
happy reading..
"Pagi Mam, pagi Pah, pagi kak," Ucap Viola dan meta barengan, Meraka sudah punya rencana kalau mereka akan berlibur selama Neta di skors dan itu tentu tanpa sepengetahuan Neta sendiri.
"Ih anak Mama pagi-pagi udah kemari, gak sekolah sayang?" Tanya Rika meletakkan makanan di atas meja.
"Gak ah mam, males kalo gak ada Neta di sana, berasa gak ada orang di sekolahan," jawab meta matanya tak pernah lepas melihat makanan yang ada di meja.
"Yaudah yuk gabung kita sarapan bersama, kalian belum pada sarapankan?" Ucap Rika, menarik tangan viola dan meta duduk di sebelah dia.
"Belum mam, he... he... he... tau aja kalau kami belum sarapan," Jawab mereka barengan dan langsung duduk tanpa malu-malu. Meta dan Viola sudah di anggap anak sendiri bagi Rika, karena selama ini yang tulus berteman dengan Neta hanya mereka berdua.
"Wah ada apa ini kok rami sekali?" ucap Neta menuruni anak tangga.
"Iya bun kok rami banget?" Tanya Seno di belakang Neta yang baru saja keluar dari kamarnya. "Astaga kak Seno, bisa gak sih jangan muncul tiba-tiba dong, kalo jatuh gimana?" Neta memajukan bibirnya di hadapan Seno. Seno langsung menangkap bibir Neta yang seperti ikan itu.
"Elehh... eleh... lebay Kamu Neta, kamu juga tinggal satu langkah menuruni anak tangga udah selesai, kalau pun jatuh gak bakal sakit juga, bukan dari atas terus ke bawah Sono. nah baru di bilang sakit," kata Seno menunjuk ke atas dan ke bawah.
Neta tidak mengobris obrolan Seno tapi dia malah mengadu ke Jino. "Kak jiiii lihat kak Seno!! dia tadi mukul tangan ku sakit hiks hiks.." Sambil menunjukkan tangannya yang sedikit merah.
"Seno kamu yah sama adik sendiri kasar, minta maaf gak!!" kata Jino, Neta menjulurkan lidah nya ke arah Seno sambil terkekeh geli, Seno yang melihat kelakuan Neta semakin membuatnya jengkel.
"Ceh awas kamu Net," menunjuk ke arah Neta "Apa?" Tanya Neta pura-pura polos.
Rika yang melihat kelakuan Neta hanya geleng-geleng kepala melihat sikap manja Neta ke Jino.
__ADS_1
"Ih kalian berdua ngapain ke sini numpang makan kalian?" tanya Neta ke Vi dan meta yang sudah duduk seberangan.
"Ih gak net yah, enak aja, kami tadi di suruh mama sarapan. Yah sekalian aja kan ikut, lagian kita berdua belum makan, hehehhe " jawab Meta menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Di kira rumah gue penampungan apa?"
kata Neta sambil memakan roti.
"Sudahlah Neta mereka kan teman kamu, jadi gak usah bawel, mama juga yang suruh Meraka sarapan." jawab bunda sambil menyudurkan susu ke Seno.
"Hello bro apa kabar, bagaimana ngajarnya enak?" Sapa seorang lelaki yang baru masuk.
"Hemzzz.." Aditya hanya menatap sebentar, setelah dia tau siapa yang datang, dia langsung melanjutkan kegiatannya.
"Set dah, kok gue bisa sih punya teman kaya Lo, dinginnya minta ampun, kayak es balok nih yah. Udah keras terus dingin pola," ketus Reza kepada Aditya, yah Reza adalah sahabat Aditya sedari kecil, jadi dia sudah terbiasa dengan sifat Aditya yang suka mengacuhkan nya. Tapi lama-lama juga ngeselin bagi Reza.
"Sialan Lo, diri gue di bilang emak-emak kompleks, di kira gue apaan?" protes Reza tidak terima perkataan Adit, enak saja muka udah kaya pangeran di bilang emak-emak.
