
Aditya berbaring di kasurnya sambil memegang bibir dan terbayang saat-saat dia mencium bibir Neta yang begitu lembut dan juga rasa buah itu. “Rasanya bikin Candu,” gumam Aditya dengan terus membelai bibir bawahnya. Entahlah rasanya saat ini dia ingin sekali mencium bibir Neta.
“Apa yang kamu pikirkan Aditya, apa kamu menjadi bodoh? Oh, tidak mungkin. Jangan kamu terpikirkan perkataan dia tadi pagi.” Ucapnya lagi sambil menatap wajahnya di cermin.
Di Kediaman Vio.
Semuanya terasa sunyi seperti tidak ada penghuni di rumah Vio. “Apa kamu yakin ini di sebut rumah Vi?” tanya Neta dengan nada terheran. Viola yang sudah tidak kaget lagi dengan pertanyaan Neta hanya tersenyum masam.
Neta menatap lukisan dan juga foto keluarga Vio di sana hanya ada 3 orang saja. Kedua orang tua Vio, dan Viola nya sendiri. Sangat bahagia, tapi kenapa sekarang foto yang baru saja di ambil oleh keluarga ini terasa kosong seperti tidak ada keharmonisan sekali.
“Kenapa kamu menatap seperti itu Neta?” tanya meta yang juga ikut menatap lukisan dan foto keluarga Viola. “Aku merasa lukisan di sana sangat bahagia dan penuh kenangan. Sedangkan di foto ini, begitu banyak kesedihan dan tidak ada kebahagiaan sama sekali.” Ucap Neta sambil membandingkan lukisan dan foto tersebut.
Viola yang awalnya Sedang menata makanan, seketika kegiatan dia terhenti saat mendengar perkataan Neta. Viola langsung menghapus air mata yang langsung keluar tanpa pamit. Neta membalikkan badannya dan ingin bertanya kepada Viola sebenarnya apa yang telah dia alami selama ini.
Viola menghampiri kedua sahabatnya dengan merangkul dan tersenyum seolah-olah dia tidak mendengar dan terlihat baik-baik saja. “Apa kamu seorang penjiwa Neta?” tanya Viola dengan menatap sahabatnya itu.
“Maksudnya?”
Neta tidak paham dengan pertanyaan Viola yang mendadak itu. “Lupakan saja, ayok ke atas aku sudah menyiapkan semuanya. Dari Drakor yang mau kalian tonton sampai yang gak mau kalian tonton.” Ucap Viola mengalihkan pembicaraan.
Neta dan meta yang mendengar Drakor (Drama Korea) langsung berlari menuju kamar Viola dan meninggalkan Viola sendirian, Viola menatap lukisan dan foto itu sejenak. Dan pergi ke kamarnya sebelum kedua sahabatnya itu berteriak memanggil namanya.
“Vio!!” teriak Neta dan meta barengan, mereka sudah siap menonton Drakor terbaru dan juga sudah siap menghabiskan cemilan di rumah Viola.
“Iya...iya, sebentar,” jawab Viola.
__ADS_1
Viola geleng-geleng kepala melihat kedua sahabatnya yang sudah tidak tau diri kalau sudah menonton drama Korea apa lagi suami halu mereka. Sudah lupa daratan dan lautan mereka berdua itu.
“Yaampun liat Cha Eun woo, ah suami masa depan aku Astaga, bagaimana bisa dia tega melakukan itu kepadaku.” Teriak Neta yang melihat adegan Kiss di drama yang mereka tonton. Viola langsung menoyor kepala Neta yang asal ngomong tanpa di filter itu.
“Halu terus kamu net, sudah ada pak Aditya juga. Kurang bersyukur kamu mah jadi manusia net,” kata Viola dengan menatap Neta yang selalu memanyunkan bibirnya ke depan. Sedangkan meta hanya mengangguk kepalanya tanda dia setuju apa kata Viola.
“Tapi Neta, bentar lagi pertunangan kamu kan?” tanya meta dan langsung di angguki oleh Neta, Viola dan meta langsung saling memberi kode tanda jiwa kepo mereka sudah keluar.
“Terus kapan?” tanya Viola yang penasaran, karena sahabatnya ini tidak kunjung juga memberikan undangan pertunangan mereka dan memilih untuk diam.
“Bulan depan kami tunangan, tapi.” Ucap Neta yang menggantung dan itu semakin membuat mereka penasaran. “Tapi apa?” sahut mereka barengan. Neta tertunduk dia bingung harus jawab apa karena mereka ada perjanjian selama 6 bulan menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Dan kalau selama 6 bulan itu mereka tak kunjung juga punya perasaan terpaksa perjodohan mereka di batalkan.
“Net?” panggil Viola yang berhasil membuyarkan lamunan Neta. “Tapi masalahnya ada di pak Aditya. Kalau aku gak berhasil membuat pak Aditya jatuh cinta maka aku akan di jodohkan dengan orang lain.” Ucap Neta bohong. “Aku tidak sepenuhnya bohongkan? Lagian emang benar aku harus membuat pak Aditya suka denganku, dan soal di jodohkan dengan orang lain itu gak ada sih.” Jujur Neta dalam hatinya.
“WHAT?!!”
Meta dan Viola tidak menyangka, mereka pikir mau tidak mau Aditya dan Neta akan tetap di nikahkan ternyata tidak sama sekali. Neta mengangguk dengan fokus menonton drama sambil makan cemilan. Meta dan viola langsung memeluk tubuh Neta, tanda memberikan semangat.
