, pantasan kamu sangat marah, dan juga kecewa ke padaku. Tapi aku tidak ingin menyerah sebelum mendapatkan maafmu.


...----------------...


Jam sudah menunjukkan waktu istirahat, Leo pergi ke ruangan Viona, dia ingin mencoba meminta maaf kembali, dia masuk setelah dipersilahkan, dan dia melihat keberadaan Thea.


"Kenapa Kak?" tanya Viona menatap Leo sekilas tapi masih dengan wajah datarnya.


"Li aku ingin mengajakmu keluar makan" balas Leo menatap Viona, dia merasakan sakit, tidak ada lagi senyum di wajah cantik Viona.


"Maaf Kak, aku sudah memesan makanan, Thea sedang mengambilnya di bawah!" balas Viona.


"Hmm gitu ya! Oh iya Li, apa yang harus aku lakukan agar aku dapat maaf darimu?" memberanikan diri untuk bertanya.


Viona mendongak, karena posisi Leo sedang berdiri di depannya. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kak Leo tidak memiliki kesalahan."


"Itu bukan kesalahan! itu hak Kak Leo, dan aku tidak berhak untuk marah! Silahkan lakukan apa yang yang membuat Kak Leo bahagia!"


"Maafkan aku!"


Tok tok tok


Obrolan keduanya berhenti sejenak, karena Seseorang mengetuk pintu dan langsung membuka pintu sendiri. Thea masuk dengan beberapa rentengan kresek di tangannya.


"Nona ini makanannya! Mari kita makan dulu keburu dingin" sahut Thea cepat, melihat situasi masih sama seperti sebelumnya.


Viona beranjak ke sofa, tempat di mana biasanya mereka makan. Membuka pesanannya, ternyata dia memesan makanan korea seperti toppoki dan yang lainnya.


"Leo kenapa masih berdiri di situ? Mari kita makan bersama! Sudah lama kita tidak makan bareng dengan nona Viona kan" ajak Thea.


Leo ingin sekali makan bersama dengan mereka, tapi dia melihat Viona yang sudah makan dengan lahap, tanpa ada respon sedikitpun saat Thea mengajaknya.

__ADS_1


"Tidak Thea, kalian makan saja! Aku akan makan siang di rumah. Aku permisi dulu" balasnya dan berlalu pergi. Padahal dia sudah menelpon Ibunya jika dirinya tidak pulang makan.


Leo balik ke ruangannya, tidak pergi makan atau memesan makanan sendiri. Karena tiba-tiba nafsu makannya menghilang begitu saja. Dia hanya menghabiskan sebotol air putih.


"Huff, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya sambil menumpukkan kepala dan tangannya di atas meja "Dan apa yang harus aku katakan jika Ibu bertanya?"


Di dalam ruangan Viona, terlihat dia sudah berhenti makan, dia hanya menghabiskan setengah dari yang dia punya, padahal dia memesan banyak makanan.


"Nona kenapa berhenti makan? Apa makanannya kurang enak? Atau nona mau makan yang lain?" tanya Thea setelah dia menghabiskan makanannya.


"Tidak perlu, aku sudah kenyang" jawab Viona sambil mengusap mulutnya menggunakan tisu.


"Jadi siapa yang akan menghabiskan semua ini? ini makanannya masih sangat banyak."


"Kamu kasih yang lainnya, pasti mereka mau. Atau tidak, kamu bisa menyimpannya, tinggal kamu panasin jika kamu mau makan lagi."


"Hmm, saya kasih yang lainnya saja nona" balasnya sambil menyimpan kembali makanan yang belum tersentuh ke dalam kresek.


Viona tidak lagi menjawab karena ponselnya berdering. Sang Momy menelpon untuk memperingatinya agar dia tidak pulang telat, karena dia masih dalam masa pemulihan.


...----------------...


"Lilie tunggu!"panggil Leo saat melihat Viona ingin pulang yang di antar oleh Pak Sopir, karena mobil barunya sudah diantar ke Menssion.


Viona berhenti dan berbalik. "Kenapa Kak?" tanya Viona Lagi-lagi dengan muka datarnya.


Melihat muka datar Viona, membuat kata-kata yang sudah dia rangkum sebaik mungkin menghilang begitu saja. "Maaf!" terpaksa cuman itu yang dia ucapkan.


Viona menghela nafas. "Hah, jika tidak ada lagi, aku pamit" balas Viona lalu masuk ke dalam mobil. "Jalan Pak!"


Leo hanya bisa memandangi kepergian Viona sampai tidak terlihat lagi di pandangannya. "Aku cuman ingin minta maaf, jika kamu tidak ingin memaafkanku tidak apa, tapi kamu tidak mengatakan apapun. Malah mengaggapku tidak bersalah."


Dia berjalan di mana motornya terparkir, dia segera pergi tapi tidak langsung pulang ke rumah. Dia sering mampir ke pantai untuk menenangkan pikirannya.


Setiap detik dalam hidup adalah perjalanan, setiap perjalanan adalah pelajaran. Dan dari beberapa bekas luka yang menyakitkan, yang paling menyakitkan adalah yang tidak bisa dilihat.

__ADS_1


__ADS_2