
Setelah kejadian kontrak perjanjian, dan juga tentang permintaan maaf Ferly hari-hari Neta tidak ada lagi yang banyak drama, dia hanya sibuk dengan kedua kakaknya yang terus mengoceh seperti burung beo.
“Apa sih hebatnya itu cowok, sampai kamu mau menerima perjodohan itu Neta?” Tanya Seno yang mondar-mandir di hadapan Neta dan terus menjelek-jelekan Aditya seolah-olah dia memberikan pencerahan kepada adeknya ini.
Ini sudah Kalimat yang 100 kali Seno ucapkan dan itu membuat Neta kesel bukan main. “Karena dia Tampan,” jawab Neta dengan polosnya, aktivitas Jino terhenti dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Neta, dengan gaya yang sangat seksi kaki dia silangkan dengan sorot mata begitu tajam.
“Apa dia lebih tampan dariku?” ucap Jino dengan senyum khasnya, sekali senyum demen nya minta ampun, Neta menatap wajah Seno dan jino bergantian, Seno mengedipkan sebelah matanya.
“Percuma ganteng tapi kalian jodoh orang,”
“Coba kamu pikirkan sekali lagi Net, kamu masih muda masa depan kamu masih cerah, secerah matahari terbit sampai orang-orang menundukkan pandangannya.” Dengan gaya merentangkan kedua tangannya sambil menatap langit-langit seolah menghirup udara segar.
“Coba bayangkan itu Neta,”
“Dan rasanya itu, ah. Mantap,” mengacungkan ibu jempol, dan di ikuti oleh Jino.
Neta berdiri dari kasurnya dan menarik tangan Jino dan Sean. “Dari pada aku mendengarkan ocehan kalian lebih baik aku bersiap-siap buat ke temuan.” Kata Neta mendorong tubuh Seno dan Jino agar keluar dari kamarnya. Tubuh Jino langsung mematung. “Dengan siapa kamu ke temuan?” tanya Jino berusaha membalikkan badan dan saat ingin bertanya lagi Neta sudah menutup pintu di hadapan muka mereka berdua.
__ADS_1
“NETA, jawab ke temuan dengan siapa?” mengendur pintu kamar Neta. Neta menutup telinganya dan sambil bernyanyi agar tidak mendengar keributan di luar sana. “Lalalalalalallalalalall.” Sambil memilih baju yang dia pakai. Setelah ketemu Neta langsung merias wajahnya dengan sedikit alat makeup, jujur Neta sangat cantik hanya dengan menggunakan bedak sedikit pun dia sudah bisa membuat buaya naik ke daratan.
“Tidak bisa di biarkan, ayok. Kita bersiap-siap juga, jangan sampai kita ketinggalan.” Ucap Seno mengajak Jino dan Jino langsung setuju apa yang di katakan Seno. Kaka yang begitu dingin dan bahkan sangat kejam sama bawahan itu langsung luluh jika itu menyangkut tentang Neta.
Mereka berdua bergegas Mengganti pakaian yang awalnya pakaian kantor, sekarang menjadi pakaian biasa agar adeknya tidak curiga, seperti itulah kegiatan mereka berdua sekarang, pulang kerja bukannya istirahat dan langsung ganti pakaian, tapi mereka malah langsung ke kamar Neta dan membujuk Neta agar tidak menerima perjodohan itu.
Seno dan Jino sudah berganti pakaian, tapi Neta masih belum juga keluar dari kamar. “Kali ini kita tidak boleh gagal membuntuti Neta seperti kemarin-kemarin.” Ucap Seno, Jino dia fokus menatap pintu kamar Neta, dan saat ada pergerakan dari sana mereka berdua pura-pura sibuk menonton film kartun.
Neta menatap ke dua kakanya, seperti tidak biasanya. Setiap kali Neta mau keluar dan berpakaian rapi, pasti Jino dan Seno akan mengikutinya dan bertanya. “Tumben mereka tidak berisik seperti tadi?,” ucap Neta dalam hati, dan membuat Neta merasa ada sesuatu di balik kelakuan mereka yang diam itu. “Di cuaca yang penuh kesunyian pasti bakal ada badai yang menerjang.” Gumam Neta menatap Seno dan Jino yang sibuk dengan tontonan mereka.