“Terus rencana kamu apa net?”
“Nah bener, terus rencana kamu gimana Neta?”
Neta tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. “Yah bikin pak Aditya jatuh cinta kepadaku, lagian mana ada cowok yang berhasil menghindar dengan pesona Neta.” Ucap Neta yang penuh percaya diri itu.
“Tapi masalahnya saingan aku kelas berat nih, yaitu dengan gitar spanyol.” Lanjut Neta lagi yang mendadak lesu. “Masalah itu biar kita yang bantuin kamu net.” Ucap meta yang mendukung rencana Neta agar pak Aditya jatuh cinta dengan Neta.
“Lo bantuin Neta pasti ada maunya kan Met?” Tanya Vio yang curiga ada udang di balik batu. “Yeeee... Enak aja kamu nih Vio, bukan masalah ada udang di balik batu yah, aku hanya ingin melihat Neta bahagia. Lagian kan lumayan, kalau Neta dan pak Aditya jadi menikah. Nilai kita bisa aja di naikkin atau apa gitu,”
__ADS_1
Viola langsung menoyor kepala Meta dengan kipas tangan yang ada di samping badannya. “Sudahku duga pasti ada udang di balik bakwan,” ketus Viola dengan memberikan pelototan ke arah meta.
Saat perdebatan itu terus berlanjut dan tidak lama ponsel Neta berdering, Neta melihat siapa yang berani mengganggu waktu Santainya. Seketika wajah Neta tersenyum girang melihat nama yang tertera di benda pipih itu. Meta dan viola yang tadi lagi cekcok langsung berhenti dan ikut menatap di benda segi empat itu.
“Ceeeee... Ngapain di tatap doang cepat di angkat woy,” Kata meta yang tak sabar ingin mendengar percakapan mereka. “Iya Weh, ngapain di tatap doang. Keburu di mati in itu.” Sambung Viola geregetan dengan kelakuan sahabatnya ini, bukannya di angkat malah di liatin doang. Emang bisa apa dia jawab sendiri kalau di tatap doang.
“Ehemm,” Kata Neta yang paham dengan perkataan teman-temannya, setelah dia berdehem Neta langsung mengangkat panggilan telepon dari orang tersebut. “Kenapa lama sekali mengangkat teleponnya?” tanya orang di seberang sana dengan suara dingin.
Neta ingin menjawab tapi tiba-tiba dia merasa terganggu dengan kedua temannya yang ikut menempelkan telinganya di telepon Neta. “Buset, galak banget nanya nya.” Bisik Meta yang ada di sebelah Neta. Neta memutar bola matanya, dan langsung berdiri meninggalkan kedua sahabatnya itu.
“Netaaa!!” teriak Viola dan meta barengan, karena tidak terima dengan perlakuan Neta terhadap mereka. “Dimana kamu?” Tanya lelaki yang ada di seberang sana. “Di rumah viola, kenapa nelphon?” jawab Neta yang sok jual mahal, padahal dia seneng tapi dia berusaha agar tidak ketahuan oleh orang itu.
“Besok aku akan menjemputmu, Kita berangkat bareng ke sekolah.” Katanya yang langsung to the point. “Hah, kenapa?” tanya Neta yang tidak paham. “Sudah tidak usah banyak tanya, aku hanya ingin memberitahu mu itu saja, selamat bersenang-senang.” Langsung di matikan secara sepihak.
“Hello.. pak.. pak Aditya,” teriak Neta yang masih ingin bertanya tapi langsung di matikan oleh Aditya. “Gila ini orang, langsung dimatikan lagi,” kesel Neta. Dia berbalik ke belakang dan melihat kedua temannya yang masih menguping.
Neta berjalan pelan-pelan agar teman-teman tidak sadar kalau Neta tau mereka berada di balik tembok itu. “kok gak ada suaranya yah Vi, apa kuping aku bermasalah?” tanya meta yang tidak mendengar suara Neta. “Aku juga gak dengar selain Neta teriak tadi.” Jawab Vio yang terus merapatkan telinga nya ke dinding.
“Ehemmm, lagi ngapain kalian ke sini?” tanya Neta dengan melipat kedua tangannya di dada. Viola dan meta yang ke tangkap basah, langsung pura-pura membersihkan dinding tersebut.
“Wah kok di sini kotor banget yah Vi, coba di sana kotor juga gak yah?”
“Iya Met, coba kita cek ke sana siapa tau kotor juga,”
Mereka berdua hendak kabur dari Neta tapi Neta tahan pundak kedua sahabatnya itu, dan sambil tersenyum. Meta dan viola pun hanya cengar-cengir karena ketahuan oleh Neta. “Gak usah cari alasan, ngaku aja kalau kalian menguping pembicaraan aku dengan pak Aditya kan?” meta menganggukkan kepalanya sedangkan Viola menggelengkan kepalanya.
“Nah kan, gak sama jawabannya.” Kata Neta yang gemes dengan kelakuan sahabatnya. Meta dan viola saling tersenyum dan merasa bersalah. “Sudah tidak papa kok, yuk lanjut nonton.” Meta dan Viola lagi-lagi mengangguk pertanda mereka mengiyakan jawaban Neta, meskipun mereka penasaran apa yang Neta bicarakan dengan pak Aditya, tapi mereka urungkan. Dan berharap Neta sendiri yang akan cerita kepada mereka berdua.
__ADS_1