KEHIDUPAN KEDUA

KEHIDUPAN KEDUA
96. Calon Mantu


__ADS_3

Viona dan Leo ikut bergabung terlihat semua para tamu sedang menikmati hidangan. Keluarga Viona juga sedang berkumpul becanda gurau.


Dia menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbicara berdua, "Dad, Mom!" panggilnya.


"Eh Nak kamu dari mana? Kamu dicariin sama yang lainnya" balas sang Momy. "Siapa lelaki tampan bersamamu Nak? Momy baru melihatnya" lanjutnya cepat, melihat sosok Leo berdiri di samping Viona.


"Dia yang aku ceritain kemarin Mom.Tapi Ibunya tidak bisa datang."


"Wahh, kirain tadi calon mantu Dady!" sela Tuan Jack bergurau. "Siapa namamu Nak?"


"Dady!" tegur Viona. "Kak jangan didengar omongan Dady, dia cuman bercanda."


"Selamat malam Om, Tante. Kenalkan nama saya Leo. Saya cuman temannya Viona kok Om" jelasnya sambil berjabat tangan.


"Nak Leo! Panggil Momy Jeny saja. Dan saya ucapkan terima kasih, karena kamu sudah mau jadi teman baik Viona. Dia banyak cerita kemarin tentangmu."


"Saya yang berterima kasih tante, karena Lilie sudah mau berteman denganku" Dia sedikit ragu untuk memanggilnya Momy, mungkin karena baru pertama kalinya.


Orang tua Viona bingung. Baru kali ini ada yang memanggil anaknya berbeda dengan yang lainnya.


"Kak Leo sukanya panggillan itu Mom, aku tidak masalah, karena itu juga ada di tengah namaku" jelas Viona sebelum orang tuanya salah paham.


"Hmm ya sudah kalian duduk dan nikmati makanannya, Dady dan Momy ingin menemui Tuan Bas terlebih dahulu."


Viona mempersilahkan, dia tidak mau ikut campur urusan orang tua. Kalau bukan bahas masalah pekerjaan pasti bahas masalah anak yang tak kunjung memberikannya Cucu.


Di meja lain, ada yang kepanasan melihat kedekatan Viona dan Leo. Dia ingin menghampirinya, tapi dia takut dikatakan pengganggu.


"Eh brow, siapa lelaki bersama Viona? Apa lu mengenalnya?" tanyanya dengan berbisik takut ada yang mendengarnya.


Raka menoleh dan melihat Viona sedang berduan dengan Leo, itu hal yang sudah biasa dilihatnya. Dia menatap Ray dan tersenyum jahil.


"Oh tentu aku mengenalnya, lelaki itu namanya Leo, teman Viona. Kenapa?" tanya Raka memancing agar Ray mau bercerita lebih banyak lagi.


"Apa lu yakin mereka cuman berteman? mereka terlihat sangat dekat" bartanya lagi sesuai yang Raka inginkan.


Raka terwata dalam hatinya, sangat lucu melihat Tuan Muda Duke cemburu seperti itu. "Setauku sih masi berteman, tapi entahlah! Siapa tau mereka belum memberitahuku."


Ray makin gelisah, hatinya tidak tenang melihat tawa Viona yang belum pernah dia lihat sebelumnya.

__ADS_1


"Yeh ada yang cemburu nih!" ejek Raka. "Makanya kalau suka, kalau cinta, ya di kejar dong, dideketin gitu bukan cuman dilihat saja."


Ray terdiam mendengar ucapan Raka. Usaha apa lagi yang harus dia lakukan, Raka tidak tau saja perjuangan Ray selama ini yang sering ingin mengajak Viona jalan keluar tapi Viona malah sering menolaknya.


Dan adanya pesta ini dia sangat senang karena bisa bertemu dengan Viona, tapi hatinya malah sakit melhat Viona duduk bersama lelaki lain yang tak dikenalnya.


"Brow, lu harus lebih usaha lagi! Jika tidak, lu harus merelakannya" Bukannya menenangkan malah memanasinya.


"Ck! Apa lu mendukung mereka berdua?" mulai jengkel dengan Raka.


"Gua tidak dukung siapa-siapa. Tapi,gua akan mendukung siapa pemenangnya, siapa yang bisa membuat hatinya luluh, tersenyum dan berbahagia sepanjang hari. Bagaimana brow, apa lu mau mundur?"


"Jangan panggil gua Tuan Muda Duke jika mundur di tengah jalan. Lu lihat saja nanti gua yang akan bersanding dengan Adikmu." tegasnya.


Raka tersenyum geli, jika sudah cinta ke pada seseorang, apapun yang dilakukannya agar cintanya terbalaskan.


"Ho'oh, mari kita tunggu. Tapi ingat, jangan sampai lu sampai melukainya! Bersainglah dengan sehat."


"Gua tidak pernah melakukan yang namanya kecurangan." balasnya tapi pandangannya masih kedua orang itu.


Di sisi lain, ada seseorang yang juga menatap Leo dalam. Entah apa yang terjadi ke padanya sampai ingin melihat Leo terus. Seakan-akan sesuatu yang hilang darinya terasah kembali.