"Serah Lo dah, ngapain kesini?" tanya Aditya tidak peduli ocehan Reza, mereka berdua jarang akur, meskipun begitu mereka sangat perduli satu sama lain saat di antara mereka mengalami masalah.
"Astaga, gitu banget Lo ngomongnya, gue ke sini," belum selesai Reza ngomong, tiba-tiba bunda Gina datang.
"Ya ampun Reza, kamu datang gak bilang sama bunda sih," Menjewer kuping Reza sampai yang empunya mengaduh kesakitan.
"Ah..aa ....ampun Bun, ampun!!" Kata Reza menyatukan kedua tangannya, memohon ampun ke bunda Gina.
__ADS_1
"Baru ingat sekarang kalo kamu punya bunda Hem.....?" Menaikan jeweraanya.
"A...aaampun Bun, Reza ingat kok." sambil menahan tangan Gina.
"Terus kenapa gak ketemu bunda duluan? kenapa harus Adit jawab!!" Protes Gina tidak terima kalau dia di no duakan.
"Ya ampun bunda ku cemburu, doh cantik deh kalau lagi marah, he..he.. he maaf bun, tadi aku gak liat bunda. Yang aku lihat hanya Aditya jadi langsung deh aku samperin dia, kalau tau bunda ada, pasti aku Samperin duluan di bandingkan es balok," Memeluk dan mencium pipi Bunda Gina dengan manjanya
"Kamu ini yah, bisa aja buat bunda gak marah sama kamu." mencium puncak kepala Reza.
Aditya yang melihat kelakuan mereka berdua hanya geleng-geleng kepala, karena sifat Aditya dengan Reza bertolak belakang jadi sangat mudah bagi Reza bergaul dengan orang lain sedangkan Aditya sangat susah bergaul.
Dan itu lah membuat semua orang tidak berani berhadapan dengan Aditya, bagi mereka aditya adalah singa yang siap menerkam mangsanya kapan saja. Tapi berbeda dengan gadis cantik yang satu ini, dia berani dan tidak takut sama sekali.
Aditya tersenyum sendiri membayangkan wajah Neta setiap kali mereka bertemu. "Ih kok gue serem yah, liat Lo senyum begitu. lebih baik Lo gak usah senyum dit, nanti cepat kiamat. Gue gak mau yah, gue masih pengen hidup dan pengen menikah." Ucap Reza yang kembali duduk di samping Aditya.
"Yasalam, apa segitu tampannya gue, sampai Lo bilang begitu?" Ujar Aditya membaca berkas-berkas yang ada di tangannya Sekarang.
Wajah Reza langsung berubah jijik. "Deh, narsis akut Lo belum sembuh-sembuh juga dit, segera ke dokter sana. takutnya bertambah parah dan tidak tertolong lagi," Celetuk Reza dengan tawanya, dia puas mengejek Aditya.
Aditya langsung memukul Reza dengan buku yang ada di tangannya. "Di kira gue apaan, sudah sana kamu, sama bunda geh," ucap Aditya mengusir Reza.
"Ngusir ceritanya neh?" Menautkan kedua alisnya.
"Iya bawel Lo ah, dasar emak-emak," ketus Aditya tanpa mempedulikan reaksi Reza. "Ceh, awas Lo yah cariin gue nanti," Ancam Reza dan pergi ke dapur membantu bunda Gina.
__ADS_1
Reza melihat Gina sedang asik membuat kue, langsung memeluk menyandarkan kepalanya di belakang Gina. "Sayang, bunda lagi bikin kue," Kata Gina, Gina sudah tau siapa yang akan bersikap manja kepadanya. kalau bukan suaminya pasti Reza, dan mana mungkin Aditya yang bersifat dingin berperilaku seperti itu, kepada Gina. "Andai saja Aditya sedikit saja bersikap manja seperti Reza, sedikit saja, agar aku begitu tidak menyesali kalau dia sudah besar." Batin Gina dengan membelai rambut Reza.