
Happy reading..
Maaf yah para pembaca, aku baru bisa revisi novelnya sampai sini dulu, nanti aku revisi novel selanjut kok tenang aja. Tetap baca dan like, komentar 🤗🤗🤗
"Aku pulang!" Ucap Neta memasuki rumah dengan senyum hangat, Tapi dengan perasaan kacau.
"Hemmm.." Ucap mereka barengan melihat Neta penuh selidik.
"Tumben jam segini mereka kumpul, apa surat itu sudah sampai yah?"
Merasa ada yang aneh sama mereka Neta pun memberanikan diri untuk bertanya, tapi sebelum bertanya, Neta tak sengaja melihat amplop putih di meja berlabel nama sekolah dia. Dan itu sudah pasti dari pihak sekolah.
Neta hanya menelan Saliva nya dengan kasar. "Sekarang gue tau kenapa semuanya berkumpul," Batin Neta tersenyum Canggung.
"Pah, Bun, kak maaf. Aku tidak segaja melakukan, entah kenapa tangan aku gatal jadi begitu deh," Ucap Neta menjelaskan dengan menunduk kepalanya. Dia pasti tau akan berakhir seperti ini.
"Bodoh, bodoh, bodoh banget sih kamu Neta. Bagaimana kalau kamu ketahuan, kalau kau bukan anak mereka Melainkan orang lain. Bodoh, bodoh, bodoh!!" Neta merutuki dirinya sendiri.
flashback ..
"Nyonya maaf ini ada kiriman," Ucap pelayan menyerahkan amplop ke mama Rika. "Dari siapa?" Tanya mama Rika.
"Dari pihak sekolah nona muda yah," Ujarnya lagi takut nyonya Rika marah.
"Oh ya sudah kamu tolong telphonkan tuan, dan tuan muda yah suruh mereka balik, sekarang!" Ucap mama Rika memperhatikan amplop tersebut.
"Ada apa sih ma, di suruh balik, kan lagi ada kerjaan," Ketus Seno yang baru datang. "ck, kaya kamu aja sibuk, aku lagi metting kaget di suruh pulang, terpaksa asist yang lanjuti," kata Jino baru datang, dari arah belakang.
"Kaya hantu aja kamu gak pake permisi, apa lagi salam," Ucap Seno dengan nada jengkel.
"Emang kamu embah apa? bisa melihat hantu, lagian mana ada hantu seganteng aku," kata Jino dengan nada mengejek.
"Muka botek gitu, di bilang ganteng, ganteng dari Hongkong?" Melirik kearah Jino yang mulai kepancing.
"Sudah kalian berdua ini, malah berantem, udah tua juga gak malu di lihatin pelayan." dengan memperlihatkan wajah sangar, Seno dan Jino langsung terdiam dan cengar-cengir merasa malu di katain tua sama mamanya sendiri.
__ADS_1
"Assalamualaikum," kata papa Neta, yang baru sampai.
"Wa'alaikumsalam,"
"Ada apa mah? kok kita di suruh kumpul, kayak rapat bulanan aja, papah lagi asik main golf tadi malah di suruh pulang." kata papa Neta duduk di samping mama Rika.
"Nih lihat apa yang di lakukan Neta di sekolah Sampai dapet surat mama," Rika segera menunjukkan isi amplop tersebut.
"Apaan Bun surat cinta yah?" kata Seno yang langsung membuka amplop.
"Kalau itu surat cinta, akan aku potong tangan pria itu, berani-beraninya suka dengan adik aku." Ucap Jino yang belum tau isi surat tersebut.
"Sumpah demi apa ini? Neta di skors gara-gara berantem?" kata Seno geram tidak terima.
"Apa kamu bilang?" Jino langsung mengambil surat tersebut, dan membacanya dengan teliti, ada rasa lega, ternyata bukan surat cinta. Melainkan surat dari sekolahnya.
"Ih, somplak, ini surat skors. Kenapa kamu kelihatan lega," Ucap Seno merasa heran dengan sikap Jino.
"Kalau itu surat cinta, berarti Neta udah gak ada waktu lagi buat kumpul,"
"Tapi ini gak benar Pah, dia yang di bully kemarin kemana pihak sekolah, malah di diemin aja. Benar-benar kita harus membuat mereka tau siapa kita," marah Jino mengingat kejadian itu.
"Sudah lah itu kan pihak sekolah juga gak tau apa pun, dan Neta juga udah bilang jangan di keluarkan mereka pasti ada alasannya." Ucap papa Neta, berusaha tidak ikut terbawa emosi .