“Kak, aku jalan dulu, bilang sama mama dan ayah kalau aku mau keluar,”
“Mereka kenapa yah, ah sudahlah Neta. Baguslah, setidaknya kamu gak pusing mengusir mereka berdua,” gumam Neta dan masuk ke dalam mobil. Setelah mendengar suara mobil Jino dan Seno bergegas berlari melihat Neta dan setelah mobil Neta berjalan, mereka berdua menyeringai seperti ada yang mereka rencanakan.
“Kita mau Ke mana non?” tanya sopir pribadi Neta.
“Ke jalan XXX pak yah, aku mau ketemu seseorang,” setelah mendengar itu pak sopir langsung melajukan mobilnya.
Tampak seorang lelaki gagah nan tampan sedang menunggu seseorang sejak tadi, banyak wanita dan pria melirik bahkan ada juga yang mau meminta foto bareng Karena wajahnya seperti artis Korea. Yang bernama prak bogem.
__ADS_1
Lelaki itu tampak kesel karena sudah menunggu lama, tapi orang yang di tunggu Belum juga muncul. “Kenapa begitu lama, apa dia dandan dari paria atau apa,” gerutunya dan tak henti juga dia menatap jam tangan yang sudah menunjukkan waktu jam 4 sore.
Wanita cantik keluar dari mobil dengan senyum cantik setelah dia tau di dalam sana menatap horor ke arahnya. “Maaf Gue datang tepat waktu?” tanya sang wanita dengan santainya. “Apa kamu tidak bisa menghilangkan kata Lo gue dan saya anda?” ketus nya.
Neta hanya tersenyum masam, “Oke, apa aku datang tepat waktu?” tanya Neta ulang dengan nada sedikit terpaksa. “Apa kamu tidak baca pesanku? Bukankah sudah aku bilang datang jam 2 siang bukan jam 4 sore.” Sarkasnya dengan nada dingin dan di ikuti tatapannya.
Neta mengernyit dahinya. “Masa sih? Bentar,” Neta mengambil ponselnya dan membuka pesan dari Aditya. Mata Neta langsung membesar dan tersenyum memperlihatkan gigi ya yang putih dan rapi itu. Sambil cengengesan Neta meminta maaf. “Maaf, aku gak liat pesan. Lagian ini juga salam kamu, seenak jidat aja ganti jam, jadi itu juga bukan salah saya yah.” Membela diri karena tidak ingin di salahkan. “Tapi bapak romantis juga yah, mau nungguin aku, duhhhhh bikin terharu deh.” Ucap Neta dengan tawanya yang kecil.
“Benar juga Kenapa nungguin dia. Ada apa dengan ku?” benak Aditya menatap Neta yang juga menatap dirinya. “Aku tau kalau aku cantik, dan juga seksi tapi jangan di tatap terus dong, gini-gini aku juga bisa salting (salah tingkah)” ucap Neta menumpang dagunya dengan kedua tangan terus seperti mengeluarkan suara ciuman.
Aditya yang melihat kelakuan Neta hanya memasang wajah masam. “Jadi kenapa mau bertemu denganku?” tanya Neta. “Kita pesan dulu minuman dan makanan,” ucap Aditya tanpa menjawab pertanyaan Neta. “Jadi belum pesan minuman dan makanan? Tanya Neta sedikit kaget.
“Menurut mu?”
Neta tertawa terbahak-bahak sampai semua orang memperhatikannya. Aditya langsung melotot mendengar tawa Neta dan di tatap semua pengunjung. “Maaf, maaf. Yaaampunn, untung gak di usir, orang pasti mikir gini. Ganteng-ganteng kok gak modal, dan beruntung lah kamu di selamatkan dengan wajah kamu itu, Karena tidak di usir.” Ucap Neta dengan menahan tawanya.
“Sudah?” tanya Aditya tanpa menghiraukan perkataan Neta sekalipun. “Kalau sudah kita pesan sekarang.” Ketus Aditya, Neta menganggukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa lagi.
Neta
__ADS_1