Dia beranjak dan berjalan menuju toilet. Dia tidak tahan lagi, dia ingin menangis, agar dadanya tidak sesak lagi.


Di posisi Rian juga sama, baru kali pertama melihat Leo dan menanyakannya ke pada Tomi. "Tom siapa?" tunjuknya menggunakan dagu.


Tomi mengikuti arah pandang Rian, dan melihat orang yang di maksud. "Emm kalau tidak salah namanya Leo. Kemarin dia juga datang ke rumah sakit mencari Viona saat kamu belum sadar."


"Dia kelihatan dekat dengan Viona, apa mereka sudah berteman lama?"


"Kayaknya sih iya. Eh kamu tanya langsung saja sama orangnya kalau ingin lebih jelas! Takutnya aku salah ngomong. Tapi jika diperhatikan baik-baik Viona yang akan memberikan Momy Jeny Cucu pertama."


"Kamu sangat suka menebak. Tapi iya juga sih, lelaki itu memiliki pandangan yang berbeda jika menatap Viona. Haiiss aku saja teman perempuanpun tak punya,"


"Ada banyak wanita cantik di sini, coba kamu perhatikan! Siapa tau ada yang cocok. Kan lumayan kamu tidak perlu repot-repot mencari di luar sana."


"Malas ah, itu semua teman kerjanya Viona dengan Bang Raka. Dan aku lihat tidak ada yang menantang."


"Ck dasar pemilih!"

__ADS_1


"Bukan pemilih sih, tapi harus pilih yang tepat. Dan kamu sendiri Tom bagaimana? Jangan sok ngatain orang lain, tapi kamunya lebih parah."


"Hehehe aku mengalah, aku mengalah dengan Bosku."


Begitulah obrolan mereka. Pendapat tentang kedekatan Viona dengan Leo. Berasumsi jika keduanya lebih dari teman.


Leo yang sebenarnya sudah merasakan sejak tadi jika ada yang menatapnya. Tapi dia tidak peduli, dia lanjut berbincang dengan Viona dan memakan makanan yang sudah diambilnya.


Tapi lama-lama dia juga penasaran, dia menoleh sekilas dan melihat orang yang menatapnya sejak tadi.


Tatapan keduanya bertemu, sebenarnya Leo ingin tersenyum tapi melihat muka datar dan dingin Ray jadi diurungkannya.


Beberapa menit berlalu, Viona mengajak Leo untuk berkenalan dengan Kakaknya Rian. Agar tidak ada yang salah paham, kerena obrolan mereka masih sampai di pendengaran Viona.


"Hei brow salam kenal, gua Kakaknya Viona! senang bisa bertemu denganmu" sapa Rian dengan ramah dan berjabat tangan.


"Ya thanks. Nama gua Leo" balas Leo takkalah ramahnya.


Tomi juga ikut berkenalan, kerena pertemuan sebelumnya mereka belum sempat, karena situasi saat itu lagi menegangkan. Tidak butuh waktu lama Leo sudah berbaur dengan cepat. Dia sangat senang, karena keluarga Vioan sangat welcome ke padanya, tidak seperti apa yang ada di pikirannya.


Rian juga sama, dia lebih suka orang yang pandai berbaur, daripada yang banyak diam, atau akan berbicara jika diajak terlebih dahulu.


Seperti halnya dengan sikap Ray yang pendiam. Saat setelah Rian mengajakanya berkenalan tidak ada lagi obrolan selanjutnya jika bukan Rian yang bartanya atau berbicara terlebih dahulu.


...----------------...


Di salah satu markas letaknya di tengah kota, terlihat seorang lelaki sedang marah, karena dia tidak terima melihat keluarga Adiknya berkumpul kembali. Yang tak lain adalah si Bora, dia merasa perjuangan dan penantiannya selama ini hanya sia-sia.


"Brengsek! Ternyata Anak itu masih hidup. Awas kau wanita laj*ang, gara-gara kau mereka sudah menemukan anaknya. Tidak akan saya biarkan kalian berbahagia terlalu lama,"


Bora sudah keluar dari hutan, dia menghubungi anak buahnya untuk datang menjemputnya di malam hari, agar tidak ada orang yang tau tempat persembunyiannya setelah rumah itu kebakaran.


Dia kembali ke kota dan pergi ke markasnya, dan mendapat kabar jika Adiknya beserta suaminya sudah ada di negara itu dan saat ini mereka sedang melakukan pesta atas pertemuan Anaknya.


Tapi dia tidak sadar, jika ada yang melihat dan mengikutinya, sejak dia keluar dari persembunyiannya, siapa lagi kalau bukan para pengawalnya bayangan Viona.


Meskipun sudah berhari-hari mencari di tempat yang sama, mereka tetap mendengar arahan, jika mereka harus tetap fokus mencari di bagian rumah yang terbakar itu. Dan benar saja apa yang dikatakan Viona, jika si Bora tidak akan bisa pergi jauh dari situ.


Viona juga sengaja, tidak menghapus jejak atau bukti yang ada, dan juga sengaja menyebar luaskan pesta itu, agar si Bora keluar dari persembunyiannya dan menampakkan dirinya tanpa dicari.

__ADS_1


__ADS_2