"kita tunggu Neta pulang dulu, minta penjelasan," kata Seno dan di angguki keluarga.
flashback off
"Maaf yah Neta udah membuat kalian malu, Neta janji tidak akan melakukannya lagi," kata Neta lagi merasa bersalah.
"Yah kau harusnya tau apa salah mu Neta," ketus mama Rika dan yang lain juga mengiyakan.
"Tapi apa yang terjadi sampai kamu di skors Neta?" Tanya Jino mendekati adiknya ini.
Neta menarik nafas dalam-dalam dan dia jelaskan semuanya, dari awal sampai Neta menampar Amanda beberapa kali. Semua orang merasa geram tapi ada juga merasa takjub dengan sifat Neta.
__ADS_1
"Maafin Neta yah, hiks." kata Neta lagi yang ingin menangis.
"Neta mama gak pernah ngajarin kamu kaya gitu, kamu harusnya tau itu, kalau kita harus bersikap lebih baik lagi," membelai rambut Neta.
"Yang di katakan mama itu benar, lain kali jangan seperti itu," lanjut papa Neta dengan tersenyum.
"Harusnya kamu tampar dia lebih 10 kali, dan kamu seret dia dari kantin ke kerbang sekolah. Ah, kamu gak asik Neta, percuma belajar bela diri, kalau itu mama, mama bakal pastikan bebak belur tuh anak Sampai masuk rumah sakit mah," panjang lebar Rika menjelaskan dan memperagakan.
"Iya dik, seharusnya kamu Jambak tuh rambutnya sampai botak biar kinclung, jadi matahari ada saingannya," sambung Seno dengan meniru ala mama Rika.
"Jangan seperti itu, harusnya main halus Seno, ambil karet terus tempelkan ke rambut dia. Biar dia sendiri yang cukur tuh rambut," ujar Jino dengan menatap Neta.
"Kalian mengajarkan yang tidak benar," Ucap papa Neta, semua orang langsung terdiam. "Harusnya kamu cambuk aja mereka Neta, saat mereka melihat bekas cambukan itu, mereka akan ingat kejadian itu selamanya." Lanjut papa Neta, dengan santainya dan semua keluarga menganggukkan kepalanya. Apa yang di katakan papanya itu ada benarnya juga.
Neta yang awalnya menunduk, kini dia hanya melotot sambil melongo tak percaya apa yang di katakan keluarganya. Bukanya mereka marah tapi mereka malah sebaliknya.
"Kalian gak marah?" Tanya Neta gak percaya sama kelakuan keluarga Somplak nya ini.
Baru pertama kali, ada keluarga yang mendukung anaknya melakukan kesalahan.
"Gak sayang, malah kami senang kamu membalas mereka biar mereka tau siapa kamu sebenarnya," Ucap mama Rika dengan mengepalkan tangan memberi semangat kepada Neta.
"Iya sayang, Apa pun yang kamu lakukan, kami pasti akan mendukung kamu, jadi jangan takut berbuat olah. Dan jangan pernah takut membalas apa yang mereka perbuat, tenang saja, tidak ada yang berani mengeluarkan kamu dari sekolah itu." Ucap papa, setelah itu dia pergi ke kamar.
"Kami akan marah, jika kamu hanya diam diri saja. tanpa perlawanan seperti dulu," Ucap Seno memeluk Neta dengan gemas.
Neta masih gak percaya apa yang barusan dia dengar. "Gila, ini keluarga somplak apa keluarga Sultan sih," Batin Neta yang masih mematung.
"Sudah tutup mulut kamu tuh, ntar di masukin lalat lagi," kata Seno mengejutkan Neta.
"Ih, sialan kamu kak, di kira mulut aku kebun binatang apa?" Ucap Neta setelah sadar dan dia beranjak ingin berganti pakaian.
"Ah, Neta kau sungguh beruntung memiliki keluarga tapi kenapa kamu menyia-nyiakan mereka," menghempaskan tubuh kekasur dan ketiduran.
**Tambahan.
__ADS_1
"*Seperti apa pun dirimu, baik atau buruknya kamu, itu tidak akan bisa mengubah segalanya dengan mudah, tanpa perjuangan dan dukungan dari keluarga, apa pun orang lain menilai kita, jangan di pedulikan, selama keluarga masih mendukung kita, apa pun itu tidak akan masalah***,"